5.1.16

Studio Visit: Berkunjung ke Studio Seniman

(dipublikasikan di http://www.trulyjogja.com/studio-visit-berkunjung-ke-studio-seniman/)

*****

Dulu, saya merasa studio seniman adalah sebuah tempat serba romantis di mana seniman bebas merenung, menanti inspirasi datang, dan membuat karya indah tanpa gangguan seorang pun. Sebuah tempat persembunyian kecil yang penuh dengan inspirasi dan riuh dengan ide kreatif. Kanvas kosong tertumpuk di satu sudut, cat berceceran di sudut lain, dan karya yang sedang dalam proses pembuatan mencuri fokus di tengah ruangan. Jelas bahwa referensi saya saat itu masih terbatas pada studio seorang pelukis saja.

Setelah beberapa kali melakukan kunjungan ke studio seniman yang menggunakan medium berkarya yang berbeda-beda, saya mulai melihat studio sebagai ‘kantor’, ‘ruang kerja’, dan tempat untuk menjaga proses. Ketika para pekerja kebanyakan memiliki waktu bekerja yang pasti; seniman memiliki kebebasan untuk menentukan waktu dan ritme kerja masing-masing. Terkadang ritme pekerjaan ini justru tidak ada habisnya. Setiap percakapan, pembukaan pameran, maupun pertemuan sehari-hari merupakan proses kerja yang nyaris tanpa henti. Di sisi lain, kebebasan waktu ini bisa menjadi terlampau melenakan dan hari-hari terasa kurang produktif dengan mood kerja yang menurun. Menurut saya, di saat-saat seperti ini lah diperlukan adanya sebuah studio.

Di tengah riuhnya dunia seni rupa, studio bisa menawarkan jeda dan menjadi ruang di mana kreatifitas dan pemikiran progresif muncul. Kumpulan inspirasi dan hasil observasi yang dilakukan bisa dikumpulkan di sini sebelum kemudian diracik, ‘dimasak’, dan disajikan dalam bentuk karya maupun pameran. Meskipun konsep ‘studio’ yang serba romantik seperti bayangan naif saya dulu itu tidak sepenuhnya relevan; namun studio seniman masih menjadi ruang di mana seniman bekerja, mencari, berproses, menciptakan, dan tidak kehilangan identitas sebagai seniman.

Bentuknya pun tidak lagi seromantis bayangan saya di mana seniman akan semacam menanti wangsit sendirian dan berkarya. Ada studio yang justru mirip dengan ruang kerja yang serupa pabrik kecil. Ada juga yang terlihat seperti laboratorium, ruang santai untuk nongkrong, ditata bak galeri kecil, dan bahkan menyatu dengan rumah pribadinya. Praktek studio pun dimulai dari proses pencarian materi, mematangkan ide, dan mengasah metode berpikir. Sebuah studio kemudian juga untuk menyediakan ruang bebas untuk berpikir kritis, melakukan inovasi, sekaligus mencapai ritme kerja yang ideal.
Bagi saya sekarang, kata ‘studio’ bisa diartikan sebagai ruang jenerik yang ada di dalam pikiran senimandan saat untuk menghidupkan modus bekerja dalam pembagian waktu sehari-hari. Memasuki sebuah ‘studio’ bisa dimaknai sekaligus sebagai saat untuk memasuki masa tenang dalam mencipta dan berproses. Sementara itu, studio di jaman seni kontemporer kemudian bermakna batasan waktu, ruang, masa riset kreatif dan penciptaan.

Saya pribadi memiliki ketertarikan khusus pada ruang dan bagaimana pengalaman seseorang berada di dalamnya mempengaruhi berbagai aspek kehidupannya. Saya kerap merasa penasaran dengan pola hidup seorang seniman setelah melihat hasil karyanya, misalnya. Saya ingin mengetahui bagaimana ruang kerja atau rumah seniman mempengaruhi kehidupan dan kekaryaannya; serta apa makna berada di ruang tersebut baginya. Bisa saja, potensi kreatif seorang seniman justru muncul di luar rumah dan hanya pengerjaannya lah yang dilakukan di studio?

Rasa penasaran ini yang membawa saya ke beberapa studio seniman, mencoba mencari hubungan antara ruang dan kekaryaannya, serta menggoyahkan kepercayaan saya sendiri tentang studio sebagai ruang soliter yang romantis. Terkadang, ruang ini justru jauh dari kesendirian. Studio bisa saja menjadi ruang presentasi karya seniman saat banyak orang melakukan kunjungan ke studio-studio tersebut.

Nah, tulisan ini sekaligus menjadi pengantar bagi rubrik yang akan segera terbit di kanal seni ini: Studio Visit. Semoga saja saya cukup rajin menulis dan rubrik tersebut bisa rutin terbit. Setidaknya sebulah sekali, lah..

(Mira Asriningtyas)