5.1.16

[Publication] The Narrative Project



Ketika Maryanto memamerkan karyanya, ia sesungguhnya sedang mereproduksi ingatan dan membentuknya menjadi sebuah bingkai cerita yang utuh.


Maryanto adalah salah satu seniman yang kerap menggunakan pendekatan naratif yang personal dalam karyanya. Ia menciptakan karya berdasarkan seri dan project sehingga masing-masing karyanya tergabung secara utuh dalam satu rangkaian pemikiran besar. Pada prosesnya, ia kerap menggunakan ingatan spasial untuk menciptakan apa yang disebutnya sebagai nostalgia visual. Ia menggambar dengan mengingat detil visual dan perasaan saat berada di lokasi geografis tertentu. Dengan demikian, pameran baginya tidak hanya menjadi cara berbagi kisah namun juga untuk menularkan pengalaman kepada penonton.

Dalam salah satu pameran tunggalnya berjudul Rawalelatu (2008), ia menggali sejarah personal atas pengalamannya kehilangan rumah masa kecil akibat penggusuran dan pembangunan kota. Dalam Rawalelatu, ia seperti menciptakan sebuah fabel yang kelam dengan detil spasial yang menakjubkan tentang perubahan lanskap kota. Meskipun karya tersebut berangkat dari sejarah personal yang dikemas dengan keindahan bak dongeng; ia sekaligus menghadirkan elemen-elemen sosial, isu buruh pabrik, lingkungan hidup, dan kepemilikan. Maryanto percaya bahwa sejarah personal tidak berdiri sendiri sebagai sebentuk romantisme atas masa lalu semata, namun juga berkaitan dengan sejarah lain yang berjalan pada tahun yang sama. Ia berharap bahwa pendekatan yang personal mampu membuat sejarah lebih terasa eksperimental, tidak eksplisit, namun bisa dengan mudah dirasakan kehadirannya.

Pada akhir residensinya di Rijksakademie (2013), Belanda; ia memenuhi sebuah ruang dengan goresan arang untuk menciptakan lanskap yang masif dan membuat pengunjung seolah sedang memasuki lubang yang digali oleh ekskavator dalam gambar tersebut. Dalam karya itu, ia mengedepankan aspek instalatif dan keruangan. Bagi Maryanto, residensi di Rijksakademie menjadikan karyanya lebih tajam, memberinya peluang untuk menemukan pola berkarya, serta memantabkan langkahnya dalam menegakkan gagasan. Ia menemukan bahwa kepribadian seorang seniman tidak hanya terlihat dalam estetika karyanya namun juga dalam pilihan cara berkarya, kecenderungan pribadi, dan bagaimana seniman tersebut mempertanggungjawabkannya. Karya yang baik baginya adalah karya yang jujur, utuh, dan memicu diskusi yang lebih jauh atas sebuah permasalahan yang digulirkan.

Dalam mempresentasikan karyanya baik di dalam maupun luar negri, ia tidak segan menggabungkan beberapa medium sekaligus dan menjadikannya kolaborasi yang apik. Tidak jarang ia melakukan eksplorasi dengan medium teater, instalasi, dan proyek seni komunitas. Meskipun demikian, ia lebih banyak mengolah karya drawing dan memindahkan proses kerja grafis ke kanvas dengan menghitamkan kanvas lalu mengeriknya garis per garis sehingga membentuk gambar yang utuh. Salah seorang seniman senior sempat menyebut Maryanto  sebagai salah satu dari sedikit seniman yang bisa menggunakan medium grafis untuk mengkomunikasikan karyanya kepada publik. Tidak hanya mampu menceritakan kisahnya dalam karya seni, ia melakukannya dengan kehalusan goresan monokromatis yang elegan dan detil.

Saat ini Maryanto sedang mempersiapkan karya terbarunya untuk Biennale Jogja 2015 dengan melakukan riset seputar politik minyak dengan studi kasus pertambangan di Bojonegoro dan Nigeria. Maryanto yang selalu tertarik dengan tema-tema lingkungan hidup kali ini mengangkat isu privatisasi sekaligus membicarakan dampak sosialnya pada masyarakat. Karya berbasis riset bukan hal yang baru baginya. Meskipun demikian, hasilnya tidak seperti sebuah laporan riset yang rigid. Ia tetap menikmati kebebasannya sebagai seniman untuk menghasilkan karya akhir yang bersifat lebih nakal, playful, dan menarik secara visual.

(Mira Asriningtyas)