10.9.14

[Publication] Living the Legacy


Ketenangan yang sejuk serta suasana yang adiluhung terasa kuat ketika kita memasuki area Dalem Hardjonagaran. 

******

Memasuki area Dalem Hardjonagaran, kita digiring melalui sebuah bangunan bergaya kolonial yang bersajaha. Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1950 dan seiring berkembangnya jaman, beberapa bagiannya mendapatkan sentuhan khusus oleh Soekarno. Hingga saat ini, tatanan rumah ini tetap terjaga keasliannya sejak saat Go Tik Swan masih berdiam di rumah ini. Dua karya seni yang menjadi kebanggan pemiliknya adalah lukisan karya Bung Karno yang dibuat beliau saat masa pengasingan dan sepasang patung Kilin keramik yang konon nilainya nomor dua paling berharga se-Asia.

Go Tik Swan dikenal sebagai ahli budaya Jawa, pembatik, penari, dan pelestari budaya yang  memiliki kedekatan khusus dengan bung Karno. Beliau bahkan dikenal sebagai pembatik kesayangan sang presiden pada masanya. Konon, Soekarno secara khusus meminta Go Tik Swan untuk membuat desain 'Batik Indonesia'. Beliau kemudian mencari inspirasi dari berbagai penjuru nusantara dan menemukan motif yang dimaksud. Batik Indonesia memang diharapkan tidak hanya mencerminkan kepribadian dari wilayah tertentu saja namun diharapkan mampu mewakili Indonesia secara utuh. Dengan berani, beliau memadukan motif pola batik langka dan tradisional dari Solo-Yogya dan dikawinkan dengan warna-warni modern batik pesisiran. Hal ini sejalan dengan dasar penciptaan batik-batik beliau untuk menjadi 'Nunggak Semi': tetap bertahan pada akarnya meskipun bersemi dengan mengadopsi hal baru. Betapapun modern Batik Indonesia yang multi warna tersebut, Go Tik Swan tetap berpegang pada akar kebudayaan Jawa. Hingga saat ini desain batik masih asli peninggalan beliau dengan tujuan melestarikan warisan budaya batik yang adiluhung ini. 

Desainnya begitu rumit dan detil sehingga satu potong Batik Nusantara umumnya memakan waktu hingga 5 bulan dalam proses pengerjaannya. Masing-masing sisi digambari secara terpisah dan setiap ketidaksempurnaan bisa diulang hingga mencapai titik yang memuaskan. Karenanya, batik ini umumnya menjadi barang koleksi dan langganan ibu-ibu menteri serta pejabat tinggi Indonesia. Selain itu, museum-museum kenamaan di berbagai belahan dunia juga menjadi kolektor Batik Indonesia buatan Go Tik Swan. Tidak berlebihan untuk menyebut beliau sebagai seniman batik yang tidak hanya membatik namun juga mencipta karya bertaraf Internasional. 

Salah satu kelebihan batik ini adalah bahwa setiap helainya mengandung cerita dan nilai filosofis yang tinggi mulai dari simbol kebahagiaan, kesuburan, tolak bala, dan nama harum. Konon dulunya, setiap hembusan nafas pembatik merapalkan doa-doa yang menjadikan harapan mereka terkumpul dalam sehelai batik tersebut. Go Tik Swan juga menjadikan batik sebagai media berekspresi dan menyalurkan aspirasi. Salah satu desain kebanggannya adalah desain kembang bangah yang merupakan bentuk protesnya atas 'keindahan yang tersisihkan', kurangnya apresiasi atas seni, dan ungkapan protes beliau atas pemerintah yang tidak memihak rakyat. Filosofi atas batik ini menjadikan nama-nama besar seperti Iwan Tirta dan Obin tercatat sebagai murid didikan beliau di masa lampau.  

Kedekatannya dengan keluarga Keraton Solo memungkinkan beliau belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Go Tik Swan juga mendapatkan banyak penghargaan budaya serta mendapatkan gelar Panembahan dari keraton Surakarta. Panembahan bukan hanya gelar biasa namun merupakan kehormatan sebagai pendamping raja dalam hal spiritual. Hal ini terasa luar biasa karena beliau merupakan keturunan Tionghoa dan tidak lahir dari keturunan darah biru. Hingga saat ini beliau dikenal sebagai Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro dan rumah ini dikenal sebagai Ndalem Hardjonagaran. 

Meskipun lokasinya berada di pinggir jalan besar yang sibuk, rumah ini terasa tenang dan sejuk. Suara keramaian seakan teredam dan gerahnya jalan raya tergantikan oleh taman bunga nan asri.Tersembunyi di bagian belakang rumah bersahaja bergaya kolonial tersebut, terdapat sejumlah pendopo yang sibuk dengan aktifitas para pembatik. Area ini seakan kokoh tidak lekang jaman meskipun dikelilingi oleh bangunan-bangunan bertingkat di sekitarnya. Di salah satu sisi dalam terdapat 'Besalen' atau tempat pembuatan keris. Keris yang dibuat di sini juga merupakan keris yang adiluhung dan biasa menjadi pesanan khusus. 

Salah satu pendopo paling unik adalah pendopo yang berada di dekat ruang gamelan. Pendopo ini konon dibuat oleh Paku Buwono I dan seluruh saka gurunya berukuran sama. Konon, pendapa ini merupakan tempat penobatan Paku Buwana X menjadi Raja Surakarta di awal abad XVIII. Selain itu, terdapat sebuah ruangan untuk sarasehan dan diskusi mengenai keris. Pendopo tua ini mungkin terlihat sederhana namun usianya telah sama dengan usia keraton Kartasura. Tiga buah uang logam yang dulu pernah terkubur di bawah saka guru pendopo ini menandakan rentang waktu pendirian pendopo ini. Ke tiga buah uang ini sekarang dipajang dengan apik di salah satu tiangnya.  Di sekeliling area Ndalem Hardjonagaran juga tersebar arca-arca batu purbakala. Konon, sang Panembahan kerap berkeliling memburu arca purbakala dengan tujuan menyelamatkan dan melestarikannya. Kini, arca bernilai milyaran rupiah tersebut telah dihibahkan untuk negara sebagai bentuk kecintaannya dan kepeduliannya terhadap budaya. 

Saat ini, warisan budaya Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro ini diturunkan kepada K.R.A. Hardjosoewarno yang merupakan empu pada Besalen pembuatan keris di Ndalem Hardjonagoro dan istrinya Supiyah Anggriyani Hardjosoewarno yang merupakan ahli batik didikan sang Panembahan. Hingga saat ini mereka menjaga serta melestarikan warisan budaya nan adiluhung dari sang Panembahan.

(Mira Asriningtyas for Elle Decor Indonesia Aug-Sept 2014 p.52-61 | photo by Kurniadi Widodo)