5.1.16

Yuk, Berwisata Seni

(dipublikasikan di http://www.trulyjogja.com/yuk-berwisata-seni/)

*****

Ketika sedang berkunjung ke kota atau negara lain, ada beberapa tempat yang biasa kami kunjungi: toko dan coffee shop lokal yang menarik, toko buku, serta galeri seni dan museum. Bagi kami, tempat-tempat itu membawa banyak inspirasi dan kesegaran.

Sebagai sebuah bentuk wisata minat khusus, wisata seni adalah hal yang umum dilakukan di negara-negara dengan infrastruktur seni yang mapan. Biasanya, para wisatawan seni ini akan memilih untuk mengunjungi sebanyak mungkin galeri, museum, ruang seni, studio seniman, serta menghadiri acara seni saat berada di kota lain.

Belajar dari negara tetangga, ketika terjadi perhelatan besar seni rupa seperti Singapore Biennale atau Art Stage; berbagai galeri seni di Singapore secara bersamaan mengadakan pameran. Bagi wisatawan seni hemat yang ingin mengalami banyak hal seperti saya, adanya kegiatan seni yang terintegrasi dengan baik seperti ini membuat perjalanan terasa tidak rugi. Ibarat sekali dayung dua atau tiga pulau terlampaui, lah!

Meskipun masih berupa gerakan independen, inisiatif serupa mulai terlihat di Yogyakarta. Yogyakarta merupakan salah satu kota dengan skena seni yang paling hidup di Indonesia. Hampir setiap minggu terdapat acara pembukaan pameran seni rupa. Diskusi atau artist talk juga kerap diadakan baik secara formal di lembaga-lembaga seni maupun dalam diskusi yang lebih kasual di ruang-ruang publik.

Beruntung dengan adanya sebuah peta seni rupa kontemporer Yogyakarta (Yogyakarta Contemporary Art Map) terbitan Kedai Kebun Forum yang terus diperbaharui tiap tahun. Peta ini didesain dengan baik dan tersebar di berbagai ruang publik di Yogyakarta. Para wisatawan seni pun bisa dengan mudah menemukan lokasi, kontak, jam operasional, dan website berbagai ruang seni di Jogja. Tidak jarang bila saya bertemu wisatawan seni dari mancanegara yang pertama kali datang ke Jogja, saya akan menyodorkan YCAM untuk mempermudah navigasi mereka.

Kegunaan peta seni rupa kontemporer ini pun makin terasa pada saat terjadi perhelatan besar seni rupa di Jogja seperti ArtJog dan Biennale Jogja yang berskala internasional. Pada saat-saat tersebut, hampir seluruh ruang seni di Jogja membuat acara, menampilkan pameran, dan terkadang membukanya secara bersamaan. Hal ini membuat adanya peta atau tour guide yang baik menjadi sangat diperlukan.

Wisata seni memang masih merupakan jenis wisata yang pasarnya niche, namun adanya persebaran informasi yang lebih baik dan kesadaran pelaku pariwisata akan potensinya mungkin akan mampu meningkatkan apresiasi terhadap seni dan kebudayaan. Bila kita lebih beruntung, mungkin juga potensi ini bisa disadari pemerintah sehingga bisa ada infrastruktur seni yang baik di Indonesia.

(Mira Asriningtyas)