8.7.14

[Publication] Sarang yang Nyaman untuk Seni Kontemporer


Adalah impian Jumaldi Alfi sejak awal karirnya sebagai seniman untuk membuat sebuah ruang diskusi yang terbuka di Yogyakarta demi memfasilitasi praktik seni rupa kontemporer. Bagi seniman yang akrab dipanggil Alfi ini, seni bukan sekedar tentang produksi sebuah karya. Di dalamnya terdapat dialog intelektual dan proses-proses kreatif yang memerlukan tempat nyaman untuk berkembang. Untuknya, seniman seperti seekor burung yang menelurkan idenya dan membutuhkan sarang yang nyaman untuk menetaskan ide hingga siap terbang. 

Pada tahun 2008, impian tersebut terwujud. Di awal berdirinya, tempat impian ini dikenal dengan nama Sarang Art Residency sebelum akhirnya berubah nama menjadi SaRang Building di tahun 2013. Sesuai dengan namanya, Alfi ingin ruang ini menjadi tempat ‘bersarang’ bagi para pelaku seni; tempat persinggahan sementara untuk menelurkan dan mewujudkan ide-ide kreatif mereka.  Sesuai dengan tagline mereka, “Gagasan+Proses+Seni Rupa”; SaRang membuka kesempatan kerjasama dengan seniman, kurator, dan komunitas seni dalam bentuk program residensi seni rupa. Berbagai hal seperti menyediakan tempat pertemuan, ruang pameran, akomodasi, hingga studio kerja pun dipesiapkan dengan sangat detil. Hal ini bertujuan untuk mendukung para seniman dalam mempresentasikan serta mengembangkan pikiran-pikiran yang terkait dengan dinamika seni rupa kontemporer.

Selain itu, Sarang menjawab kegelisahan Alfi atas penyediaan tempat singgah bagi tamu-tamunya dari luar kota ataupun luar negeri. Mereka yang datang untuk mengenal seluk beluk dunia seni rupa Yogyakarta memerlukan panduan dan perkenalan pada komunitas yang tepat. Dalam hal ini SaRang coba memberi solusi dengan menyediakan satu tempat untuk berkumpul komunitas sekaligus tempat menginap bagi para penggiat seni rupa. Untuk menggerakkan aktifitas tersebut, Alfi memulainya dari lingkaran pertemanannya terlebih dahulu. 

Berangkat dari kecenderungan Alfi yang senang bersosialisasi dan membangun komunitas, SaRang sengaja dibangun sebagai tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Di saat yang bersamaan, sifat ruang-ruang dari bangunan yang terbuka ini pun masih menyediakan ruang-ruang privat yang intim. Salah satu cara memadukan sifat keterbukaan serta privat yang paling menarik adalah area kamar mandi dimana ketika berada di dalamnya, orang masih bisa menikmati birunya langit dengan privasi yang masih terjaga. Ia ingin membuat tempat yang terbuka secara fisik namun membuat orang yang ada di dalamnya merasa aman. Untuk itu, Alfi memilih Ng Sek San dari Seksan Design Malaysia sebagai arsitek bagi bangunan ini setelah kecocokan ide dan selera mereka bertemu di sebuah pameran Alfi di Malaysia. 

Seniman yang mengidolakan Frida Kahlo ini mengaku memiliki kecenderungan untuk selalu tertarik membuat komunitas. Ia senang bersosialisasi dengan banyak orang dan menyediakan tempat yang nyaman untuk diskusi. SaRang dibangun dengan mengacu pada kepribadian Alfi yang terbuka, namun tetap memerlukan ruang privat dan kenyamanan yang intim. Ruang-ruang ini dibuat dengan privasi yang cukup namun terbuka secara sosialisasi. Misalnya pada area kamar mandi, saat berada di kamar mandi yang terbuka itu orang bisa melihat ke luar dan memandang langit, namun di saat bersamaan privasi mereka terjaga karena area tersebut tertutup dari luar.  Ia ingin membuat tempat yang terbuka secara fisik namun membuat orang yang ada di dalamnya merasa aman. Untuk itu, Alfi memilih Ng Sek San dari Seksan Design Malaysia sebagai arsitek bagi bangunan ini setelah kecocokan ide dan selera mereka bertemu di sebuah pameran Alfi di Malaysia. 
Sebuah fakta manis terkuak di balik cerita Alfi mengenai SaRang ini. Dulu, lokasi yang kini menjadi SaRang adalah sebuah kolam ikan dan tempat pembuangan sampah. Alfi, bersama istri dan anak sulungnya kerap berjalan-jalan kaki di sore hari menuju tempat tersebut. Di pinggir kolam, Alfi dan istrinya melatih motorik anak pertamanya tersebut dengan melempar batu ke tengah kolam. Dalam  waktu yang tak lama, secara kebetulan mereka mendapatkan tawaran untuk membeli area yang ternyata dimiliki oleh pemilik kontrakan rumah mereka saat itu. Tanpa pikir panjang, Alfi nekat membeli sebidang tanah yang memiliki nilai kenangan tersebut. Siapa sangka jika di tempat bersejarah tersebut kini berdiri SaRang. 

SaRang  secara progresif bergerak di bawah manajemen Veronika Retno Widyastuti, istri dari Alfi. Berbagai agenda telah dipersiapkan; beberapa diantaranya adalah perpustakaan seni rupa dan kerjasama dengan berbagai lembaga seni lainnya.  Selain rentetan agenda yang seolah tiada henti  ini, SaRang juga mulai secara fokus memperkenalkan dirinya sebagai ruang residensi artis. Bukan sekedar penginapan. Dengan berbekal pengalaman sang istri yang pernah bekerja di sebuah hotel dan daya pikat arsitekturalnya yang indah, tampat ini siap untuk menyambut tamu-tamu dari dalam maupun luar negeri. 

Diantara banyaknya ruang dan tempat di SaRang ini, Alfi menyebut area parkir yang terletak di halaman sebagai salah satu tempat favoritnya. Ia gemar duduk di bawah sebuah pohon tua yang berada di area parkir. Pohon itu konon dibeli dari seorang berusia 80 tahun yang dulu melewati masa kecilnya bermain-main dan memanjat pohon tersebut. Tak hanya satu pohon itu saja yang memiliki cerita. Alfi yang mengkoleksi tanaman mengetahui seluk beluk kisah asal mula tanaman-tamanan di Sarang dengan fasih. Tak main-main, koleksi tanaman tersebut kini bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dengan berbagai koleksi tanamannya, tak heran jika keindahan luar ruangnya tampil dengan sangat memikat dan memberikan kesejukan tersendiri. 

Konon kegemaran Alfi dengan tanaman itu muncul karena memori masa kecilnya sebagai anak desa yang gemar bercocok tanam. Ketika ditanya tempat liburan yang paling berkesan baginya dan keluarganya, Alfi tidak ragu menunjuk kampung halamannya di Padang sebagai lokasi favoritnya. Ia menikmati surealisme sungai-sungai dan bebatuan tua di sana, pemandangan sawah dan gunung-gunung yang seperti keluar langsung dari lukisan mooi indie, dan pepohonan yang sejuk memanjakan. Lokasi favorit ke dua mereka adalah Ubud, yang juga mengingatkan atas keindahan kampung halaman Alfi. Tidak heran bahwa Sarang dibangun bak oase kecil di tengah area panas Nitiprayan Yogyakarta. Pepohonan dibiarkan tumbuh lebat, ditata sedemikian rupa, dan mengundang banyak burung serta kupu-kupu untuk mampir dan bersarang di area tersebut. Hal ini merupakan keinginan Alfi untuk menyediakan area hijau untuk mengimbangi padatnya perumahan dan cepatnya laju pertumbuhan bangunan di daerah tersebut. 

Selain menggemari tanaman, Alfi adalah penggemar buku sejarah yang diceritakan secara fiktif. Sehari-harinya, beberapa kegemaran Alfi menular ke ketiga putra putrinya. Sejak kecil mereka bertiga gemar membaca, melihat film, dan mendengarkan musik-musik yang sama seperti ayahnya. Sigur Ros disebutnya sebagai lagu nina bobo bagi putra putrinya. Sedangkan musisi Antony and the Johnsons dan Beirut konon memiliki tempat khusus di hati mereka. Alfi dan istrinya menganggap bahwa musik dapat menjadi latihan yang baik bagi kemampuan berbahasa asing bagi putra-putrinya. 

Sembari menyiapkan pamerannya di Singapore, saat ini Alfi sedang membuat sebuah perpustakaan umum di area joglo samping bangunan utama Sarang. Joglo tersebut merupakan salah satu koleksi rumah jawa antiknya. Awal mula Sarang dulu pun dari sebuah joglo yang berkembang menjadi tempat diskusi dan ditambah dengan sebuah bangunan kontemporer a la Sek San. Harmoni antara alam, bangunan tradisional, dan kontemporer terasa sangat serasi di sarang yang indah ini. 

(Mira Asriningtyas for Dewi Nov.2013 No.11/XXII p.229-231)