8.7.14

[Publication] Papermoon Puppet Theater


Bermula dari sebuah komunitas kecil yang dilengkapi dengan perpustakaan untuk anak-anak, Papermoon berubah menjadi sebuah Puppet Theater kontemporer yang ternama di berbagai penjuru dunia. 

Papermoon Puppet Theater didirikan pada tahun 2006 oleh Maria Tri Sulistyani atau lebih dikenal sebagai Ria 'Papermoon'. Awalnya, Papermoon merupakan sebuah ruang belajar dan perpustakaan bagi anak-anak. Setiap sore hari, anak-anak datang untuk membaca, belajar, dan membuat boneka. Selain itu, mereka kerap mengadakan pertunjukan boneka yang awalnya ditujukan untuk anak-anak. 

Setelah menikah, Ria dan Iwan Effendi memutuskan untuk memindahkan Papermoon yang saat itu berumur satu setengah tahun ke dalam satu rumah. Ria yang memiliki latar belakang teater dan Iwan yang merupakan seorang perupa muda yang ternama di dunia seni rupa merupakan pasangan yang sempurna bagi Papermoon. Sistem keanggotaan yang awalnya merupakan sebuah komunitas kemudian berubah menjadi Theatre Company yang dipimpin secara profesional oleh kedua orang tersebut.  

Pada tahun ke dua, mereka mulai mementaskan karya yang ditujukan bagi penonton dewasa berjudul "Noda Lelaki di Dada Mona" (2008). Karya ini menggunakan naskah realis yang dipenuhi dengan teks. Kebutuhan untuk menjadi lebih universal membuat Papermoon mulai melepaskan diri dari teks dan menggunakan bahasa tanpa makna dalam pertunjukan kolaboratif mereka berikutnya berjudul "On a Journey" di tahun 2008. 

Usaha tersebut menjadikan karya mereka lebih mudah dipahami oleh orang dengan berbagai bahasa dan mengandalkan ekspresi, nada, serta gerak para pemainnya untuk menyampaikan pesan. Hal ini kemudian menjadi salah satu ciri khas mereka dan mempermudah saat sebuah judul karya dimainkan ulang di luar negeri. 

Keberadaan Iwan Effendi sebagai direktur artistik dan adanya seniman-seniman visual lain yang terlibat menjadikan teater boneka ini memiliki standar artistik yang tinggi. Dengan matangnya eksperimen artistik dan medium, kini mereka mulai fokus pada konten ceritanya. Hasilnya, pementasan dengan kisah yang kaya dengan metafora berlapis dikemas manis serta personal dalam setiap karya mereka. 

Papermoon juga kerap memilih kisah bertema sejarah untuk ditampilkan dengan ringan namun memiliki kisah yang kaya makna. Karya mereka tentang kondisi politik Indonesia pada masa tahun 1965 menjelma kisah cinta dalam "Secangkir Kopi dari Playa" dan mengambil sudut pandang anak kecil dalam "Mwathirika". Kedua karya ini mendapatkan banyak sorotan positif dari dalam dan luar negri serta telah dipentaskan ulang di beberapa lokasi berbeda sepanjang tahun 2010-2013.

Tahun ini mereka mempersiapkan dua pertunjukan baru untuk ditampilkan di Jakarta. Pada bulan Juli, Papermoon akan menampilkan sebuah pentas pendek selama 30 menit dalam Bazaar Art tentang 'dia dan rahasia-rahasia dalam hidupnya'. Pentas yang belum memiliki judul ini akan bercerita tentang sesosok makhluk yang dilahirkan dengan tubuh yang ‘berbeda’ berupa laci dan lemari. Makhluk tersebut memiliki kegemaran menyimpan hal-hal yang dibuang orang. Kebetulan, benda-benda ini umumnya dibuang karena pertengkaran dan tidak dianggap penting oleh orang lain. Ia kemudian menghabiskan waktunya dengan melihat dan menikmati benda-benda simpanannya tersebut. 

Selain itu mereka sedang mempersiapkan sebuah pementasan yang berjudul "Surat ke Langit" yang akan dipentaskan dalam festival Salihara pada bulan September mendatang. Karya ini mereka persembahkan bagi mendiang Don Salubayba, seorang seniman kontemporer dari Filipina. Don merupakan sahabat dan teman seperjuangan Ria dan Iwan dalam membentuk teater boneka kontemporer di Indonesia dan Filipina. Awalnya, mereka bertiga memiliki cita-cita untuk membuat pentas kolaborasi yang berangkat dari kata yang bermakna sama di bahasa Indonesia maupun Tagalog.  Setelah diskusi beberapa waktu, mereka memilih kata 'langit'. Sejalan dengan pilihan tersebut, Ria telah lama memiliki angan-angan untuk membuat pertunjukan yang membuat penontonnya melihat ke atas. 

Pertunjukan ini akan bercerita tentang kematian dari sudut pandang anak kecil dan bagaimana ia yang kehilangan ayahnya berusaha mencari cara supaya surat yang ditulisnya sampai ke langit. Pementasan ini berangkat dari pertanyaan personal Ria tentang  bagaimana cara menjelaskan kematian dan  kehilangan kepada seorang anak kecil. Berbeda dengan karya-karya berlatar belakang sejarah yang dibuat untuk penonton dewasa, karya ini diciptakan untuk bisa dinikmati segala umur dan berusaha membicarakan hal yang lebih personal. 

Seakan tiada habisnya,  mereka pun kini sedang mempersiapkan sebuah karya seni instalasi untuk The Light in Winter Festival di Federation Square, Melbourne. Papermoon  Puppet Theater kini tidak hanya melakukan eksperimen seni menggunakan teater boneka saja namun juga membuat karya-karya site-specific, workshop, residensi, dan kerja-kerja kolaboratif lainnya. Dengan energi mereka yang begitu besar, tiap dua tahun sekali mereka masih terus  menyelenggarakan “Pesta Boneka” mengundang seniman boneka dari dalam dan luar negri. 

(Mira Asriningtyas for Things Issue 05 Vol 01 p.69-71)