19.4.13

The Abandoned House Project




Bagi saya, selalu ada hal yang romantis dan menyentuh dari sebuah rumah yang ditinggalkan. Ada aroma melankolis yang kuat dari rumah-rumah ini, kisah lama yang terlupakan, dan kehangatan yang memudar. Bertahun-tahun yang lalu, seseorang membangun mimpi dengan mendirikan rumah-rumah tersebut. Satu dua keluarga mendiaminya, mengisinya dengan kisah yang akrab penuh tawa dan kedamaian; lalu entah karena alasan apa mulai meninggalkannya.

Bertahun-tahun yang lalu, saya adalah pengintip dengan mata kanak-kanak penuh kekaguman dari balik pagar rumah-rumah tersebut. Ingatan kanak-kanak saya mulai pudar, namun berbagai rasa dan imaji tentang rumah ideal dan kisah-kisahnya mulai terbangun di dalam benak saya. Dulu, rumah-rumah ini membangun pandangan ideal saya tentang ‘rumah yang cantik berhalaman luas’; jenis rumah masa depan yang akan saya bangun untuk keluarga. Hal ini kembali terasa relevan ketika saya, saat ini, sedang membangun rumah masa depan yang banyak terinspirasi oleh rumah-rumah tersebut.


Semenjak masa kolonialisme, Kaliurang menjadi salah satu tujuan wisata utama. Awalnya, daerah ini menjadi area peristirahatan bagi para ahli geologi Belanda di awal abad 19. Setelah kemerdekaan, vila-vila ini kemudian jatuh ke tangan Indonesia dan keluarga kerajaan pun mulai membangun peristirahatan, diikuti oleh keluarga-keluarga pengusaha, kelompok perusahaan, maupun priyayi dari kota jogja. Di tahun 1948, KTN dilakukan dan membentuk Notulen Kaliurang dan area ini menjadi terkenal. 

Sebagai rumah peristirahatan, rumah-rumah ini umumnya dibangun di pinggir jalan besar, terpisah dengan area pemukiman warga asli Kaliurang.  Umumnya, rumah yang dibangun untuk tujuan liburan keluarga akan mulai ditinggalkan setelah keluarga tersebut berkembang, kepemilikan rumah turun menjadi hak beberapa orang, dan tidak ada yang berniat melanjutkan romantisme masa lalu tersebut. Sedangkan rumah yang dibangun untuk tujuan peristirahatan orang tua pemiliknya di usia senja, umumnya tidak lagi digunakan setelah orang tua tersebut meninggal. Menitipkan orang tua yang sudah lanjut usia dalam ketenangan pegunungan adalah praktik yang wajar bagi keluarga keturunan Tionghoa pada tahun-tahun keemasan Kaliurang (tahun 60-80an). Hal ini membentuk pola hubungan toleransi yang menarik di antara warga asli Kaliurang dengan mereka.

Ketika membayangkan masa keemasan Kaliurang, rumah-rumah ini terlihat kembali penuh warna, percakapan, dan kehidupan bagi saya. Dalam project ini saya memilih untuk menggali  dan merekam kisah rumah-rumah dengan memadukan fiksi dan realitas serta sedikit ingatan generasi sebelumnya yang juga memudar seperti kisah-kisah nyata dari rumah ini. Kaliurang, daerah yang perlahan-lahan ditinggalkan ini adalah rumah tempat saya pulang yang sebenar-benarnya. Bagi saya, rumah-rumah yang ditinggalkan ini adalah ingatan akan masa lalu dan gambaran melankolis akan masa depan.

*****


For me, there will be always a romance and touchy feeling from the abandoned houses. There are melancholy that strongly spread out from these houses, the forgotten old memories, and the faded warmth. Years ago, someone dreamt and built those houses. A family lived in, filling them with restful-cheerful-amicable stories; then by any reasons those people just left them.

Long time ago, I was a peeper; with the kid’s eyes filled of wonder in the rear of the houses’ gates. My memory started to fade away, yet the feeling and imagination about my ideal house and its stories appeared in my mind. Those houses had built the mind's eye about ‘a beautiful-wide courtyard-house’; a kind of house I would like to build for home. Dream comes true, at present, I am building my future house inspired by those abandoned houses.

Since the colonialism, Kaliurang had become the main tourism destination. Firstly, it became the villas for the Dutch geologist in the beginning of the nineteenth century. After the independence, these resting places had belongs to Indonesian and the royal family started to rebuild them, followed by the businessmen, groups of company, or the natives of Yogyakarta. In 1948, KTN was held and it formed the ‘Notulen Kaliurang’ or Kaliurang Charter, later on this area became so famous.

As villas, these houses are commonly built along the main road, separated from the living place of indigenous people of Kaliurang. Generally, the houses that were built for a vacation destination will be leaved after the families descend. The ownership right of those houses is divided to some people, and they usually do not intend to continue those sweet memories. Whereas, the houses built for a resting place of their parents in their old age, ordinarily are not functioned as them were anymore after their parents had passed away. Entrusting old people with the peace of mountain atmosphere was Tionghoa’s habit in glorious years of Kaliurang (1960-1980). It shaped an attractive model of tolerance between the native and the foreigner.

When figuring the victorious era of Kaliurang, I feel them again: these houses are full of color, fun talking, and livelihood. In this project, I prefer to delve and record these houses’ stories, combining fiction and reality and a piece of memory about previous generation that started to dwindle as same as the stories. Kaliurang, a place that is constantly left , is a house to which I am home and it was the real home. For me, these abandoned houses are the past memory and the future picture of melancholy.

(Mira Asriningtyas)