8.7.14

[Publication] The Lightness of Creation


Studio dua tingkat dengan desain industrialis menjadi laboratorium penciptaan yang sempurna bagi seniman kontemporer terkemuka, Agus Suwage.

Di pintu masuk, terdapat sesosok tengkorak hitam bersayap emas dan sebuah dinding kosong tempat beliau biasa melakukan uji coba display untuk karya instalasi barunya. Sebuah karya monumental berupa tumpukan botol bekas hasil karya Agus Suwage dari salah satu pameran tunggalnya tahun lalu menghiasi lantai satu rumah ini. Karya tersebut terasa kuat dan maskulin bersanding dengan sebuah motor tua yang terdapat di depan pintu masuk menuju sebuah studio musik dan studio rekaman.

Musik memang merupakan salah satu passion Agus Suwage. “Lebih serius kan (dalam hal musik) daripada seni rupa?”, guraunya sambil menunjukkan isi studio musik. Kesan canggih langsung terasa ketika melihat berbagai perlengkapan rekaman dan koleksi alat musik dari seluruh penjuru dunia yang tersebar hingga lantai dua. Sebuah tangga putih membawa kita masuk ke lantai dua yang merupakan sebuah ruangan luas berdinding putih dan beralaskan beton telanjang tanpa sekat.

Di studio ini Agus Suwage biasa mengerjakan lukisan barunya dan mendesain untuk karya2 instalasinya sambil sesekali ‘nge-jam’ bersama teman-teman penggemar musik lainnya. Tidak main-main, band beliau yang terdiri dari kurator Enin Supriyanto dan beberapa nama terkenal dalam seni rupa lainnya itu terbilang cukup produktif dalam menciptakan karya musik baru. “Kami sedang akan rekaman”, ujar beliau bersemangat sambil memutarkan lagu-lagu ciptaannya yang kental dengan nuansa jazz serta playfulness ala Beirut.

Di ujung ruangan terdapat rak setinggi langit-langit berisi ribuan buku koleksi istri Agus Suwage yang juga merupakan seniman kontemporer kenamaan Indonesia, Titarubi. Di belakang berbagai jenis gitar koleksinya terdapat rak yang penuh berisi CD dan VCD musik koleksi Agus Suwage serta film-film koleksi Titarubi. Ruangan bermandikan cahaya alami ini terasa humanis dan menyimpan referensi tak terbatas bagi karya-karya sang pemiliknya.

Q: Apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memisahkan studio dengan rumah tinggal?
A: Sebenarnya keluarga saya sempat tinggal bersama di studio ini, namun anak-anak mulai merasa privasinya terganggu ketika saya sering kedatangan tamu atau teman-teman yang nge-jam bersama. Maka demi menjaga privasi keluarga, rumah dibangun di bagian depan sementara studio berada di bagian ujung belakang halaman. Cukup terpisah untuk menyediakan cukup privasi namun juga masih terhubung dengan area tinggal.

Q: Bagaimana anda mendapatkan inspirasi dalam berkarya?
A: Inspirasi dari apa saja. Saya biasa membuat komentar social tentang isu politik dan agama dengan cara yang personal dan berangkat dari hal-hal yang sehari-hari. Konsep karya baru saya belakangan ini adalah 'daur ulang' baik secara material maupun kekaryaan. Karya-karya baru yang merupakan apropriasi karya lama. Setelah lebih dari 25 tahun berkarya berkarya, inspirasi maupun kecenderungan karya saya rasanya lebih bebas dan tidak lagi terikat pada suatu gagasan tertentu maupun pada kecenderungan self-portrait atau tema kematian.

Q: Negara favorit?
A: Jepang

Q: Hobi dan ketertarikan?
A: Saya sangat tertarik pada dunia binatang. Saya pernah memelihara berbagai jenis binatang. Kalau berbicara tentang binatang (jenis, habitat, kebiasaan, dll) saya bisa lebih menguasai daripada berbicara tentang seni rupa. Saya menghabiskan banyak waktu menonton Animal Planet, National Geographic, dan Discovery Channel. Selain itu, saya juga mengoleksi tengkorak-tengkorak binatang yang sekali waktu saya gunakan untuk karya.

Q: Koleksi yang anda simpan di studio?
A: Alat-alat musik dari berbagai negara, terutama gitar. Saya bercita-cita menguasai semua alat musik dan menyukai oleh-oleh berupa alat musik.

Q: Bagaimana musik mempengaruhi karya Anda?
A: Saya banyak menggunakan unsur musik, lagu, suara, maupun sosok musisi dalam karya saya. Dalam salah satu karya saya besok ada sebuah video ‘dialog’ musikal antara saya yang memainkan terompet dan anjing saya, Kumon.

Q: Apa yg sedang anda kerjakan saat ini?
A: Menyiapkan pameran tunggalnya di Tyler Rollins New York untuk bulan Februari ini dan dua buah pameran di Berlin tengah tahun mendatang.

Q: Siapa seniman favorit Anda?
A: Banyak sekali. Mulai dari Frida Kahlo, Marina Abramović, Van Gogh, Picasso, Hiroshige, Sudjojono, dan masih banyak lagi. Sosok seniman maupun tokoh yang saya sukai biasanya muncul pada karya-karya saya.

(Mira Asriningtyas for Elle Decor Indonesia August 2013 - p.110-112 | Photo by Kurniadi Widodo)