5.1.16

Obituari: Namanya Ngadiran


Namanya Ngadiran. Ngadiran saja, tanpa embel-embel 'mbah' atau 'pak' meskipun dia selalu terlihat tua setiap kali bertemu. Bahkan sejak paman dan mama saya masih kanak-kanak, konon Ngadiran sudah 'tua'.

Orang bilang dia gila. Namun anak-anak merasa dia cukup menyenangkan. Ketika saya masih kecil, saya selalu merasa Ngadiran adalah seorang tokoh ajaib dari negeri jauh. Rupanya terlihat seperti perpaduan goblin dengan janggut kurcaci berwarna hitam. Terkadang saya merasa Ngadiran sangat mirip dengan raksasa hijau yang duduk di taman rekreasi kanak-kanak dalam versi diperkecil, diperhitam, dan diperkotor.

Rambutnya hitam tebal sedikit panjang dengan uban di sana sini. Dia selalu terlihat kotor penuh coreng moreng namun tanpa bau yang mengganggu. Yang paling khas darinya adalah caranya berjalan. Setiap hari dia akan berjalan memutari Kaliurang dengan langkahnya yang khas itu. Ngadiran biasa berjalan cukup cepat dengan langkah yang sedikit terpincang-pincang karena panjang kakinya tidak sama, tangan di belakang, dan sedikit bungkuk. Bagi kami para anak-anak, hal itu membuatnya makin ajaib.

Ngadiran akan menyapa orang-orang yang ditemuinya dengan dua sapaan: "Bithu-bithu" atau "Alus-alus". Kata "Bithu-bithu" yang artinya memar-memar akan digunakannya untuk menyapa orang yang menurutnya kurang tampan/ kurang cantik. Sedangkan sapaan "Alus-alus" yang artinya halus-halus akan digunakannya bagi mereka yang dianggapnya cantik/ tampan. Pada umumnya, dia akan menyapa setiap wanita yang ditemuinya dengan sapaan "Alus-alus". Bagi kami para anak-anak, sapaan-sapaan itu tidak menjadi ukuran, namun lebih sebagai salah satu bahasa ajaibnya yang berasal dari negeri jauh. Walaupun demikian, beberapa anak wanita tetap bisa merona bila disapa sebagai "alus-alus".

Tentu saja ada anak-anak nakal yang kerap mengganggunya atau berlari ketakutan ketika melihatnya, namun dia selalu tertawa lebar dan memanggil mereka sebagai "bithu-bithu". Pada saat-saat tertentu, ketika dia lelah berjalan, dia akan berhenti dan pada hari-hari terbaiknya, bisa diajak bercakap-cakap dengan logikanya yang terkadang normal terkadang absurb. Pada saat-saat lain, orang hanya suka melihatnya dan tersenyum-senyum simpul ketika Ngadiran lewat. Kehadirannya yang aneh dan berbeda membuatnya semacam hiburan ringan seperti ketika orang melihat sirkus menampilkan orang-orang yang 'berbeda'. Terlihat sedikit tidak sopan, mungkin.. namun Ngadiran tidak sedikitpun peduli. Dia hidup dalam dimensi yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, dan hanya keluar dari dunia kecilnya saat dia mau.

Saya terakhir kali benar-benar bertemu dengannya di tahun 1994, sekitar 14 tahun yang lalu. Saat itu orang-orang dewasa di sekitar saya mempertanyakan keselamatannya. Saat itu, merapi erupsi dengan cukup hebat dan daerah rumah Ngadiran tersapu habis. Untung pada saat Merapi mulai tenang, Ngadiran ditemukan selamat dan tertawa-tawa bahagia di Taman Rekreasi Anak-Anak. Berikutnya, saya tidak pernah bertemu dengannya. Namun ada saat-saat ketika adik saya yang kemudian beberapa tahun kemudian masuk SD, masih sering bertemu Ngadiran. Mungkin, Ngadiran hanya mengakrabkan diri pada anak-anak, sebagai bagian dari ingatan masa kecilnya.

Kemudian pagi ini seorang tetangga datang mengabarkan kematian Ngadiran. Ternyata dia menolak dievakuasi saat Kaliurang dikosongkan minggu lalu. Dia berteriak-teriak histeris ketika dipaksa masuk ke dalam truk evakuasi. Tidak ada seorang pun mampu memaksanya.

Rumah-rumah di sekitar tempat tinggal Ngadiran mulai terbakar karena cipratan lahar panas, begitu juga hutan-hutan kecil di sekitarnya. Namun bukan karena itu Ngadiran meninggal. Ngadiran meninggal karena dia sudah tua, fisiknya sudah lemah, dan dia kelaparan.

Sontak sekeluarga berduka karena kabar ini. Ngadiran adalah semacam kewajiban bersama bagi para orang-orang dewasa; sekaligus sebagai memorabilia dalam ingatan masa kecil orang-orang dewasa itu. Dengan seluruh keanehannya, orang-orang Kaliurang memiliki kedekatan dan ikatan halus yang unik dengannya. Bagi sebagian orang dia gila, bagi yang lainnya dia aneh, namun bagi jiwa anak-anak di dalam diri kami, dia tetaplah makhluk ajaib dari negeri jauh yang kini mungkin sedang dalam perjalanannya pulang ke rumah asalnya.

(Mira Asriningtyas - November 2010)