16.10.14

Exhibition Laboratory 1 // Ex.Lab.1

Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) adalah sebuah laboratorium penciptaan pameran tunggal yang digagas oleh Lir Space. Empat seniman muda dipilih untuk menjalani proses selama tiga bulan untuk mempersiapkan pameran tunggal mereka masing-masing. Dalam program ini, keempat seniman menjalani proses mentoring, kelas referensi dengan praktisi seni rupa, melakukan kunjungan ke studio seniman senior, serta menjalani persiapan pameran yang intensif.

Ex.Lab. 1 mencoba memperkenalkan seniman muda yang lahir di tahun 90an dengan pola penciptaan karya seni yang berbeda dengan pola kekaryaan mereka biasanya. Keempat seniman muda ini diharapkan melakukan riset kecil sebelum membuat karya, bermain-main dengan ide 'pesan di atas bentuk' serta penggunaan medium sebagai cara menyampaikan gagasan.   Dalam program ini mereka berproses untuk membuat sebuah pameran yang merupakan satu kesatuan karya yang utuh alih-alih membuat sebuah pameran yang merupakan kumpulan dari karya-karya kecil. Hal ini dilakukan tanpa mengesampingkan detil dan kecenderungan artistik masing-masing seniman muda tersebut.

Ex.Lab merupakan laboratorium penciptaan yang dinamis dan akan akan berjalan dengan pola landasan kerja yang berbeda pada tiap angkatannya.



Ex.Lab.1.1: Gandhi Setyawan | Dinas Merchandise Yogyakarta
Prakteknya sebagai desainer grafis dan street artist membuat Gandhi mempertanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan pemerintah kota, publik, anak muda, dan penerapan desain oleh pemerintah. Citra-citra atas stabilitas, kemakmuran, dan keindahan yang kerap terlihat dalam logo-logo pemerintah dirasa kurang pas baginya sebagai anak muda yang juga merupakan warga kota ini. Logo-logo tersebut kemudian didesain ulang tanpa menghilangkan lambang-lambang kemakmuran dan ciri khas kedaerahan yang sebenarnya. Tidak hanya melakukan apropriasi atas logo-logo pemerintah kota, ia juga menambahkan dinas-dinas fiktif yang melayani masyarakat dengan cepat dan bersih melalui Dinas Robot, Dinas Seni Publik, Dinas Lifestyle dan Dinas Sepeda.


Bentuk koperasi dipilih untuk kembali medekatkannya dengan institusi pemerintah. Tensi antara yang kontemporer dan konservatif kembali dipermainkan di sini. Ia mengambil lambang-lambang resmi yang diwajibkan hadir di institusi-institusi pemerintahan dan menggabungkannya dengan desain serta display yang segar. Dalam pameran ini, ia mencoba untuk membayangkan dirinya sebagai seorang pegawai negeri yang tetap harus mengenakan seragam identitas namun tidak ingin menghilangkan keunikan dirinya. Ia mengambil unsur-unsur yang wajib ada serta menambahkan atribut baru yang memberi sedikit warna serta kesan dinamis atas keseragaman tersebut. Ia seakan melakukan rebranding bagi kota Yogyakarta dan menjadikannya ruang yang lebih muda, ramah terhadap penghuninya, dan mengakomodasi kebutuhan gaya hidup urban anak muda masa kini.

Ex.Lab.1.2: Alfin Agnuba | Cita Rasa '75

Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) merupakan sebuah gelombang perubahan dalam dunia seni rupa Indonesia yang muncul pada awal tahun 70an sebagai respon atas kejenuhan seniman muda pada masa itu atas konsepsi seni rupa Indonesia yang seakan dibangun seragam. Mengapa gerakan seni rupa yang begitu penting terlihat seakan dikesampingkan dari pendidikan seni formal di kampus merupakan pertanyaan besar Alfin. Alih-alih mencoba menjawab pertanyaan tersebut,  Alfin mencoba untuk mencari tahu dan mempelajari GSRBI melalui buku kumpulan karangan yang disunting oleh Jim Supangkat terbitan Gramedia tahun 1979. Hasilnya, ia menyajikan ide-ide dasar, pola pikir, lima jurus gerakan seni rupa baru, dan kutipan dari para tokoh dan menyablonnya di atas makanan. Hal ini dilakukan sebagai usahanya untuk membagi intisari pengetahuannya kepada teman-temannya. Dengan sentuhan humor seperti yang kerap digulirkan tentang membakar buku, menyeduh abunya untuk menjadi teh, dan meminumnya supaya pandai; Alfin menyarankan supaya hidangan ini dimakan segera supaya pengunjung memiliki pengetahuan instan atas ide-ide GSRB. 

Pada lapisan berikutnya, Alfin mempermainkan konsep keruangan 'Lir' dalam perannya sebagai restoran dan ruang interaksi. Peran ruang galeri yang terbuka bagi khalayak umum diubahnya menjadi sebuah studio yang umumnya privat. Sesuai dengan konvensi GSRBI yang menepis pemikiran romantis atas seniman yang merupakan penyendiri yang mencari ilham dan inspirasi di ruang privatnya, Alfin membuka lebar-lebar ruangnya dan membiarkan interaksi terjadi selama dua minggu pertama. Di waktu ini, ia juga menjadikan ruang galeri sebagai laboratorium percobaan untuk menguji rasa, medium, serta warna. Tegangan-tegangan antara yang privat dan yang publik dipermainkannya di awal pamerannya. Ruang galeri terkadang menjelma studio tempat penciptaan karya, terkadang menjelma dapur, dan banyak diisi dengan perjumpaan, interaksi, serta hubungan antara seniman dan penonton. Ia menggunakan bahan pewarna alami masakan sebagai pengganti cat, kulit pangsit sebagai pengganti kertas, dan menambahkan unsur aroma serta rasa. Baginya, seni dan makanan sama-sama adalah tentang selera serta cita rasa yang sifatnya personal. Di minggu terakhir pamerannya, jual beli 'karya seni' dilakukan di kedai makanan buatan yang menjual ide, konsep, dan karya kepada khalayak umum. Ruang galeri terkadang tetap menjadi ruang pamer (saat kedainya tutup) dan terkadang menjelma kedai yang menjual makanan ringan yang lezat, bergizi, dan mencerdaskan.

Ex.Lab. 1.3: Yonaz Kristy | Between Media and Other Stories
Selama tiga puluh hari berturut-turut, Yonaz meyisihkan waktu khusus di harinya untuk membaca puluhan berita dari koran, berita online, dan televisi. Dari seluruh berita tersebut, ia mengumpulkan sebagian yang dirasa paling menggelitik dan menarik perhatiannya. Potongan-potongan berita tersebut dikumpulkan dalam beberapa buah scrapbook secara acak sebelum kemudian direspon sebagai sebuah rangkaian karya yang utuh. Dominasi berita politik dalam pameran ini tentu saja berkaitan erat dengan rentang waktu risetnya. Tiga puluh hari pengumpulan berita tersebut dilakukan menjelang Pemilihan Umum bagi para calon legislatif. Posisi Yonaz sebagai salah satu pemilih muda pertama membuatnya bersemangat untuk mempelajari politik dari berbagai sumber yang bisa diaksesnya. Ia menghadapi pemilu dengan sedikut bingung namun bersemangat.

Hal tersebut dituangkannya dalam satu bentuk karya utama: buku. Media ini dipilih sebagai cara presentasi utama karya Yonaz karena kedekatannya pada zine dan self-published book. Dalam hal ini, ruang pamer utama bukan lah ruang galeri namun buku yang diletakkan di tengah galeri. Yonaz secara pribadi memiliki sensitifitas yang istimewa terhadap kata-kata yang kemudian dimunculkan pada buku tersebut. Beberapa kata dimunculkan dari perasaan yang timbul dari mendalami teks-teks yg ada di media. Pameran ini –seperti halnya dunia ini; terasa sepi ketika pengunjung tidak membaca lebih hati-hati dan melihat lebih dekat. Kata bisa menjadi deretan huruf tanpa makna yang ketika diperhatikan dengan seksama terasa riuh dan hampir tanpa jeda.

Pada hari ke tiga puluh, Yonaz menilik ulang berita-berita kumpulannya dan menemukan beberapa topik berita besar lain yang berulang kali muncul. Pertama, hilangnya pesawat MH730 yang memicu banyak teori konspirasi dan membuat menonton berita terasa sama serunya dengan melihat film action. Kedua, vonis mati bagi buruh migran Satinah yang kemudian menjadi pedang bermata dua. Ketiga, kasus tindakan asusila terhadap anak-anak di bawah umur. Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung diajak memasuki keriuhan ruang-ruang dalam pikiran Yonaz ketika berhadapan dengan berita-berita tersebut. Di waktu bersamaan, ia mulai menyadari adanya kecenderungan keberpihakan media, dunia informasi yang terlampau cepat, dan pemirsa/ pembaca yang lebih kritis namun juga mudah lupa. Tentu saja di antara berita-berita besar tersebut terdapat cerita-cerita kecil yang bersifat lebih ringan, menghibur, dan nyaris tersisihkan di antara media dan kisah-kisah lainnya. Seluruhnya terangkum dalam ruang senyap yang riuh oleh kata-kata.

Ex.Lab.1.4. : Cosmas Dipta | Kelas Salah Jurusan
“Mungkinkah saya mengambil jurusan yang salah?”. Pertanyaan itu menjadi kegelisahan utama Cosmas dalam pameran ini. Cosmas yang sedang berada di tingkat akhir masa kuliahnya mulai melihat skripsi sebagai batu penghalang besar yang menghadangnya. Ketertarikan pada fotografi membuatnya mulai mempertanyakan benar atau salahnya jurusan kuliah yang dipilihnya empat tahun yang lalu. Pertanyaan tersebut membawanya ke dalam beberapa bulan riset pendek yang mempertanyakan tentang pendidikan di Indonesia, keseragaman yang diciptakan, ide tentang kesuksesan dan kemapanan yang merupakan hasil dari sistem orde baru, serta generasinya yang banyak terpengaruh dengan ide-ide tentang penggapaian mimpi serta pekerjaan yang di luar sistem.

Pada bulan ke-tiga, seluruh pertanyaan tersebut dikembalikan ke pertanyaan dasarnya tentang apakah ia mengambil jurusan yang salah dan berapa banyak orang yang dinilainya mengalami hal yang sama. Cosmas pun mulai mencari orang-orang di sekitarnya yang berhasil menyelesaikan skripsi dan kuliahnya namun tidak bekerja di bidang yang sama dengan jurusan yang diambilnya. Skripsi yang seharusnya menjadi pembuktian atas pemahaman ilmu yang didapat di masa kuliah umumnya diambil dari hal-hal yang paling menarik bagi pembuatnya. Cosmas merasa bahwa dalam hal ini skripsi terasa seperti pemenuhan persyaratan kelulusan semata, sebuah batu penghalang yang harus dilewati sebelum menjalankan kehidupan sesuai impiannya. Namun apakah betul bahwa orang-orang ini ‘salah jurusan’ atau memang perubahan pilihan karir merupakan hal yang ditemukan sepanjang jalan sebagai sebuah proses dan penemuan alih-alih kesalahan? Apakah betul ia salah jurusan di bidang IT atau justru ia salah jurusan di bidang seni? Apakah ia sedang berputar-putar di sekitar batu yang menghalangi jalannya sambil membawa kamera dan terus melakukan kesenangannya dalam memotret tanpa segera melewati batu tersebut?

Pameran ini kemudian bisa dilihat sebagai perjalanan dan pencarian jawaban bagi Cosmas secara pribadi. Tentu saja jawabannya sangatlah pribadi dan tidak dimaksudkan untuk dibagi dalam pameran ini. Pameran ini adalah tentang proses penemuan, pencarian, dan perjalanan. Di dalamnya terdapat medali-medali kecil berupa skripsi orang-orang yang telah melewati ‘batu penghalang’ di depannya dan melanjutkan perjalanannya menuju impian masing-masing. Penikmat pameran ini diajak untuk memasuki ruang kelas, duduk di salah satu bangkunya, membuka skripsi-skripsi yang ada di sana dan menikmati karya kolase foto Cosmas yang menunjukkan passion para pemilik skripsi ini—hal-hal yang membara di dalam diri mereka. Di papan tulis yang ada di depan kelas terdapat kutipan dari Ki Hadjar Dewantoro yang menyatakan bahwa setiap anak itu berbeda. Hal itu seakan menegaskan bahwa di dalam diri ‘murid’ di kelas ini masing-masing unik, tidak bisa diseragamkan melalui sistem, dan mungkin seperti kata J.R.R. Tolkien yang sering dikutip anak masa kini: “Not all those who wander are lost”.



*****

(eng)

Exhibition Laboratory #1

Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) is a laboratory for creating solo exhibitions of young artists. Ex.Lab is the latest project of Lir Space; choosing four young artists to go through a three-months process to prepare their own solo exhibitions. In this program, the four young artists are mentored, get some reference-class from visual art practitioners, visit some senior artists’ studios, and intensively prepare their exhibition with a curator.

In Ex.Lab. 1, we try to introduce young artists who was born in the 90s with a different artistic creation pattern to their usual practice and create a fully conceptual-driven projects. These four young artists are expected to do small research before making the artwork, playing with the notion of ‘massage beyond form’, and using specific chosen medium as a way to deliver the concept to the audience. In this program, instead of making a solo exhibition that consists of a collection of single works; they are encouraged to make one whole body of work in the exhibition. This is done without eliminating details and artistic tendency of each young artists.

Ex.Lab is a dynamic laboratory that will use different working platforms in every term.

Ex.Lab.1.1: Gandhi Setyawan | Dinas Merchandise Yogyakarta
As a graphic designer and street artist, Gandhi  Setyawan wandering around the issue of the goverment, public, youth, and visual design used by  the goverment. He feels that the image of stability, prosperity, and beauty found in the government’s logo is no longer fit him as a young citizen. It triggers him to try redesigning the governmental logos without leaving out the symbols of prosperity and local characteristics. Not only making an appropriation of the government’s works, he also creates fictitious departments that (supposedly) serve the society in a quick and clean way through “The Robot Department, “Public Art Department”, “Lifestyle Department, and “Bicycle Department.

A cooperative (coop) is choosen as a form of exhibiting the work to bring it closer to the govermental image. The tension between the contemporary and the conservative are relaid here. He takes some formal symbols that are obligatory to be shown in a govermental institution such as the portrait of the president and vice president. Then, he combines them with hip and young designs and store display. 

In this exhibition, he imagine himself as an official representative of the government who has to wear the identity uniform; but refuse to eliminate his unique quality of self character. He takes the obligatory substances and add new attributes that give a pop of color and dinamic impression over that uniformity. It was as if he is rebranding the image of Yogyakarta and create a hip and younger space that is welcoming to the people and accomodate young generations’ lifestyle.



Ex.Lab.1.2: Alfin Agnuba | Cita Rasa '75
Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) or The New Indonesian Visual Art Movement is a big wave of changes in the Indonesian artscene of the 70s as a response to young artists’ boredom to the conception of uniformed Indonesian visual art.  The biggest question of Alfin is why would such an important movement seems disregarded in the university where he is now studying about formal art education. But, instead answering his own question, Alfin start to learn about GSRBI through the essay compilation about the subject. This 1979 essay compilation was edited by a senior curator, Jim Supangkat, one of the important figure of GSRBI. As a result, Alfin start to present the basic idea, school of thought, “The Five Movements of GSRBI”, and take quotations from GSRBI’s figures to later silk-screen them onto edible ‘paper’. Alfin sees this as a way to deliver the essence of his new-found knowledge about GSRBI to his friends. This is also an in-joke with a twist of humor well known among his local circle of friends: in you want to be smart instantly, try to burn a book full of knowledge, brew the ashes, and drink them to get the ‘nutrition’ of the book. In this exhibition, Alfin suggests his friends to eat the silkscreened pastry sheet to get instant knowledge and ideas about GSRBI.

At the next layer, Alfin plays with the spacial concept of ‘Lir’ and its position as a restaurant with a space to interact. The gallery space that is open to public is turned into a studio that is usually more private. This thought is in line with what GSRBI believe against the romantic thought of a solitary artists who looks for inspiration inside his own private space. Alfin widely opens his personal space and let people interact with him for the first two weeks. This is also the time when he turn the art space into a laboratory of medium, color, and taste. The tension between what’s private and what’s public is continuously played here. The gallery fluidly changed into artist studio, a kitchen, and richly filled with encounters, interaction, and relationship between artists and audience. He use natural edible coloring as a substitution of paint, pastry sheet as a substitution of paper, and add up flavor and aromas in his work. To him, art and food both are about personal taste. In the last week of his exhibition, he start selling his ‘artwork’ in a ‘food stall’ inside the gallery. This food stall is not only selling edible pastry sheet with silkscreened GSRBI quotations but also selling ideas, concept, and artwork to public. The gallery can sometime be a gallery and sometime be a food vendor selling snacks that is rich in ‘nutrition’ and makes you smart.  


Ex.Lab. 1.3: Yonaz Kristy | Between Media and Other Stories
For thirty consecutive days, Yonaz dedicates a special time in the morning to read dozens of news from the paper, online, and television. From all of those news he collected, he picked several news that triggers his curiosity and attentions.  Those news are then randomly collected and pasted onto several scrapbooks before turned into a complete series of work. Looking the fact that this ‘research’ is conducted during the month of the general election, the scrapbook is dominated with political news. Yonaz standpoint as young first-voter makes him highly curious and excitedly learn about politic from all the source he can find. He responded to the politic is a puzzled sense—yet at the same time, he is very enthusiastic about it.

In this exhibition, Yonaz choose to present his work in one body of work in form of handmade artist book. This media is chosen because of Yonaz’s personal relation and practice in making zine and self-published book. In this case, the gallery is only act as sideline exhibition space whereas the book that is placed in the middle of it become the main ‘exhibition space’. Yonaz who is personally own a certain degree of sensitivity to words and text shows his finest quality in this format. Some sentences are carefully crafted from his personal feeling when reading stories from the media. This exhibition—just like how it is with the world: feels quiet and hushed when audience do not read carefully and look closely. Sentences can be just like an array of meaningless words and letters; yet at the same time, it can be vivacious and restless.

At the last day, Yonaz start reviewing his finding and find other stories that is considered important and repeated over and over again. First, the MH730 airplane that went missing and triggers numerous conspiration theories—making daily news almost as thrilling as watching action movie. Second, the death sentence to Indonesian migrant worker, Satinah, which is then highly politicize and become a two-heads swords. Thirds, the numerous recently-found sexual abuses to minors. Entering the exhibition space, audience are guided to enter the buzzing rooms inside Yonaz’s mind. At the same time, he start noticing certain tendency and hidden agenda of a media, the rapid flow of information, and readers who are more critical and yet easier to be oblivious. Of course, on the fourth side of the wall there are the ‘other stories’; news that is more entertaining, carefree, and almost set aside in the media and other bigger stories. All of which are summarized in a quiet room full of words.

Ex.Lab.1.4. : Cosmas Dipta | Kelas Salah Jurusan
“Did I take the wrong major?”, was the main concern that bothers Cosmas. Cosmas who is now standing at the edge of his university year, start to look at his thesis as a big stone in front of his way. His interest in photography lately makes him wonder if he took the right or wrong major four years ago. That question leads him to a three months research about Indonesian education system, the uniformity that it creates, idea of the New Order kind of success and established life, and his generation who are highly influenced by the ideas of making a dream comes true and work outside the system.

At the third month, all of the questions are being brought back to the basic questions about did he or didn’t he take the wrong major and other people who he thinks have the same concern. Cosmas starts to look for people around him who had finished their thesis and their study; but do not continue to work in the same sector with the major that they took. Thesis that supposed be a verification of their comprehension about their study, usually generated from the thing that interest them the most. In this case, Cosmas feels like the thesis is only a way to graduate instead of a stepping stone in chasing what someone passionately dream about. But, is it true that those who are working at the different sector than their education means that they took the wrong major? Or is it a process they found along the way? Was Cosmas took the wrong major in the IT and supposedly took art instead? Is he walking around the stone carrying cameras instead of get done with it?

Then this exhibition can be seen as a spiritual journey in a quest of finding his personal answer. Surely, the answer is very private and not meant to be shared in this exhibition. This exhibition is about the process to find, explore, and the journey. Inside, there are small medals in the form of other people’s thesis who has already passed the big ‘stone’ that gets in their way and use them as a stepping stone to get to their dream life. The audience are invited to enter the class, sit on the bench, open the thesis, and enjoy Cosmas’ collage works there that shows the hidden passion of the writer of the thesis: the burning fire inside each one of them. On the blackboard there is a quote from Ki Hadjar Dewantoro stating that each of everyone of us has different quality and interest. It was written to state that almost everyone who sits in this class is unique in their own way, unable to be uniformed by the system, and probably related to that saying of J.R.R. Tolkien: “Not all those who are wander are lost”.



Ex.Lab.
Penggagas: Dito Yuwono
Kurator: Mira Asriningtyas
Asisten Proyek: A.Lisnanto
Pembicara: Antariksa, Iwan Effendi, Malcolm Smith
Kunjungan Studio: Agung Kurniawan, Mella Jaarsma

Seniman:
Ex.Lab.1.1: Gandhi Setyawan | 8 – 30 Mei, 2014
Ex.Lab.1.2: Alfin Agnuba | 6 – 30 Mei, 2014
Ex.Lab.1.3: Yonaz Kristy | 3 – 30 Juni, 2014
Ex.Lab.1.4: Cosmas Dipta | 3 – 30 Juni, 2014

Lir Space
Jl.Anggrek 1/33 Baciro
Yogyakarta
t: @lirshop

ig: @lirspace