19.4.13

Finding Stillness



*****


The quest of finding the perfect balance in this modern life seems to intrigue Dito Yuwono in this series. He chose yoga as a way to steal a piece of serenity in the middle of this fast changing society. Not only has yoga become modern people’s association of stillness but also a way to keep the rhythm of life harmonious.


In this series, Vriksha Asana (or the tree pose) is performed in some unusual places to give a silence space for contemplation in the middle of the hustle bustle life. Yuwono, who lives in one of the most peaceful city in Indonesia, is disturbed by the way things change rapidly. Empty spaces soon to be built a new hotel, shopping mall, busy streets that start to be congested, and even more ongoing developments. He starts to get confused in his own city and suddenly feels the necessities to pause and look around. Apparently, such changes do not only happen in his city but also in some big cities around Indonesia.


The tree pose represents the strength of a tree strongly rooted down to the ground while the changing hand gestures represent the freedom of the tree branches blown by the wind.  The two elements merge as a whole balance of strong foundation and flexibility to change. On the other side, Yuwono tries to plant ‘a tree’ in the dry and uncomfortable areas with a big portion of human touch to cool down the rigid areas.

The performers are positioned to look at the ‘reality’ in front of them instead of facing the camera. It is Yuwono’s attempt to separate the model with the landscape as well as trying to avoid unnecessary distraction to his work. In this artwork, Yuwono acts as a spectator looking at someone in his/her attempt to find his/her own balance in this stream of change. He decides to witness the negotiation and adaptation process between ideal condition and reality.  As a former journalist, Yuwono’s work has this tendency to be in certain position where he becomes the eyewitness of life rhythm around him.

(Extracted from Angki Purbandono’s interview with Dito Yuwono)

*****

Menemukan Ketenangan

Pencarian untuk menemukan keseimbangan yang sempurna dalam kehidupan yang serba modern ini menggugah hati Dito Yuwono dalam seri ini. Dia memilih yoga untuk menculik sepotong ketenangan di sela-sela perubahan dalam masyarakat. Yoga bukan hanya digunakan masyarakat untuk mencari ketenangan, namun juga sebagai cara untuk menjaga irama keharmonisan hidup.

Dalam seri ini, Vriksha Asana (atau pose pohon) ditampilkan di beberapa tempat yang tidak biasanya untuk menyediakan celah kontemplasi di tengah hiruk pikuk kehidupan. Yowono, pria yang tinggal di salah satu kota paling damai di Indonesia ini, merasa terganggu dengan perubahan yang begitu cepat terjadi. Lahan-lahan kosong seketika disulap menjadi sebuah hotel baru, pusat perbelanjaan, jalanan padat merayap, dan proyek pembangunan yang sedang berjalan. Dia mulai dipusingkan di kota kelahirannya dan kemudian merasa perlu untuk berhenti sejenak dan melihat sekitar. Nampaknya, perubahan-perubahan semacam itu tidak hanya terjadi di kotanya tetapi juga di beberapa kota besar di Indonesia.

Pose Pohon mewakili kekuatan sebuah pohon berakar kuat yang menghujam bumi sementara mengganti gerakan tangan mewujudkan kebebabasan cabang pohon yang tertiup angin. Kedua elemen ini melebur menjadi keseluruhan keseimbangan fondasi yang kuat dan kelenturan untuk berubah. Pada lain sisi, Yuwono mencoba untuk menanam ‘sebatang pohon’ dalam kegersangan dan ketidaknyamanan tempat dengan andil sentuhan manusia untuk menyejukkan wilayah-wilayah yang penuh kekakuan.

Para fotografer diposisikan untuk melihat kenyataan di depannya lebih dari sekadar menghadapi kamera. Begitulah usaha Yuwono untuk memisahkan model dengan panorama sebaik seperti mencegah gangguan yang tidak penting dalam pekerjaannya. Dalam karya seni ini, Yuwono berperan sebagai seorang penonton yang menyaksikan seseorang dalam usahanya untuk menemukan keseimbangannya sendiri dalam aliran perubahan ini. Sebagai seorang jurnalis fotografer, karya Yuwono memiliki kecenderungan dalam bagian tertentu di mana dia menjadi saksi irama kehidupan di sekitarnya.

(Bersumber dari wawancara Angki Purbandono dengan Dito Yuwono)