28.8.14

[Publication] Kenakalan Angki Purbandono


‘Kenakalan’ yang tak habis-habisnya dari Angki Purbandono dalam berkarya membuatnya menjadi salah satu seniman kontemporer paling ternama di Indonesia. Scanner yang lebih dikenal sebagai peralatan kantor berubah menjadi medium penciptaan karya seni di tangan Angki. Sejak tahun 2005, Angki secara bertahap menggali berbagai kemungkinan proses penciptaan menggunakan scanner, yang kini akrab disebut dengan istilah scanography. Selain dengan scanner dan kamera, ia juga kerap mendefinisikan ulang makna fotografi dan mendaur ulang foto lama yang dikumpulkannya menjadi karya baru.

Awalnya, penggunaan scanner sebagai medium berkarya ini berangkat dari keinginannya untuk menghadirkan satu tawaran baru dalam mencipta karya fotografi dimana karya fotografi sangat mungkin diciptakan tanpa menggunakan kamera. Kecenderungan untuk memberikan sudut pandang baru dalam melihat praktik fotografi ini memang sudah melekat dengan dirinya. Pada tahun 2002, Angki bersama beberapa teman menggagas sebuah organisasi Ruang Mes56, yang bergerak di wilayah pengembangan fotografi kontemporer. Ruang Mes56 sendiri awalnya merupakan sebuah komunitas, yang kemudian berubah bentuk menjadi organisasi nirlaba yang memungkinkan anggotanya bereksperimen untuk menciptakan karya fotografi yang berbeda.
 
Kepercayaannya pada metode penciptaan karya foto tanpa menggunakan kamera serta metode-metode yang umumnya jauh dari praktik fotografi konvensional pun perlahan tapi pasti berhasil mengundang perhatian publik luas. Beberapa pameran maupun project berskala nasional maupun internasional pun diikuti oleh organisasi ini. Keberaniaannya dalam memainkan sudut pandang yang baru dalam praktik fotografi ini lah yang kemudian berhasil membuat fotografi berhasil masuk ke dalam dunia seni rupa kontemporer.

Beberapa project awal yang dikerjakan oleh Angki Purbandono kerap menghadirkan pendekatan-pendekatan yang berani dan sedang berkembang di dunia fotografi khususnya di barat, dan Asia Pasifik. Pendekatan-pendekatan semacam ini dilihatnya sebagai peluang menjadikan fotografi sebagai salah satu bagian dari seni rupa yang berkonsep. Salah satu karya yang cukup menarik pada awal proses eksperimennya adalah seri “Top Collection” dimana ia memotret dirinya sendiri di studio foto dalam berbagai profesi, yang pada akhirnya dihadirkan dalam instalasi berbentuk ruang tamu. Karya ini kembali mempertanyakan soal proses penciptaan karya tanpa menggunakan kamera ataupun memotret.

Selain memperhatikan pengembangan metode penciptaan karya, Angki pun sangat memperhatikan bagaimana sebuah gagasan sebuah karya dikembangkan. Tak jarang ia menghadirkan sesuatu yang sangat personal dan dekat melalui berbagai found object maupun benda-benda kecil yang dibeli, dan dikumpulkan di setiap sudut rumahnya. Benda-benda ini dilihatnya sebagai karya seni, sehingga aktifitas ini pun diakuinya sebagai mengkoleksi karya seni. Kondisi rumah yang dipenuhi dengan koleksi benda-benda kecilnya ini pun kemudian menciptakan perasaan seolah-olah sedang menelusuri museum kecil milik Angki Purbandono. Tak lupa beberapa karya seni yang memang dikoleksi dari beberapa teman-teman seniman serta foto-foto lama yang dibelinya dari pasar barang bekas pun tampak terpajang di dinding setiap ruang.

Kecenderungan Angki Purbandono yang memiliki ketertarikan pada hal-hal yang personal, aktifitas mengkoleksi found object, serta kemampuannya menghadirkan komposisi warna dan bentuk yang menarik dapat terlihat jelas pada karya terbarunya yang dipamerkan di ArtJog 2014. ArtJog, yang merupakan salah satu perhelatan seni rupa terbesar di Indonesia ini mengangkat tema Legacies of Power, yang secara personal direspon Angki Purbandono dengan karya berjudul “Angkipu Legacy”. Dalam karya ini, dia menghadirkan object-object yang pernah dipakai. Salah satu benda yang terpenting baginya berupa tes kehamilan dari sang istri. Karya ini menunjukan bagaimana dia ingin menghadirkan warisan-warisan personalnya, serta membangun sebuah relasi personal terhadap tema yang ditawarkan.

Kemampuan Angki Purbandono untuk mengungkapkan hal yang personal ini selalu diikuti dengan bagaimana karyanya selalu mampu berinteraksi dengan publik maupun lokasi tertentu. Kesadaran ini memang selalu dibangun sebagai upayanya menghadirkan karya yang utuh dan sempurna. Tak heran jika kemampuannya ini selalu berhasil membuatnya mampu menghadirkan karya atau project yang sangat personal namun juga memiliki ikatan terhadap publik yang lebih luas. Pendekatan inilah yang selalu berhasil membuatnya menghasilkan karya menarik pada setiap residensi yang diikutinya, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu project yang baru saja selesai dipamerkannya adalah PAPs, Prison Art Programs.

Bermula dari pengalamannya yang harus menjalani masa tahanan pada tahun 2012, dia melihatnya sebagai sebuah pengalaman yang tak berbeda dengan menjalani residensi. Dengan memanfaatkan kebiasaannya melihat hal-hal yang sederhana namun detil, Angki Purbandono mengubah masa tahanannya menjadi sebuah project seni jangka panjang yang digagasnya bersama beberapa rekan seniman yang kebetulan mengalami pengalaman yang sama. Project ini berawal dari kebiasaannya mengumpulkan object di dalam penjara, dan kemudian dilihatnya sebagai peluang penciptaan karya. Setelah bernegosiasi dengan beberapa teman-teman dan pengurus penjara, akhirnya project ini pun berjalan dan mendapat berbagai dukungan dari pihak penjara. Project ini tak hanya sebatas menjadi hiburan selama menjalani masa tahanan namun juga dilihatnya sebagai sebuah aktifitas yang mampu membangun program crowd  funding menggunakan penjualan karya maupun merchandise yang tercipta dari project PAP. Setelah menyelesaikan proses awal bersama PAPs, Angki menampilkan pameran tunggalnya “The Swimmers” di Mizuma Gallery Singapura pada bulan Februari lalu. Bahkan, project ini pun berhasil menjalin kerjasama sebuah organisasi dari Singapura, Yellow Ribbon Foundation yang bekerja dengan mantan narapidana.


Kepekaan seorang Angki Purbandono dalam melihat peluang serta nalurinya yang seolah selalu siap menciptakan karya rupanya berhasil memberi dampak yang lebih luas. Melalui keberadaan Ruang Mes56, dan Prison Art Programs yang digagasnya bersama teman-teman ini membuktikan bagaimana kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tidak saja melulu akan berporos pada dirinya namun juga mampu menciptakan peluang yang lebih jauh. Peluang yang mungkin awalnya terasa terlalu liar namun sangat realistis untuk diwujudkan.

(Mira Asriningtyas for Things Issue 06 Vol.07 p.32-35)