8.7.14

[Publication] The Family Fortress


Kesan privat yang kuat tergambar dari bangunan kediaman keluarga seniman Agus Suwage dan Titarubi ini. 

Batu bata bercat hitam disusun sedemikian rupa membentuk pelindung yang berlapis atas privasi pemiliknya. “Rumah ini adalah pemenuhan janji saya terhadap anak-anak yang ingin memiliki privasi keluarga yang cukup, terpisah dari pekerjaan orang tuanya”, kata Agus Suwage. 

Seperti dalam karya seninya, Agus Suwage banyak menggunakan elemen-elemen alam yang kuat seperti graphite, beton dan baja dalam pembangunan rumah ini. Walaupun demikian, ia memastikan bahwa rumah ini memiliki beberapa sentuhan personal yang menciptakan kehangatan yang ramah bagi penghuninya. Penempatan chandelier kristal  di ruang keluarga dan ayunan di teras rumahnya adalah pilihan beliau untuk memberikan kontras dan mencairkan kesan kuat rumah tersebut. Beton-beton yang tertutup berpadu harmonis dengan rumput hijau, air yang bergemericik, sirkulasi udara yang baik, dan pohon-pohon besar yang memberikan kesan teduh dan nyaman.

Meskipun terkesan tertutup dari luar, dalam rumah ini terkesan lapan bermandikan cahaya natural dari kaca-kaca besar yang mengelilinginya dan skylight yang berada di beberapa titik rumah. Bagi Agus Suwage dan Titarubi, penting untuk memiliki rumah yang berkarakter. Berada di tengah area perkampungan, mereka ingin rumah ini terkesan tidak mewah dan membaur. Sang arsitek, Andra Matin, memberikan solusi dengan menurunkan permukaan rumah sampai 1.5 meter ke bawah sehingga dari luar rumah ini terkesan hanya terdiri dari satu lantai. Kekuatan estetis di rumah ini dibuat sedemikian rupa sehingga bisa memiliki fungsi yang sama besarnya. 



“Saya tidak menyukai barang-barang mewah dan yang penting bagi saya desainnya pas dan nyaman dengan hati pemiliknya, tidak harus designer-made”, kata Agus Suwage. Sepanjang pembangunan rumah ini, beliau terlibat secara aktif dalam mendesain sendiri sebaguan besar furnitur di dalam rumah, gagang pintu, hingga pilihan dudukan lampu yang hampir seluruhnya custom-made. Seluruhnya dibuat seminimalis mungkin karena ke depannya ia ingin memajang koleksi seni baik yang merupakan karya sendiri maupun teman-temannya. Kedua putrinya pun diberikan kebebasan untuk menata kamar sesuai karakter pribadi mereka. Hasilnya, rumah ini terkesan kompak dan fungsional sambil tetap berhasil menonjolkan karakter pemiliknya.

Bagi pemiliknya, rumah ini memiliki fungsi utama sebagai lokasi berkumpulnya keluarga dan pelindung bagi privasi penghuninya. Tak heran bahwa ruang makan merupakan ruang favorit untuk berkumpul keluarga ini. Kesan damai terasa kuat di ruang makan tersebut dengan adanya sebuah pohon jambu air yang berbuah, ikan-ikan yang jinak, dan bale bengong yang dikelilingi oleh kolam dengan air bergemericik. 

(Mira Asriningtyas for Elle Decor Indonesia April 2013 | photo by Kurrniadi Widodo)