5.1.16

[Publication] ArtJog Etc.



Sejak pertama kali diadakan di tahun 2008, ArtJog telah bertransformasi dari sebuah artfair bertaraf lokal menjadi salah satu acara seni paling ditunggu yang dihadiri oleh tamu-tamu dari berbagai penjuru dunia.


Pada momen tersebut, seluruh kota Jogja seakan merayakan sebuah perhelatan besar. Menjelang pembukaan ArtJog, hari-hari di kota ini dipenuhi dengan berbagai pameran serta aneka rupa kegiatan seni. Pada bulan Juni ini saja, tercatat terdapat sekitar lima puluh ruang seni dengan hampir seratus kegiatan tersebar di seluruh penjuru Jogja. Kota ini seperti sedang membuat sebuah festival seni secara mandiri. Setiap ruang dengan kompak dan penuh kesadaran turut serta dalam hype seni rupa tersebut. Bulan Juni di Jogja memanjakan para art enthusiast dalam sebuah 'taman bermain' besar seni rupa yang tersebar di seluruh penjuru kota.  'Wahana' yang bisa dipilih pun beragam, sesuai kecenderungan masing-masing orang. Berbagai pilihan dan moda presentasi dilakukan oleh setiap kelompok, menjadikan seni semakin dekat dengan penikmatnya.
     
ArtJog8, sebagai pusat dari seluruh keriuhan seni ini, kali ini mengangkat tema ‘Infinity in Flux’, sebuah ketidakterbatasan dalam proses kreatif. Sebuah dome besar yang ditumbuhi dengan tanaman pagar hijau lengkap dengan aliran airnya menyapa setiap pengunjung dengan kesejukannya.  Di dalamnya, delapan karya instalasi berjudul "Taman Budaya" dibuat oleh commisioned artist, indieguerillas. Ide awal karya ini berangkat dari kerinduan akan ruang publik yang manusiawi dengan vegetasi optimal di antara pesatnya pertumbuhan kota. Bagi indieguerillas, percepatan jaman dan mobilitas yang tinggi adalah dua hal yang mengubah budaya- khususnya pola interaksi. Pola interaksi yang terbentuk pun berdampak pada relasi dan pola komunikasi antar manusia sebagai makhluk sosial. Di dalam "Taman Budaya" terdapat beberapa pop-up shop di mana pengunjung bisa membeli kopi, jus, hingga komik; memotong rambut sesuai gaya terkini; makan malam berdua dengan pasangan tanpa berhadapan secara langsung; bermain permainan tradisional dakon; hingga menikmati pameran seni rupa dalam galeri mini yang bisa diintip.

Delapan karya interaktif dalam Taman Budaya ini mengundang pengunjung dalam perenungan bersama atas masa peralihan antara budaya analog dengan realitas digital. Karya ini terletak di dekat salah satu karya Yoko Ono berjudul "Wish Tree" yang mengajak pengunjung menuliskan harapan pada selembar kertas kecil dan menggantungnya di ranting pohon untuk mengumplkan harapan serta energi baik para pengunjung. Karya instalasi ini telah dibuat di beberapa lokasi di berbagai penjuru dunia dan memuat lebih dari sejuta harapan yang kemudian dikuburkan dalam menara Imagine Peace di Islandia. Dalam ArtJog kali ini, artefak karya-karya Yoko Ono koleksi Jorg Starke turut serta ditampilkan, antara lain "Imagine Peace Towel" (2012), "A Key to Open Faded Memory" (2005), "Box of Smile" (1967), serta karya-karya lain yang terasa menghangatkan hati dalam kesederhanaannya.

Memasuki ruang pamer, berbagai karya seni hadir dengan kualitas yang memanjakan baik penikmat seni maupun pelaku selfie. Tema “Infinity in Flux” pun konon terinspirasi oleh interaksi pengunjung dengan karya seni dalam bentuk selfie. Alih-alih bersikap menentang kegiatan selfie yang kerap dianggap 'mengganggu', sang kurator justru memainkan ketegangan itu. Ketika dulunya karya-karya tersebut berdiri indah bak boneka cantik dari india- boleh dilihat, namun tidak boleh disentuh; kini kehadirannya membutuhkan campur tangan penikmatnya agar bisa menjadi karya yang utuh. Tidak heran bahwa kemudian karya-karya yang bersifat lintas media, instalatif, dan kinetis lebih banyak muncul dibandingkan lukisan di dalam art fair ini. Berbeda dengan art fair pada umumnya, ArtJog memang memiliki batasan kuratorial yang khusus, secara independen melibatkan seniman alih-alih representasi galeri, dan kali ini menampilkan bentuk artistik kontemporer terkini dengan kecenderungannya yang lintas media. Tema yang dipilih kemudian bisa dimaknai sebagai sebuah presentasi karya seni yang 'tanpa batas' dengan penontonnya dan tanpa batas pada satu bentuk media tertentu. Karya-karya yang dibuat pun tidak hanya datang dari kalangan perupa namun juga dari beragam latar belakang seperti arsitek, perancang busana, musisi, pengrajin, ahli elektronika, hingga para ahli kesehatan.

Di waktu yang bersamaan, berbagai ruang seni di Jogja menampilkan pameran yang tak kalah menarik. Rumah Seni Cemeti, misalnya, menghadirkan proyek seni "Liminal" yang menghadirkan seniman dari berbagai disiplin seni untuk memetakan kembali konsep seni dan kemasyarakatan. Sejalan dengan hal tersebut, “Liminal” mengajak seniman untuk menyeberangi batas wilayah dan relasi antara seniman, karya, penikmat seni, hingga masyarakat luas. Kelompok Mulyakarya, misalnya, menghadirkan kolektor sekaligus ahli batu mulia dalam sebuah ‘pameran seni rupa dan lelang batu’, yang mereka sebut sebagai ’rumor art’. Tentu saja, bak sebuah art fair sejati, Mulyakarya mempersilakan para kolektor batu mulia ini mendahului pengunjung lain dan turut dalam acara preview beberapa jam sebelum pembukaan pameran berlangsung. Seniman muda Timoteus Anggawan Kusno juga melakukan sebuah performans dengan mengundang aktor teater Jamaluddin Latif untuk melakukan pembacaan naskah monolog dengan begitu mencekam dan sukses membentuk sebuah narasi yang tepat berada dalam batasan antara nyata dan tidak nyata. Proses lelang unik lainnya dilakukan oleh para aktor dalam performans yang menyerupai proses di balai lelang ternama. Serba-serbi hal yang dilelang mulai dari suara, fast food, hingga lelang adegan. Sementara itu, Nindityo Adipurnomo mengajak pengunjung dalam sebuah wisata seni “Tekor Tilas” dengan berjalan kaki di wilayah Mantrijeron untuk melihat beberapa pameran dengan rute yang bisa diikuti melalui peta dan audio panduan. Panduan tersebut antara lain akan membawa pengunjung ke Ark Galerie yang sedang memamerkan “Belok Kiri Jalan Terus”, sebuah hasil residensi dan kolaborasi antara Alfredo dan Isabel Aquilizan dengan Fruitjuice Factory Studio Yogyakarta. Karya tersebut mengolah dengan apik bentuk arit dalam berbagai fungsi, relasi, hingga label dan stereotype yang melekat padanya. Hasilnya, sebuah karya yang tidak hanya indah namun juga sarat akan makna politis sekaligus personal. Perjalanan “Tekor Tilas” kemudian akan berakhir di Krack! Printmaking Studio and Gallery yang menampilkan karya sablon dengan cara yang baru dan spektakuler dalam “The Krackatorium”.

Masih di area Mantrijeron, Kedai Kebun Forum menampilkan sebuah artist-merchandise pop-up shop tahunan, Kios Kaos. Sementara itu, ‘tetangganya’ yang lebih muda, Ace House menyajikan sebuah grosir seni serba ada yang konon buka 24jam, “AceMart”. Di tengah keramaian dunia seni Jogja yang berpusat pada artfair dan mendatangkan kolektor-kolektor ternama, AceMart dengan jeli dan humoris menghadirkan pengalaman berbelanja karya seni yang segar dan lain dari yang lain. Di AceMart, kolektor seni maupun tetangga kampung sebelah bisa menikmati sarapan lezat berkualitas, membeli karya seni seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah, membeli satu kilogram gula pasir dan kopi di tengah malam yang dingin, hingga berfoto bersama keluarga dalam kostum pegawai AceMart. 

Sedikit bergeser ke sisi Barat Yogyakarta, kompleks Jogja National Museum diramaikan dengan berbagai pameran, mulai dari “33Prints” yang memamerkan 33 karya 3 pemenang Jogja Miniprint Biennale; pameran lukisan di Jogja Contemporary; hingga karya-karya video dan robotik yang merespon kota dalam pameran “Street | Life” oleh Cake Industries, RM Altiyanto Henryawan, Bimo Suryojati, dan Multicultural Arts Victoria. Selain itu, satu lagi pameran besar berlangsung di gedung utama Jogja National Museum, “ARTMOMENTS Jogja 2015”.  ARTMOMENTS adalah sebuah inisiatif untuk menampilkan karya seniman-seniman kontemporer baik dari Indonesia maupun dari luar negeri dalam bentuk sekelompok pameran tunggal dan kolaborasi. ARTMOMENTS memilih Jogja sebagai lokasi pertama pamerannya untuk memperkenalkan diri dalam komunitas seni rupa Indonesia. Dalam pameran ini, 21 seniman menampilkan karya mereka. Agung Kurniawan membawa karya performatif yang pernah ditampilkannya di Gwangju Biennale pada tahun 2012, “Adidas Tragedy”. Dalam pemaknaannya bagi Adidas Superstar ‘City’ Pack, ia memilih kota-kota besar dan kecil di mana tragedi kemanusiaan maupun genosida pernah terjadi. Permasalahan kota yang lebih sederhana ditampilkan dalam pameran yang sama oleh Muhammad Akbar yang mempertanyakan kebersihan dan keindahan di kota Bandung dan Paris. Nama-nama lain seperti Tisna Sanjaya, Davy Linggar, hingga generasi yang lebih muda seperti Etza Meisyara, serta kolaborasi antara Nurrachmat Widyasena dan Maharani Mancanegara pun memperkaya warna dalam pameran ini.

Selain pameran-pameran tersebut, masih terdapat puluhan pameran yang menambah keriuhan seni rupa dalam bulan Juni ini di Jogja. Berada di tengah-tengah keriuhan tersebut adalah serupa berada di tengah-tengah taman bermain yang akan membuat setiap anak dengan stamina paling kuat pun kewalahan sekaligus kegirangan. Keriuhan seni tersebut menjadikan Jogja sebuah kota yang dinamika seninya layak dinanti bagi para art enthusiast sekaligus menantang para pelaku seni untuk menghadirkan kejutan demi kejutan berikutnya.

(Mira Asriningtyas)