8.7.14

[Publication] Energi, Pertumbuhan, dan Harmoni Kehidupan


Tersembunyi di tengah salah satu area turis paling sibuk di Yogyakarta, rumah pasangan seniman Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo menawarkan ketenangan yang intim dan sejuk.


26 tahun yang lalu, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo  mendirikan Cemeti Art House yang kini menjadi tolok ukur seni rupa kontemporer Indonesia. Hal itu menjadikan mereka sebagai salah satu pasangan seniman yang paling berpengaruh di dunia seni rupa Indonesia. Selain kesibukan mereka di Cemeti Art House, Mella dan Nindityo merupakan perupa yang aktif berkarya di dalam maupun luar negeri. Karya mereka umumnya berangkat dari hal personal yang ditarik ke wacana luas tentang identitas, sejarah, dan sosial-politik dengan media yang beragam mulai dari drawing, instalasi, dan video. Seni rupa kontemporer telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari.  Tak heran bila pasangan ini membutuhkan ruang privat yang tersembunyi dari hiruk pikuk seni rupa yang hampir tiada hentinya. 

Cita-cita mereka untuk memiliki rumah tropis yang terbuka dan ramah lingkungan diwujudkan dengan bantuan Eko Prawoto.  Letaknya sedikit tersembunyi dari jalan utama sehingga terasa sepi dan nyaman. Halaman depannya terbuka dan dihiasi dengan rimbun pepohonan di taman. Terdapat sebuah ayunan mungil di teras depan yang asri dan sebuah patung karya Mulyono yang seakan menyangga dinding depan rumah itu. Sejalan dengan konsep rumah yang terbuka, di rumah ini hanya pintu depan dan kamar saja yang dibuat tertutup. Dengan plafon yang tinggi dan sirkulasi udara serta cahaya yang baik, rumah ini terasa asri dan sejuk dengan alami.  

Memaknai Ulang Konsep Rumah
Rumah ini dibangun pada tahun 1994 pada saat putri pertama mereka, Sae Adipurnomo, masih balita.  Saat itu semangatnya adalah semangat membeli tanah dan membangun Cemeti. Namun karena lokasi yang dinilai terlalu tersembunyi, orientasi mereka berubah dan lokasi itu kemudian dimaksudkan untuk menjadi rumah tinggal dengan sebuah studio untuk Mella. Ide tersebut diterjemahkan oleh Eko Prawoto dengan menjadikan studio sebagai ruang pusat energi utama rumah tersebut. Terdapat empat pilar yang dibangun di atas fondasi cakar ayam yang luar biasa kuat, dan di seputar studio itu lah kehidupan berlangsung. Ruang-ruang lain yang terdapat di rumah ini kemudian seakan menempel bebas dengan batas dan fungsi ruang yang fleksibel. Bagi mereka, membuat rumah ibarat seperti membuat karya seni. Meskipun Eko Prawoto lah yang medesain kerangka, konsep dasar, dan konstruksi besar dan membuat rumah itu menjadi sebuah bangunan yang siap diisi; mereka lah inti dari kehidupan dan hati yang membuat bangunan ini bermakna rumah. Eko Prawoto membuat ‘kanvasnya’ dan Mella serta Nindityo lah yang mengisinya dengan lukisan yang tak hanya indah namun juga bermakna. 

Sejak tahun 1995 itu pula ada beberapa perubahan yg dibuat. Dinding bambu sempat dilepas dan digantikan dengan lemari buku yang tertanam di tembok. Temboknya dibuat berkesan lembut dan tidak keras dengan adanya batu bata yang terekspos dan dicat putih dengan tekstur pasir. Warna-warna pop yang menyegarkan pandangan dari dominasi warna alam di rumah ini pun diganti secara berkala. Karya-karya seni yang terpajang di dinding digilir setiap setahun sekali dan selalu ada bunga segar yang diganti tiap minggunya. Seperti dalam berpakaian, Mella memang kerap menambahkan elemen warna yang kuat di atas permainan motif dengan warna yang netral. Secara berkala ia kerap mengganti cat dinding dan warna kursi serta aksesoris rumah. Ia menikmati fakta bahwa warna favoritnya sering berubah dan berkembang seiring berjalannya waktu. Warna-warna pop di rumah tersebut juga dimaksudkan untuk menghindari rasa bosan atas warna kayu dari benda-benda antik yang mendominasi.  

Rumah yang dulu merupakan ruang milik berdua bagi Mella dan Nindityo kini ikut berkembang bersama dengan keluarga mereka. Saat ini Sae sedang menempuh pendidikan tinggi di Belanda dan putri ke-dua mereka, Yona Adipurnomo, sudah mulai beranjak dewasa. Hal itu mulai membuat Nindityo mulai merindukan wujud rumah keluarga yang lebih dewasa pula. Bagi beliau, uji coba waktu terhadap rumah tersebut mulai terasa dengan adanya perubahan kebutuhan dan gaya hidup.
  
Meskipun demikian, beberapa kesenangan kecil di rumah ini tetap lah tidak lekang oleh waktu. Nindityo menikmati bagaimana mereka tetap bisa merasakan hujan ketika berada di rumah, sepoi-sepoi angin di ruang makan yang terbuka ketika bercengkerama dengan keluarga, serta bagaimana ia bisa sesekali membayangkan dirinya berada di hutan saat memandang rimbun pepohonan di halaman belakang. Terdapat hal-hal puitis yang tidak mudah tergerus perubahan meskipun rumah tersebut terus menerus tumbuh, diperbaharui, dan dimaknai ulang. 

Seni, Filosofi, dan Tanggungjawab Sosial
Di awal pembangunannya, Eko Prawoto merancang sebuah tembok yang tinggi di sisi depan rumah dengan alasan  supaya mereka memiliki banyak ruang untuk memajang karya seni. Sebuah ramp miring dibangun berputar menghubungkan lantai bawah dan lantai atas rumah ini. Di area ‘jembatan’ atas ini orang bisa menikmati karya-karya seni yang dipajang di sisi atas tembok. Sebagai pasangan pemilik galeri, Mella dan Nindityo memiliki lebih dari 250 koleksi seni pribadi yang terdiri dari karya drawing di atas kertas, kanvas, fotografi, kolase, dan obyek tiga dimensi. Nama-nama besar seperti Heri Dono, Eddie Hara, S.Teddy, dan Eko Nugroho mewarnai koleksi yang dipajang bergilir di rumah ini. Karya-karya tersebut tidak hanya sekedar koleksi biasa namun merupakan representasi atas diri mereka sebagai penggerak Cemeti Art House. Koleksi berharga ini pernah dipamerkan pada pameran Collecting Rain tahun lalu dalam perayaan 25 tahun Cemeti.

Satu lagi hal yang menarik dari rumah ini adalah banyaknya porsi benda yang dibuat dengan tangan dengan craftmanship yang tinggi. Hampir semua material yang digunakan untuk membangun rumah ini merupakan material buatan tangan dan bukan benda jadi dari pabrik. Dinding kayu dibuat di tempat, ubin yang digunakan merupakan ubin buatan tangan, dan teralis yang digunakan untuk ramp di lantai atas pun ditentukan secara spesifik jenis besi, ukuran, bentuk, dan jaraknya oleh sang empunya rumah.  Saat melihat kamar mandi yang berbentuk bulat pun Nindityo mulai bermain-main dan asyik membuat lubang ventilasi dalam bentuk khusus yang bermacam-macam. Selain ingin mendapatkan hasil yg menarik, ia juga menikmati proses pembuatannya sembari belajar mencipta. 

Hal ini juga merupakan filosofi arsitektur yang diterapkan oleh Eko Prawoto sebagai ‘murid’ dari Romo Mangun. Romo Mangun yang merupakan seorang pejuang kemanusiaan kerap memberikan perhatian khusus bagi mereka yang terpinggirkan. Bagi beliau, penggunaan materi lokal, pemahaman terhadap bahan, dan banyaknya porsi material yang dibuat secara manual merupakan hal yang penting. Spiritnya adalah bagaimana arsitektur harus memerdekakan manusia dan dalam proses pembangunan rumah, lebih baik untuk menggunakan bahan murah dan menghargai lebih tenaga kerjanya. 

Ajaran bahwa investasi sebaiknya ada pada sumber daya manusia tersebut diamini oleh Mella dan Nindityo. Eksekusi fisik pada desain rumah ini menunjukkan bahwa detil-detil dalam pembangunan rumah ini  dilakukan oleh banyak orang dan menyerap banyak tenaga kerja. Contoh yang ekstrim di rumah ini adalah mozaik tegel yang ada di kamar mandi. Mereka membeli tegel bekas murah dari pabrik, menghancurkannya, dan meminta tukang untuk menyusun ulang potongan-potongan tersebut. Hal-hal kecil yang personal semacam itu lah yang memberikan aspek puitis dari konstruksi rumah ini. 

Harmoni dan Energi yang Menginspirasi
Pada perkembangannya, rumah ini berubah menjadi tempat persembunyian yang privat bagi pasangan Mella dan Nindit. Rutinitas harian mereka dimulai dengan bangun pagi, bekerja di studio, merencanakan hari, bekerja di Cemeti, dan diakhiri dengan acara sosial serta acara seni yang nyaris tanpa henti di Yogyakarta. Tak jarang tuntutan profesi membuat mereka harus keluar kota atau keluar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu membuat mereka berdua menjadikan rumah seperti sebuah tempat istirahat yang khusus dan terbebas dari kesibukan. 

Memasuki rumah ini, tamu akan langsung berhadapan dengan ruang keluarga. Hal ini membuat rumah tersebut terasa sangat intim meskipun terbuka. Fungsi ‘ruang tamu’ yang umum digantikan oleh adanya ruang bernama Cemeti Art House tempat mereka biasa menemui tamu yang berhubungan dengan pekerjaan. Rumah ini berkembang menjadi sebuah ruang intim keluarga dengan tingkat privasi yang tinggi. Tak heran bahwa pelarian Nindityo dari deraan pekerjaan adalah dengan berada di rumah dan menjalani hobinya untuk membuat rumah selalu indah. Beliau mengaku paling suka tinggal lama dan mengotak atik susunan rumah. Hal ini merupakan warisan kebiasaan dari ayahnya yang tiap minggu rutin mengubah susunan dan menginventarisir ulang benda-benda. 

Di waktu senggang, Nindityo memanjakan diri dengan mendengarkan musik klasik, gamelan, dan sesekali menikmati konser chamber music. Untuk urusan fashion, pasangan ini kerap memilih membuat sendiri baju mereka. Selain karena ukuran mereka tidak tersedia bebas di Indonesia, hal ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap benda-benda buatan tangan dan adanya koleksi kain Mella yang melimpah. Keluarga ini pun rutin berlibur bersama dan sesekali pulang ke Belanda untuk mengunjungi keluarga Mella. Liburan bagi mereka adalah saat untuk terlepas dari hiruk pikuk seni rupa kontemporer dan waktu untuk mewujudkan sesuatu yang puitis di kepala mereka.

Yang membuat pasangan perupa ini semakin istimewa adalah besarnya energi yang mereka miliki untuk mampu memiliki karir personal yang sama kuatnya sambil menjalankan sebuah ruang seni kontemporer yang berpengaruh hingga kancah seni rupa internasional. Hal itu tetap dilakukan sembari menjalani kehidupan keluarga yang hangat dan harmonis. Menurut Nindityo, hal ini hampir tidak ada formulanya. Situasi yang terus berubah membutuhkan fleksibilitas tinggi dan komitmen terhadap pendampingan anak lah yang menjadi penyeimbang kehidupan mereka berdua. Dua puluh enam tahun yang lalu hingga sekarang, energi mereka berdua tetaplah menjadi inspirasi bagi dunia seni rupa Indonesia. 

(Mira Asriningtyas for Dewi Juli 2014 no.7/XXII p.222-225)