8.8.15

[Publication] "Oh, the Horror!"



Karya-karya seni yang menampilkan bentuk tengkorak banyak dijumpai di berbagai belahan dunia. Beberapa di antaranya membicarakan tentang kematian, sementara yang lainnya merupakaan wujud perayaan, ritual, maupun pengaruh subkultur lain. Beberapa karya seni maupun arsitektural bahkan ada yang dibuat dengan menggunakan tengkorak manusia asli! Namun bagi saya, menuliskan tentang karya seni yang memiliki unsur 'horor' tidak melulu mengenai wujud dan ikon tengkorak yang ditampilkan. Ada beberapa pameran, karya, maupun studio seniman yang meninggalkan kesan mendebarkan, membuat nyali ciut, dan bahkan memanggil mimpi buruk di akhir hari.

Pada tahun 2009, Agus Suwage menampilkan pameran tunggal sekaligus retrospektifnya yang berjudul "Still Crazy After All These Years" di Jogja National Museum, Yogyakarta. Bagi saya, pameran itu meninggalkan kesan ngeri yang begitu kuat sejak kunjungan pertama. Tidak hanya karena pilihan lokasi dan banyaknya ikon visual yang memanggil ingatan atas kematian, namun juga karena adanya kepedihan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul atas kemanusiaan. Di lantai pertama, kematian didekatkan dengan hal-hal yang populer seperti musik, rokok, dan gaya hidup yang menyertainya. Bagian ini terasa seperti pembuka yang ringan dan menyenangkan-- hingga saya menemukan sebuah karya berbentuk almari buku kuno yang didalamnya terdapat sosok foto diri Agus Suwage muda dalam keadaan berjongkok. Karya ini kerap dipamerkan di berbagai lokasi lain, namun kekuatan ruang Jogja National Museum membuat karya ini memiliki efek mengejutkan dan menghantui.

Menyusuri ruang demi ruang, berbagai sosok tengkorak tampak muncul secara berulang. Sebuah karya berjudul "Vox Morits, Vox Orbis" menampilkan sosok Frida Kahlo yang bertelanjang dada, tergantung pada kedua tangannya dengan tubuh dipenuhi anak panah. Saya teringat pandangan matanya yang tetap kuat berwibawa dalam keadaan yang terlihat begitu melecehkan dan menyakitkan. Di ruang lain, seri karya "Ars Longa" disajikan di ruangan remang-remang dan menampilkan sosok-sosok pemimpin dunia yang tewas dibunuh lengkap dengan tanggal kematian mereka. Potret wajah-wajah tersebut disajikan di atas lempengan logam yang dingin dan suara detak jam. Ruang ini terasa seperti sebuah kamar mayat dengan wajah-wajah dingin membeku. Ruangan ini juga sekilas menyerupai ruang memorial bagi tokoh-tokoh tersebut. Suara detak jam dinding yang nyaring di antara potret dingin tersebut semakin membuat kesunyian itu terasa mencekam. Agus Suwage tidak hanya mengabadikan kematian dalam detik-detik yang nyaring dan potret yang dingin; namun juga mempertanyakan tentang kedamaian dunia, kemanusiaan, dan kekuatan politik besar di luar kontrol masyarakat.

Saya tidak pernah menggemari film horor, namun dalam pameran ini, ada perasaan serupa ketagihan yang konon menjadi alasan beberapa orang menonton film horor. Melihat pameran ini mungkin tidak serta merta terasa seperti melihat film horor, namun lebih serupa dengan membaca bagian belakang buku-buku tentang dunia, sosial, politik, dan kehidupan. Perpaduan antara rasa penasaran, perayaan atas pencapaian visual Agus Suwage, dan mimpi buruk yang menghantui kunjungan pertama tersebut mendorong saya untuk mengunjungi pameran tersebut hingga tiga/empat kali. Hal ini entah disebabkan karena kecanduan atau karena rasa takut yang hanya bisa disembuhkan dengan memahaminya dan menjadikannya hal yang biasa.

Di lantai tiga, sebuah karya ikonik Agus Suwage yang berupa tengkorak emas di dalam ember terlihat cantik dan mewah. Karya ini bagi saya terasa seperti permen manis yang menetralkan pil pahit dua lantai sebelumnya. Meskipun masih berbicara mengenai kematian, setidaknya kematiannya (bagi saya) terlihat begitu indah.

Sosok tengkorak yang terlihat indah lainnya muncul pada karya Angki Purbandono dalam seri “Taman Hantu”. Karya ini dipamerkan di ArtJog 12 yang bertema "Looking East". Bagi Angki Purbandono, cerita hantu diambil sebagai daya tarik yang mudah dimengerti banyak orang. Baginya, kisah hantu merupakan kisah yang kerap diceritakan ulang dengan berbagai sebutan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam seri karya ini, pengunjung diajak memasuki sebuah ruangan gelap yang serupa rumah hantu di pasar malam lengkap dengan efek kejutnya. Di bagian kiri kanan pengunjung, gambar tengkorak-tengkorak yang bersolek cantik tampak hinggil dalam sentuhan artistik Angki Purbandono. Tengkorak-tengkorak ini muncul secara bergantian dan sedikit mengejutkan. Beberapa terlihat putih pucat dan disandingkan dengan bunga berwarna kuat, beberapa lainnya terlihat berhiaskan bebatuan warna-warni dan disisipkan di antara kapsul, pisang, maupun bulir beras. Seri karya ini dibuat dari neon box di dalam kotak aluminium composite. Dalam sentuhan Angki Purbandono, Taman Hantu penuh tengkorak ini tidak terasa mengerikan namun lebih merupakan perayaan visual yang menyenangkan untuk dilihat.

Beralih pada rasa takut yang lebih personal, Restu Ratnaningtyas menyajikan simulasi dari situasi ruang makan sederhana dengan peralatan makan yang berserakan dan sepasang kaki menjulur dari bawah meja makan. Karya “The Dining Room Tragedy” ini ditampilkan dalam pameran Hotwave #1 di Cemeti Art House pada tahun 2010. Sang seniman juga mengundang penontonnya untuk menyumbang cerita versi mereka dengan pertanyaan: apa skenario paling buruk yang mungkin terjadi?

Mungkin karena adanya kedekatan visual ruang makan khas rumah kelas menengah Indonesia tersebut; ada perasaan ketakutan personal yang muncul. Bahkan untuk membayangkan skenario terburuk di ruang makan rumah pun rasanya seperti pamali. Sulit membayangkan skenario terburuk atas hal-hal tragis di ruang yang begitu personal tanpa teringat orang-orang terdekat.

Dalam pameran ini, Restu juga menampilkan sebuah video sosok yang sedang tertidur pulas. Para pengunjung bisa 'mengintip'-nya melalui jendela-jendela di sekeliling ruangan yang dibentuk seperti kamar tidur. Kedua karya tersebut mengundang perasaan rapuh dan rasa tidak aman yang menyusup ke ruang-ruang privat. Sementara itu, terdapat dua karya lain yang menampilkan sosok manusia dengan kepala yang berbentuk tangan-tangan dan sesosok kembar siam yang seperti muncul dari tembok. Sosok-sosok tersebut meskipun terlihat dibuat dengan pilihan palet warna pastel dan cat air yang manis, namun memiliki kegelapan tertentu. Hal itu juga terlihat pada karya-karya Restu lainnya yang meskipun feminim dan lembut namun memiliki kesan sepi, teralienansi, ironis, dan terkadang tragis meskipun tetap personal.

Di sudut Barat kota Jogja, sebuah studio seniman kenamaan menawarkan perasaan mendebarkan seperti dalam dunia dongeng.  Heri Dono yang kerap diidentikkan dengan bentuk-bentuk wayang kontemporer dan kerap mengangkat isu sosial politik, bagi saya justru terasa seperti seorang pendongeng yang penuh fantasi. Ia kerap menampilkan wujud-wujud yang mungkin terasa asing namun sering muncul dalam kisah-kisah di buku cerita.

Memasuki studionya yang luas dan sepi, karya-karya intalasinya dipajang sedemikian rupa sehingga membuat studio itu terkesan ramai penghuni. Sebagian dari karya-karya tersebut sempat dipamerkan dalam pameran restrospektif "The World and I" di Art:1 Jakarta tengah tahun lalu. Namun saat disajikan di studio yang bangunannya sendiri sudah tua dan asing, karya-karya Heri Dono memiliki kengerian yang khas dan berkarakter.

Ada puluhan sosok bersayap serupa faerie yang digantung di atas langit-langit, sosok Gandhi yang seakan meluncur terbang dari dinding, sepasukan Donosaurus berwajah para pemimpin antagonis dunia yang siap menyerang, buku-buku berhias tengkorak kecil, anjing yang duduk di atas meja dan tampak setia pada tuannya yang tak terlihat, dan motor-motor hitam yang dinaiki pasukan bersayap yang tampak nakal dan liar. Semua ini terlihat seperti imaji perang dalam dunia fantasi. Berikutnya, tampak hewan-hewan tanah liat dengan bentuk tak beraturan yang nampak ganas, tengkorak-tengkorak yang dipajang bak trophy, kepala-kepala yang bergerak di atas belasan atau bahkan puluhan meja belajar, lampu-lampu yang berjajar, kendaraan yang dinaiki sosok serba putih bermata merah, hingga raksasa di sudut ruangan menambah jumlah sosok yang menghantui studio ini. Tentu saja sebagian besarnya dibuat sedemikian rupa sehingga bisa bergerak dan bersuara; menjadikannya serupa sebuah festival yang masih sunyi dan siap bergerak.

Gelap, sepi, dan masif; karya-karya tersebut awalnya terasa mengintimidasi dan menakutkan. Namun, bisa saja kita menganggapnya seperti sedang membaca buku cerita yang seru dan mengira-ira alur ceritanya sendiri. Dengan demikian, karyanya terasa ajaib dan penuh fantasi alih-alih menakutkan. Begitu pula dengan karya seni yang memiliki unsur horor. Bisa saja kengerian tersebut memiliki bentuk tengkorak yang indah seperti karya Angki Purbandono atau merupakan wujud-wujud asing seperti karya Heri Dono. Bisa juga kengerian ini berbentuk perwujudan hal-hal besar yang ada di luar kontrol masyarakat seperti karya Agus Suwage; atau hal-hal personal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti karya Restu Ratnaningtyas. Semuanya menyajikan kengerian dan keterkejutan serta hal-hal yang ada di luar kontrol atau pemahaman kita. Lagipula, bukankah kita kerap takut pada hal-hal yang tidak kita mengerti?