14.5.16

[Publication] Darwin: Kehidupan yang Esensial dan Sederhana di Ujung Atas Australia


Pada kunjungan pertama tahun lalu ke Darwin, seorang teman berpesan supaya saya pergi melihat lanskap tanah merah yang "menyerupai Mars" dan berhati-hati dengan buaya-buaya raksasa. Saat itu, Darwin terdengar seperti sebuah negeri antah berantah yang ajaib.

-----

Berbeda dengan kota besar lainnya di daerah selatan Australia, Darwin cenderung lebih sepi dan beriklim tropis. Jaraknya yang lebih dekat dari Bali daripada ke Sydney membuatnya terasa seperti bagian yang terpisah dari benua Australia. Pada malam pertama kedatangan, saya terheran-heran dengan betapa sunyinya kota ini. Udaranya hangat dan aroma kayu-kayuan tercium kuat bahkan dari dalam sebuah mobil yang melaju kencang di jalan raya. Kesan pertama atas kota ini di malam hari lebih seperti sedang berada di daerah pantai utara pulau Jawa. Terdapat perasaan yang akrab atas tempat tersebut sekaligus detil-detil asing yang menggelitik. Namun begitu matahari pagi muncul, saya menyadari bahwa saya sedang berada di negeri antah berantah dari kisah The Wonderful Wizard of Oz. Warna yang kaya dan intens muncul dari tanahnya yang berwarna merah, air laut yang turquoise, dan langit yang biru tua. Berbagai indera seperti dimanjakan dengan kekayaan warna, tekstur, suara, dan aroma.

Alam yang asri merupakan bagian penting dari kota yang setiap kelokannya mengantarkan kita ke pinggir pantai atau taman yang terawat. Karenanya, gaya hidup para penduduknya pun cenderung santai dan dekat dengan alam. Banyak atraksi wisata yang menonjolkan petualangan dan merangsang adrenalin ditawarkan di sini, mulai dari memancing di air lepas, sky diving, hingga berenang dengan buaya raksasa. Populasi buaya yang cukup besar, keberadaan ikan hiu, dan ubur-ubur beracun membuat kegiatan sesantai memancing pun memiliki tantangan tersendiri. Meskipun demikian, untuk mereka yang lebih menyukai kehidupan yang tenang dan laid-back seperti warga lokal, kota ini menawarkan banyak ruang. Bersantai dengan sahabat di pinggir pantai, berjalan-jalan menikmati karya seni di museum, hingga berbelanja di pasar merupakan pilihan yang menyenangkan.

Berbeda dengan kunjungan pertama saya yang serba singkat ke kota ini tahun lalu, kali ini saya menghabiskan hampir sebulan di Darwin.  Selama berada di sana, saya tinggal di rumah kecil yang terletak di tengah George Brown Botanic Garden. Rumah tersebut memang disediakan untuk seniman dan penulis yang membutuhkan waktu dan ruang untuk mengembangkan sebuah karya. Berada begitu dekat dengan alam, bangun dengan riuh kicau burung, dan menjadi bagian dari sebuah taman yang penuh kehangatan memang merupakan sumber inspirasi yang kaya. Taman ini sendiri telah bertahan melewati sebuah masa ketika Darwin dijatuhi bom oleh tentara Jepang pada masa PD II dan ketika badai Tracy menghancurkan kota tersebut di tahun 1974. Taman yang memiliki koleksi tanaman paling lengkap di Australia ini masih menjadi salah satu lokasi favorit warga lokal untuk bersantai, berolahraga, dan membawa anjingnya berjalan-jalan. Di taman ini juga terdapat sebuah community garden kecil yang menghasilkan produk-produk sayuran organik dan dikelola bersama oleh para pengunjung tetap. Di saat hari cerah, beberapa orang kerap terlihat berjalan-jalan membawa binocular mungil dan asyik mengamati tingkah polah burung yang cantik. Tidak hanya bird-watching, sebuah kegiatan yang sempat membuat saya terheran-heran muncul di jadwal program publik di taman ini: toad-busting. Di sore hari pada musim penghujan, sekelompok pecinta alam mengajak pengunjung untuk mengamati katak yang mulai bermunculan. Pola kehidupan yang cenderung quirky dengan kedekatan hubungan antar masyarakat, lingkungan, dan alam ini mengasilkan sebuah gaya hidup yang sehat dan utuh.

Di waktu senggangnya, orang-orang banyak menghabiskan waktunya untuk berada di luar ruangan. Tidak hanya berpiknik di pinggir pantai sambil menikmati matahari terbenam, di Darwin terdapat sebuah bioskop outdoor yang memutar perpaduan dari film keluarga, lokal, klasik, dan film-film terkini di bawah bintang-bintang. Deckchair Cinema yang berada di pinggir pantai ini juga menyediakan makanan hangat dari berbagai restoran terkemuka. Saat akhir pekan tiba, tidak ada salahnya berkendara ke luar dari kota menuju Kakadu National Park untuk berkemah dan mengalami lanskap yang konon menyerupai Mars dengan pemandangan gurun berwarna merah, gunung batu keramat, dan bertemu dengan komunitas Aborigin. Apabila ingin menyegarkan diri dari teriknya matahari tropis di kota ini, beberapa kolam alami dan air terjun yang apik terjaga di area Litchfield merupakan pilihan yang tiada duanya. Pengunjung bebas berenang tanpa perlu khawatir dengan adanya ancaman buaya karena para penjaga taman selalu memastikan keamanan area tersebut setiap harinya. Apabila memiliki keterbatasan waktu kunjungan, hal sederhana seperti bersepeda dan berjalan kaki pun bisa dilakukan. Darwin memanjakan para pesepeda dan pejalan kaki dengan adanya jalur khusus yang sangat indah dengan pemandangan yang beragam; mulai dari deretan pohon besar berusia ratusan tahun, hutan mangrove di pinggir pantai, pemandangan laut yang menakjubkan di area Nightcliff Foreshore, jalan sepi menuju kota, hingga hutan kecil yang berisi pohon-pohon baobab. 

Keberagaman identitas dan kebudayaan di kota ini dapat terlihat dari karya-karya seni, makanan, pasar, dan produk kebudayaan lainnya. Museum and Gallery of the Northern Territory  memiliki koleksi yang dipresentasikan dengan baik mengenai sejarah Darwin, kekayaan alamnya, sejarah maritim, indigenous art, hingga seni rupa kontemporer. Selain itu, NCCA (Northern Centre for Contemporary Art) dan DVAA (Darwin Visual Art Association) merupakan dua galeri seni terkemuka yang wajib dikunjungi. Beberapa monumen dan rumah peninggalan dari masa keemasan kota ini pun tersebar di berbagai sudut kota dan dapat ditelusuri ulang dengan napak tilas ke situs-situs tersebut sesuai dengan Historical Trail yang terdapat di dalam peta wisata Darwin. Apabila perjalanan bersejarah ini ingin dinikmati dengan lebih total, pesanlah tiket kereta Ghan yang melintasi Australia dari ujung Utara (Darwin) ke ujung Selatan (Adelaide) dengan pemandangan yang konon sangat indah dan tidak terlupakan.

Berbicara tentang makanan, Darwin yang awalnya saya pikir merupakan tempat yang makanannya tidak terlalu istimewa dan tergolong cukup mahal untuk ukuran Australia, ternyata menyimpan banyak kejutan lain. Di musim kemarau, banyak pasar yang menjual makanan dari berbagai penjuru dunia. Pasar-pasar ini tersebar di berbagai suburb dan memiliki hari serta kekhasannya masing-masing. Parap market, misalnya, menjual berbagai jenis masakan Asia, Lebanon, Yunani, hingga cindera mata. Parap juga merupakan tempat di mana penjual Paw-Paw Salad paling enak berada. Rapid Creek Market menjual sayur mayur segar dan buah-buahan. Sedangkan Mindil Beach Sunset Market merupakan tempat di mana turis dan warga lokal berkumpul bersama menikmati matahari senja dan live music. Namun di antara seluruh pasar tersebut, Malak Market merupakan pasar favorit saya. Selain setting tempatnya lebih nyaman dan baru, makanan yang dijual memiliki kesan lebih hip, muda, dan dinamis. Mulai dari cold-brew coffee, makanan organik dan raw cake, jagung rebus dan lemonade, hingga smoothie dengan almond dan chia seed dijual di sini. Malak Market juga merupakan tempat di mana My Sister’s Kitchen, sebuah proyek seni yang mempertemukan para pendatang baru dari berbagai negara untuk berkumpul dengan komunitas, memasak bersama, dan berbagi pengalaman untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan. Untuk menikmati sajian khas Northern Territory yang dimasak dengan sempurna, datanglah ke PeeWee’s at the Point untuk mencicipi daging buaya dan kanguru yang disajikan dalam bentuk fine dining terbaik. Sedangkan restoran lain yang menarik untuk dikunjungi antara lain The Pearl yang menyediakan paket degustation dinner, Jetty and the Fish yang merupakan food truck yang menjual fish and chips paling enak dan terjangkau di Darwin, De La Plage untuk sarapan sembari bersantai di pinggir pantai, Lazy Susan’s untuk masakan cina yang lezat, Cucina Sotto Le Stelle untuk menikmati gourmet pizza di bawah langit, dan Rorkes untuk minum-minum santai. Kultur kopi di Darwin memang belum sekuat Melbourne atau Sydney, namun di sini terdapat beberapa coffee shop yang menyenangkan untuk didatangi; antara lain Eva’s CafĂ© yang berada di dalam Botanical Garden, Four Birds yang tersembunyi di sebuah courtyard di kota, Alley Cats Pattiserie yang juga menyajikan kue-kue cantik, dan Laneway yang menyisakan secuil rasa Melbourne di kota Darwin.

Meskipun saya berangkat dengan ide yang abstrak tentang Darwin; kota ini menyisakan kenangan manis atas hari-hari indah yang dihabiskan dengan bersepeda di pinggir pantai, membaca di taman, menanti burung-burung pulang, piknik bersama teman-teman, dan bercakap-cakap di restoran yang berada di tengah alam. Bahkan sebelum kehidupan yang ‘folk’ dan ‘authentic’ menjadi trendi seperti sekarang ini, Darwin merupakan tempat di mana kehidupan dipenuhi oleh hal-hal esensial yang sederhana.

(Mira Asriningtyas)