8.8.15

Exhibition Laboratory 2 // Ex.Lab.2

Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) adalah sebuah laboratorium penciptaan pameran tunggal yang digagas oleh Lir Space. Empat seniman muda dipilih untuk menjalani proses selama tiga bulan untuk mempersiapkan pameran tunggal mereka masing-masing. Dalam program ini, keempat seniman menjalani proses mentoring, kelas referensi dengan praktisi seni rupa, melakukan kunjungan ke studio seniman senior, serta menjalani persiapan pameran yang intensif. Seluruh seniman berproses untuk membuat sebuah pameran yang merupakan satu kesatuan yang utuh alih-alih membuat kumpulan dari karya-karya kecil. Ex.Lab merupakan laboratorium penciptaan yang dinamis dan akan berjalan dengan pola landasan kerja yang berbeda pada tiap angkatannya.

Ex.Lab. 1 mencoba memperkenalkan seniman muda yang lahir di tahun 90an dengan pola penciptaan karya seni yang berbeda dengan pola kekaryaan mereka biasanya. Keempat seniman muda ini diharapkan melakukan riset kecil sebelum membuat karya, bermain-main dengan ide 'pesan di atas bentuk' serta penggunaan medium sebagai cara menyampaikan gagasan.

Ex.Lab.2 memilih dua orang yang tidak memiliki latar belakang seni rupa dan dua orang lainnya yang berasal dari kampus seni rupa. Keempat orang ini memiliki karakteristik yang kuat dan minat pribadi pada suatu hal tertentu yang membentuk kepribadian mereka. Mereka menjalani proses kreatif bersama-sama untuk menggali arsip, sejarah, serta memorabilia dari satu hal yang paling dekat dan menggairahkan bagi diri mereka masing-masing.

*****

Ex.Lab. 2.1: Dimaz Maulana | “The Genealogy of Hope: Team Suratin 1992”
Dimaz adalah seorang lulusan ilmu sejarah yang memiliki minat khusus terhadap PSIM. Ia adalah pendiri dan pengarsip dalam webzine yang menggali sejarah sepak bola Indonesia khususnya PSIM: Bawah Skor Mandala (BSM). Melalui BSM, Dimaz menyajikan arsip sejarah ke khalayak umum dengan cara yang sederhana. Dalam pameran ini, Dimaz menelusuri jejak prestasi tim PSIM muda dalam lini masa Piala Suratin. Piala Suratin adalah kejuaraan nasional untuk pemain muda (16-18 tahun) yang sudah ada sejak tahun 1966. Piala ini digelar sebagai bentuk penghormatan untuk Suratin sebagai pendiri PSSI. Pada tahun 1992, para pemain muda PSIM untuk pertama kalinya memasuki final dan meraih juara ke-dua pada Piala Suratin. Dalam pencariannya, Dimaz menemukan kisah-kisah kemenangan; kisah-kisah tentang kesempatan yang datang dan yang hilang, dan bagaimana harapan menjadi salah satu hal penting yang mengikat kesetiaan mereka pada sepak bola. Posisi juara ke-dua dalam Piala Suratin tersebut bisa menjadi sebuah titik terang bagi cita-cita dan pencapaian tim PSIM muda. Prestasi tertinggi tersebut muncul hampir 23 tahun yang lalu dan ingatan tentangnya mulai memudar. Kisah-kisah yang ditemukan membawa Dimaz ke dalam cerita personal para mantan pemain muda yang kini telah menjadi paruh baya; cerita tentang cidera yang kerap menandai akhir karir para pemain dalam tim, dan bagaimana sebagian lainnya kembali ke dunia sepak bola dengan mengambil peran-peran di luar lapangan. Presentasi arsip dan memorabilia ini menjadi sebuah nostalgia visual atas sebuah kemenangan, harapan, dan kehilangan. Sebuah upaya untuk mengingat dan melihat kembali bagaimana masa depan serta kehidupan terbentuk dari hal-hal yang membuat kita bergairah. Bagaimana impian dan kecintaan atas permainan yang baik sebenarnya bukan melulu tentang menang atau kalah. Harapan tipis yang membuat seseorang terus menjalankan yang dirasa terbaik adalah suatu hal abstrak yang sulit dijelaskan bagi mereka yang tidak memiliki perasaan serupa. At the end, a good game is a good game.
-----
Ex.Lab 2.2: Isnen Bahar Sasmoyo | “F20.3”
Isnen adalah lulusan sebuah akademi keperawatan. Di bulan-bulan akhir pendidikannya, ia melakukan praktek kerja lapangan di Rumah Sakit Jiwa dan bertugas secara khusus menangani sebuah bangsal bagi remaja yang mengidap Schizophrenia. Di bangsal tersebut, Isnen bertugas merawat delapan orang pasien yang mengidap schizophrenia tidak terinci. Schizophrenia secara etimologis berarti 'jiwa yang terpecah belah'. Salah satu tandanya adalah adanya keretakan atau ketidakharmonisan antara proses berpikir, perasaan, dan perbuatan. Beberapa yang mengidap penyakit ini mengalami delusi, halusinasi, menunjukkan sikap-sikap yang tidak semestinya, mengalami kedangkalan emosi, serta gangguan kemauan. Dalam schizophrenia tidak terinci, tanda-tanda penyakit kejiwaan muncul namun penggolongan atas jenis yang khusus (paranoid/ katatonik/ hebefrenik) belum dipastikan. Dalam proses pembuatan karyanya, Isnen memposisikan dirinya sebagai banyak identitas: ia sebagai perawat yang melakukan analisa atas pasiennya, ia sebagai salah satu dari mereka, dan ia sebagai perawat yang menganalisa dirinya sendiri. Keberadaannya di bangsal kejiwaan menjadi sebuah studi atas bahasa tubuh dan kekayaan visual yang ada di sekitarnya; mulai dari coretan-coretan yang dibuat para pasien di dinding, pemaknaan atas waktu yang hanya berupa garis-garis yang saling bertumpuk, dan pesan-pesan yang menggambarkan diri mereka. Dalam pameran ini, Isnen menceritakan tentang pengalamannya bersentuhan dengan para 'orang gila' yang kemudian memiliki hubungan dekat yang membuatnya tidak lagi melihat mereka sebagai pasien semata. Selama masa prakteknya, ia melakukan terapi komunikasi dengan para pasien dengan duduk di kursi yang berukuran sama, berhadap-hadapan dengan jarak tertentu, mengulang pertanyaan demi pertanyaan yang terstruktur, menjaga tatapan supaya tetap membentuk pola segitiga, dan perlahan-lahan mengembalikan mereka ke fungsi dalam masyarakat dengan aktifitas-aktifitas ringan bersama-sama dengan perawatnya. Terapi ini menjadikan para pasien tidak diperlakukan sebagai liyan namun sebagai sesama manusia. Keberadaan para pasien kejiwaan di sekeliling dokter dan perawat ini pun kerap mengaburkan posisi mereka antara yang sakit dan yang sehat; penyakit menjangkit si sehat dan benih kesembuhan muncul pada si sakit.
-----
Ex.Lab. 2.3: Putud Utama | “Contrary to Popular Belief,..”
Putud terlahir dalam keluarga Jawa dengan segala kepercayaan dan mitos yang berkembang melalui cerita atau ungkapan sehari-hari. Beberapa di antaranya menimbulkan rasa takut yang mendasar di masa kecil dan pertanyaan-pertanyaan di masa sekarang. Ia kerap diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak duduk di depan pintu supaya tidak susah (mendapatkan) jodoh; atau untuk tidak duduk di atas bantal supaya tidak bisulan. Hal-hal serupa kerap tercetus dalam percakapan sehari-hari: “Jangan memakai baju hijau kalau ke pantai selatan, nanti hilang di laut”, misalnya. Beberapa di antaranya bisa dicari sisi logisnya sementara sisanya diukur dengan norma, moral, etika, menunjukkan kelas dan hal-hal yang lebih subtil lainnya. Di lain pihak, ada juga yang tidak lagi masuk akal bagi kehidupan di masa sekarang. Dari ungkapan-ungkapan tersebut, kerap muncul hubungan sebab-akibat yang menimbulkan ketakutan sekaligus permainan kata-kata, misalnya “Jangan makan tampikan (ujung sayap ayam), nanti ditampik (ditolak) jodoh”. Makna sebenarnya dari kalimat tersebut mungkin lebih mendalam dari kepercayaan semata. Ungkapan atas hal-hal yang ‘ra ilok’ (tidak pantas) ataupun pamali memiliki nilai lebih dari sekedar membuat takut. Namun bukankah hingga masa kini pun, rasa takut adalah salah satu cara untuk mengendalikan ketertiban dalam masyarakat? Masyarakat Jawa memiliki sistem budaya yang mengakar dalam sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan hidup. Beberapa mitos ini dijaga sebagai bentuk kearifan lokal dan perwujudan kelekatan masyarakat Jawa dengan alamnya. Hal ini dikenal sebagai ilmu ‘titen’, yaitu kemampuan untuk memperhatikan kejadian-kejadian alam sebagai pertanda bagi kejadian lainnya. Umumnya, mitos semacam ini berhubungan dengan hewan atau tempat-tempat khusus di alam bebas. Putud sebagai bagian masa kini dari budaya Jawa, hanya menerima ungkapan-ungkapan tersebut sebagaimana adanya. Ia berada di dalam batas antara percaya dan tidak percaya. Dalam kegelisahannya memahami dan mempertanggungjawabkan akal sehatnya, ia mencoba melihat kembali mitos-mitos di sekitarnya dengan lebih rasional. Di waktu bersamaan, ia bertemu dengan seorang dukun dalam usaha mencari dompet yang hilang. Pada pertemuan tersebut, ia menemui banyak anak muda seumurannya yang datang mencari petunjuk dari dukun tersebut. Hal-hal yang ditemuinya pun cukup umum bagi anak muda; mulai dari hal-hal percintaan, kehilangan, hingga untuk menentukan judul pameran. Ia pun sekali lagi berada di posisi yang percaya sekaligus ragu. Namun alih-alih mempertanyakan, ia mulai mencoba menerjemahkan ulang fungsi dukun ke dalam praktek yang lebih kekinian. Ia mulai bertanya-tanya, apabila seorang dukun bisa menemukan barang hilang dan mengembalikannya kepada pemiliknya, bukankah ia berarti bisa melakukan jasa pengiriman barang kilat melalui teleportasi? Apabila ia bisa melihat ke dalam kehidupan seseorang, bukankah ia bisa menjadi seorang private investigator yang baik? Apabila ia bisa melihat masa depan, bukankah ia bisa menjadi trend forecaster yang mampu dipercaya oleh perusahaan-perusahaan gaya hidup terkemuka? Mungkinkah bahwa mitos-mitos dan hal-hal yang berbau supranatural ini sebenarnya lebih dekat dari yang kita bayangkan dengan kehidupan kita sehari-hari? 
-----
Ex.Lab. 2.4: Antonius Ipur | “In Vrede”
Antonius Ipur memiliki ketertarikan khusus pada burung dan masalah perebutan ruang di kota. Dua hal tersebut berhubungan dengan kecintaannya terhadap dunia burung dan pekerjaannya di lembaga swadaya masyarakat. Dalam mempersiapkan pameran tunggalnya, Ipur menemukan tiga keluarga yang tinggal di kompleks pemakaman tua, Kerkhoff. Kompleks ini awalnya merupakan tempat pemakaman bagi orang-orang Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu, kompleks ini beralih fungsi menjadi kompleks pemakaman umum. Perebutan ruang publik untuk menjadi wilayah privat bukan lah hal yang aneh. Namun keputusan keluarga-keluarga tunawisma ini dalam menjadikan kompleks makam sebagai wilayah tempat tinggal menimbulkan banyak pertanyaan bagi Ipur.  Baginya, ini adalah bentuk perebutan ruang antara yang hidup dan yang mati. Rasa takut dan kesakralan makam tergantikan oleh rasionalitas dan kebutuhan. Tidak jarang bahwa kemudian yang hidup justru lebih menakutkan dibanding yang sudah mati. Mereka yang bertempat tinggal di area ini sengaja menempati makam Belanda dikarenakan beberapa alasan; pertama, makam Belanda sebagian besar memiliki atap dan berukuran besar. Alasan selanjutnya adalah karena makam Belanda hampir tidak pernah lagi dikunjungi, berbeda dengan makam-makam lainnya yang masih sering dikunjungi sanak keluarganya. Seperti halnya rumah sebagai tepat tinggal, salah satu keluarga yang tinggal di sini membuat sekat-sekat sebagai pembatas antara ruang yang satu dengan ruang lain menurut fungsinya. Terdapat juga properti memasak, peralatan makan, peralatan tidur, tempat menjemur pakaian, radio, dan lain-lain.  Salah satu keluarga ini bahkan memiliki binatang peliharaan. Mereka tinggal dan bekerja di makam tersebut dengan membersihkan area makam dan mengumpulkan kamboja jatuh lalu menjualnya. Kedekatannya dengan dunia burung membuat Ipur melihat keluarga-keluarga ini seperti ia melihat burung Emprit yang memiliki kecenderungan berkoloni, terkadang dianggap hama, memakan padi-padian, liar dan jarang dipelihara, menggunakan satu sarang bersama-sama, dan mengumpulkan berbagai benda untuk membuat sarang. Seperti burung-burung, mereka pun ‘bersarang’ di area pemakaman ini dan sesekali ‘bermigrasi’ ke tempat jauh untuk pulang ke daerah asalnya.  Sementara itu, ia membayangkan aneka rupa burung-burung yang indah terkubur di dalam sana. Ia mereka ulang foto diri dan obituari para burung-burung dari berbagai belahan dunia. Ia mengambil rupa burung Perkutut dan Gelatik untuk menggambarkan burung Jawa, Poksay dan Robin untuk menggambarkan burung Cina, White Blond untuk menggambarkan burung Eropa, dan sebuah makam indah yang berkesan baginya adalah makam orang Israel yang digambarkannya sebagai burung Kedasih yang tidak memiliki sarang, kerap merebut sarang burung lain, dan merupakan burung kematian. Anggap saja pameran ini adalah sebuah usaha untuk menyusun fabel. Dalam pameran ini ia menggabungkan ketegangan di antara yang fiksi dengan fakta, antara yang hidup dan yang mati, dan antara yang publik dan yang privat. Seluruhnya terangkum dalam tempat peristirahatan yang damai, in vrede.

*****

[ENGLISH] 

Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) is a laboratory for making solo exhibition initiated by Lir Space. Four young artists are chosen to go through a three-months preparation process. In this program, the four young artists went through a series of mentoring, referential class with visual art experts, visiting senior artist’s studios, and having an intensive exhibition making process. The artists are encouraged to make a wholesome show about one particular message instead of showing a collection of single works. Ex.Lab is a dynamic creative laboratory that will always renew its working platform in every cycle.

Ex.Lab.1 introduces young artists who are born between the 90s with a working platform that is different from their usual practice. These four young artists are expected to conduct a small research before creating their work, playing with the notion of ‘message over form’, and using their chosen medium as a way to deliver their ideas.

Ex.Lab.2 chose two non-art students and two other art students. These four young artists have strong characteristic and particular personal interest that build up their personalities. They went through a creative process together to learn how to create art project using achieve, personal history, and memorabilia of one thing that is very close to them and triggers their passions.   


*****


Ex.Lab. 2.1: Dimaz Maulana | “The Genealogy of Hope: Team Suratin 1992”
Dimaz was graduated from the Department of History and he has a special interest in PSIM (local football team). He is the founder and achiever for a webzine that specialized in the history of Indonesian football and PSIM: Bawah Skor Mandala (BSM). Through BSM, Dimaz presents historical achieve to the public in simplest way possible. In this exhibition, Dimaz tries to trace the young PSIM team through the timeline of Suratin Cup. Suratin Cup is the national championship for young player (16-18 years old) since 1966. This championship is held as a tribute to Suratin, the founder of Indonesian national team, PSSI. In 1992, the young PSIM football player get to the final round for the first time and achieve the runner up position. In his research, Dimaz found stories of victory, stories of chances that turns up and missed opportunities, also how hope become that one thing to bond their devotion. Their position as a runner up in the 1992's Suratin Cup was almost like a light of hope to the dream and achievements of the young PSIM team. This so-called highest accomplishment happened 23 years ago and the memory of it is fading. The stories that Dimaz found get him to the personal history of those young team who are now in their middle-age. Stories of how injury mark the end of their career, and how some other players who is now retired make their come back by taking other parts outside the field. The presentation of achieve and memorabilia act as a visual nostalgia about a victory, hope, and lost. It is a deliberate attempt to remember and take a look back on how the future is often shaped from things that we are passionate about. It is about how dream and love about a good game is not always about winning or losing. This faint hope make people keep on doing things that they think is best for them is an abstract unexplainable matter to those who does not share mutual feeling. At the end, a good game is a good game. 

-----

Ex.Lab 2.2: Isnen Bahar Sasmoyo | “F20.3”
Instead of art, Isnen got his diploma in nursing. At the end of his study, he went through a field study at a mental hospital and was assigned specifically at the division for teenager with Schizophrenia. Isnen was responsible of eight patients with undifferentiated schizophrenia. Schizophrenia etymologically means 'to split mind’ or "splitting of mental function". One of its symptoms is the disorder that affect the ability to harmonize thought, feeling, and behavior. Some of those with schizophrenia experience delusion, hallucination, shows unusual behavior, and also shortage of emotion and motivation. In undifferentiated schizophrenia, psychotic symptoms are present but the criteria of specific category (paranoid/ catatonic/ hebephrenic) have not been met. In making his artwork, Isnen stands on many identities: himself as a nurse who analyze his patients, him as one of them, and him as a nurse analyzing himself.
His presence in the mental health wing act as an artistic study of gesture and its abundance of visual reference; the scribbles made by the patients on the wall, days that are measured by layers of lines, and messages that shows a trace of who they are. In this exhibition, Isnen tells about his experience in handling the 'mad men' who later grow closer to him, making him seeing them as more than just a patient. During his field study, he did a communicative therapy with the patients by sitting on the same sized chairs, face to face in safe distance, repeating question by question in the same structure, keeping eye contact in triangle pattern, and slowly putting the patient  back to their function in society by doing small activities together. This therapy make the patient treated as human as possible instead of treated as the 'other'. The presence of these mad men around the doctors and nurses can even sometime blur the position between the ill and the vigorous; the fit ones might catch the disease while the seeds of recovery might actually grow inside the unwell one. 

-----

Ex.Lab. 2.3: Putud Utama | “Contrary to Popular Belief,..”
Putud was born in a Javanese family that is closely bounded with belief and myth that was told through tales and sayings. Some of this myth giving him a fundamental fear during his childhood and raise questions at the present. He often got warned by his parents not to sit in front of the door so that it will not be difficult for him to get a soulmate; or not to sit on top of a pillow so he won't get ulcer. Other sayings are often lightly brought up in his daily life: "do not wear green outfit when you're going to the southern sea, you can get missing in the sea", for instance. Some of these sayings are actually logical while the others are having more intangible value of norm, ethics, social class, and other subtle elements. In the other side, some things are no longer relevant with the world and life nowadays. From these sayings, there are often causal and effect relationship formed by word play that eventually cause terror and fear. Sometime, the real meaning of such wordplay lays deeper in the more substantial understanding rather than blind faith. A saying about things that is inappropriate has deeper value than just building fear. But even today, isn't fear built as a way to control the order in society? The Javanese people have a certain cultural system rooted in a traditional community that consider harmony and balance highly important. Some myths are well kept as a local wisdom and a form of closeness between the Javanese and their nature. This is known as an ability (or sensitivity) to pay close attention to an event and interpret it as a way to predict other (possible) upcoming event. Usually, such myths are closely related to animal and certain spaces in the wild nature. Putud as a part of today’s Javanese culture usually just has blind faith and take those sayings as it is. But deep down inside, Putud was torn apart between believing and questioning. In this urge to understand and be reasonable to his conscience, he tries to take a look back to those myths and try to rationalize things. At the same time, he met a psychic while trying to find his friend's lost wallet. During that encounter, he met many youth his age coming to this psychic to find answers from love issue, losing things, to even decide a title for art exhibition. In this exhibition, instead of trying to answer those questions, he tries to reinterpreting the function of a psychic in the contemporary world. He start to wonder, when a psychic can find a lost thing and return it to the owner, can he also become a courier through teleport? If you can see inside someone's life, can't you be a good private investigator? If a psychic can predict the future, can't he be a trend forecaster that can be trusted and used by well known lifestyle brands? Could it possibly be that myths and all things spiritual be closer than our real worlds is..

-----

Ex.Lab. 2.4: Antonius Ipur | “In Vrede”
Antonius Ipur has personal interest in birds and space conflict. These two interests are closely related to the birding world and his job in an NGO. In preparing his solo exhibition, Ipur met three families who live in an old cemetery area, Kerkhoff. This complex was once a cemetery area for the Dutch during colonization era. As time goes by, this complex switching function into public cemetery complex. This thing about space appropriating of public space into private space is not exactly new issue. Yet, the decision of these homeless families in making cemetery complex as a living space raises many questions for Ipur. For him, this is a strange case of space conflict between the living being and the dead. Fear and sacredness of a graveyard has faded and turned into rationality and necessity. At this point, the living being can be more frightening than the dead. Those who are living in the cemetery area deliberately choose Dutch's grave for several reasons: first, the Dutch's grave usually wide enough and equipped with roof. Second, the Dutch's grave is almost never getting family visit, unlike other Indonesian graveyard in the area. Just like a normal housing area, one of these families create impermanence 'walls' between one space to another depends on its function. There is also cooking utensils, dishes, sleeping equipment, place to dry laundry, radio, and so on. One of them even has a pet. They live and work in the graveyard by cleaning up people's grave, collect fallen frangipani and sell it. Ipur's interest in the birding scene make him sees these families the way he sees birds. In them, Ipur sees a colony of sparrow, often considered as pest, eating rice, wild and untamable, usually nest in one place together and gather small things to create their nests. Just like sparrow, they also 'nesting' in the graveyard and once in awhile they 'migrate' to a place where they came from. At the same time, Ipur imagined many varieties of beautiful birds lays in the graves. Thus, he responded by making portraits of birds as an obituary of these people from around the world that rest in peace at Kerkhoff area. He represent the Javanese as turtledove and wren, poksay and robin as the Chinese, 'white blond' bird as European birds, and a beautiful grave that belongs to an Israeli is portrayed as plaintive cuckoo bird that often has no nest, seize other people's nest, and is considered as the mythological bird of death. Let's just consider this exhibition as an attempt to compose a fable. In this exhibition, he tries to combine the tense between the fact and fiction, between the living and the dead, and between what is public and what is private. All of those are summarized in a peaceful resting area, in vrede.


(Mira Asriningtyas)