14.5.16

VLaX: 01 | "Ini Bukan Ujian / This is Not a Test"



*****


VLaX adalah salah satu platform pendidikan seni alternatif yang digagas oleh LIRSpace. VLaX merupakan sebuah laboratorium penciptaan karya berbasis video. Beberapa anak muda yang memiliki ketertarikan pada medium video diundang terlibat dalam percakapan tentang karya seni berbasis video dan mengikuti kelas-kelas referensi. Di akhir kelas, mereka memamerkan karya masing-masing dalam sebuah pameran presentasi tugas akhir. Dalam pameran ini, enam pembuat video diberikan kebebasan melakukan eksplorasi atas video sebagai medium penciptaan karya. Mereka dituntut untuk menyadari secra penuh pilihan artistik yang mereka buat serta karakteristik video sebagai medium penyampaian pesan. Tema yang diangkat cukup bebas dan beragam untuk memaksimalkan pembelajaran masing-masing peserta. 

Meskipun demikian, secara kebetulan, sebagian besar peserta memilih isu-isu spasial yang berangkat dari persoalan ruang kota maupun letak geografis. Kikiritake memilih untuk menyoroti keberadaan ruang kosong di tengah hiruk pikuk perkotaan. Arif Budiman yang merupakan seorang pendatang dan terganggu dengan volume kendaraan yang meningkat di akhir pekan – mencoba mencari solusinya, sebaliknya, Faida Rachma memilih untuk ‘membatasi’ ruang gerak anak-anak dengan batasan imajinatif berupa cakupan ruang kamera. Dalam karya ini, ia sekaligus mempertanyakan apakah anak-anak dengan daya imajinasi luas benar-benar membutuhkan ruang yang sama luasnya untuk bermain? 

Keterlibatan anak-anak juga ada di karya Fitro Dizianto yang pada kunjungannya ke Sungai Kapuas menemukan legenda makhluk penjaga sungai. Makhluk tersebut sempat tereduksi kesakralannya ketika namanya, Puake, digunakan untuk umpatan di daerah setempat. Rasa penasarannya membuat Fitro bertanya pada anak-anak tepi Sungai Kapuas yang, asumsinya, telah mendapatkan sejarah lisan tentang makhluk ini secara turun temurun. Lucunya, anak-anak ini justru mendapatkan info tentang Puake dari Google. Gambar-gambar yang dikumpulkan dari anak-anak ini menjadi bagian dari karya video Fitro. 

Dimaz Maulana memilih menceritakan sebuah kisah nostaljik yang berangkat dari sebuah lokasi misterius di Baciro. Berangkat dari kenangan samar atas almarhum ayahnya yang belasan tahun lalu kerap mengajak Dimaz ke sebuah warung rumahan di Baciro untuk meminum es tomat; es tomat pun menjadi penanda momen milik mereka berdua, selama beberapa tahun terakhir, pencarian warung es tomat di Baciro itu menghasilkan penemuan lain: 1. Bisnis rumahan di Baciro terus berganti; 2. Meskipun dulu populer, es tomat kini tidak banyak yang tahu; 3. Bahwa kenangan yang dibagi, tidak untuk dicari (mungkin bahkan tidak pernah benar-benar hilang). Kalifadani memilih ruang yang berbeda: buku. Pengalaman buruk dengan penegak hukum yang terjadi tepat saat ia membaca buku menjadi rangkaian video yang ironis, tanpa suara, tanpa gerakan gambar, namun dengan subtitle yang terus berganti. Riuh sekaligus senyap.


( Mira Asriningtyas )