5.1.16

[Publication] Recollecting Memory: Tukang Foto Keliling


“Archieves are dead until their content is handled by people connecting it to their reality in one way or another” (Andrea Stultiens)


*****

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami suatu masa ketika kehadiran para tukang foto keliling di area pariwisata merupakan hal yang wajar. Saat itu, kamera masih merupakan benda mewah yang tidak dimiliki setiap orang. Kehadiran para fotografer keliling ini diperlukan untuk mengabadikan kenangan indah saat berlibur dengan keluarga.

Berangkat dari nostalgia masa lalu tersebut, Dito Yuwono memulai sebuah proyek fotografi sejak akhir tahun 2013. “Recollecting Memory: Tukang Foto Keliling” dimulai saat Dito bertemu dengan seorang fotografer keliling yang masih aktif bekerja di Kaliurang, sebuah area wisata di lereng gunung Merapi – Yogyakarta. Saat itu, ia mulai bertanya-tanya apakah masih ada fotografer keliling yang bekerja secara aktif di daerah wisata lain di Indonesia. Pertanyaan tersebut membawanya dalam sebuah penelitian atas fotografi pariwisata dengan dua sampel lokasi di Yogyakarta dan di Jakarta. Hingga saat ini, proyek tersebut telah dipamerkan dalam tiga bagian: pertama, di sebuah kamar hotel di Kaliurang pada bulan Juli 2014;  ke-dua, secara online dan dipamerkan sebagai presentasi karya baru di Lir Space - Yogyakarta pada bulan Agustus 2014; dan ke-tiga, pada akhir Agustus hingga awal September 2015 lalu di ruangrupa (RURU) Gallery – Jakarta.

Selama bulan Agustus 2015, Dito Yuwono melakukan penelitian singkat untuk mempelajari keberadaan para fotografer keliling di area Monumen Nasional (Monas). Monas dibangun pada masa Soekarno sebagai simbol kebanggaan dan perjuangan kemerdekaan. Sebagai salah satu landmark nasional yang terletak di ibukota, berfoto di depan Monas pada suatu ketika pernah menjadi simbol nasionalisme, representasi diri, dan perasaan memiliki atas negara ini. Monas masih menarik kunjungan banyak wisatawan hingga saat ini dan sejumlah fotografer keliling masih beroperasi di sekitar taman Monas. Meskipun terdapat perubahan politik dan isu manajemen yang mungkin akan menghilangkan lahan bisnisnya; kelompok fotografer keliling ini sekarang sedang membangun sistem keprofesian untuk mengamankan pekerjaan tersebut.

Dalam proyek ini, Dito menciptakan sebuah koperasi imajinatif dalam salah satu sudut galeri ruangrupa (RURU Gallery) untuk melihat bagaimana praktek fotografi wisata ini berkelanjutan melalui aspek sosio-ekonominya.  Pembuatan rancangan proposal koperasi tersebut merupakan kelanjutan dari bentuk paguyuban yang memungkinkan mereka untuk tetap mendapatkan ruang beroperasi di masa yang akan datang. Meskipun dalam praktiknya Dito menggunakan pendekatan seperti seorang antropolog yang membaca perilaku manusia untuk menelusuri sejarah; pembacaan hasil riset tersebut disajikan dalam sebuah pameran visual hasil olahan dari data mentah yang ia kumpulkan di lapangan. Di satu bagian, ia menyajikan dokumentasi alat-alat yang digunakan oleh para fotografer keliling Monas untuk mempelajari pergeseran dari era analog ke era digital. Di bagian lain, ia mempresentasikan dua pilihan isi proposal yang mungkin diajukan oleh para fotografer keliling tersebut dalam membuat koperasi secara legal. Proyek ini bisa juga dilihat sebagai sebuah usaha melakukan pembaruan atas citra para fotografer keliling di tengah maraknya hal-hal yang analog di era digital ini, dengan menggunakan bahasa visual yang mudah dimengerti.

Pada saat bersamaan, Dito juga mempelajari pose sebagai bentuk kekhasan. Meskipun awalnya mungkin terdengar janggal-- namun pose bisa menjadi semacam hak milik intelektual dalam bisnis selama beberapa menit sebelum orang-orang mulai melakukan adaptasi dan menirunya. Bagaimanapun juga, di tempat populer seperti Monas, kemungkinan tidak ada lagi cukup banyak ide original untuk menghindari foto-foto cliché yang sering dibuat para wisatawan. Apabila dilihat dengan lebih detil, terdapat sedikit perbedaan pose dalam foto-foto yang diambil oleh para turis secara mandiri dan foto-foto yang diambil oleh para tukang foto keliling. Pose-pose aman seperti berpura-pura ‘memakan’ puncak Monas, bersandar di monumennya, dan berpose di depannya kerap direproduksi. Namun pose seperti menginjak Monas atau pose lain yang dianggap tidak pantas umumnya diambil oleh para wisatawan secara mandiri. Para tukang foto keliling tersebut secara tidak langsung berperan sebagai penjaga nilai-nilai atas Monas dan menolak untuk mengambil foto-foto dengan pose yang dianggap merendahkan Monumen tersebut.

Dalam pameran presentasi proyek ini, Dito juga menampilkan beberapa arsip foto Polaroid yang ia kumpulkan dalam bagian pertama proyeknya serta dua karya yang dipamerkan secara online dalam akun instagram @wisataselfie dan @wisatatagar. Dito Yuwono merupakan seorang seniman foto kontemporer yang tergabung dalam artist collective berbasis fotografi, Mes56 di Yogyakarta. Praktek artistiknya bervariasi antara instalasi, fotografi, mix-media, video, dan performance. Ia secara khusus memang memiliki ketertarikan untuk bekerja dengan masyarakat dan mengingat kembali kenangan-kenangan serta menemukan hubungan antara memori-warga-sejarah. Karyanya sering berfungsi untuk menceritakan kembali sebuah kenangan dengan menggunakan pendekatan pribadi yang subtil untuk memahami gambaran yang lebih besar dari lingkungan sosial-politik. Karena itu, pemahaman tentang mengumpulkan ulang kenangan (recollecting memory) telah menjadi benang merah yang menghubungkan karyanya dari waktu ke waktu.

Hal ini sejalan dengan penemuannya dalam tiga tahapan “Recollecting Memory: Tukang Foto Keliling” tentang bagaimana ingatan kolektif para warga ini bisa sejalur dengan hal besar yang terjadi pada era tersebut. Pertama, kaitannya dengan kampanye wisata yang dilakukan pemerintah saat Orde Baru melalui Kampanye Sadar Wisata; ke-dua, industri Polaroid; dan ke-tiga, munculnya teknologi digital. Proyek ini menjadi gambaran singkat bagaimana fotografi pernah mendapatkan dukungan dari negara, terutama untuk membantu mempromosikan pariwisata; hingga di era digital ketika kehadiran para fotografer keliling tidak lagi dirasa relevan. Setelah melalui tiga tahapan dalam proyek “Recollecting Memory: Tukang Foto Keliling”, Dito menyusun sebuah buku sebagai hasil akhir dari tiga tahapan penelitiannya yang akan diterbitkan pada akhir bulan September 2015.  


(Mira Asriningtyas)