5.1.16

Melihat Jogja dari Jakarta

(dipublikasikan di http://www.trulyjogja.com/melihat-jogja-dari-jakarta/)

*****

Awal bulan Desember lalu, saya membuat sebuah proyek seni yang berlokasi di Jakarta. Saya menamainya “Poetry of Space”. Dalam proyek ini, saya mengajak seniman-seniman yang terlibat di dalamnya untuk mencari sisi puitis dari sebuah ruang. Ruang yang dipilih adalah sepanjang Jl.Jend.Sudirman di Jakarta. Berada di sebuah kota seperti Jakarta, kecepatan jalannya waktu menciptakan sebuah lanskap yang membuat orang mudah lupa: a landscape of forgetting.

Dalam proyek ini, para seniman lintas disiplin diundang untuk berjalan kaki sepanjang Jl.Jend.Sudirman untuk merasakan, mengamati, membaca, dan memaknai ruang di kota. Narasi ini kemudian akan ditampilkan dalam sebuah seri intervensi ruang publik. Tidak hanya para seniman yang diundang untuk membaca kota ini sebagai para tukang keluyur (flâneur); namun para penonton pun diharapkan untuk berjalan kaki di sepanjang Jl.Jend.Sudirman untuk menikmati karyanya.

Lima intervensi ruang publik dilakukan oleh Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Pasangan Baru (Nastasha Abigail), Yonaz Kristy, dan Yudha Sandy. Para penikmat diundang untuk mengalami kota dengan berjalan kaki, mencari kejutan-kejutan kecil yang mungkin ditinggalkan, dan mengalami apa yang dituliskan ulang tentang kota ini oleh para senimannya. Melalui potongan-potongan kisah ini lah para seniman maupun pemirsa ‘menuliskan’ sebuah antologi tentang ruang. Jejak-jejaknya bisa dilihat di http://poetryofspace.tumblr.com/

Nah, dalam membuat project ini saya justru mengingat banyak hal tentang Jogja. Konon memang katanya ketika seseorang jauh dari rumah, ia justru akan merasakan ikatan yang lebih kuat atas rumah tersebut. Di Jakarta, saya terus menerus membayangkan Jogja. Bukan karena saya kangen rumah, namun justru lebih pada mempertanyakan beberapa hal.

Salah satu pertanyaan saya saat itu adalah, “Kalau saya membuat proyek serupa di Jogja, di mana kah orang bisa berjalan kaki untuk menghayati kota ini?”. Mungkin akan ada yang menjawab “Kotagede” atau “Malioboro” karena trotoarnya memungkinkan kita untuk berjalan dari ujung ke ujung. Atau seperti lokasi favorit saya dulu saat banyak berjalan kaki bersama pacar dan ngobrol ngalor-ngidul di area Kotabaru-Sagan atau Baciro-Timoho. Namun selebihnya, saya tidak tahu pasti bagaimana menjawab pertanyaan saya sendiri. Saat ini pun saya masih cukup sering berjalan kaki tanpa arah, menjadi seorang tukang keluyur sambil ngobrol ngalor ngidul tentang kehidupan– namun biasanya ini saya lakukan di Kaliurang yang meskipun jalannya tidak memiliki trotoar yang cukup banyak namun jalannya sepi dan memungkinkan untuk berjalan kaki.

Sedangkan Jl.Jend.Sudirman di Jakarta saya pilih dalam proyek tersebut dengan beberapa alasan seperti adanya secuil trotoar, jalan yang lurus dan kecepatan jalannya waktu pengguna jalannya yang bagi saya cukup mewakili konsep ‘landscape of forgetting’, dan karena sejarahnya sebagai salah satu jalan utama yg diciptakan presiden Sukarno sebagai aksis kota tersebut. Tapi apabila akan berjalan kaki dengan nyaman untuk menghayati dan ‘membaca’ kota Jogja, itu di mana?

Bagi saya yang pernah ‘ngambek’ dan keluar dari Jakarta yang menurut saya kacau balau dan kembali ke Jogja, tentu mudah untuk mencari sisi puitis dari kota ini. Jogja, tentu saja, memiliki banyak surga-surga tersembunyi yang bertebaran di seluruh penjurunya. Ibarat puisi, mungkin Jakarta itu lugas dan urban seperti puisinya Afrizal Malna sementara Jogja itu indah dan manis seperti puisi-puisi Gunawan Maryanto. Tapi sepertinya saat itu saya pulang di saat yang kurang pas: musim liburan!

Bagi saya, berada di kota Jogja di musim liburan itu sedikit menguji kesabaran. Entah bagaimana Jogja mulai macet di beberapa titik yang kurang bisa ditebak. Kadang saat sedang macet-macetnya, dari rumah saya di lereng Merapi hingga ke tempat kerja saya di tengah kota bisa menghabiskan 1.5 sampai 2 jam sendiri. Beberapa kali saya memutuskan batal ke beberapa acara karena melihat kondisi lalu lintas. Frekuensi berlibur ke pantai semakin menurun dan digantikan oleh keinginan untuk berlibur di rumah untuk membaca buku dengan tenang.

Dalam sebuah terbitan berkala untuk Jakarta Biennale, Ardi Yunanto menyebut Jakarta sebagai sebuah kota yang teranjur. Dengan ngeri sebuah pikiran terbersit di benak saya, “Bagaimana jika Jogja menjadi sebuah kota yang terlanjur juga? Bagaimana jika dalam perkembangannya, ia justru sedang merusak dirinya sendiri?”.

Pertanyaan itu mungkin ada bukan untuk dijawab namun untuk direnungkan. Namun bukankah seni ada tidak untuk memberikan jawaban namun lebih untuk mengajukan pertanyaan? Pada masa proyek Poetry of Space saya jalankan di Jakarta, justru timbul pertanyaan bagi diri saya sendiri tentang memaknai kota Jogja.

Untungnya, saat ini masih relatif mudah untuk mencari sisi puitis dari kota Jogja. Apalagi saat menulis ini, saya sedang menyepi di lereng Merapi dan tidak keluar rumah seharian sehingga terbebas dari macet yang tidak mudah diprediksi dan keriuhan tengah kota di musim turis ini. Doa saya, semoga Jogja tidak jadi berkembang menjadi kota yg terlanjur– setidaknya dari sisi pergerakan waktu dan manusianya. Semoga tetap ramah dari berbagai sisi, aman, dan penyabar.

(Mira Asriningtyas)