5.1.16

Sebelum Menikmati Pameran Seni

(dipublikasikan di http://www.trulyjogja.com/sebelum-menikmati-pameran-seni-2/)


*****


Seorang teman baru saja mengirimkan pesan singkat bahwa seorang pengunjung sebuah perhelatan seni rupa di Yogyakarta tanpa sengaja menjatuhkan karya saat berfoto dengan karya tersebut. Saya menyebutnya sebagai ‘berfoto dengan’ karya alih-alih ‘berfoto di depan’ karya karena apabila ia hanya sekedar berfoto di depan karyanya, kecil kemungkinan karya tersebut sampai jatuh.

Karya tersebut sepertinya baik-baik saja, namun bingkainya patah. Entah berita itu benar atau tidak, dalam hati saya berdoa untuk siapapun yang menjatuhkan karya tersebut: semoga bingkai itu bukan termasuk bagian dari karya. Pertama, bingkai yang digunakan untuk memajang sebuah karya seni biasanya dibuat secara khusus dan harganya cenderung lebih mahal dari bingkai pada umumnya. Jadi, dia bisa saja harus mengganti bingkai seharga ratusan ribu rupiah. Kedua, akan lebih parah lagi bila ternyata bingkai tersebut dimaksudkan secara konseptual untuk menjadi bagian dari karya– nominal pertanggungjawabannya bisa fantastis dan mencapai jutaan rupiah.

Saya tidak bisa secara penuh menyalahkan perilaku orang yang berfoto dengan karya tersebut. Saya teringat sebuah kasus yang saya alami di ruang seni yang saya kelola. Suatu hari, sekelompok mahasiswa dari sebuah universitas terkemuka di Jogja membuat video di sana. Mereka membayar setelah diingatkan meskipun tidak mengindahkan peringatan bahwa mereka tidak diperkenankan mengambil gambar di dalam ruang galeri. Sayangnya, mereka tidak hanya mengambil gambar tapi juga menyentuh dan memainkan karya seni yang sedang dipajang. Saya baru mengetahuinya setelah video tersebut diputar. Saat itu saya marah sekali karena selain penghargaan yang kurang terhadap karya seseorang; karya tersebut sangatlah rapuh karena terbuat dari kertas dan arang yang mudah rusak apabila disentuh. Beberapa minggu kemudian, seorang teman mereka menuliskan surat permintaan maaf resmi dengan alasan ‘tidak tahu bahwa karya seni tidak boleh dipegang’.

Awalnya, saya masih kesal karena merasa mereka begitu abai atas hal yang menurut saya begitu mendasar. Namun masuknya seni sebagai bagian dari gaya hidup yang trendy memang baru saja terjadi. Bisa saja bukan hanya mereka yang abai dan bandel namun juga ruang-ruang seni lah yang tidak memberikan sosialisasi atas hal yang mendasar tersebut. Mungkin juga mereka tidak mengetahui bahwa karya seni selain dibuat dengan sepenuh hati juga memiliki price tag yang cukup fantastis. Ada lho sebuah lukisan yang konon katanya dihargai sampai enam milyar rupiah dalam pameran seni yang sedang berlangsung di Jogja saat ini. Fantastis, bukan? Namun selain harga jual karya seni yang fantastis, bukankah seniman juga perlu dihormati atas ide dan hasil kerja keras yang berbentuk karya seni?

Dalam contoh kasus ke-dua, ungkapan bahwa ‘ignorance is a bliss‘ kemudian bisa diaplikasikan karena selain karyanya (untungnya) tidak rusak; surat permintaan maafnya ditambahi embel-embel ketidaktahuan mereka yang membuat saya berpikir dari dua sisi. Namun dalam kasus pertama yang mungkin cenderung bandel demi foto diri yang unik, ‘ignorance is a bliss‘-nya pasti bermakna berbeda dan ironis: sikap acuh tak acuh yang berbuntut pelajaran yang benar-benar berharga.

Perilaku untuk mengabadikan diri bersama karya seni atau menjadikannya sebagai background foto diri memang merupakan fenomena tersendiri di saat sosial media menjadi hal yang kerap digunakan untuk mengaktualisasikan diri seperti sekarang ini. Beberapa pameran seni rupa bahkan menggunakannya sebagai alat untuk memasyarakatkan seni dan membantu publikasi. Namun sebenarnya apa sih peraturan mendasar dalam menikmati pameran seni? Sebagai tulisan pertama saya di kanal ini, saya akan mencoba membagi jawaban sederhana atas beberapa pertanyaan yang kerap diajukan oleh para penikmat seni muda.

*****

Q: Apa ada aturan dalam menikmati pameran seni rupa?
A: “Tidak diperkenankan menyentuh karya seni” merupakan salah satu aturan dasar dalam menikmati pameran seni rupa. Baik tertulis maupun tidak, karya seni tidak diperkenankan untuk disentuh kecuali pada kasus khusus saat sang seniman menyatakan sebaliknya. Beberapa museum bahkan memiliki garis tertentu yang digambar di lantai untuk menunjukkan jarak yang diperkenankan antara karya seni dan penikmatnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga sebuah karya yang berharga supaya tidak rusak. Selain itu, aturan umumnya adalah untuk tidak makan, minum dan merokok di dalam ruang galeri serta tidak membawa binatang peliharaan ke dalam ruangan. Alasannya sama: untuk memperkecil potensi rusaknya karya seni.


Q: Kenapa kita tidak boleh menyentuh karya seni?
A: Umumnya, aturan ini diterapkan untuk menjaga keawetan dan keutuhan sebuah karya. Bahkan jari yang paling bersih pun mengandung asam dan garam yang bisa merusak lukisan, patung, maupun tekstil. Beberapa karya yang dibuat di atas kertas dan bahan-bahan lain yang rapuh sangat rawan pada kerusakan. Beberapa karya yang terlihat kuat seperti batu dan kayu pun sebenarnya mudah poros. Bila tersentuh tangan manusia, minyak dan kotoran tangannya bisa terserap sehingga sulit untuk dibersihkan tanpa merusak karya. Sementara karya yang terbuat dari metal mudah terkorosi apabila terkena keringat dan tangan yang mengandung garam. Ketika pun efek kerusakannya tidak langsung terlihat, sentuhan selembut apa pun pada lukisan cat bisa membuat lukisan tersebut mengelupas atau catnya pecah-pecah di masa mendatang. Tentu saja, tindakan yang lebih destruktif daripada sekedar menyentuh karya seni seperti mengangkat, memeluk patung, memindahkan posisi karya seni, menginjak dan masuk ke dalam karya instalatif serta hal-hal yang berpotensi merusak tidak diperbolehkan.


Q: Pernah ada contoh kasus kerusakan karena pengunjung menyentuh karya tidak?
A: Pernah. Selain dua contoh kasus di atas, pernah ada seorang kolektor yang mengangkat sebuah patung porselen seharga jutaan rupiah dalam sebuah pameran. Saya tidak tahu apa alasan beliau mengangkat patung tersebut. Namun, tanpa sengaja kepala patung itu jatuh dan pecah. Tentu saja beliau diwajibkan membeli karya yang sudah rusak tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya. Sayang sekali, bukan?


Q: Apakah ada karya yang boleh disentuh?
A: Ada. Beberapa karya khusus dimaksudkan untuk menjadi karya interaktif dan mengundang penikmat untuk menjadi bagian dari karya tersebut. Umumnya, karya semacam ini memiliki ketentuan tertulis yang jelas seperti “Silahkan dimainkan” atau “Tekan tombol ini”.


Q: Boleh foto-foto nggak sih?
A: Beberapa pameran seperti ArtJog memperbolehkan pengunjung untuk berfoto dengan karya seni– hal ini bahkan menjadi salah satu bagian dari usaha meningkatkan publikasi bagi acara tersebut. Namun, ada juga beberapa galeri yang tidak memperbolehkan pengunjungnya berfoto di depan karya. Etika umum dalam berfoto termasuk untuk tidak menggunakan flash light saat memotret karena cahaya blitz bisa merusak keawetan karya; tetap tidak boleh menyentuh karya dalam bentuk apapun; serta perlu untuk tetap menghormati pengunjung lain. Usahakan untuk tidak berdiri di depan karya untuk berfoto terlalu lama supaya orang lain bisa tetap nyaman dalam menikmati karya tersebut.


Q: Di mana saja galeri dan ruang seni yang aktif di Jogja?
A: Banyak! Berbagai ruang seni dan galeri tersebar di seluruh sudut Jogja. Beberapa ruang yang dimiliki lembaga besar atau pemerintah seperti Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), atau Jogja Gallery berada di titik strategis kota yang mudah ditemukan. Ruang lain yang dikelola oleh seniman atau sifatnya lebih kontemporer terpetakan dalam Yogyakarta Contemporary Art Map (YCAM) yang bisa didapatkan secara gratis di beberapa pusat seni. Peta ini mengalami revisi tahunan sehingga kita bisa mendapatkan informasi terbaru tentang ruang seni, lokasi, jam operasional, dan website.


Q: Bagaimana saya tahu kapan ada pameran?
A: Umumnya, setiap galeri/ art space memiliki agenda bulanan yang akan dipublikasikan melalui media sosial, newsletter, website, atau poster yang ditempel di beberapa tempat umum. Beberapa galeri juga akan secara rutin mengirim email setiap ada acara apabila kita mendaftar dalam mailing list atau mengisi buku tamu kunjungan. Beberapa ruang juga rutin menggelar pameran dan siap dikunjungi setiap saat.


Q: Kapan sebuah ruang seni bisa dikunjungi?
A: Tergantung pada jam operasional masing-masing. Pada umumnya, beberapa ruang seni maupun museum tutup pada hari Senin. Sebuah ruang seni alternatif, Kedai Kebun Forum, memilih tutup pada hari Selasa. Jam operasional tiap ruang pun berbeda-beda. Saat pembukaan pameran umumnya merupakan saat paling ramai selain saat ada artist-talk atau diskusi dengan seniman mengenai karya yang dipamerkannya.


Q: Saya ngefans banget sama seniman A. Apa saya bisa bertemu dengannya di pameran?
A: Bisa saja. Namun, seniman yang sedang berpameran belum tentu berada di tempat pamerannya berlangsung setiap hari. Umumnya, seniman yang menggelar pameran ini akan berada di galeri dan bisa ditemui pada saat acara khusus seperti pembukaan, penutupan, atau artist talk. Selebihnya, seseorang perlu membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan senimannya.


Q: Bagaimana saya bisa memahami sebuah karya seni?
A: Beberapa pameran menyediakan katalog atau tulisan pengantar yang dibuat oleh kurator untuk menjelaskan makna dan pesan dari sebuah karya seni. Karya-karya seni dalam pameran kelompok juga umumnya dilengkapi dengan penjelasan singkat tentang judul, nama seniman, material, dan pesan yang ingin disampaikan. Bisa juga melalui diskusi publik/ artist talk/ presentasi yang dibuat seniman dalam masa pamerannya. Beberapa tempat bahkan menyediakan guided-tour bersama sang seniman/ kurator/ maupun tim yang disiapkan oleh galeri tersebut apabila dirasa perlu. Namun ada juga lho karya yang hadir untuk dinikmati dengan ringan dan apa adanya. Selama kita menikmatinya dan menghargai karya seni sebagai hasil dari kerja keras, ide, wacana, dan pemikiran yang panjang dari seorang seniman; seni rupa bisa tidak hanya menjadi background foto yang indah tapi juga ramah, inspiratif, menyenangkan, dan memperkaya pengetahuan.

(Mira Asriningtyas)