8.8.15

[Publication] The Act of Collecting, The Act of Caring



Tanpa adanya infrastruktur seni yang mapan, seni rupa di Indonesia berkembang dengan organik. Kemunculan seniman muda, ruang seni alternatif, dan para kolektor muda menjadikan scene seni kontemporer semakin dinamis dan harmonis.

-----

Belakangan ini, seni rupa perlahan-lahan menjauh dari kesan tua dan elitis. Seni mulai menjadi bagian dari gaya hidup terkini yang dekat dengan anak muda. Hal ini bisa dilihat dari animo pengunjung yang tinggi saat adanya event seni di berbagai kota; baik yang diadakan secara khusus untuk para generasi millennial seperti Arte dan kopikeliling, maupun event seni dengan skala yang lebih besar seperti Biennale dan art fair.

Ruang-ruang seni alternatif yang ramah dan mudah diakses pun mulai bermunculan. Di Jakarta, misalnya, ada ruang terbuka seperti dia.lo.gue., Catalyst, The Art Department, dan masih banyak lagi. Di ruang-ruang ini, umumnya karya seni dihadirkan dengan tidak intimidatif, harganya relatif terjangkau, dan karya seni orisinil bersanding dengan artist’s merchandise. Pameran-pameran yang ditampilkan pun terasa akrab serta mengusung nama-nama seniman yang juga cukup populer di kalangannya.

The Art Department yang berada di dalam The Goods Dept., misalnya, memadukan antara karya-karya seniman muda dengan seniman yang telah mapan. Karya-karya ini dipajang selayaknya karya di galeri seni, namun keberadaannya di tengah The Goods Dept. membuatnya mudah untuk diakses. Kisaran harga yang relatif terjangkau makin mengukuhkan misi ruang ini untuk membuat seni mampu dikonsumsi publik yang lebih luas. Dengan menjadikan proses mengoleksi karya seni mudah dari tingkatan yang paling awal, apresiasi dan dukungan terhadap karya seni secara khusus dan dunia seni secara luas mulai diajarkan.

Dari sisi yang lain, para seniman pun mulai menggunakan cara-cara terkini untuk mendekatkan karya mereka secara langsung ke audience-nya. Seniman dan kolektor muda yang berada dalam generasi yang sama memiliki kedekatan secara khusus melalui dunia maya atau pergaulan. Karya seni terbaru bisa langsung diikuti sebagaimana pameran terkini mereka. Seniman tidak lagi berada di awang-awang, dan penikmatnya bisa langsung berhubungan secara personal dengannya.

Kedekatan ini kemudian membentuk pola baru dalam dinamika seni di Indonesia. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih estetika tertentu yang sesuai dengan selera personal masing-masing dengan banyaknya ruang dan karya yang dengan mudah diakses oleh publik.  Tentu saja, sejalan dengan hal ini, generasi baru kolektor muda mulai muncul. 

Ketika para kolektor muda membeli karya seni berdasarkan rasa suka, kolektor muda yang lebih mapan melakukan tindakan mengoleksi dengan passion dan visi untuk mempromosikan karya seniman Indonesia ke dunia seni yang lebih luas. Tindakan mengoleksi ini tentu saja tidak hanya bermodalkan nominal yang cukup, namun juga pengetahuan seni yang terlatih.

Ada kesadaran bahwa ketika seseorang membeli karya seni, ia tidak ‘hanya’ membeli sebuah karya sebagai benda semata. Karya tersebut bisa jadi merupakan perwujudan impian seorang seniman dan tindakan mengoleksi karya tersebut merupakan bentuk nilai-nilai tidak berwujud seperti ideologi, waktu, passion, dan kehidupan sang seniman. Dengan tindakan mengoleksi, seorang kolektor secara tidak langsung memberikan tambahan waktu dan peluang bagi sang seniman untuk mengeksplorasi potensi dan visi-visinya.

Tindakan mengoleksi yang bertanggungjawab tersebut tidak hanya berhenti pada dukungan semata. Beberapa kolektor muda secara aktif mempromosikan seniman dan menjaga perputaran dunia seni di Indonesia dengan berbagai cara. Ada beberapa kolektor muda yang secara konkrit membuka pintu bagi para seniman di dunia seni Internasional dan mereka yang secara aktif membagi database serta informasi terkini tentang seni.

Dalam memberikan edukasi bagi masyarakat lebih luas, beberapa kolektor muda mulai membagi koleksi pribadinya untuk dipamerkan. Pada pameran “Y : Collect” di Ruci Gallery awal tahun lalu, misalnya; sepuluh kolektor muda di antaranya Andhia Absar Arryman, Junior Tirtadji, Kinez Riza, Marissa Soeryadjaya, Natasha Sidharta, Nicholas Tan, Resida Irmine, Aryadi Jaya, Tom Tandio, dan Winda Malika Siregar memamerkan koleksi mereka.  Sekitar 29 karya yang terdiri dari lukisan, instalasi, video, dan juga new media art ditampilkan dalam pameran ini.

Pameran serupa juga pernah digelar pada tengah tahun 2014, bertepatan dengan event Bazar Art. Pameran itu berjudul “No Painting Today” dan dipamerkan di dalam mall Pacific Place, Jakarta. Sekitar 21 karya yang merupakan koleksi Wiyu, Indra,  Arif Suhirman, Nicholas Tan dan Tom Tandio dipamerkan di sini. Selain menampilkan koleksi mereka, pameran ini mencoba untuk menunjukkan kecenderungan para kolektor muda masa kini yang memilih karya seni kontemporer dengan media yang lebih variatif. Dalam pameran ini, lukisan tidak lagi dinilai sebagai satu-satunya bentuk koleksi yang mapan; namun bentuk seni yang lain seperti new media art, performance art, dan video pun bisa menjadi pilihan segar bagi koleksi seni terkini. Garis batas antara seni yang hinggil, ilustrasi, kriya, dan desain kemudian semakin samar. Dalam konteks seni rupa kontemporer, karya-karya lintas media dan lintas disiplin mulai saling bersinggungan dan membuat dunia seni semakin dinamis.

Dengan adanya pola kedekatan antara seniman dengan kolektornya di berbagai tingkatan, usaha menjadi suportif kemudian terasa lebih nyata. Seniman pun memiliki lebih banyak pilihan serta peluang untuk memamerkan karyanya. Meluasnya jangkauan seni rupa pun menjadikan seniman lebih bebas dalam berkarya sesuai dengan minat dan ideologi masing-masing. Akses ke dalamnya pun tidak lagi terbatas, seni menjadi lebih demokratis dan dekat dengan masyarakat umum. Pada akhirnya, tidak hanya peran seniman, galeri, dan kurator; peran para kolektor pun menjadi salah satu peran penting dalam dunia seni rupa Indonesia yang serba organik.


(Mira Asriningtyas)