19.4.13

Hi(s)tory





Kami menyukai kisah-kisah. Kami juga menyukai hubungan romantis antara rumah dan perjalanan. Bagi kami, kedua hal tersebut memiliki kisah yang kaya sekaligus personal.


Dalam pameran ini, Octo menawarkan sebuah kisah tentang rumah, kota asal, dan sepenggal sejarah yang buru-buru ia ceritakan sebelum ingatannya memudar seperti foto-foto yang tergerus waktu. Octo semacam membuat monumen ingatan atas kota asalnya yang telah ditinggalkan sekaligus masih disebutnya sebagai 'rumah'.


Di sini, Octo 'pulang' dengan caranya sendiri; mengembara waktu dengan teko bersayap, membangun hutan seperti yang diingatnya saat masih kecil, helipad untuk burung bersayap pesawat,dan berbagai imaji tentang laut. Makhluk kecilnya dibuat dengan kayu buah Kawista yang juga merupakan buah kebanggan kota tersebut.

Kami mengenal Octo sebagai seorang perupa yang karya-karyanya cenderung maskulin dan dalam waktu yang bersamaan terlihat manis, detil, serta sensitif. Dia juga memiliki cara tutur personal yang menyenangkan. Begitu menyenangkannya, hingga proses pembuatan karya sampai pamerannya pun dilakukan dengan ringan dan spontan. Kami semua bersenang-senang dalam pengerjaannya.

Seakan ingin membagi kesenangannya, karya-karya Octo dibuat interaktif dan bisa dimainkan oleh para penikmat pameran ini. Mulai dari kincir yang bisa ditiup, pintu-pintu kecil yang bisa dibuka, buku foto mini yang dilihat melalui kaca pembesar, dan kesenangan-kesenangan kecil lainnya.

Selamat menikmati!

*****




Hi(s)tory: His Story | History


We love stories. We also enjoy the romantic relationship between home and a journey. To us, both possess rich and personal stories. 

In this exhibition, Octo offers a story about hometown, and a piece of history he told hurrily before his memory fades like time-washed photographs. Octo tries to make a monument of remembrance about his hometown which he left but at the same time; he still refers that as home. 

Here, Octo went home in his own way; travelling through time on a winged kettle, build a forest the way he remembered when he was a little boy, a helipad for a plane-winged bird, and all the images he projected about the sea. His character, Awi, was made from the  wood of Kawista fruit which also the indigineus fruit of the Rembang area- his hometown. 

We know Octo as a visual artist with masculine works which at the same time shows a sweetness, attention to detail, and sensitiveness. He has a fun personal way of expressing his ideas. It was so fun that even the process of making his work is done lightly and spontaneously. We definitely had some fun along the way.

This element of joy is what Octo wish to share by making the interactive work of art that can be played  by the visitor. You can blow the tiny wind mill, open the small doors expecting a surprise there, looking through the magnifying glass to enjoy the fading small-size photos in his album, and many other playful thing to do. 

Have fun and enjoy the show!