8.8.15

[Publication] Playing with the Idea of Democracy




Dalam pameran ini, sembilan seniman mencoba memaknai ulang kata demokrasi dalam konteks yang lebih luas.

-----

Demokrasi adalah sebuah konsep yang populer dalam sebuah sistem pemerintahan modern ketika kekuatan berada dalam suara dan pilihan rakyat. Baru-baru ini, kita pun dihadapkan pada persoalan demokrasi yang begitu hangat: pemilu 2014. Ketika dalam era Reformasi demokrasi dirasa belum terwujud, masa pemilu ini lah harapannya. Saat itu, demokrasi seperti dipertaruhkan. Dua kubu yang hampir sama kuatnya saling melawan, harapan baru melawan kejayaan masa lalu, pemimpin yang dekat dengan rakyat melawan pemimpin yang serba kuat; bahkan dengan dramatis, seakan kegelapan sedang melawan titik terang. Pemilu sebagai sebuah pesta demokrasi terasa riuh. Sebagian besar orang mendadak memiliki ketertarikan khusus atas politik, bentuk-bentuk kampanye berubah secara dinamis. Politik tidak lagi terkesan serius dan tua namun menjadi bentuk gaya hidup yang hip, bahkan fashionable. Saat itu, hampir tidak ada yang netral. Media-media menunjukkan keberpihakannya, media sosial dengan ramai menjadi alat kampanye, dan berbagai diskusi berpusat pada hal ini.

Menyikapi hingar-bingar pesta demokrasi tersebut, kurator Mia Maria mengajak para seniman untuk membuat survey atas demokrasi di negara-negara Asia dan mengamatinya dalam level-level yang lebih praktis. Sebagian besar dari para seniman dalam pameran ini memaknai demokasi sebagai kebebasan, dekonstruksi atas pemikiran, dan ide-ide untuk membongkar sistem yang selama ini berjalan.

Narpati Awangga “Oomleo” menyatakan bahwa, “Demokrasi itu sukses apabila kekuatan orang awam mampu menghancurkan standar yang berlaku”. Dalam pameran ini, ia menggunakan metode pixel art untuk menampilkan sebuah gambaran tentang kehidupan sehari-hari di sebuah kota. Di antaranya, ia menyisipkan sedikit hal yang ‘berbeda’ dan penonton diajak secara interaktif menemukan keanehan ini. Bahkan dalam konteks demokrasi, adanya perbedaan terkadang dinilai sebagai sesuatu yang berbahaya.

Pendekatan yang usil dan cenderung humoris juga dilakukan oleh seniman Agan Harahap. Agan ‘mendirikan’ sebuah toko online di instagram yang menjual memorabilia dari para selebriti kelas dunia. Keberadaan barang sehari-hari milik para selebritis yang mampu diakses oleh orang kebanyakan ini menjadi salah satu bentuk demokratisasi tersendiri. Tentu saja, foto-foto tersebut merupakan hasil rekayasa digital. Akun Toko Memorabilia pun menggunakan cara iklan yang agresif dan berulang dalam halaman-halaman instagram orang lain layaknya sebuah toko online sejati. Beberapa pengikut instagram ini mempercayainya dan mengirimkan email untuk memesan barang memorabilia tersebut. Betapa mudahnya kita mempercayai citra visual yang tampil di internet menjadikan kita sebagai rakyat dan konsumen yang rentan dan tidak memiliki kuasa atas adanya manipulasi, bahkan di dunia yang serba demokratis sekalipun.

Masih dalam usaha mempermainkan antara kepercayaan atas hal yang nyata dan hal yang fiksional, Wiyoga mengambil peran seorang warga Indonesia, Jackson Sze Leung, yang memberikan rangkaian bunga kepada presiden RRC dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Dalam karya ini, Wiyoga menampilkan kontras antara mimpi besar demokrasi saat itu dengan konteksnya di masa sekarang. Wiyoga mencoba untuk mempermainkan pikiran penonton dengan mempermainkan batas antara kisah fiksional dan tokoh nyata. Mahardika Yudha dalam karyanya, Senandung Ombak, menampilkan footage yang diambil oleh para TKI di Hong Kong saat pemilu 2014 dengan adanya sedikit manipulasi cerdas yang dilakukannya. Hasilnya adalah sebuah visual yang abstrak dan intens. Bentuk-bentuk yang abstrak juga diambil oleh Faisal Habibi yang melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi atas benda-benda yang ada di depan matanya. Sedangkan Pramuhendra menampilkan standar ganda kebahagiaan dan tekanan dalam lukisannya “Preparation for the Dreaming Land” yang menampilkan konsep fantastis dalam membangun impian yang berlawanan dengan tekanan yang dihadapinya.

Dalam pendekatan konteks demokrasi lebih luas, Reza Afrisina melihat bagaimana hubungan antara demokrasi dan kapitalisme menjadi sebuah sistem yang disetujui begitu saja. Reza dalam karya “Under Construction as Long as You’re Not Paying Attention” mencoba melihat hal ini secara kritis melalui label-label produk yang dicetak di atas kain satin dan di atasnya tertulis tanggal maupun teks tertentu dalam tinta berwarna merah yang umumnya berhubungan dengan peristiwa politik besar. Di atas label Comme des Garcons buatan Jepang, misalnya, ia menuliskan “April 1946” yang menandai pemilihan umum pertama setelah perang di Jepang. Di atas label pakaian produksi Salvador, ia menuliskan tanggal “1 Maret 1931” yang menandai tanggal ketika Arturo Araujo menjabat secara resmi sebagai pemimpin sekaligus orang pertama yang dipilih secara bebas dalam pemilu. Negara-negara lain seperti Pakistan, Burma, Australia, Dublin, Lithuania, dan lain-lain pun ikut ditampilkan bersama tanggal maupun teks yang memiliki muatan politis yang kuat.

Di sisi lain, pendekatan yang lebih personal dilakukan oleh seniman muda Yuki Agriardi yang menampilkan karya kontemplatif atas dinamika pikiran dan perasaan di tengah masa pesta demokrasi. Sedangkan Tisa Granicia mengumpulkan ratusan doa untuk Indonesia dalam bentuk mawar-mawar keramik putih yang dibuatnya satu per satu dengan penuh harapan atas kebaikan.

Pameran ini berlangsung sejak tanggal 27 Februari hingga 29 Maret 2015 di Mizuma Gallery, Singapore. Pada akhirnya, karya-karya ini membuat kita melihat pemaknaan yang berbeda-beda atas demokrasi. Sebagian meninggalkan pertanyaan atas betapa utopisnya konsep demokrasi sementara sebagian lainnya memperjelas keriuhannya: demokrasi yang trendy dan fashionable, namun mudah terlewatkan.

(Mira Asriningtyas)