8.7.14

[Publication] Ruang Terbuka bagi Interaksi Seni



Kedai Kebun Forum (KKF) memiliki makna khusus bagi para pecinta dan pekerja seni di Yogyakarta. Selain menjadi sebuah ruang seni alternatif yang aktif mewarnai dinamika seni rupa kontemporer di Indonesia, ruang ini juga menjadi sebuah tempat interaksi populer bagi berbagai pelaku seni dari dalam dan luar negri.

Kedai Kebun didirikan oleh pasangan Yustina Neni dan Agung Kurniawan sejak tahun 90an sebagai sebuah restoran. Awalnya, Kedai Kebun merupakan restoran yang membidik pasar wisatawan mancanegara. Saat itu, Kedai Kebun dijalankan dengan pengetahuan manajemen ruang dan bisnis yang dipelajari secara otodidak. Semangat untuk belajar yang besar dibuktikan dengan terjun langsung ke lapangan dan menjalankan sendiri restoran tersebut. Krisis ekonomi yang melanda di tahun 1998 mengakibatkan turunnya jumlah wisatawan sehingga Kedai Kebun mulai merancang manajemen baru yang lebih mengakomodasi dan menghargai potensi lokal serta mengembangkan kemitraan dengan seniman yang setara.

Beberapa bulan setelah berdirinya restoran Kedai Kebun, sebuah ruang kosong di belakang dapur mulai difungsikan menjadi ruang pamer seni dengan tujuan supaya teman-teman mereka bisa memamerkan karya di sini. Ruangan ini dibangun sebagai ruang terbuka bagi kebudayaan. Berbagai acara seni mulai dari pertunjukan, pemutaran film, musik, teater, dan berbagai macam diskusi mulai mewarnai ruang ini.
Seiring dengan berjalannya waktu, ruang pamer tersebut mulai menunjukkan kelemahannya dan dinilai tidak kondusif untuk kondisi fisik sebuah karya seni rupa. Konflik kepentingan dengan restoran mulai muncul saat ruangan ini mulai digunakan untuk karya pertunjukan. Intervensi antar ruang mulai terasa dan seniman maupun para tamu mulai tidak nyaman dengan kegiatan kesenian yang dihadapinya.

Pada akhir tahun 2001, Kedai Kebun dirobohkan dan dijadikan dua lantai dan batas antar ruang mulai terlihat meskipun tetap tipis. Kedai Kebun mulai terbentuk sebagai sebuah restoran, galeri seni rupa, ruang pertunjukan, dan toko. Bagi kedua pendirinya, Kedai Kebun dinilai sebagai sebuah proyek seni publik yang nilainya setara dengan melukis, membuat puisi, menari, dan lain sebagainya. Ruang ini digagas dengan konsep ekonomi sosial yang menjadikan kesenian dihidupi oleh komunitasnya sendiri. Sejak saat itu ditambahkan kata 'Forum' di belakangnya. Kedai Kebun Forum menjadi sebuah ruang seni yang dikelola secara mandiri oleh seniman melalui penghasilan dari Kedai Kebun Restaurant. Hal ini menjadikan ruang ini bebas menentukan kebijakan, aktifitas, maupun pilihan estetisnya sendiri.

Kedai Kebun Restaurant berada di teras Kedai Kebun Forum. Ruangannya terbuka dengan aliran udara dan cahaya yang nyaman serta ramah lingkungan. Pengunjung bebas memilih di antara hingga 150 jenis menu masakan khas rumahan yang dibuat tanpa MSG. Ruang ini merupakan pilihan populer untuk mengadakan perjumpaan antara seniman, budayawan, kurator, kolektor, dan para penikmat seni saat berada di Yogyakarta. Adanya budaya bertukar pikiran di Jogja menjadikan tempat ini kerap memunculkan proyek-proyek seni rupa baru yang timbul dari obrolan. Sedangkan bagi para pengunjung lain dan turis, Kedai Kebun Restoran merupakan pintu masuk dan lapisan pertama dari ruang seni kontemporer ini. Bagi para pendirinya, restoran ini merupakan ruang interaksi, alasan hidup. dan pusat pertemuan dengan orang lain. Hal ini menjadikan KKF setara dengan ruang publik lainnya dan karya-karya yang dibuat di tempat ini kerap disesuaikan dengan logika tersebut.

Area restoran dirancang sebagai penghubung sekaligus persimpangan antara seni rupa, seni pertunjukan, dengan publik. Adanya garis tipis atas pembagian tontonan dan penonton, KKF menjadi ruang yang tidak hanya dimiliki oleh seniman namun juga oleh penontonnya. Kesadaran ruang yang kuat ini menjadikan seniman yang akan memamerkan karyanya di KKF perlu menggunakan ruang secara kontekstual. Seniman yang akan berpameran di ruang ini diharapkan mampu mengeksplorasi potensi ruang secara maksimal, integral, dan berangkat dari gagasan keruangan yang kaya serta mampu menghargai ruang. Agung Kurniawan yang merupakan direktur artistik KKF menganggap ruangan sebagai tanah liat yang mampu dimainkan sedemikian rupa sehingga menjadi kontekstual dengan karyanya.

Bagi para seniman, KKF menjadi sebuah ruang bermain alternatif untuk menantang nilai-nilai seni rupa pada saat ini. Pameran di KKF kerap diibaratkan sebagai sebuah manuskrip untuk melihat kemungkinan-kemungkinan atas sebuah media baru. Pilihan seniman yang akan berpameran di ruang ini pun cenderung sesuai dengan selera Agung Kurniawan yang menyukai karya-karya yang tidak mainstream, kontra-trend, dan anti-fashion. Agung Kurniawan percaya bahwa orang harus berani keluar dari kerumunan untuk menjadi besar..

Hingga saat ini, KKF tetap setia menjadi sebuah ruang interaksi dan melting pot bagi ide-ide dan kreatifitas yang lahir tanpa batasan antara low art dan high art. KKF percaya bahwa seni merupakan hasil dari refleksi sosial yang kritis dan bisa dilihat sebagai manifestasi bagi perkembangan sosial saat ini. Sejalan dengan hal tersebut, KKF kerap mengadakan proyek seni yang berhubungan dengan kondisi sosial seperti “September Something” (2008), “Jogja Bergerak” (2008), dan “Monumenta” yang saat ini sedang berlangsung.

Karena kedekatannya dengan anak muda dan gaya hidup urban, KKF juga secara rutin mengadakan Lelagu yang memadukan antara musik dengan seni rupa, pemutaran film, diskusi, serta berbagai kegiatan lainnya. Hal ini sejalan dengan kepercayaan Yustina Neni yang tidak takut untuk bekerja dengan yang lebih muda. Beliau mulai mendirikan KKF di usia 28 tahun dan percaya bahwa di usia muda orang lain pun bisa melakukan apa yang dia lakukan. Kuncinya adalah untuk tidak cepat menyerah, tidak mudah bosan, dan melakukan segalanya dengan serius.

(Mira Asriningtyas for Things issue 04 vol 01 p.65-67)