19.4.13

Disabled Crowd



A Laid-Back Life of the Disable Crowd

Once upon a time in a peaceful land far far away, live a colony of colorful escapist that looks like little cubes and tubes. Every day, they will walk down the road, talking to each other, and sightseeing. They run, they talk, they hide, they love, but- alas! They don't make and do for they have no hand.  But they are happily believe that who needs hand anyway when you are blessed with extra eyes at the back of your head to seek more beauty; or some extra head to make better consideration; or perhaps, some extra legs to run down the prairie?  From a city of the escapist colony, we take a crowd of the happiest creature and display it here.

This exhibition covers two bodies of work: paper-based alternative toy and watercolor painting on coaster. The artist, Hehe, call it ‘a trivial art’. They are trivial because Hehe was actually having fun playing with them; mold them into basic forms creature, comic style. It is more like the less serious version of paper sculpture in the form of alternative urban toy.  Once again, unlike the typical plastic-culture urban toy made from resin or vinyl, Hehe made the plushie using papier-mâché technique.  


The same unwind process was done spontaneously for the watercolor drawing. Perhaps the artist saw the new blank beer coaster scattered around his house, and this idea comes in his mind to draw on it and voila! Drawing it is... as easy as one two three. But for an artist like Hehe, the seemingly unserious process of making his art is after all done with careful consideration. 

As a busy up-and-coming young artist, Hehe admits that he needs this kind of art. There are different sensation between painting on canvas and making these trivial works like this.  The process was all spontaneous and accidental; expressing the deepest feeling of the artist himself.  Somewhere deep inside him lays this mixed emotion and characters that can be seen through his art. What audience sees in this exhibition is his playground.

In Hehe’s work, his personal life and social concern are attached in harmony. Buried deep inside his consciousness, his personal role as a young father has transformed the shape of his art work from a single figure character to double or even triple characters; either in two-face form at the front and the back of the creature; or three faces in stack shape. His choice of stacking the heads shows his male-role in his domestic life with all of his responsibility. Instinctively, he starts creating non-single creature ever since he got married and blessed with a child.  But even with that male-role symbol he creates, Hehe didn’t mean to point a specific gender for his creature. Just like Indian God and Goddess who are portrayed genderless: these creatures could be a male, a female, or even both.

In social context, he tries to show his concern of the floating mass where people are put into a situation when they cannot really act or react. Hehe creates no hand for the creature and in exchange, he put up more than two eyes, legs, big funny mouth, and ears. They can think, take a look around from different point of views, runaway from the situation and speak out loud; but they simply can’t ‘do’. The word ‘disable’ in the title is based upon the technological term ‘disable’ where certain ability of the gadget is muted by the controller. Their eyes lost the glimmering ambition, dream, and some of them lost the twinkling sparkle of hope in their eyes. But don’t get me wrong; no matter how desperate they look like, they are a happy crowd in the most humble wish.   

This condition of counting the blessing while they marginalize the dream and ambition down below is well known as a wisdom of having just enough of everything; are very common in Indonesian society, especially in the lower social class who was given no choice nor even knowing that there is certain option of life available. There is actually a term in Javanese to describe this condition, ‘sumeleh’, which could be roughly translated as reconcile to whatever condition given to him happily in the more laid-back manner.  More than that, it’s about living a harmonious life between the ideal and the reality. The line between whether they are actually lightly floating through the world and whether they don’t have much choice is very thin. 

 In one way to another, it’s funny how opposed from the toy figures; his drawing portrays some characters with two or more hands. Later, the drawing could be perceived as the ideal situation dreamt by the crowd; with two or more hands to actually ‘do’ things and starry hopeful eyes, they are picture perfect.
At the end, the portray of reality and ideals given in these two bodies of work blends together in this exhibition; provide a chance to take a reflective view of our current social condition or personal issue.  Of course, there is always another option to take Hehe’s work lightly, merely by adoring the cuteness of the characters- just as easy as the way he made it all at the very first time: by having fun!

(Mira Asriningtyas)

***

Kehidupan Santai dari Gerombolan yang Dilumpuhkan

Pada suatu hari di negeri yang damai nun jauh di sana, hiduplah sekumpulan makhluk warna-warni yang terlihat seperti kubus dan tabung kecil. Setiap hari mereka berjalan-jalan di negerinya yang tenang, saling bercakap-cakap, dan melihat-lihat pemandangan. Mereka berlari, berbicara, bersembunyi, mencintai, tapi sayangnya; mereka tidak membuat, bekerja, ataupun melakukan sesuatu karena mereka tidak memiliki tangan. Mereka percaya bahwa mereka tidak membutuhkan tangan karena mereka dikaruniai dengan mata yang lebih dari dua untuk mencari lebih banyak keindahan, kepala yang lebih dari satu untuk membuat keputusan yang lebih baik, dan beberapa memiliki kaki ekstra untuk berlarian di padang rumput. Dari sebuah kota berisi koloni para pelarian ini lah kami mengambil segerombolan makhluk paling bahagia dan menampilkannya di sini.

Pameran ini terdiri dari dua bentuk karya: urban toy yang terbuat dari kertas dan lukisan cat air yang dibuat di atas tatakan gelas. Seniman pembuatnya, Hendra “Hehe”, menyebutnya “seni remeh temeh’. Dianggap remeh temeh karena dalam pembuatannya, Hehe banyak bermain-main dan bersenang-senang dalam membuat karya-karya tersebut; dia membuatnya dari bentuk dasar seperti kotak, segitiga, bulat, dan dengan gaya yang komikal. Mainan-mainan ini merupakan versi tidak terlalu serius dari patung kertas dalam bentuk alternative urban toy. Sekali lagi, tidak seperti urban-toy pada umumnya yang merupakan bagian dari plastic culture, alih-alih dibuat dari resin atau vinyl, mainan ini dibuat dengan tehnik bubur kertas.

Proses yang sama santainya dilakukan secara spontan dalam pembuatan gambar dengan cat air di atas tatakan gelas. Mungkin si seniman begitu saja menemukan tatakan bir baru yang kosong bertebaran di rumahnya ketika ia memutuskan untuk melukisnya dengan cat air, begitu saja. Namun bagi seniman seperti Hendra Hehe, proses yang tampaknya tidak serius dalam pembuatan karya seni tetap saja dilakukan dengan perhitungan yang hati-hati.

Sebagai seniman muda yang sibuk, Hehe merasa membutuhkan seni remeh-temeh semacam ini. Baginya, terdapat sensasi yang berbeda antara menggambar di atas kanvas dan bersenang-senang dengan seni remeh-temeh ini. Prosesnya yang jauh lebih spontan mampu mengekspresikan emosi terdalam si seniman. Jauh di dalam dirinya terdapat gabungan emosi dan karakter yang mampu digambarkan dalam karyanya. Yang kemudian dilihat oleh pengunjung pameran ini adalah ruang bermain sang seniman itu sendiri.

Dalam karya-karya Hehe, baik kehidupan personal maupun kepeduliannya terhadap konteks-konteks sosial tergabung dengan baik. Di bawah alam sadarnya, perannya sebagai ayah muda telah mengubah bentuk karyanya yang semula merupakan figur tunggal menjadi figur jamak.   Beberapa memiliki dua muka yang tergabung di atas-bawah atau depan-belakang; lainnya merupakan tiga muka yang bertumpukan. Pilihan menumpuk muka-muka ini memperlihatkan perannya sebagai pria dalam keluarga dengan segala tanggungjawabnya. Secara naluriah, ia menciptakan figure-figur jamak ini sejak mulai menikah dan dikaruniai seorang putra.  Walaupun karyanya menggambarkan symbol-simbol peranan pria, namun Hehe tidak pernah bermaksud menggambarkan gender tertentu untuk makhluk-makhluknya. Seperti halnya dengan sosok Dewa Dewi di India yang digambarkan tidak memiliki gender yang jelas, makhluk-makhluk ini pun bisa menjadi pria, wanita, atau kedua-duanya sekaligus.

Dalam konteks sosial, dia mencoba menggambarkan keresahannya atas massa yang mengambang di mana orang-orang diletakkan dalam sotuasi tanpa daya di mana mereka tidak bisa benar-benar berbuat sesuatu. Hehe menciptakan makhluk tanpa tangan dan sebagai gantinya, ia meletakkan mata dan kaki yang berlebih, mulut besar yang lucu, dan beberapa memiliki telinga. Mereka mampu berpikir, melihat dengan berbagai sudut pandang, melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman, dan berbicara; namun mereka tidak mampu berbuat sesuatu.

Kata ‘disable’ dalam judul pameran ini pun merujuk pada istilah ‘melumpuhkan’ yang biasa terdapat pada alat-alat tehnologi yang sengaja di non-aktifkan oleh kekuasaan yang lebih besar.  Maka tidak heran bahwa mata-mata makhluk ini kehilangan sinar ambisi, mimpi, dan sebagian bahkan kehilangan kerlip harapan di dalamnya. Tapi jangan salah, walaupun mereka terlihat sedikit memprihatinkan, namun mereka adalah segerombolan makhluk yang berbahagia dengan cara yang sederhana.

Kondisi ini di mana mereka mampu bersyukur terhadap keadaan sementara mengesampingkan mimpi dan ambisi, merupakan sebuah kebijaksanaan atas perasaan ‘cukup’ atas segala sesuatu. Hal ini merupakan hal yang normal dalam kondisi sosial Indonesia, terutama dalam kelas bawah yang tidak diberikan pilihan maupun tidak akrab dan tidak mengerti bahwa ada pilihan hidup lain selain yang mereka tahu. Dalam istilah bahasa Jawa, hal ini digambarkan dengan kata ‘sumeleh’ yang merupakan kondisi menerima apapun yang diberikan secara ikhlas dan senang hati. Sumeleh merupakan kondisi harmonis yang berada di antara keinginan dan realita. Tipis perbedaan antara apakah mereka benar-benar dengan ringan mengambang di dunia tanpa aksi ini atau mereka tidak memiliki pilihan.

Berlawanan dengan sosok mainan tanpa tangan yang dibuatnya, gambar-gambar di atas tatakan gelas itu melukiskan beberapa karakter yang memiliki dua tangan atau lebih. Pada akhirnya, lukisan-lukisan kecil ini bisa diartikan sebagai gambaran ideal yang diimpikan gerombolan ini. Dengan adanya dua tangan atau lebih mereka bisa benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu dan juga memiliki mata yang penuh harapan.

Pada akhirnya, gambaran realitas dan ideal yang diberikan oleh dua jenis karya seni ini menyatu dalam pameran ini; memberikan kesempatan untuk berkaca mengenai kondisi sosial saat ini maupun isu-isu personal. Namun tentu saja, kita selalu memiliki pilihan untuk menyikapi karya Hehe dengan lebih santai dengan begitu saja mengagumi kelucuan karyanya- semudah proses pembuatannya: dengan bersenang-senang!

(Mira Asriningtyas)