8.8.15

[Publication] Raung Jagat: Rancangan Sistem Paduan Suara Eksperimental



*Akhir tahun lalu, Rully Shabara mempersembahkan sebuah rancangan sistem dan konsep paduan suara eksperimental dengan metode improvisasi: Raung Jagat.* 

Raung Jagat merupakan proyek perdana dari Kebun Binatang Kelas. Kebun Binatang Kelas adalah divisi dari Kebun Binatang Film yang berfokus pada kegiatan lokakarya. Pada kelas pertama ini, mereka membuat proyek paduan suara eksperimental bertajuk "Raung Jagat" yang merupakan rancangan Rully Shabara. Setelah membentuk berbagai proyek musik lain berbasis grup dan kolaborasi seperti Zoo dan Senyawa, kali ini Rully merancang sebuah konsep paduan suara eksperimental dengan metode improvisasi. 

Ide awalnya, Rully ingin membuat sebuah sistem atau metode alternatif untuk berimprovisasi khususnya dalam bidang vokal. Sistem seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia musik improvisasi, namun kebanyakan sistem itu tergolong rumit dan elit, hanya bisa digunakan oleh musisi berpengalaman atau mereka yang sudah terbiasa berimprovisasi. Raung Jagat adalah sistem yg sangat sederhana yang tidak menuntut harus bisa membaca partitur, harus bisa bernyanyi, dan tidak butuh alat bantu lain saat pentas. 

Paduan suara ini dipentaskan setelah sebelas orang penampilnya menjalani tiga hari lokakarya. Ke-sebelas peserta dipilih sendiri berdasarkan pertimbangan karakter suara mereka, keberagaman jenis suara, latar belakang, juga perawakan dan usia. Sebagian dari mereka adalah musisi; meskipun tidak berarti mereka penyanyi profesional, dan semuanya tidak berlatar belakang pendidikan musik. Kuncinya bukan pada kecanggihan suara melainkan pada keberagaman dan keunikan karakter. Wukir Suryadi, partner Rully dalam duo Senyawa, membantu untuk memberi bimbingan kepada peserta perihal pemanasan, pernafasan, dan olah tubuh sebelum tiap sesi lokakarya. Dalam lokakarya mereka dibimbing untuk mengenali potensi suara dan pada intinya diajarkan tentang sistem Raung Jagat. Itu sebabnya istilahnya adalah lokakarya, bukan pelatihan karena mereka bukan berlatih untuk pementasan melainkan hanya sekadar belajar memahami sistemnya.

Dalam lokakaryanya, selain berhasil mementaskan sistem ini secara perdana, Rully merasa berhasil menemukan banyak manfaat seperti mengetahui beberapa celah yang masih bisa diperbaiki, disempurnakan, bahkan dihapus. Rully mengajak peserta mengenali karakteristik suara masing-masing lalu belajar mengendalikannya. Peserta tidak wajib bisa bernyanyi tapi harus mengerti cara mengartikulasikan suaranya. Sistem ini akan terus dikembangkan oleh Rully sebelum kelak dibakukan dan bisa digunakan oleh siapa saja sebagai metode alternatif dalam berimprovisasi. 

Acara Raung Jagat yang dipentaskan pada tanggal 29 Desember lalu di Kedai Kebun Forum merupakan presentasi hasil lokakarya sekaligus uji coba hasil kelas pertama tersebut. Tidak ada komposisi tertulis dalam Raung Jagat. Semua komposisi terbentuk secara spontan saat pentas. Peserta hanya belajar sistemnya lalu membiasakan diri untuk merespons simbol. Maka, jika pesertanya berbeda hasilnya juga akan selalu berbeda. 

Paduan suara tersebut dipentaskan tanpa instrumen musik maupun amplifikasi apapun dan berlangsung selama satu jam. Para peserta berdiri melingkar dihadapan Rully yang bertindak sebagai dirijen yang memberi arahan kapan mereka berhenti, mengatur tinggi rendah suara, serta menjaga harmonisasi musikal dalam pentas ini. Ketika ia mulai memberikan tanda pentas dimulai, suara-suara bernada sopran, alto, tenor, dan bass hingga mereka yang mengeluarkan bebunyian beragam mulai mewarnai pentas ini. Ada yang membuat suara desis, hentakan, mengulang kata-kata "helikopter", "kertas", "plastik", lolongan anjing, dan ada yang memberi narasi kisah pendek sebelum mendadak berhenti lalu berteriak. 

Penonton yang berjumlah sekitar 90 orang pun terbawa suasana nan ekspresif dan eksperimental. Karena tempat yang terbatas dan untuk mengurangi gangguan suara dari luar, pintu pertunjukan ditutup pada pukul 8 malam. Semua yang menonton bisa benar-benar fokus pada pertunjukan yang memang menarik, tidak membosankan, sesekali humoris, dan mampu membuat satu jam berlalu begitu saja. Penyanyi yang tampil diminta menjadi diri sendiri dan suara-suara yang dimunculkan sungguh khas dan personal. Kemampuan Rully dalam mengendalikan warna suara masing-masing peserta ini menjadikan pertunjukan itu semakin cantik. Perpindahan dari satu komposisi ke komposisi lainnya dan kebebasan ekspresi yang spontan ini lah yang membuat penonton terbawa dalam arus suasana yang menghanyutkan. Pentas ini pun ditutup oleh Rully Sabhara yang menjelaskan bahwa paduan suara eksperimental ini merupakan bentuk ekspresi bebas terhadap sistem yang terjadi saat ini. Siapa saja bebas membaca simbol-simbol makna dalam teks ini dan memaknainya secara subyektif. 

Akan ada banyak kelas Raung Jagat selanjutnya. Setiap kelas akan menghasilkan presentasi sekaligus uji coba bila ada penambahan dalam sistemnya. Kelas pertama ini sangatlah penting karena mereka yang di masa mendatang akan menerapkan setiap ada perubahan sistem. Begitu sistem Raung Jagat ini sudah dianggap selesai; kemungkinan sistem ini akan dibakukan dan dibuat semacam buku panduannya agar bisa digunakan oleh siapa saja.  Siapa pun boleh menjadi dirijennya atau bahkan bisa menerapkannya tidak hanya pada vokal. 


Maka, sampai jumpa dan bersiaplah dengan kejutan-kejutan di kelas "Raung Jagat" berikutnya!