8.8.15

[Publication] Rumah Penciptaan dan Kenangan




"Revolusi adalah Mencipta", kutipan dari Tan Malaka tersebut tercetak pada teralis jendela di ruang depan rumah pasangan  Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Bawono yang lebih dikenal sebagai ‘indieguerillas’. Di rumah ini, berbagai kutipan baik dari penulis maupun musisi terkenal terlihat menghiasi sudut-sudutnya. Penggunaan kata-kata pun merupakan salah satu ciri khas mereka dalam berkarya.

Memasuki halaman rumah nan asri ini, kita dihadapkan dengan sebuah rumah tradisional berbentuk limasan yang dihiasi dengan warna-warni cerah dan dinding bata terkespos yang dicat putih ringan. Tanaman-tanaman yang tumbuh subur terawat membuat rumah ini terasa semakin nyaman. Miko memang mendambakan sebuah rumah tradisional yang ramah lingkungan, tidak menggunakan AC, memiliki cukup cahaya, dan aliran udara yang lancar. Bagian depan rumah yang kerap disebutnya sebagai rumah musim panas ini kini difungsikan sebagai kamar tidur tamu dan tempat untuk menerima tamu secara formal.

Di lain pihak, penunjukan Eko Prawoto sebagai arsitek rumah ini merupakan perwujudan cita-cita Santi yang memang mengagumi karya beliau. Saat mengunjungi Rumah Seni Cemeti, Santi merasa perpaduan antara bagian depan bergaya Jawa dan bagian belakang yang industrial merupakan perpaduan yang pas. Hasilnya, pengunjung rumah ini akan disambut oleh sebuah bangunan limasan tradisional dan perlahan-lahan digiring masuk ke dalam sebuah studio bergaya industrial serta ruang atas yang terasa sangat kekinian dan modern.

Terdapat sekat-sekat privasi yang terasa sublim di rumah ini. Ruang depan yang digunakan untuk menerima tamu formal, studio yang digunakan untuk berkumpul teman-teman seniman, serta ruang privat di lantai atas. Hal ini dimaksudkan untuk membuat mereka lebih bebas berkarya serta tetap mampu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Karir mereka sebagai seniman memang terbilang sukses dan menjadikan hari-hari mereka dipenuhi dengan proses mencipta. Selain membagi ruang, mereka juga memiliki peraturan untuk tidak pernah membawa kerjaan ke lantai atas untuk menjaga keharmonisan kehidupan.  

Meskipun demikian, batasan ruang-ruang di rumah ini begitu tipis dan kehangatan serta keakraban terasa lebih mendominasi. Siapapun yang datang akan segera menjadi teman dekat dan diterima dengan hangat di ruang yang cair. Hal ini sesuai dengan falsafah Jawa yang meniadakan pengkotak-kotakan fungsi ruang. Fungsi ruang di rumah ini pun mengalir dengan apa adanya. Rupanya rumah ini dan kehangatannya mampu memanggil teman lama dan teman baru yang terus memberi pelajaran yang luar biasa bagi mereka.

Rumah ini awalnya dibangun atas dasar dorongan dari orang tua mereka yang merasa bahwa sudah saatnya mereka memiliki rumah sendiri. Hal ini memacu mereka untuk melakukan usaha terbaik untuk membangun rumah. Pada akhirnya, mereka pun mulai menyadari pentingnya memiliki rumah sendiri. Ketidakpastian yang menyertai rumah kontrakan , apalagi dengan beban kerja yang tinggi, rupanya cukup mengganggu konsentrasi kerja dan mood. Perasaan aman menjadi sangat penting pada saat tenggat waktu mengejar mereka.

Pembangunan rumah ini memakan waktu sekitar dua tahun. Eko Prawoto sebagai arsitek pun cenderung mengikuti gaya hidup, kecenderungan, sifat, dan cara hidup pemilik rumah sebelum mengajukan desain. Kekhasan Eko Prawoto dalam menciptakan rumah yang bergaya tradisional nyaris tidak terasa di rumah ini. Eko dan indieguerillas berkolaborasi memadukan ruang yang modern dengan benda-benda antik, mebel yang dipilih berdasarkan cerita dan unsur personal, serta menambahkan ironi pada setiap sentuhan akhir dekorasinya. Bertahun-tahun sebelum rumah ini dibangun, mereka memang sudah mulai ‘menabung’ dalam bentuk jendela, kusen, tanaman, dan mebel yang merupakan peninggalan orang tua atau nenek. Ada sisi nostaljik dan personal dari setiap bendanya. Mereka percaya bahwa barang-barang yang sudah teruji jaman itu lebih terbukti keawetannya, desainnya, dan diperkuat dengan adanya cerita dibaliknya.

Salah satu benda yang memiliki kenangan kuat bagi Santi adalah mesin jahit sang nenek yang diletakkan di ruang tengah. Sejak Santi masih kecil, neneknya kerap memakai mesin jahit itu untuk membuat baju bayi dan baju-baju lainnya. Berbeda dengan kawan-kawannya yang memakai baju polisi, perawat, dan dokter saat pawai di TK; Santi kecil memilih kostumnya dari majalah wanita. Ia meminta neneknya membuatkan baju pramugari Garuda pada tahun 70an lengkap dengan syal batik berwarna orange dan topi. Kenangan tersebut begitu lekat dalam benaknya, sehingga saat neneknya meninggal, ia meminta mesin jahit tersebut untuk disimpan dan digunakan di rumah barunya.

Dapur juga dibentuk seperti kedai untuk mengingatkan saat-saat mereka masih berpacaran dan kerap menghabiskan waktu dari satu kedai ke kedai yang lain. Saat rumah ini hendak dibangun, mereka baru menyadari bahwa koleksi jendela lawasan mereka ternyata lebih dari cukup. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan jendela sebagai pengganti daun pintu. Di lantai yang lebih atas, jendela yang lebih pendek sengaja dipilih dengan pertimbangan filosofis yang seperti ilmu padi: semakin ke atas mereka harus semakin menunduk.

Salah satu hal yang menarik dari rumah ini adalah bagaimana di setiap ruangan memiliki suasana yang berbeda. Terkadang ketika memasuki sebuah ruangan, menghadap ke arah yang berbeda pun akan menghasilkan nuansa yang sangat berbeda. Ada sisi yang terasa seperti taman di pedesaan Jawa Tengah masa lalu, kolam ikan yang menghasilkan suasana seperti taman di sebuah resort di Bali, ruang makan yang terasa seperti Little India, dan bagian lain yang ditata bak China Town. Hal ini sesuai dengan apa yang mereka buat dalam karya seninya. Seperti seorang DJ, kebiasaan untuk mengambil dari sana sini dan melakukan perpaduan tersebut bekerja di bawah alam sadar mereka.

Awalnya, mereka sempat menginginkan rumah yang tidak terlalu nyaman supaya bisa bekerja dengan lebih fokus. Pada perkembangannya, rumah ini menawarkan kenyamanan dan inspirasi di setiap sudutnya. Bagi penghuninya, justru hal-hal kecil yang menyertai rumah ini lah yang menjadikannya terasa inspiratif. Perasaan aman yang membuat mereka lebih fokus dalam berkarya, percakapan ringan yang terjadi di dalamnya, serta kedekatan dengan alam yang membuat mereka lebih sensitif.
Rumah ini membuat mereka bangun bersamaan dengan terbitnya matahari. Hal itu membuat pagi mereka lebih lama dan biasanya diisi dengan kegiatan bersih-bersih dan memulai bekerja. Tanpa sadar, mereka juga ‘dipaksa’ bekerja dengan banyaknya tangga dan rumah terbuka yang menjadikan mereka harus terus bergerak dan bersih-bersih. Hal ini sesuai dengan falsafah yang dipegang Eko Prawoto bahwa seseorang tidak boleh manja dan harus terus bergerak saat berada di rumah. Mereka juga mulai mengalah dan mengikuti ritme alam dengan berbagai kompromi.

Kedekatan dengan alam ini juga membuat mereka mulai memperhatikan kehidupan lain di sekeliling mereka dengan penuh toleransi. Tak jarang mereka mengajak serangga bercakap-cakap, membiarkan sisa makanan jatuh untuk semut-semut, membiarkan laba-laba membangun rumahnya, dan menegur tokek yang sembarangan membuang kotorannya. Anehnya, hal ini justru membuat harmoni yang indah dari alam dan kehidupan di sekelilingnya sehingga hewan-hewan ini hidup dengan baik dan tidak saling mengganggu. Kedekatan dengan alam ini konon juga membuat ide mereka lebih lancar mengalir dalam berkarya. Rumah yang terbuka membuat mereka kerap memandang langit, lebih menghargai alam, belajar kesabaran dan toleransi, serta mendapatkan pengalaman yang mengubah pola pikir mereka. Selain itu, daya tahan tubuh serta sensitifitas mereka dalam melihat dunia pun meningkat. Kedekatan dengan alam ini mereka sebut sebagai hal terbaik dari hidup di sini.

Berbicara tentang ruang favorit, dulunya kamar di limasan depan merupakan ruang favorit Miko karena membuatnya merasa seperti sedang berlibur musim panas di rumah nenek. Sekarang, ruang cuci di lantai atas merupakan ruang favoritnya karena aliran udara dan cahaya yang lancar di sana. Selain itu ia bisa memandang kompleks perumahan dan gunung Merapi dari ruangan tersebut. Sedangkan desainer favorit yang mereka kagumi pola pikirnya adalah Marc Jacobs. Konon, Marc memilih untuk membeli dan mengumpilkan karya seni daripada membeli rumah. Mereka juga percaya bahwa ketidaksempurnaan justru menjadikan sesuatu bernilai manusiawi dan membuka kemungkinan baru yang lebih luas. 


(Mira Asriningtyas)