8.8.15

[Publication] ArtJog8: Art for All



Beberapa bulan yang lalu, ketika mendengar bahwa ArtJog tahun ini mengangkat tema Infinity in Flux yang dikaitkan dengan gerakan artistik Fluxus pada tahun 60an, saya memiliki beberapa pertanyaan yang membuat saya semakin menanti-nanti hari pembukaan ArtJog:

Pertama, Fluxus adalah jaringan internasional yang terdiri dari seniman, komposer dan desainer yang menggabungkan beragam media dan disiplin artistik. Sebagai sebuah gerakan artistik, Fluxus berawal sebagai penolakan terhadap estetika komersial; sebuah gerakan ‘anti-art’ yang menolak seni yang elitis serta dominasi museum dalam menentukan nilai karya. Seni yang ditampilkan kerap  mencari jalan untuk membawa seni pada publik atau persoalan sosial. Fenomena Fluxus pun tetap menginspirasi karya seni kontemporer dan menjadikannya relevan hingga kini. Nah,bagaimana mungkin sebuah gerakan anti-art semacam ini, dipresentasikan dalam sebuah artfair?
Ke-dua, konon katanya karya-karya yang dipresentasikan akan didominasi dengan karya-karya yang interaktif. Dengan animo pengunjung sebesar ArtJog yang tahun lalu menerima ribuan pengunjung setiap harinya, bagaimana hal ini dipersiapkan? Apakah damage control-nya akan sebanding dengan, misalnya, edukasi dan pengalaman yang didapat oleh pengunjungnya?

-----

Rupanya, dalam ArtJog8 ini, Fluxus dimaknai sebagai jalan untuk membawa seni kepada publik. Karya-karya yang terpilih merupakan karya-karya yang menantang definisi konvensional antara karya, penonton, serta definisi tentang ‘seniman’ itu sendiri. Siapa saja dinilai bisa memproduksi seni, terlepas dari latar belakang pendidikan dan status sosialnya. Lebih dari sekedar merayakan Fluxus, tema “Infinity in Flux” diambil untuk menyadarkan pentingnya keberadaan karya seni yang “tak terbatas” di tengah dunia yang semakin tak berjarak; karya seni yang tidak lagi dibatasi oleh singularitas media. ArtJog8 mengundang seniman untuk menghasilkan dan menampilkan karya-karya interaktif yang melibatkan berbagai bahan, tema dan indra; demi interaksi yang tak terbatas hanya pada visual melainkan juga ekspresi multi-indra dan meniadakan batasan antara seniman dan penonton.
Para peserta ArtJog kali ini pun tidak hanya dari kalangan perupa namun berasal dari beragam profesi, mulai dari perancang busana, arsitek, musisi, dan lain sebagainya. Secara bentuk dan presentasi pun ArtJog8 terasa baru. Medium karya yang dipilih tidak terbatas pada karya seni murni namun lebih interdisipliner dan lintas batas. Hasilnya adalah sebuah artfair yang lain dari pada yang lain dan memberikan pengalaman menikmati pameran yang utuh. Memasuki ArtJog tidak lagi terasa seperti memasuki sebuah ruang pamer namun lebih seperti sebuah wahana yang mengasyikkan bagi para penontonnya. Tema “Infinity in Flux” pun diambil sebagai respon sang kurator atas fenomena para pengunjung ArtJog yang banyak didominasi oleh penikmat baru dari kalangan publik lebih luas serta anak muda. Mereka yang kerap melakukan ‘selfie’ di depan karya-karya tersebut kemudian tidak dilihat sebagai gangguan oleh sang kurator namun lebih sebagai orang-orang dengan keinginan untuk lebih dekat dengan karyanya.

Jika sebelumnya banyak yang menyentuh karya seni yang sejatinya tidak boleh disentuh, kali ini pengunjung justru dibebaskan dan bahkan disarankan untuk menyentuh karya seninya. Karya-karya interaktif yang ditampilkan meniadakan jarak antara karya dan penikmatnya sembari memberi pengalaman berbeda bagi setiap indra dalam menikmati sebuah karya seni. Karya sang arsitek ternama Budi Pradono, misalnya, mengajak pengunjung memasuki sebuah ‘gua’ yang membuat mereka dilingkupi warna putih dan aroma harum yang memanjakan. Begitu juga dengan karya dari Jatiwangi Art Factory yang mempersilakan pengunjung menjual 100gr tanah yang mereka bawa serta mencicipi cookies yang terbuat dari tepung tanah. Dalam karya ini mereka tidak hanya terlibat dalam ‘transaksi’ yang lain dari yang lain namun juga bisa benar-benar memakan ‘karya seni’ berupa hasil masakan dari tepung tanah yang benar-benar mengandung tanah di dalamnya.

Interaksi yang lebih subtil terdapat dalam karya Aditya Novali yang menggambar kurang lebih 3500 wajah dari dokumentasi dalam buku buatan kolektor ternama, dr Melanie Setiawan. Para seniman, kolektor, dan pekerja seni yang pernah berfoto dalam rentang waktu 30 tahun terakhir ini bersama kolektor tersebut, bisa menemukan gambar wajahnya di antara ribuan lukisan tangan sang seniman. Angki Purbandono mempersilakan pengunjung menyobek kalender yang ditampilkannya, menjadikan pengunjung sebagai bagian dari pemilik anonim dan ‘kolektor’ dari lembar demi lembar karya tersebut.  Karya-karya lain benar-benar bisa dimainkan; seperti misalnya video game interaktif buatan Lifepatch dan meja ping-pong Sinta Tantra. Hal ini menjadikan pengalaman menikmati pameran seni terasa berbeda. Apabila ditilik lebih dalam, sebagian karya-karya yang ditampilkan pun ada yang melakukan respon maupun apropriasi atas karya-karya konseptual dari gerakan Fluxus seperti “Color Flux Ping Pong (after George Maciunas 1976)” karya Sinta Tantra tersebut maupun perfomans Melati Suryodarmo, “Performing John Cage’s Song Books: Solo for Voice” – The Platform (2015).

Setelah memasuki minggu ke-dua ArtJog, jawaban atas pertanyaan ke-dua saya terjawab. Memang kemudian di minggu ke-dua terdapat karya yang sedikit rusak atau tidak lagi bisa difungsikan, dan sedikit disayangkan karena pengalaman tetap lebih dikedepankan daripada edukasi. Namun pengalaman pengunjung dalam menikmati seni dengan cara berbeda ini bisa jadi merupakan tahapan awal yang mungkin akan memancing ketertarikan mereka pada seni yang lebih luas. Adanya ticketing pun membuat mereka yang ingin datang ke ArtJog biasanya memang rela membayar untuk melihat dan mengalami pameran itu secara utuh; atau mereka yang datang dengan kesadaran tidak boleh rugi dalam artian di setiap karya mereka harus berhenti dan berfoto bersama karya tersebut. Apakah hal itu merupakan tingkat awal edukasi dengan memberikan kesadaran tentang keberadaan karya seni itu sendiri, atau mungkin berhenti pada tahapan wahana permainan saja? Pada kunjungan ke-dua dan ke-tiga, saya merasa cukup sulit untuk menikmati karya dan bahkan untuk membaca caption tanpa mengganggu mereka yang sedang berfoto . Untuk beberapa kasus bahkan untuk melihat karya pun susah karena tertutup para pelaku selfie. Ketika kesadaran tentang seni dibangun, bukankah seharusnya toleransi dan penghormatan terhadap sesama penikmat seni juga perlu dibangun?

Apabila berbicara tentang edukasi, ArtJog melalui Program Special Presentation berusaha menyuguhkan karya seniman internasional secara langsung yang biasanya hanya dapat dilihat melalui beragam media informasi. Program ini sekaligus menjadi sarana bagi publik untuk mengetahui perkembangan seni rupa internasional terkini sekaligus menumbuhkan partisipasi publik terhadap wacana seni rupa. Dalam ArtJog kali ini, karya interaktif Yoko Ono yang berjudul “Wish Tree” mengajak pengunjung untuk bersama-sama menuliskan harapannya sebagai usaha untuk mengumpulkan energi positif. Sebuah video sculpture yang juga merupakan satu-satunya karya video Yoko Ono, “Sky TV” (1966) ditampilkan dalam pameran ini. Dalam karya “Sky TV”, sebuah kamera diletakkan di luar ruang pamer dan menampilkan citraan  dari luar yang  terus menerus berubah sesuai dengan keadaan langit. Beberapa artefak dari karya lama Yoko seperti “A Box of Smile”, dan “A Key To Open a Faded Memory” yang merupakan koleksi Jorg Starke turut serta dihadirkan.

Sedangkan indieguerillas yang merupakan commisioned artist tahun ini, menampilkan sebuah seri “Taman Budaya” yang berbentuk seperti sepeda yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menjadi tempat untuk bermain permainan jadul, pop-up shop, pop-up barber, pendidikan tentang media tanam alternatif, galeri mini, dan pop-up restaurant. Seluruhnya bisa berfungsi secara komplit seperti sebuah ruang publik yang sekaligus reflektif dan kekinian.

Pada akhirnya, ArtJog bisa dilihat sebagai sebuah wahana kesenian yang peka jaman. ArtJog berhasil menjadikan seni begitu dekat dengan penikmatnya. Hal ini menjadi semacam pengingat bahwa terkadang seni hanya perlu menjadi indah dan menyenangkan sebelum kemudian difungsikan sebagai medium untuk menyampaikan pesan. Terkadang untuk audience baru, menikmati seni yang tidak serba rumit dan berjarak menjadikan seni itu sendiri lebih akrab dan tidak mengintimidasi.
   

(Mira Asriningtyas)