16.10.14

[Publication] Antara Karya Seni dan Resepsi Publik


DGTMB tidak hanya sekedar toko. Tempat ini merupakan proyek seni, ruang alternatif, dan cara Eko Nugroho membagi idealisme, kepedulian sosial, dan karyanya untuk khalayak luas.

*****

Pada tahun 2013, Eko Nugroho dinobatkan sebagai satu dari 100 seniman paling berpengaruh di dunia versi Art Review. Pamerannya di  Musée d’Art Moderne de la Ville de Paris, keterlibatannya dengan Venice Biennale dan kolaborasinya dengan Louis Vuitton menjadi sebagian alasan kenapa ia disebut sebagai bintangnya seni rupa Indonesia saat ini. Karya-karyanya terdiri dari lukisan, bordir, wayang, patung, dan instalasi yang biasanya dilengkapi dengan susunan kata-kata yang menggelitik. Kata-kata ini umumnya bernada politis dan menyentil kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Ideologi serta kepekaan sosial memang terasa kuat dalam keseharian seniman ini. Hal itu terasa semakin menonjol dengan adanya ruang alternatif sekaligus ‘toko’ artist-merchandise yang didirikannya: DGTMB. 

Dagingtumbuh (DGTMB) awalnya merupakan komik underground yang diinisiasi oleh Eko Nugroho di tahun 2000 dan berjalan dengan sistem kontribusi terbuka. Sebagai media yang independen dan demokratis, DGTMB kerap menggunakan sistem pertukaran dan distribusi dari tangan ke tangan serta membiarkan dilakukannya penggandaan melalui fotokopi.

Pada tahun 2004, Eko mulai memproduksi t-shirt sebagai merchandise bagi DGTMB komik. Saat itu distribusi dilakukan secara underground. Pada tahun 2007, DGTMB merchandise mulai mengadaptasi karya karya Eko Nugroho dan toko secara fisik mulai dibuka. Berdirinya DGTMB shop ini pun diperkuat dengan adanya fenomena krisis yang menyebabkan banyak anak muda putus sekolah. Di sekitar tahun 2007, Eko Nugroho yang kerap membuat project di jalanan melihat banyaknya anak jalanan baru yang terlihat segar dan takut-takut. Ternyata pada saat itu terjadi pengurangan tenaga kerja besar-besaran yang meskipun tidak terlihat namun berimbas pada bertambahnya jumlah anak putus sekolah di jalanan. Alasan sosial tersebut mendorongnya untuk membuat workshop sablon dan mengajak anak-anak ini membuat sesuatu yang selain bisa digunakan juga bisa dijual. Saat itu DGTMB mulai menerapkan konsep open shop dan mempersilahkan siapapun untuk melakukan titip jual atas apapun yang memiliki nilai ekonomi untuk mendukung aktifitas kreatif para pembuat zine, musisi, dan seniman.

Fenomena Artist Merchandise
Praktek artist merchandising memang kerap dijumpai di kota dengan scene seni yang aktif seperti di Yogyakarta. Artist mechandise itu sendiri merupakan produk yang dibuat oleh seniman dan dipasarkan dalam format pameran seni rupa atau penjualan secara langsung.  Di satu pihak, fenomena ini merupakan upaya kreatif seniman muda untuk bertahan hidup sebelum berhasil menjual karya seninya.  Eko Nugroho menilai bahwa ketika seniman muda belum berada dalam wacana seni kontemporer, mereka memiliki ruang bermain yang beragam dan kreatif.  Usaha ini kerap dilakukan untuk menyusun kekuatan dan pemasukan dalam mempersiapkan karya yg idealis.

Di lain pihak, seniman bisa menjadikan artist merchandising sebagai side projectnya dan mulai berkarya dalam bentuk merchandising. Hal ini menunjukkan perkembangan media, kembalinya unsur craftmanship dalam ‘karya’ para seniman tersebut, dan upaya persinggungan langsung antara seniman dengan penikmat seninya.

Iklim berkesenian dan usaha mempertahankan kreatifitas dalam hal merchandising terasa cukup lazim di Yogyakarta. Pada tahun 80an, seniman senior seperti Eddie Hara dan Heri Dono kerap memproduksi t-shirt dan menggunakannya sebagai komunikasi persahabatan sembari menghidupi aktivitas kuliah saat itu. Sistem tersebut dirasa menarik bagi Eko.

Bagian dari Karya Seni
Bagi Eko Nugroho, merchandise yang ia buat di DGTMB merupakan bagian dari karya seni yang dibuatnya. Kegelisahan dan keinginan untuk berbagi membuatnya terus berpikir bahwa karya yang masuk ke area wacana seni rupa kontemporer dan masuk ke pasar juga perlu dibagi dengan segmen yang lebih muda. Negosiasi dan penyatuan antara karya dan merchandise sejalan dengan tujuannya untuk mengembalikan karyanya ke khalayak umum. Ia kerap mengaplikasikan bagian dari karya seninya ke dalam produk dengan sentuhan ironi yang menggelitik.

Ironi tersebut juga kerap terlihat pada permainan kata yang menonjol di karya maupun produknya. Awalnya, Eko sempat terganggu oleh ocehan orang gila yang rancu dan entah memiliki makna atau tidak. Momen tersebut terekam kuat di pikirannya dan ia menyukai betapa kegilaan tersebut membuat si orang gila tidak ambil pusing atas pemaknaan orang lain. Selain itu, Eko menyukai peribahasa dan logika yang muncul darinya. Maka karya dan produknya pun kerap mengandung unsur-unsur peribahasa, kumpulan kata yang tidak lazim, bahasa Inggris yang seadanya, serta kekonyolan yang menyentil dengan ‘logika DGTMB’. Terkadang kata-kata ini keluar begitu saja dengan keliaran, kenakalan, dan kegilaan yang khas. Karakter ke-‘Jogja’-an yang konyol menguat di konsep yang ingin ia tuangkan melalui kata-kata yang tersebar di seluruh penjuru toko.

Dalam berkesenian, Eko memilih untuk memijakkan kaki di dua hal dengan tidak menjadi terlalu eksklusif di satu bidang sambil tetap menjadi eksklusif di bidang lain. Permainan tensi antara yang publik dan yang  steril itu pun kerap terlihat di karya-karyanya. Tarik ulur antara seni konseptual yang berwacana besar dengan low-brow art itu juga lah yang dulu menyatukan visi Louis Vuitton dan Eko Nugroho dalam kolaborasi mereka tahun lalu. Hal ini juga yang mendasari terciptanya DGTMB shop sebagai sebentuk project bagian dari karya Eko Nugroho.  Tak heran bahwa kemudian banyak kolektor fanatik yang bertandang ke DGTMB dan menyikapi merchandise tersebut sebagai memorabilia yang layak dikoleksi. Terkadang kolektor pun menggunakan logika jual beli karya seni dan menuntut adanya nomor seri serta tanda tangan di atas barang yang paling sehari-hari seperti kaus dan tas kanvas.

Saat ini Eko Nugroho dan DGTMB sedang mempersiapkan DGTMB Community Project yang akan diluncurkan untuk pertama kalinya di Bazaar Art bulan Juli mendatang. DGTMB Community Project akan membawa proyek-proyek seni yang diwujudkan oleh beberapa komunitas mulai dari pengrajin batik lurik Lawe yang biasa bermain dengan warna-warni pop, komunitas disable pembuat puzzle, serta para pembatik dari Giriloyo. Tujuannya adalah untuk mendekatkan komunitas seni dengan fenomena artist merchandise yang man-made dan personal. Meskipun hasilnya mungkin terlihat mirip dengan buatan mesin namun kisah-kisah tiap produk dan cerita di balik layar prosesnya lah yang memiliki keunikan khusus serta nilai-nilai sosial yang kuat. 

Mengembalikan Bahasa Manual
DGTMB shop sendiri sempat vakum selama dua tahun dan beroperasi secara online. Hal ini dirasa kurang pas bagi Eko Nugroho. Keberadaan fisik toko menjadi salah satu daya tarik penting bagi DGTMB. Selain ruangan ini kemudian bisa menjadi wadah bagi kegiatan seni lain, Eko cenderung memilih untuk mengembalikan semuanya pada bentuk yang mendekatkan para pelaku seni. Pada perkembangannya, baik untuk produksi karya Eko serta produk DGTMB mengandalkan pengrajin lokal serta seniman muda dari Yogyakarta. Hal ini masih sejalan dengan idealisme Eko untuk selalu bertanggungjawab secara sosial. Ia kerap memesan patung ke tetangga kampungnya dan karya sablon dari teman-teman seniman muda. Hal ini dilakukan untuk memberikan dukungan bagi para seniman muda dan pekerja kreatif supaya memiliki kemampuan untuk terus berkarya secara independent.

Eko Nugroho juga kerap menghidupkan kembali semangat produksi dengan bahan manual. Baginya, komputerisasi pada benda-benda yang awalnya dibuat dengan tangan kerap menambah jumlah pengangguran. Ia pun mulai memesan papan nama lukis tangan kepada pengrajin untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Ia juga merangkul para pengrajin bordir manual untuk membantunya membuat karya tekstilnya yang khas sejak tahun 2000 sekaligus memesan produk emblem yang dijual di DGTMB. Hal ini dilakukannya tidak semata-mata karena alasan romantisme artistik namun juga karena kepedulian sosialnya yang tinggi. Dengan cara itu DGTMB memaksimalkan potensi pengrajin lokal serta mendukung industri kreatif jogja. Ia seperti membangun support system untuk berkesenian yang tidak melulu ideologis namun menjadi ruang terbuka yang ramah dantidak terlalu jauh dengan semangat penciptaan yang biasa digeluti para seniman muda ini.

Meskipun terdengar tidak efektif dan efisien tapi Eko menikmati bagaimana desain ini terwujud dengan komunikasi yang baik serta pemahaman. Ada pertukaran ide dan pengetahuan yang diasah di dalamnya. Selain itu, seperti ketika menggandakan komiknya dengan cara memfotokopi, hampir selalu ada halaman yang rusak. Kecenderungan artistik semacam ini lebih dipilih oleh Eko karena pola artistik tersebut tidak bisa diciptakan oleh mesin. Gambar yang sama pun bisa menunjukkan hasil berbeda karena cara mengontrol benang atau sentuhan tangan yang berbeda. Kekuatan desain DGTMB maupun karya Eko Nugroho diharapkan memiliki sentuhan manusia yang kuat dan kreatifitas yang tidak memesinkan manusia.

Eko melihat DGTMB sebagai ‘ruang alternatif’ yang memunculkan banyak kemungkinan: dukungan ekonomi, eksplorasi media, dan eksplorasi desain yang penting untuk pembelajaran seniman. Kemampuan komunikasi dan sensitifitas terhadap realita sosial di luar studio dinilai sebagai hal yang penting bagi seorang seniman.  Komitmen terhadap kesenian, porsi craftmanship yang tinggi, desain yang dibuat oleh seniman, serta jumlah edisi yang terbatas adalah yang membedakan artist merchandise dengan produk jadi lainnya. Ia melihatnya sebagai upaya mandiri untuk menciptakan kebebasan berkarya bagi diri sendiri. Saat ini DGTMB kerap mengadakan workshop, screening, presentasi, dan pameran di ruang pamer serta warungnya. Baginya pun ini merupakan proyek gila. Meskipun demikian, Eko berharap supaya muncul ruang-ruang kecil alternatif serupa dengan ekspresi letupan kreatifitas anak muda di tempat lain. Atmosfir dan wacana berkesenian secara alternatif itu bisa dibangun siapa aja di mana saja.


(Mira Asriningtyas for Dewi Magazine | Oct 2014 | p.216-217 | photo by Dito Yuwono)