8.8.15

[Publication] The Dreamer, The Visionary: Lab Laba-Laba



It is in a dialogue with pain that many beautiful things acquire their value. Acquaintance with grief turns out to be one of the more unusual prerequisires of architechtural appreciation. We might, quite aside from other recquirements, need to be a little sad before buildings can properly touch  us. (Alain de Botton, The Architecture of Happiness)

*****

Dalam salah satu essai pengantar pameran Lab Laba-Laba, Veronika Kusumaryati menuliskan bahwa ingatan bukan lawan dari lupa melainkan lapisan-lapisan lupa itu sendiri. Ia adalah luka, sisa rasa dari waktu yang berlari tanpa bertanya. Dalam kasus Indonesia, tulisnya, ingatan sebagai luka tidak hanya relevan namun juga mendefinisikan bangsa itu sendiri. Saya adalah salah satu orang yang percaya atas kekuatan kisah-kisah yang dimiliki bangunan tua. Tiap lapisan yang ditambahkan, perbaikan, maupun usaha untuk mempercantik bentuk;  hanya menyimpan dan mengubur cerita tersebut, lapis demi lapis, semakin dalam di dindingnya. Bangunan tua adalah serupa kuburan atas kenangan-kenangan yang tersimpan di dalamnya. Maka, ketika terdengar desas-desus bahwa bangunan PFN akan dirobohkan, saya memahami usaha ambisius para pemimpi yang terkumpul dalam Lab Laba-Laba untuk bergegas melakukan usaha menghidupkan ingatan dan menyimpan kenangan-kenangan yang mungkin akan segera hilang.

Ada yang menyebut pameran ini sebagai sebuah “Ode untuk Seluloid”. Bagi saya, pameran ini adalah sebuah site specific project yang bercerita tentang banyak hal: pertama, lokasi PFN itu sendiri; kedua, format seluloid yang penuh nostalgia dan potensi artistik; dan ketiga, proyek ini sendiri sebagai sebuah proyek seni yang kaya akan muatan politik, ideologi, dan filosofi.  Sebagai sebuah site-specific project, pemilihan lokasi PFN yang sudah ditinggalkan dan diabaikan selama 12 tahun merupakan sebuah tantangan tersendiri. PFN (Pusat Produksi Film Negara) yang merupakan sebuah laboratorium film terbesar di Asia Tenggara pada masanya, menyimpan potensi sejarah dan kekayaan isi yang begitu kuat. Secara tidak langsung, PFN merupakan tempat yang lekat dengan sejarah Orde Baru dan propaganda yang dilakukannya.  Maka, pendekatan yang cenderung eksperimental dan sarat akan rasa penasaran seperti yang dilakukan oleh Lab Laba-Laba terasa tepat. Sedikit berbeda dengan para arkeolog yang menggali sejarah dari artefak-artefak yang ada, Lab Laba-Laba adalah sekumpulan pemimpi yang asyik menggali harta karun dan membayangkan bagaimana benda-benda temuannya bekerja di masa lalu.

Dimulai dengan rasa penasaran saat mereka menemukan ratusan gulungan film dalam gedung bekas laboratorium PFN, Lab Laba-Laba mulai menggali dan mencoba melihat satu per satu isi gulungan film tersebut. Tentu saja hal ini tidak mudah. Banyak film yang sudah rusak, lengket, dan membutuhkan perbaikan dengan metode yang lebih profesional. Selama satu tahun, Lab Laba-Laba mempelajari proses pembuatan film analog, menyelami sifat fisiknya, dan memberdayakannya menjadi bentuk medium visual baru. Lab Laba-Laba dibebaskan memfungsikan kembali alat-alat yang ada di PFN sambil merapikan, melakukan pendataan, memperbaiki arsip, sekaligus membersihkan laboratorium tersebut. Mereka juga berhasil membangun ulang mesin contact printer yang memungkinkan mereka mencetak positive film seluloid. Format seluloid sendiri pun sudah hampir punah. Melestarikannya berarti mempertahankan pengetahuan terhadap medium seluloid dan medium analog lainnya.  Seluloid memiliki unsur-unsur sentuhan manusia yang hangat; tidak hanya bisa dilihat namun juga bisa disentuh. Awalnya, medium ini memang merupakan hasil penemuan ilmu pengetahuan yang nyaris ajaib pada masanya. Ilmu pengetahuan tersebut segera berkembang menjadi sejarah sinema yang selaras dengan sejarah manusia modern. Kegunaannya tidak hanya untuk film komersil dan propaganda pemerintah; namun juga arsip negara dan arsip personal warganya. Keberadaannya merupakan wujud ilmu pengetahuan itu sendiri. Film dan arsip-arsip seluloid ini mungkin adalah salah satu arsip fisik yang tertinggal dari ideologi dan perkembangan negara. 

Pameran Lab Laba-Laba
Sepanjang bulan April 2015, setiap hari Sabtu dan Minggu, laboratorium PFN dibuka untuk umum demi pameran Lab Laba-Laba ini. Topik bahasan yang diangkat pun cukup luas, mulai dari permainan teknis dan penguasaan medium seluloid dengan baik, permasalahan akses dan distribusi arsip, gambar-gambar yang tidak sesuai dengan ideologi para penguasa, keberlangsungan ilmu pengetahuan dan pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya, hingga permainan di antara yang fiksi dan yang nyata.

Di dalam gedung PFN, pengunjung disuguhi mural karya MG Pringgotono yang menggambarkan proses kerja tim Lab Laba-Laba. Di area depan juga ditampilkan karya dokumenter The Sexbills yang merekam kegiatan Lab Laba-Laba dari Maret 2014 hingga Februari 2015. Dua karya tersebut menjadi semacam kata pengantar pendek yang menjelaskan proyek ini secara umum.

Sementara itu, karya Rizki Lazuardi yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat seperti ruang tamu tempat setiap orang bisa menonton film dengan nyaman, justru berhasil menjelaskan kuratorial proyek ini dengan baik. Dalam karyanya, “Peluru Panas Wanita Ibu Kota”, Rizki memanfaatkan potongan sensor lawas yang disusun sebagai sebuah cerita utuh yang baru. Masih dalam pembicaraan tentang sensor, Edwin dalam karyanya “Memotong Film”, mempertanyakan tentang batasan sensor.  Bagaimana pun juga, sensor adalah perkara ideologi para penguasa yang ada di atas sana. Sensor dengan tafsir-tafsir moralistik dinilai sulit untuk dipahami, maka, ia menciptakan alternatif pola pikir penyensoran baru dengan metode memecah warna.

Idealisme dan propaganda juga dilihat oleh Feransis dalam karyanya “Pseudo Pesta Demokrasi”. Dalam karya ini, ia menyoroti betapa besarnya antusiasme masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi dari kumpulan arsip slide foto kampanye tahun 1982. Dengan permainan teknis yang baik, ia memberikan semburat warna pada tiap slide-nya. Warna-warna yang dipilih pun lekat dengan asosiasi makna yang sangat politis. Permainan teknis dan penggunaan artefak seluloid juga dipilih oleh Ari Dina dan Anton Ismael dalam karya mereka.

Sementara itu, Anggun Priambodo memilih untuk melakukan performance dan mempertanyakan fungsi arsip, sejarah, dan akses. Ia berusaha untuk kembali menghidupkan arsip yang sempat terkesan mati suri dengan menjadikannya bisa kembali diakses. Ia memilih empat dokumen Arsip Negara yang masing-masing berisi lima sampai enam judul dengan durasi 8-12 menit. Ia berperan sebagai pemberi jasa menonton video gratis yang datang secara langsung ke masyarakat di lokasi-lokasi tertentu. Lokasi yang dipilih pun menjadikannya site-specific project yang lain lagi dan berkaitan erat dengan materi arsip yang dibawa.

Tumpal Tampubolon memilih untuk melakukan eksperimen pembuatan emulsi film dengan menggunakan Perak Nitrat, Kalium Iodida, Kalium Bromida, dan gelatin makanan. Ia mempertanyakan tentang monopoli pengetahuan dan hilangnya akses ke teknologi emulsi film karena bangkrutnya perusahaan pembuatnya. Karya ini juga bisa dilihat sebagaimana kita melihat teori seni yang berpusat dari barat, formula emulsi ini pun berasal dari Barat. Percobaan pembuatan emulsi film itu tentu saja telah disesuaikan dengan kondisi negara yang tropis serta bisa dilihat sebagai sebuah pencarian atas ketimuran yang lain. Tumpal menghidupkan kembali laboratorium ini sebagaimana fungsinya sebagai sebuah laboratorium dan mengajak penonton memasuki kamar gelap untuk melihat hasil percobaannya tersebut. Usaha ini merupakan caranya untuk belajar, bermain, dan merawat apa yang disebutnya sebagai wujud paling jasmani dari mimpi-mimpi kolektif umat manusia: pita film.

Masih dengan semangat bermain-main, The Youngrrr membuat sebuah karya instalasi yang menyandingkan antara dua meja kerja dari waktu yang berbeda di lokasi yang sama. Di lantai dua laboratorium PFN ini, terdapat sebuah kantor yang bentuknya serta tatanan mejanya masih seperti saat ketika ia baru saja ditinggalkan. The Youngrrr kemudian mengambil satu meja lengkap dengan isinya dan meletakannya berdampingan dengan mejanya, menyandingkan bagaimana orang dari dua masa yang berbeda bekerja, dan betapa mereka di masa kini yang berasal dari luar sistem PFN ini memiliki pola kerja yang nyaris primitif dibandingkan dengan para ahlinya pada masa lalu. Di atas meja tersebut, terdapat video yang mengilustrasikan bagaimana masing-masing jaman bekerja.

Di sisi lain, Ruddy Hatumena yang merupakan salah satu anggota Tromarama, menemukan beberapa sel animasi yang sedang dibakar karena terancam rayap. Dari penemuan ini, ia mengetahui bahwa Indonesia memiliki studio animasi sendiri yang membuat film Si Kancil. Gambar-gambar tersebut kemudian ia kumpulkan, dijajarkan, dan ditampilkan bersama dengan sebuah dokumenter pendek. Gambar-gambar yang seperti berlompatan meninggalkan jejak sebelum seluruhnya terbakar.

Sementara itu, seorang mahasiswa arkeologi, Luthfan Nur Rochman, menemukan kemiripan pola kerja seorang arkeolog dengan apa yang dilakukan oleh Lab Laba-Laba. Ia kemudian menggabungkan antara video perobohan gedung PFN lama, penemuan candi, dan video yang menyoroti kerja tim Lab Laba-Laba. Hasilnya, sebuah video baru yang membuat seakan proyek besar ini merupakan ekspedisi penggalian dalam studi arkeologi yang sebenarnya. Video ini disandingkan dengan instalasi kotak ekskavansi.

Pada akhirnya, pameran ini pun merupakan sebuah jejak-jejak ingatan dan sejarah—begitu filosofis dan penuh mimpi. Maka proyek ini bisa disebut sebagai proyek perintis untuk sebuah topik bahasan dan lokasi yang memiliki potensi besar. Sekelompok pemimpi yang visioner ini tidak serta merta berhasil menggali secara utuh potensi tersebut, namun usaha mereka untuk memulai patut menjadikannya salah satu pameran seni terpenting tahun ini.


(Mira Asriningtyas)