5.1.16

[Publication] Artist Co-Working Space: Rumah Kijang



Jangan bayangkan Rumah Kijang sebagai sebuah ruang soliter yang romantis. Studio ini justru jauh dari kesendirian; sebuah co-working space yang dipenuhi orang bekerja dengan tenang namun tanpa henti. Suasananya yang nyaman membuatnya terasa seperti sebuah rumah yang bergerak dalam diam.



Memasuki studio seorang seniman terkadang terasa seperti membuka buku harian sang seniman tersebut. Kita bisa mengintip ketertarikannya, rencana karya terbaru, dan bagaimana ia menata benda-benda sesuai dengan selera yang spesifik. Dulu, saya merasa studio seniman adalah sebuah tempat serba romantis di mana seniman bebas merenung, menanti inspirasi datang, dan membuat karya indah tanpa gangguan seorang pun; sebuah tempat persembunyian kecil yang penuh dengan inspirasi. Rumah Kijang adalah tempat untuk menjadi individual sekaligus komunal, dalam keriuhan ide kreatif yang tenang dan nyaman.

Rumah Kijang diawali dengan usaha Angki Purbandono dalam mencari studio baru untuk bekerja. Saat itu, ia baru saja keluar dari penjara. Pengalaman berada dalam penjara tersebut bagi Angki disikapi dengan humor yang kritis sebagai sebuah peluang untuk melakukan residensi. Hasil dari ‘residensi’ tersebut adalah Prison Art Programs (PAPs); sebuah proyek seni jangka panjang yang tidak hanya disikapi sebagai sebuah aktifitas yang positif bagi para tahanan namun juga memiliki nilai-nilai sosial yang kuat. Maka dalam bayangannya saat itu, ia mencoba mencari sebuah studio baru baginya sendiri sekaligus kantor untuk manajemen PAPs dari luar tahanan.

Dalam prosesnya, ia bercakap-cakap dengan Hermanto Soerjanto yang merupakan kolektor sekaligus galerisnya dan Sueo Mizuma yang merupakan eksekutif direktur dari Mizuma Gallery. Sueo Mizuma yang melihat adanya kemiripan dalam latar belakang kultural sekaligus menikmati lingkungan seni yang terbentuk di Yogyakarta pun memutuskan untuk memiliki tempat residensi bagi seniman-senimannya dari Jepang. Mereka pun sepakat untuk membuat gabungan dari semua inisiatif tersebut dalam satu rumah. Nama “Rumah Kijang” yang merupakan singkatan dari “Kerjasama Indonesia Jepang” muncul secara impulsif dari salah satu teman dekat Angki, Agan Harahap. Di dalamnya terdapat Studio Angkipu, PAPs Office, dan Mizuma Residency Space.

Dalam pemahaman seperti ini, Rumah Kijang lebih terasa seperti sebuah co-working space: sebuah kantor yang digunakan bersama untuk menjaga proses, menciptakan, dan tidak kehilangan identitas sebagai seniman. Adanya konsep kantor dalam keseharian seorang seniman yang memiliki kebebasan waktu ini justru menawarkan jeda untuk memunculkan pemikiran progresif, menyediakan ruang bebas untuk berpikir kritis, melakukan inovasi, sekaligus mencapai ritme kerja yang ideal.

Lokasinya yang berada di bagian Selatan kota Jogja menjadikan Rumah Kijang semakin kondusif sebagai sebuah studio seni. Letaknya dekat dengan komunitas seni, galeri-galeri ternama, sekaligus sedikit tersembunyi dari hiruk pikuk area turis di sekitarnya. Lingkungan yang damai dan nyaman sekaligus rumah yang tertata apik membuatnya menjadi tempat singgah pilihan teman-teman seniman Angki apabila mereka berkunjung ke Yogyakarta.

Memasuki halaman rumah yang asri dengan berbagai jenis tanaman yang terawat dengan baik, sulit membayangkan rumah ini dulunya rusak, tidak terawat, dan lama tidak terpakai. Rumah yang dibangun pada sekitar tahun 1955 ini sempat mengalami beberapa kali renovasi serta rekonstruksi ulang paska gempa pada tahun 2008. Saat menyewa rumah ini pada tahun 2014, manajer Rumah Kijang yang juga adalah istri Angki, Dian Ariyani, melakukan banyak sekali renovasi dan membutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga Rumah Kijang siap dihuni. Karena sempat menjadi bekas rumah partai politik, setiap ruang di rumah ini tadinya berwarna-warni dengan tidak serasi. Usaha awal Dian sebagai ‘nyonya rumah’ adalah mengembalikan warna dan bentuk rumah ini seperti bentuk semula. Ia pun mulai mengecat ulang seluruh bagian rumah dengan warna putih dan abu-abu natural yang manis serasi, mengganti langit-langit yang bocor, memfungsikan kembali seluruh jendela dan pintu, mengganti kamar mandi, membuat taman, serta menatanya menjadi rumah yang sejuk dan asri. Seluruh jendela dan pintu dibiarkan sesuai aslinya dan terdapat teralis-teralis bermotif batik di bagian depan rumah ini. Konon, rumah ini dulunya merupakan milik keluarga pengusaha batik yang ternama pada masanya. Seperti umumnya rumah yang dibangun pada tahun 50an, langit-langitnya yang tinggi memastikan sirkulasi udara rumah ini tetap baik. Dengan banyaknya jendela dan pembagian antar ruang yang terbuka, rumah ini bermandikan cahaya matahari di setiap sisinya. Terdapat dua kamar yang bisa digunakan untuk para seniman residensi dari Mizuma Gallery serta tiga ruang tengah besar yang bisa digunakan sebagai studio atau ruang serbaguna.  Sulit membayangkan bahwa rumah ini dulunya gelap, lembab, dan konon berhantu. Dalam suasanya nyaman yang terang dan sejuk, rumah ini diberi kehidupan kembali dengan  berbagai aktifitas penghuninya.

Saking nyamannya rumah ini, Dian dan Angki memutuskan untuk melahirkan putra pertamanya di sana dengan metode gentle water birth. Keputusan untuk melakukan home-birth ini memang sudah diniatkan dari awal. Dengan persiapan yang matang di tengah kenyamanan rumah tersebut, proses kelahiran Daun Bumi Purbandono dirasa cukup cepat dan tidak traumatis. Saat itu, PAPs sedang dalam proses pembuatan karya berjudul “Atas Nama Daun” untuk ArtJog8 sehingga para seniman dalam PAPs turut serta membantu proses kelahiran tersebut dengan semangat kekeluargaan yang kental.

Meskipun suasanyanya homey, secara tegas Dian dan Angki menyatakan bahwa Rumah Kijang adalah tempat singgah dan bekerja. Karena itu, suasana produktif selalu terjaga. Di setiap sudut rumah ini para penghuninya melakukan kerja artistik mereka masing-masing. Kenyamanannya tidak membuat orang terlena namun justru memicu suasana hati yang tenang untuk terus bekerja, menciptakan, bertukar pikiran, dan bergerak dalam kesunyian. Aktif namun tenang, rumah ini terasa seperti gambaran taman Zen dengan gemericik air yang terus bergerak secara konstan.

Sebagai seorang seniman yang produktif, Angki memiliki disiplin diri dan jam kerja yang rutin. Ia biasanya datang untuk mulai bekerja di Rumah Kijang sejak siang hingga malam hari. Ketika sedang melakukan produksi karya dan menerima tamu, ia bisa membuka rumah ini hingga lebih malam dari biasanya. Konsep Rumah Kijang yang terbuka memungkinkan siapapun untuk datang dan diterima dengan hangat oleh para penghuninya. Sementara itu, PAPs tidak memiliki jadwal yang spesifik dan berkumpul lebih intensif ketika sedang mempersiapkan pameran. Saat ini, Ryuki Yamamoto dan Aiko Yamamoto melakukan residensi seni untuk mempersiapkan karya baru sekaligus mengenal skena seni rupa Yogyakarta atas dukungan pihak Mizuma Gallery. Sueo Mizuma memang memiliki pandangan berbeda dengan galeris lain dan mendukung senimannya untuk memperluas visi mereka melalui residensi. Mereka masuk ke Rumah Kijang di waktu yang berbeda dan bekerja secara mandiri di sisi studio masing-masing.

Spirit untuk tetap menjaga individualisme para seniman namun sekaligus menjadikan mereka hidup dalam lingkungan yang komunal ini membuat lingkungan kerja Rumah Kijang semakin unik. Angki yang tadinya terbiasa memiliki studionya sendiri pun justru lebih menikmati bekerja dengan kehadiran banyak orang di sekitarnya. Tak jarang seniman-seniman ini berdiskusi, berproses, dan menguji karyanya secara visual maupun konseptual secara bersama. Hal ini dilakukan sebagai usaha pendalaman artistik yang bisa langsung dikembangkan dan diproses. Kondisi yang positif dan suportif terus dikembangkan sementara pernghormatan terhadap kecenderungan pilihan kekaryaan masing-masing seniman tetap dijaga. Bagi seniman sekelas Angki, kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tidak lagi berporos pada dirinya sendiri namun juga harus mampu menciptakan peluang yang lebih jauh bagi komunitas dan masyarakat. Karenanya, Rumah Kijang menjadi sebuah zona aman bagi semua yang bernaung di bawah atapnya. Suatu hari nanti, terdapat cita-cita untuk memamerkan proses-proses kreatif yang terjadi di Rumah Kijang ini dengan tujuan untuk terus menjalankan ruang seni komunal ini. Pada akhirnya, rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai co-working space namun juga menyimpan kisah-kisah personal yang hangat.

(Mira Asriningtyas)