10.9.14

[Publication] Hip and Visually Stunning: Guerilla Bunker!


Pop, hip, dan urban adalah kesan yang terasa menonjol saat memasuki kediaman pasangan Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Bawono yang akrab dikenal sebagai indieguerillas ini.

*****

Santi dan Miko menyebut rumah ini ‘Guerilla Bunker’. Sebagaimana karya-karya seni mereka, rumah ini dibangun dengan sentuhan juktaposisi antara yang tradisional dan yang modern. Rumah ini dibagi menjadi tiga bagian: bagian depan yang merupakan limasan berhiaskan berbagai sentuhan warna pop; bagian tengah yang merupakan studio serta ruang interaksi cair yang bergaya urban; serta bagian atas yang lebih privat serta cenderung modern. 

Perpaduan antara yang hinggil dan yang low-brow ini diaplikasikan tidak hanya pada bentuk arsitektural semata namun juga dalam penataan dekor yang tidak terpaku pada pakem tertentu. Contohnya pada ruang kerja yang terbuat dari kaca dan alumunium di bagian belakang studio. Tangga menuju ruang tersebut dibuat dari papan skateboard dan alumunium yang digunakan merupakan alumunium berwarna dasar merah yang biasa digunakan di pom bensin. Alumunium berwarna dasar merah ini ditemukan saat mencari solusi atas keawetan warna untuk bahan besi yang tidak mudah mengelupas. Kesan pabrikan dijinakkan dengan  finishing yang terlihat lebih custom-made dengan sentuhan tangan manusia.

Mereka mempercayai bahwa ‘defect is good’. Karenanya, beberapa solusi atas ketidaksempurnaan justru membuat rumah ini semakin ikonik: penggunaan lego basic untuk menambal kekurangan tegel kunci di kamar mandi, kaca yang dibentuk menyerupai permainan tetris, almari besi yang ditutupi ketidaksempurnaannya dengan karya mural, iMac rusak yang difungsikan sebagai kaca cermin, dan penggunaan rolling door sebagai pengganti dinding ruang atas supaya tetap terbuka namun juga aman. Perpaduan yang pas antara hi-and-low pun merupakan ciri khas Indieguerillas baik dalam berkarya maupun menata rumah.

Beberapa yang akrab dengan karya arsitektural Eko Prawoto sebelumnya cenderung merasa bahwa rumah ini mengejutkan dan berbeda dengan karya-karya beliau sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari penempatan peran Eko Prawoto sebagai kolaborator dan ‘bidan’ bagi kelahiran bentuk dasar rumah ini. Selebihnya, ia memberikan pancingan-pancingan bagi Indieguerillas dengan sengaja menunda beberapa proses supaya terjadi diskusi ide di antara mereka. Hasilnya, beyond expectation!

Peran Eko Prawoto sebagai arsitek dengan jam terbang yang tinggi mulai terasa apabila dilihat dari pembagian ruang dan split level yang canggih di rumah ini. Beberapa ruang memiliki leveling khusus yang membuat bagian rumah itu terasa melayang dan memiliki feel seperti berada di rumah pohon.
Berbagai titik di rumah ini ditata sedemikian rupa sehingga nyaris di mana saja bisa menjadi tempat nongkrong yang serba nyaman. Istilah ‘nongkrong’ ini dirasa lebih santai dan hangat untuk menggambarkan pola brainstorming mereka dengan teman atau pelaku seni lainnya saat duduk dan membicarakan ide karya selanjutnya. Banyak teman yang merasa rumah ini dan segala kenyamanannya merupakan jebakan yang membuat malas bekerja. Namun sebaliknya, rumah ini justru memberikan rasa aman yang menjadikan pasangan indieguerillas lebih fokus berkarya. Guerilla Bunker juga menjadi titik awal yang melahirkan inspirasi serta karya baru bagi indieguerillas.

Hidup mereka sebagai seniman lah yang menjadikan rumah ini dipenuhi dengan berbagai karya seni. Koleksi mereka terdiri dari karya beberapa teman seniman dan karya mereka sendiri. Selain itu juga terdapat mural karya A.Wahab dan Farid Stevy Asta. Rumah limasan depan terkadang difungsikan sebagai ruang residensi kasual, dan banyak kutipan dari penulis terkenal, bait-bait puisi, serta lirik lagu yang tersebar di rumah ini. Selain karya seni; mereka juga memiliki koleksi vinyl, buku, sepatu, dan koleksi majalah yang menakjubkan.

Salah satu karya lama indieguerillas yang kemudian difungsikan kembali adalah stand merchandise yang kini menjelma snack bar bernama ‘Warung Mbak Enjel’. Snack bar ini menambah adanya juktaposisi yang menggelitik di rumah ini seperti halnya apartment mewah yang di pinggirnya terdapat warung kumuh. Sekarang, ‘warung’ ini menjadi salah satu titik kumpul favorit bagi teman-teman indieguerillas.

Berbagai sudut di rumah ini kemudian mengingatkan mereka supaya terus hidup seimbang, tidak mengintimidasi, dan tidak menjadi budak konsumerisme. Hal ini membuat mereka tak jarang membuat sendiri mebel yang digunakan di rumah. Kebiasaan ini dimulai sejak tahun 90an ketika mereka kerap mencari katalog lama IKEA di toko buku bekas dan mengaplikasikan desainnya. Kini sebagian mebel yang mereka gunakan adalah buatan sendiri, sebagian barang lama yang memiliki cerita, dan sebagian lagi merupakan hasil daur ulang dari apa yang mereka miliki. Meskipun demikian, mereka masih bercita-cita memiliki karya klasik yang legendaris dari Charles Eames dan Philippe Starck. Penghargaan mereka atas etos kerja yang baik dan kesempurnaan karya ini juga membuat mereka menyebutkan Tokyo sebagai kota yang dinilai paling inspiratif. Pilihan estetika tersebut tercermin jelas dalam rumah mereka yang penuh kejutan dan visually stunning.

(Mira Asriningtyas for Elle Decor Indonesia Aug-Sept 2014 | p.184- 195 | photo by Kurniadi Widodo)