14.5.16

"Katanya sih, Katanya.."


*****


Di dalam sebuah percakapan, kalimat tersebut kerap diucapkan dengan nada ringan dan menandakan bahwa berita yang sedang diperbincangkan belum dikonfirmasi kebenarannya. Dalam kehidupan bermasyarakat; hal-hal serupa gosip, desas-desus, dan pergunjingan tidak hanya menjadi sarana perluasan informasi namun juga merupakan sebuah bentuk pengendalian sosial tidak resmi. Katanya, sih, hal itu juga yang bisa mempererat hubungan antar anggota masyarakat. Kebenaran dan isu yang tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya terjalin dalam batas yang begitu tipis. Hal ini tanpa disadari telah mengakar serta beredar secara wajar di sekitar kita. 

Apabila informasi tersebut tersebar dalam skala nasional, maka media masa berlomba-lomba untuk memberitakannya dengan cara yang semakin memperluas cakupannya. Informasi, cerita, dan pernyataan saling berbaur untuk menambah beban sebuah berita. Terkadang demi menjual isu yang masih hangat, berita tersebut bertambah dengan muatan isu-isu remeh temeh yang tersebar di sekitarnya tanpa memperdalam isinya. Terkadang apabila berita-berita tersebut tidak disajikan dan dicerna dengan baik, salah-salah bisa menjadi bentuk terorisme yang lain lagi. Alih-alih menjadi investigatif; jurnalisme desas-desus membuat berita menjadi lebih seru, berbumbu, dan sekaligus mudah dilupakan.

Strategi pengalihan isu bukan lagi hal baru dalam permainan politik yang konon merupakan bagian dari early warning system pemerintahan. Katanya, sih, melemparkan isu yang renyah dan menyebarkannya ke masyarakat merupakan salah satu tugas intelijen untuk menutupi isu lain yang lebih besar. Ketika dulu desas-desus mistis kerap digunakan untuk mempengaruhi kondisi politik, saat ini agama menjadi bumbu pemanas. Hal ini diperkuat dengan adanya media sosial yang menjadikan persebaran informasi semakin cepat, luas, dan sulit ditelusuri sumbernya. Cukup sering, misalnya, seseorang mendapatkan berita simpang siur yang menarik untuk dibagi, meneruskan manfaat kesehatan yang katanya bersumber dari 'grup sebelah', serta membagi informasi penting yang terkadang benar dan terkadang tidak.  

Bagaimana sebuah informasi dipolitisir menjadikan fakta dan opini pun kerap tercampur. Jika perbincangan ini menuju ke arah adanya budaya lisan yang memiliki peran penting dalam mewariskan sebuah kebudayaan secara turun temurun dan berperan sebagai pengisi waktu luang, penyaluran sikap, pandangan, dan cita-cita sebuah kelompok; bahkan kisah-kisah yang diceritakan pun kemudian memiliki kerentanan atas adanya kemungkinan perubahan dalam jalur distribusinya serta berisi kebenaran terbatas yang belum tentu universal. Sebagian kebenaran yang terkandung dalam kisah-kisah pun perlu dicermati lagi dan lagi.
Tentu saja, Apabila kita tidak menjadi pihak pertama yang bersentuhan langsung dengan hal tersebut, sulit untuk mendapatkan berita yang murni sesuai dengan faktanya. Cerita yang dikurangi, ditutupi, ditambah, dan dibumbui menjadi hal yang seakan wajar saja. Terkadang, kebenaran yang terkandung dalam sebuah cerita fiksi pun bisa lebih dipercaya keakuratannya. 

Di salah satu obrolan kami, Dian sempat mempertanyakan tentang hal-hal yang abstrak dan berada di antara percaya atau tidak percaya. Apakah mungkin, apabila berita tentang hal-hal yang abstrak tersebut dibuktikan keberadaannya, akan mengurangi nilai sensasinya? Misalnya saja tentang keberadaan Ratu Laut Selatan, apabila kita mengetahui lokasi persis kerajaannya atau memiliki fotonya, akankah itu mengurangi kesakralan beliau? Apabila tempat di mana Tuhan menurunkan firmannya bisa dibuktikan dengan pasti, jangan-jangan akan bermunculan monumen tentang Tuhan? Bagaimana dengan partikel Higgs Boson yang bertahun-tahun sebelum bisa dibuktikan, hanya berupa teori yang kemudian diberikan fasilitas dan kepercayaan penuh hingga keberadaannya mampu dibuktikan? Pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimanapun juga, hanya muncul untuk bahan obrolan semata dan tidak untuk dijawab. Seperti halnya pameran ini yang merupakan wujud kegelisahan Dian atas riuh dan rapuhnya arus informasi serta tulisan pengantar ini yang hanya serupa sekumpulan informasi yang dibumbui dengan opini pribadi. 

Dalam pameran ini, Dian menggambarkan kegelisahannya atas distribusi informasi dan desas-desus tersebut dalam gambar yang melukiskan gestur manusia saling berinteraksi; memberi dan menerima pesan sebelum kemudian menularkan lagi dengan pola muatan yang semakin bertambah. Karya tersebut menggunakan media clay yang menggambarkan berat muatan berita sekaligus kerapuhannya. Dalam proses pembentukan clay tersebut pun terdapat proses memipihkan permukaan media dan menjadikannya semakin melebar dan meluas, sesuai dengan sifat informasi yang menyebar dan meluas dari satu pihak ke pihak lain, melalui satu media ke media lain dalam bentuk yang tidak terduga hingga suatu saat akan berhenti menjadi satu bentuk akhir yang utuh meski tanpa akhir dan tanpa kesimpulan.  

(Mira Asriningtyas)