28.8.14

[Publication] A Cabinet of Curiosities: Lifepatch


Meskipun terlihat seperti rumah kebanyakan di area tersebut, rumah Lifepatch memiliki banyak kejutan di dalamnya.  Jangan heran apabila di samping kolam terdapat akuarium kecil berisikan kutu air yang aktif, kulkas bertuliskan 'biohazard' berisi bakteri e-coli yang sedang mereka teliti, dan aneka benda yang terlihat sehari-hari namun telah beralih fungsi. Semacam ruang bermain dan belajar. Mereka tidak menyebutnya 'studio' atau 'laboratorium', namun lebih menganggapnya sebagai rumah dengan konsep yang lebih terbuka dan ramah bagi pengunjung. Di dalamnya, terdapat orang-orang dengan rasa penasaran yang tidak ada habisnya dan bisa menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main meneliti air dan bakteri, melakukan mapping, hingga menciptakan desain tehnologi buatan sendiri.

Rumah ini dibuka pada bulan Juli 2012. Selain menjadi tempat utama berkumpulnya anggota Lifepatch, rumah ini juga merupakan ruang workshop, tempat pemutaran film, dan presentasi. Pada tahun 2013, mereka memulai sebuah laboratorium amatir masyarakat untuk praktik biologi dan elektronik. Jangan
membayangkan sebentuk laboratorium yang serba steril dan dingin! Dengan gaya yang santai dan bermain-main; biologi dan teknologi terasa menyenangkan serta lebih menarik di sini. Mereka menyebutnya sebagai “Laboratorium Bio-Elektronika Lifepatch” yang digunakan untuk melakukan berbagai penelitian, menyiapkan workshop, dan membangun proyek-proyek komunitas.

Seluruh kegiatan ini dilakukan dengan sangat organik dan santai. Semua bagian di rumah ini bisa difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya sehari-hari. Tembok di belakang rumah pernah digunakan untuk bereksperimen membuat cat dari lumut, mereka yang penasaran dengan air dan ikan bisa meneliti kolam kecil di halaman, dan hal-hal sehari-hari yang menimbulkan rasa ingin tahu akan dibongkar hingga memuaskan penasaran  mereka. Lifepatch percaya bahwa segala sesuatu perlu untuk dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana, rasa ingin tahu, dan eksperimen yang tanpa henti.

Lifepatch didirikan pada tahun 2012 oleh beberapa orang dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Sifatnya kolaboratif dan kebanyakan hal dimulai dari pertemanan. Bagi kelompok ini, kepercayaan adalah hal yang sangat penting dijaga dalam kelompok. Anggotanya memiliki misi untuk selalu bermanfaat dalam pengembangan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam lokal, membangun jembatan kolaborasi domestik dan internasional serta memberikan akses terbuka bagi siapapun ke sumber penelitian dan hasil pengembangan yang telah dilakukan. Tentu saja, kegiatan ini berfokus pada masyarakat, bersifat edukatif, tepat guna, dan dimulai dari hal-hal yang sederhana. Semangat mereka adalah semangat untuk menciptakan sendiri (DIY- Do It Yourself) maupun bersama yang lain (DIWO- Do It with Others). Filosofinya adalah untuk menciptakan hal-hal sederhana dengan tangan sendiri-- mulai dari makanan dan minuman, software, halaman wiki, baju, robot, dan lain sebagainya.

Salah satu hal yang menyatukan anggota Lifepatch adalah rasa mudah excited dan kehausan akan ilmu pengetahuan yang tanpa henti. Secara organik mereka senang belajar dan mencari tahu tentang hal-hal kecil di sekelilingnya sebelum kemudian membaginya dengan yang lain. Tercatat hingga saat ini terdapat 54 jenis workshop yang telah mereka buat; mulai dari pembuatan makanan, DIY wine making, sabun herbal, hingga biofuel salam dan ‘touch and moist sync’. Alih-alih bertujuan untuk membuat pameran atau sejenisnya, mereka memang memiliki minat khusus untuk memberi workshop. Hampir apapun yang mereka pelajari akan dijadikan workshop di kemudian hari. Secara khusus, Lifepatch memang senang menceritakan apa yang mereka temukan. Salah satu hal yang mereka percaya adalah distribusi pengetahuan yang terbuka, proses yang menyenangkan, kepercayaan, serta apresasi bagi setiap anggotanya. Dengan latar belakang medium dan disiplin yang berbeda-beda, penting untuk masing-masing dari anggotanya tetap menjadi diri sendiri dan bekerja sesuai minat masing-masing. Hasilnya, setiap bidang ilmu tersebut akan saling bersinggungan dan semua bisa memperkaya pengetahuan sembari saling belajar.

Selain workshop, selama dua tahun ini mereka telah mengadakan 23 project yang berkaitan dengan seni, sains, dan tehnologi. Beberapa di antaranya adalah ekspedisi biji-bijian, ekspedisi sungai, terlibat dalam Jakarta Biennale 2013, Hackteria, dan pembuatan situs database bagi street art: Urbancult. Saat ini mereka sedang menjalankan tiga proyek besar sembari mengirim beberapa anggotanya untuk menjalani residensi di Amerika dan Koganecho-Jepang.

Dua di antara project besar yang baru-baru ini mereka jalani antara lain River Project dan Hackteria Lab. River Project awalnya merupakan inisiatif sederhana untuk berjalan-jalan di sungai dan melihat bentuknya. Saat ini, project tersebut berkembang menjadi sebuah proyek besar yang memiliki komitmen waktu yang cukup lama pula. Sedangkan Hackteria Lab merupakan serangkaian acara Open Source Biological Art Project yang dimulai pada tahun 2009 oleh Andy Gracie, Marc Dusseiller, dan Yashas Shetty. Awal tahun ini, Lifepatch menjadi host sekaligus partisipan untuk acara tahunan tersebut. Acara tersebut dihadiri seniman, pencipta, dan peneliti dari berbagai negara yang selama beberapa minggu melakukan serangkaian workshop, open laboratory, dan pameran seni kolaboratif. Catatan lengkapnya bisa dilihat di situs mereka maupun pada halaman wiki yang rajin mereka perbaharui.

Jadi sebenarnya apakah Lifepatch itu?
Mereka menyebut diri mereka "Citizen initiative in art, science, and technology". Meskipun di dalamnya terdapat beberapa seniman dan peneliti, mereka menolak mendefinisikan diri sebagai satu bagian dari seni atau sains semata. Lifepatch adalah sebuah organisasi berbasis komunitas yang bekerja dalam aplikasi kreatif dan tepat guna di bidang seni, sains dan teknologi.  Namun bagi saya, Rumah Lifepatch berikut para penghuni dan aktifitasnya adalah seperti almari yang dipenuhi hal-hal yang menakjubkan—nyaris ajaib! Anggap saja semacam ‘cabinet of curiosities’.


(Mira Asriningtyas for Things Issue 07 Vol.01 p.42-43)