8.7.14

[Publication] Monumen Kenangan Agung Kurniawan



Terletak di bagian selatan kota Jogja, studio ini tersembunyi dari keramaian jalan raya. Letaknya yang berdekatan dengan makam tidak mengurangi daya tariknya. Justru hal ini menjadi salah satu alasan Agung Kurniawan memilih untuk mendirikan studionya di sini.   

Sebelumnya, studio Agung Kurniawan terletak di lantai atas Kedai Kebun Forum. Kedai Kebun Forum adalah sebuah ruang seni dan restoran yang dibangunnya bersama dengan istrinya, Yustina Neni. Dengan kesibukan yang semakin padat sebagai seorang seniman kontemporer yang rajin berpameran di berbagai negara, ia merasa perlu membangun sebuah studio khusus yang mampu memenuhi berbagai kebutuhannya. Seniman yang juga merupakan seorang aktifis sosial ini membutuhkan ruang yang luas untuk berkarya namun juga memiliki tempat untuk membaca, bersantai, dan bertukar pikiran dengan teman-teman dekatnya. Ketika ditanya bagaimana ia menamai studio ini, dengan serius ia menjawab: "Tower of Loneliness". Namun, tak jarang pula Agung Kurniawan memanggil studio ini dengan nama yang lebih mesra: "Rumah Ibuku".

Agung Kurniawan membangun studio ini selayaknya membangun sebuah monumen kenangan atas masa kecil dan ibunya. Konon, masa kecilnya dihabiskan di sebuah rumah besar di tengah area hutan di mana ayahnya bekerja. Studio ini pun terletak di sebuah area yang sunyi, tersembunyi, dan banyak pepohonan. Di malam hari, terkadang pohon-pohonnya terlihat memantulkan cahaya karena terangnya sinar bulan yang menerobos masuk tidak terganggu polusi cahaya layaknya di kota. Suara-suara gemersik dedaunan dan aneka jenis hewan serta serangga liar menjadi pilihan 'musik' alami baginya. Beberapa ember alumunium besar diletakkan di berbagai sudut yang bocor untuk menambah efek suara alam saat hujan deras. Kedekatan suasana studio ini dengan alam merupakan perwujudan kenangan sang empunya rumah atas masa kecilnya yang hidup di tengah hutan. Agung bahkan membeli sepetak tanah tambahan di dekat studionya untuk sengaja dibuat menjadi 'hutan'. Hal ini dilakukannya supaya menjaga supaya area tersebut tetap hijau dan ramah lingkungan. 

Sedangkan kenangan lain yang ingin ia bangun dalam studio ini adalah kenangan atas ibunya. Saat rumah ini dibangun oleh Agung Kurniawan, ayahnya sedang kehilangan ibunya. Ayah memiliki kisah cinta yang romantis dan kesetiaan yang indah bagi ibunya.Studio yang disebut mesra sebagai rumah ibunya ini terletak tak jauh dari makam beliau. Sebuah kamar tidur dibangun di lantai dasar studio ini. Awalnya, kamar ini dibangun untuk singgah ayahnya apabila beliau sedang berziarah ke makam ibunya. Agung Kurniawan merasa ayahnya yang sedang kehilangan belahan jiwanya ini perlu lokasi menyendiri di tengah alam yang dekat dengan makam ibunya. Kamar ini dilengkapi dengan sebuah foto sang ibunda. Selain karena letaknya yang tak jauh dari makam ibunya, beberapa hal yang mengingatkan Agung Kurniawan atas ibunya kembali dimunculkan di rumah ini. Kegemarannya menjaga kebersihan dan kerapian pun merupakan salah satu sifat yang diwariskan oleh ibunya. Agung Kurniawan selalu menyempatkan diri menyapu sebagai bentuk 'pemanasan' yang meditatif sebelum memulai hari. Anak ke-empat dari enam bersaudara ini pun mengaku memiliki kesenangan yang sama dengan ibunya atas berbagai jenis camilan kering. Oleh karena itu, ia rajin mengisi sejumlah toples yang tersebar di berbagai sudut studio ini dengan aneka macam snack kering.  

Studio ini terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar, terdapat sebuah studio kerja yang luas dan lapang, sebuah kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang makan. Di area mezzanine terdapat sebuah kamar terbuka, perpustakaan, ruang duduk, dan ruang kerja. Di antara seluruh ruangan di rumahnya, ruang makan yang terletak di lantai pertama menjadi bagian favorit dari studio ini. Dengan sangat spesifik ia memilih meja yang luas, yang mampu digunakan untuk berkumpul. Pilihan ini pun masih terkait dengan memori masa kecilnya. Dulu, sang ibu memiliki ritual makan siang bersama ke-enam anaknya di meja makan yang berbentuk serupa. Dalam ritual ini mereka akan saling berbagi dan menceritakan apa yang terjadi hari itu. Meja makan kemudian menjadi 'ruang' berbagi yang intim dan kaya cerita. Baginya, hal itu sesuai dengan filosofi yang ia percaya dalam membentuk sebuah rumah. Rumah itu harus intim dan masuk akal. Masuk akal dalam hal ini mampu dikenali setiap sudutnya, memenuhi kebutuhan penghuninya, dan bisa dibersihkan dalam waktu yang singkat. 

Ruangan favorit berikutnya adalah area duduk di bagian atas mezzanine yang terbuka. Angin yang bebas masuk ke seluruh sudutnya serta ketinggiannya memberikan feel rumah pohon pada area ini. Beberapa sentuhan personal pun diberikannya di sekeliling ruang ini. Pola geometris dilukisnya di lantai dan beberapa bagian meja serta kursi kayu dicat dengan warna yang kuat saat Agung sedang membebaskan diri dari beban perkerjaannya. Lantai bawah yang dilengkapi dengan tegel kunci berwarna biru dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mengingatkan kita atas air di lautan dan jajaran pulau-pulaunya. Pola 'pulau' tersebut pun menggantikan fungsi karpet dalam memperindah ruang. 

Karena berada jauh dari riuh rendah suara jalanan, tempat ini cenderung begitu sunyi. Bagi Agung, sunyi adalah investasi.Tempat ini begitu sunyi sehingga terkadang tamu-tamu yang datang untuk bercakap-cakap tanpa sengaja memelankan suara mereka dan berbisik-bisik demi mengimbangi suara alam yang meskipun riuh namun tetap lembut. Di saat-saat sendiri, Agung Kurniawan terkadang memperhatikan banyaknya suara yang menarik dan baru saja ditemukannya sesuai kondisi alam, suara kicau burung yang berbeda-beda serta nyanyian berbagai jenis katak liar menjadi hiburannya sehari-hari. 

Seniman yang menggemari puisi ini umumnya menghabiskan waktunya sebagai direktur artistik Kedai Kebun Forum, menjadi aktifis seni di Yogyakarta, dan berkarya sebagai seorang seniman. Melalui seni, ia ingin orang berpikir ulang tentang kehidupan dan terinspirasi. Studio ini pun diharapkan mampu menginspirasi orang-orang bahwa membuat rumah yang kecil dan apik pun mungkin dilakukan dengan bahan yang murah serta ramah lingkungan. Dalam upaya tersebut, Agung Kurniawan tidak ragu untuk menjadikan proses pembangunan studio ini sebagai sejenis laboratorium percobaan lengkap dengan trial dan errornya. Ia mempercayakan desain studio ini pada seorang arsitek muda, Novi Kristinawati. Studio ini kemudian menjadi rumah pertama yang ia buat. Selain itu, kontraktornya pun dibiarkan melakukan berbagai percobaan untuk mencari solusi bagi tanah daerah tersebut yang merupakan tanah lempung. Kerangka besi rumah tersebut pun dibuat oleh seorang artisan yang kerap membantu Agung Kurniawan dalam pembuatan karya besi gambarnya yang khas. Ia menyikapi pembuatan studio ini sebagai sebuah proses pembuatan karya seni lengkap dengan sesi bongkar pasang dan eksperimen-eksperimen yang berani. 

Studio ini dibuat dengan konsep breathing house dengan mengambil substansi dari ideologi rumah tradisional dengan bentuk kontemporer. Udara dan cahaya di rumah ini terus bergerak, bahkan pilihan dinding transparan dan tegel kunci sebagai lantainya memastikan seluruh bagian dari studio ini bernafas. Beton yang terekspos dan rangka besi membuat studio ini terkesan solid dan industrial; namun sebenarnya tidak ada yang solid dalam bangunan studio ini. Seluruh bagiannya dibuat modular dan movable. Penggunaan rangka besi membuat proses pembangunannya cepat dan bisa sewaktu-waktu dipindahkan. Baginya, membangun studio ini seperti sedang bermain-main dengan Lego.

Agung Kurniawan memiliki koleksi sepeda, motor, tas bermerek "Property of..", dan sepatu kulit yang dikumpulkannya karena kegemarannya menyemir sepatu. Koleksi sepedanya pun merupakan koleksi kesayangan miliknya. Terkadang, ia begitu bersemangat dengan koleksi tersebut sehingga tidak jarang bila ia memilih untuk tidur bersama sepedanya tiap ada sepeda baru. 

Sebagai seniman dengan jam terbang yang cukup tinggi, ia menyebutkan Sao Paolo, Utrecht, dan Paris sebagai tiga kota favoritnya. Walaupun demikian, kota Yogyakarta merupakan cinta pertamanya yang terus menerus menjadi tujuannya saat pulang. 


(Mira Asriningtyas for Dewi Feb.2014 no.2/XXII p.150-151)