5.1.16

Kopi dan Seni yang Serius

(dipublikasikan di http://www.trulyjogja.com/kopi-dan-seni-yang-serius-2/)

******

Belakangan ini skena kopi di Jogja mulai menjadi semakin serius. “Seperti dunia seni rupa kontemporer saja”, begitu pikir saya asal-asalan sambil menyeruput kopi pagi saya hari ini.

Kebetulan kopi pagi tersebut cukup spesial dan penuh trik: ketika panas, rasanya seperti kopi yang ringan dengan aroma sedikit menyerupai tebu. Nah, keajaibannya ada saat kopi tersebut dicampur dengan es batu dan sedikit gula. Tiba-tiba kopi tersebut berubah rasa seperti es teh dengan sedikit rasa buah. Ajaib!

Saya sebenarnya lebih menyukai kopi yang pekat dan kuat di pagi hari dengan tiga tetes lemon segar atau sedikit coklat susu. Namun khusus untuk kopi pagi kali itu, saya menyukainya karena segelas kopi tersebut tak hanya telah melalui proses panjang untuk mempelajari kecenderungan rasa biji kopi dan nuansa yang dihasilkan setelah pengolahan; namun juga betapa seluruh kualitas dan karakteristik tersebut terukur dengan baik sehingga tercipta rasa akhir yang sesuai dengan harapan mereka. Bagaimana mereka menyiasati karakteristik biji kopi yang pengolahannya ini membuat saya merasa mereka mengenal setiap bagian dari kopi tersebut secara personal dan mendalam. Kompleksitas itu kemudian dipresentasikan dalam rasa yang sangat ringan, sederhana, dan akrab. “Mirip karya seni, ya?”, pikir saya sekali lagi.

Seperti dalam dunia seni rupa kontemporer, pengetahuan tentang kopi bertambah secara masif. Sebuah komunitas yang terasa sedikit elit muncul dengan diskusi yang serius atas sebuah topik yang merupakan minat bersama. Selayaknya dalam dunia seni rupa, penyajian kopi menjadi seperti pembuatan karya seni yang sebagian berdasarkan insting, kreatifitas, dan ketrampilan. Keduanya dibuat dengan penuh kehati-hatian dan diperhatikan segala aspeknya, serta ada nilai-nilai tertentu yang dipercaya. Hal setipis perbedaan aroma dan rasa yang sebenarnya sangat subtil ini bisa menjadi pembahasan yang panjang dan terkadang berlebihan.

Bagi saya, kopi pagi rasa es teh waktu itu adalah usaha negosiasi yang dibuat antara penyeduh kopi dengan publik yang dirasa kurang menyukai rasa kopi yang pahit. Publik mendapatkan kopi rasa es teh yang dinilai lebih akrab dengan selera mereka sementara penyeduhnya berhasil membuat pencapaian baru untuk mengenali dan mengakali karakteristik biji kopi tersebut tanpa mengurangi nilainya. Ada sebuah pengalaman yang coba dibentuk olehnya melalui ‘riset’ yang dibuat sebelumnya. Dalam seni rupa kontemporer, ‘riset’ pun telah menjadi salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Karya seni tidak lagi semata-mata merupakan ekspresi artistik namun merupakan medium untuk menyampaikan sebuah pesan—baik pesan yang bernada sosial, historis, politis, maupun personal. Karenanya, pengetahuan tentang hal-hal di sekelilingnya, yang tidak melulu mengenai seni, menjadi penting untuk dipelajari sebagaimana dalam skena kopi generasi ke-tiga ini.

Third-wave coffee menandai sebuah gerakan baru dalam skena kopi internasional. Dalam skena tersebut, kopi bukan ‘hanya’ sekedar komoditas namun merupakan hasil dari kecakapan tangan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Penilaiannya menyerupai bagaimana orang menilai wine. Para connoisseur kopi kemudian menilai kharakteristik rasa yang perbedaannya samar-samar, membayangkan kisah dibalik kopi yang ada di hadapannya, dan mengapresiasi setiap nuansa serta kompleksitas rasanya seperti seorang penikmat seni yang terbuai di hadapan sebuah mahakarya. Tentu saja, beberapa tempat mulai menyebut diri mereka sebagai ‘artisan coffee’ alih-alih coffeshop dan hanya menjual kopi segar dalam jumlah terbatas (untuk menjaga mutunya), memiliki kebun sendiri (atau minimal memiliki hubungan yang dekat untuk memastikan kesejahteraan petaninya), dan memiliki kesadaran visual tinggi untuk mendampingi kopi yang disajikan (meskipun bukan melulu berarti memiliki keahlian latte-art yang mengagumkan). Serius dan kompleks sekali, bukan?

Kembali ke kopi rasa teh pagi itu, yang sedikit membuat saya kikuk saat itu adalah bagaimana sang penyeduh kopi yang bangga atas hasil karyanya tersebut, menggeret kursi dan duduk begitu saja di samping saya dengan mata berbinar-binar dan menanti respon saya atas kopi seduhannya. Ia sempat terlihat kikuk ketika saya hampir membuang gula di dasar gelas sebelum menuangkan kopi panas ke tumpukan es batu yang ajaib tersebut. Saat itu, ia seperti seorang seniman yang sedang bersemangat menjelaskan karya interaktifnya sambil menjelaskan sejarah, metode, dan proses pencariannya. Sebagai bagian dari edukasi saya yang bukan seorang connoisseur dan lebih merupakan seorang peminum kopi biasa yang mudah penasaran; saya menikmati proses ini. Namun seperti sebuah karya seni, bukankah penilaian atas kopi yang baik menjadi milik publik setelah karya tersebut dilepaskan untuk dinikmati? Tidak enak juga kan kalau misalnya mau bilang, “Enak sih..tapi untuk saya, kopinya terlalu ringan”. Untuk mengatakan hal tersebut di depan seorang penyeduh yang membuat kopi dengan penuh pertimbangan dan menyajikannya dengan mata berbinar-binar itu rasanya seperti berkata ke seniman, “Karyamu cantik tapi kurang berisi”, misalnya. Maka, saya pun memesan segelas kopi lagi yang lebih kuat.

Layaknya karya seni kontemporer, third-wave coffee adalah karya yang hinggil dan kekinian. Kopi ini tidak melulu manis namun memiliki kisah yang panjang dan pesan yang penting seperti etika perdagangan atau kondisi sosial para petani. Perlu ada para connoiseurs dalam seni maupun kopi generasi ke-tiga ini. Para connoiseurs ini ibarat kritikus atau sejarawan seni yang menilai karya berdasarkan pengalaman mereka atas gaya, teknik, intuisi, dan pengetahuan atas karya tersebut. Dalam seni kontemporer maupun kopi generasi ketiga ini (yang keduanya berakar di Barat), dibutuhkan pengetahuan dasar untuk menilai dan tidak semata-mata mengandalkan rasa begitu saja. Ketika kopi dinikmati dengan cara yang lebih murni, karya seni pun menjadi lebih akademis dan lintas disiplin. Kopi dan seni sama-sama memiliki komunitasnya sendiri yang meskipun terkesan terbuka, namun ada pengetahuan khusus yang hanya dialami mereka yang berada di dalamnya. Keduanya sama-sama bisa menjadi pendorong orang berkumpul dan berbincang-bincang, sama-sama bisa mendatangkan revolusi dan mengubah dunia, sama-sama masih akan bertahan keberadaannya meskipun situasi politik dan sosial berguncang hebat di luar sana. Dan seperti seni yang merupakan hal kecil dari kehidupan, bukankah kopi serta bagaimana kita menikmatinya adalah hal yg sangat personal

Apapun itu, mungkin meminum dua gelas kopi sebelum jam 9 pagi membuat saya kebanyakan kafein sehingga pikiran melantur ke mana-mana. Lagi-lagi, anggap saja kita sedang ngopi bersama, ngobrol ngalor-ngidul ala orang Jogja sejati, dan kemudian percakapan segera beralih ke rencana piknik berikutnya— supaya saat ngopi besok lagi tidak terbayang-bayang seni rupa kontemporer yang serius.

(Mira Asriningtyas)