5.1.16

Pohon Jadi-Jadian dan Usaha Menghadirkan Kealamian


Terdapat kontradiksi dalam judul pameran ini: Green Plastic Trees. Apabila judul tersebut mewujud sebagai sebuah benda, maka ia adalah pohon plastik. Warna dan bentuknya menyerupai pohon, namun sifatnya yang tidak lekang oleh waktu, tidak tumbuh, tidak hidup, dibuat oleh manusia, dan berbahan dasar plastik membuatnya menjadi pohon-pohonan: pohon jadi-jadian. Meskipun pohon ini memiliki dua elemen penting dalam usahanya menjadi sebuah pohon, namun tetap saja ia sintetis dan palsu.

Dari sudut pandang yang lain, pohon malang yang dicap palsu tersebut bisa jadi merupakan sebuah karya yang terinspirasi oleh alam dan representasi dari dunia nyata. Ia diletakkan di sudut meja kerja atau di dalam sebuah pusat perbelanjaan untuk menghadirkan kealamian di ruang tersebut. Bisa saja pohon tersebut merupakan perwujudan bentuk fisik dari keindahan, kejujuran, dan hal-hal baik lainnya.  Sebuah usaha untuk menciptakan suasana yang ideal.

Mungkin saja, merujuk pada kepercayaan Aristoteles atas ide dasar mimesis, pohon tersebut merupakan usaha pembuatnya untuk menyempurnakan apa yang dilihatnya di alam dengan menghilangkan siklus dan kesementaraannya. Bukankah penciptaan representasi atas alam tersebut merupakan hal yang akrab dikenal dalam dunia seni? Sedangkan kebutuhan untuk selalu menghadirkan kealamian tersebut muncul di berbagai sisi kehidupan yang lain; mulai dari backdrop studio foto bergambar pemandangan gunung dan sawah, sebuah padang yang membentang di dalam layar komputer, tagar yang memanggil foto-foto alam yang seragam di instagram, pembuatan taman di halaman belakang, hingga gerakan organik dan tindakan aktivisme yang memperjuangkan kelestarian alam.

Dibalik kebutuhan untuk menghadirkan kealamian di tengah kehidupan tersebut, bagaimanakah sesungguhnya hubungan manusia dengan alamnya? Apakah posisi alam terdapat di perbincangan tentang keindahan semata dan berhenti sebagai hiasan di dalam ruangan yang terpisah dari alam yang sebenarnya?

Perbincangan tentang hal-hal yang alami dan yang artifisial, meskipun tidak selalu menjadi oposisi biner yang kaku, semakin hangat belakangan ini. Dalam usaha manusia mengendalikan atau hidup berdampingan dengan alam, akan terdapat titik di mana campur tangan manusia berhenti dan alam mengambil alih kendali. Demikian juga sebaliknya; infrastruktur kota dibangun dengan penuh pertimbangan atas ekosistem di sekitarnya, taman pribadi tidak hanya diciptakan atas dasar keindahan namun juga atas proyeksi ideal sebuah cara hidup yang harmonis, dan keintiman hubungan manusia dengan alam tidak melulu menjadikannya tidak lagi alami.

Hubungan antara alam dan manusia tidak hanya menjadi sebuah tema pameran namun juga sebagai pertanyaan kritis bagi Grafis Minggiran sendiri sebagai sebuah studio grafis yang banyak menggunakan bahan kimia, kertas, air, serta menghasilkan limbah. Hingga saat ini, kepedulian mereka atas lingkungan membuat mereka melakukan strategi pembuangan limbah dengan upaya menetralisir limbah kimia tersebut. Mungkin saja bahan-bahan organik yang ramah lingkungan akan segera digunakan di dunia grafis dan ide besar tentang sebuah pohon hijau tersebut tidak lagi berbahan dasar plastik. Saat itu, mungkin alam tidak hanya menjadi sebuah objek dan sumber inspirasi namun juga menjadi sebuah pertanggungjawaban ekologis.
Pameran ini tidak berupaya untuk menjawab kegamangan atas hubungan manusia dengan alam maupun melakukan dikotomi atas yang sintetis dan organik. Pameran ini merupakan kumpulan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Seperti halnya dalam seni, bukankah setiap orang memiliki kebebasan atas pemaknaan yang berbeda terhadap alam dan pola hubungannya?


(Mira Asriningtyas – untuk pameran Green Plastic Tree oleh Grafis Minggiran di Greenhost)