8.7.14

[Publication] Tower of Loneliness


"Yang terpenting dalam karya seni adalah menemukan kata" -Agung Kurniawan

Agung Kurniawan, seniman yang kerap mengikuti berbagai kegiatan seni rupa kontemporer di dunia ini juga berperan sebagai aktifis sosial budaya di Yogyakarta melalui ruang seni yang dikelolanya, Kedai Kebun Forum (KKF). Studio miliknya ini dibangun untuk menggantikan studio lamanya di lantai atas KKF. Tidak hanya menjadi ruang berkarya, studio ini memiliki ruang untuk bersantai dan membaca. Ukurannya yang tidak terlalu besar terasa masuk akal bagi Agung Kurniawan karena mudah dikenali setiap sudutnya dan bisa dibersihkan dalam waktu 15 menit. 

Selain dari segi fungsional, terdapat kisah romantis pada studio ini. Agung Kurniawan jatuh cinta dengan lokasi ini karena beberapa hal: pertama, lokasinya berada di tengah 'hutan' dan mengingatkan pada lokasi rumah masa kecilnya; dan kedua, rumah ini dekat dengan makam ibunya. Sebuah kamar kemudian dibangun di lantai bawah untuk sang ayah apabila sedang menjenguk makam ibunya. Kamar ini dilengkapi dengan foto ibunya dan ditata dengan ciri khas beliau: bersih dan rapi. Ia bahkan menyimpan berbagai snack kering kesukaannya dan ibunya di dalam toples-toples yang tersebar di studio ini. Selain menamai studionya sebagai “Tower of Loneliness”, Agung Kurniawan menyebutnya 'rumah ibuku'; rumah yang menjadi cerminan kenangan masa kecilnya bersama ibunya. 

Penting bagi Agung Kurniawan untuk memastikan bahwa rumah ini tetap ramah lingkungan dan hijau. Ia bahkan membeli 300 meter persegi tanah tambahan di sekeliling studio ini karena perasaan bersalahnya membabat hutan dan menjadikannya bangunan. Studio ini dibuat dengan konsep breathing house. Ia mengambil substansi dari ideologi rumah tradisional dengan bentuk kontemporer. Udara dan cahaya di rumah ini terus bergerak. Pilihan material bambu, dinding transparan, dan tegel kunci memastikan seluruh bagian dari studio ini bernafas. 

Beton yang terekspos dan rangka besi membuat studio ini terkesan solid dan industrial; namun sebenarnya tidak ada yang solid dalam bangunan studio ini. Seluruh bagiannya dibuat modular dan movable. Penggunaan rangka besi membuat proses pembangunannya cepat dan bisa sewaktu-waktu diganti maupun dipindahkan. 

Baginya, membangun studio ini seperti sedang bermain-main dengan Lego sekaligus sedang berkarya. Desain akhir bagi studio ini pun diserahkan pada kontraktor dalam bentuk coret-coretan di dinding yang sampai sekarang masih bisa dilihat meskipun samar. Kegemarannya bermain-main dengan studio ini pun tercermin dari lantai mezzanine yang dengan iseng digambarinya dengan desain retro selama masa istirahatnya setelah berpameran. 

Masih dengan prinsip green architecture, studio ini dibuat untuk selalu menyesuaikan perubahan alam. Terdapat sebuah mezzanine tempat Agung Kurniawan terbiasa menjamu tamu-tamunya. Mezzanine ini berangin dan memiliki feel rumah pohon sehingga tetap nyaman meskipun saat musim panas tiba. Saat musim hujan, 'taman' yang membatasi tiap ruang di studio ini berubah menjadi kolam karena karakter tanah daerah tersebut yang sulit menyerap air. Beberapa bagian rumah ini dibiarkan bocor supaya ketika hujan tiba, tetesannya akan menyisakan suara menarik dalam wadah-wadah alumunium besar yang tersebar di sana-sini. Berada di tengah alam, banyak penemuan-penemuan yang membuat Agung Kurniawan semakin jatuh hati. Banyak temuan suara burung, binatang, dan alam yang indah dan sebelumnya kerap terabaikan. Karena terbebas dari polusi udara, pohon-pohon memantulkan sinar putih yang ajaib saat bulan bersinar terang. Baginya, kesunyian adalah investasi.

Agung Kurniawan ingin rumah ini menjadi inspirasi rumah kecil dengan bahan murah dan ramah lingkungan bagi teman-temannya yang berkunjung. Studio ini merupakan hasil eksperimen bagi berbagai pihak lain. Kontraktor melakukan pembelajaran yang berharga dalam proses beberapa kali bongkar pasang untuk menyesuaikan karakter tanah lempung di daerah ini. Artisan yang biasa membuat karya besi gambar Agung Kurniawan membuat rangka bangunan untuk pertama kalinya. Demikian juga dengan arsitek Novi Kristinawati yang dipercaya membangun rumah untuk pertama kalinya dalam bentuk studio ini. Baginya, pembangunan studio ini seperti proses pembuatan karya: penuh dengan trial and error, memiliki kisah, dan diperkaya dengan substansi penting dari berbagai aspek. 

**

Q: Bagaimana Anda mendapatkan inspirasi berkarya Anda?
A: Bagi saya, yang terpenting dalam karya seni adalah menemukan kata. Maka dalam mencari inspirasi berkarya, saya membaca buku untuk menemukan kata dan membaca majalah interior untuk mengolah warna. 

Q: Kota favorit?
A: Sao Paolo, Utrecht, dan Paris. Tapi Jogja tetap menjadi cinta pertama sementara kota lain hanyalah semacam love affair yang saya datangi saat butuh saja.

Q: Bagaimana Anda berkesenian?
A: Menciptakan media baru yang sehari-hari dan tidak dianggap seni sebelumnya.

Q: Koleksi?
A: Sepatu yang sebagian besar adalah sepatu kulit karena saya suka menyemir, tas bermerek "Property of...", dan sepeda. Saya gila sepeda sampai-sampai tiap memiliki sepeda baru akan saya bawa tidur.  

Q: Apa yang ingin Anda capai melalui seni?
A: Membuat orang berpikir ulang tentang kehidupan. Seniman tidak hanya memproduksi karya seni tapi harus mampu menginspirasi.  

Q: Karya favorit Anda?
A: Karya yang akan saya buat. Saya terbiasa membuat karya yang tematik. Karya yang tampak gagal mungkin adalah karya yang belum dipahami sekarang dan lima tahun kemudian mungkin baru akan sukses. Karena itu, karya favorit saya adalah karya yang belum saya buat. 

Q: Penulis dan buku favorit?
A: Kumpulan puisi Gunawan Muhammad dan buku-buku George Orwell. 

Q: Kenapa memilih biru sebagai warna yg dominan?
A: Blue is the new black! Karena sekeliling studio ini hutan yang dominan warna coklat dan hijau, biru menjadi semacam warna yang asing dan membuat studio ini mencolok. It's the humour! Lagipula saya suka warna biru yang membuat saya ingin berjalan-jalan di laut.  

Q: Apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?
A: Biennale Jogja XII dan membuat Festival Seni Mencari Hariadi. 

Q: Seniman favorit Anda?
A: Frida Kahlo dan K├Ąthe Kollwitz karena karya-karyanya membicarakan diri dan masyarakat secara bersamaan. 

Q: Apa yang Anda lakukan untuk bersantai? 
A: Menyapu. Meskipun memiliki tukang bersih-bersih, saya suka menyapu untuk warming up sebelum bekerja. Menyapu menjadi semacam jeda penting untuk berkontemplasi. 

(Mira Asriningtyas for Elle Decor Indonesia. Dec 2013 - Jan 2014 | p.144-146)