18.12.16

Instagram Study #1 - #2 - #3 (bersambung)

Instagram Study #1: Semacam Pengantar dari Seorang Pengintip

The best camera is the one that's with you - Chase Jarvis

-----

Kutipan tersebut mungkin merupakan salah satu kutipan yang banyak digunakan oleh para fotografer instagram. Tidak masalah apapun jenis kameranya; momen, cahaya, dan ketepatan waktu adalah kunci utamanya. Dorongan untuk memotret, memilih momen yang tepat, dan melihat hasilnya bisa menjadi keasyikan tersendiri. Melalui instagram, fotografi menjadi lebih demokratis dan dimiliki oleh siapapun. Semua orang memiliki peluang untuk menghasilkan foto-foto indah dan dikenal sebagai tukang potret yang handal.  

Bagaimanapun juga, perkembangan teknologi dan penemuan-penemuan terkini telah terus menerus mengubah dunia fotografi dari masa ke masa sembari memperluas jangkauannya. Perkembangan ini telah menjadikan munculnya para fotografer baru: fotografer instagram. Siapapun dia, hanya dengan berbekal kamera handphone dan mata yang tajam, bisa menghasilkan foto menakjubkan dengan bonus follower berjumlah ribuan.  Umumnya, jenis-jenis foto para fotografer instagram ini memiliki ciri khasnya masing-masing. Seakan-akan ada semacam ‘formula’ yang bisa dipecahkan dan diterapkan bagi para fotografer instagram pemula yang bermata tajam demi meraih ketenaran tersebut. Ada jenis-jenis foto yang membuat sebuah laman instagram populer, dan penggunaan tagar yang mendongkrak jumlah like, meskipun hal tersebut tentu saja bukan tujuan utama pengguna instagram bergabung pada aplikasi tersebut.

Saya kerap memperhatikan bagaimana kerap terjadi pengulangan dalam kecenderungan jenis foto yang muncul. Dalam hal ini, kita berbicara tentang estetika. Beberapa bahkan membuat saya teringat secara otomatis pada jenis-jenis fotografi ‘formal’ yang diaplikasikan pada media terkini saja. Old style, new medium. Karenanya, saya selalu dibuat penasaran dengan instagram milik para fotografer profesional dunia ketika dihadapkan dengan medium instagram yang format fotonya (dulunya) persegi dan kamera yang digunakan merupakan kamera handphone kecil. Apakah hal itu akan mengubah bagaimana mereka memotret dan memandang? Apakah kualitas foto mereka berubah dengan keterbatasan tersebut ataukah mereka tidak akan berkompromi dan memotret tetap dengan kamera ‘beneran’ dan bersikeras untuk mengunggahnya dalam format ‘resmi’ yang portrait dan landscape? Apakah mereka menawarkan kebaruan dalam foto-foto instagramnya?

Bagaimanapun juga, saya menyukai instagram sebagai sebuah jendela kecil tempat kita bebas mengintip kehidupan di berbagai belahan dunia.  Saya senang mengetahui bahwa di belahan dunia lain, ada seseorang sedang berjalan dan menemukan hal baru yang mengejutkan sementara lainnya melakukan hal yang persis seperti yang sedang kita lakukan saat ini. Saya menikmati menjadi berbeda sekaligus sama di waktu yang bersamaan. Saya menikmati perasaan ‘seakan berada di tempat yang sama’ dan melihat gang-gang sempit yang artistik di Italia sambil menyeruput kopi saya di Kaliurang, misalnya. Bagi mereka yang mencarinya, instagram menawarkan eskapisme yang ringan serta jendela mungil untuk mengintip dunia— baik yang terpisah ribuan kilometer, maupun sebatas mengetahui apa yang dimakan tetangga untuk sarapan hari itu.

Tentu saja, sebagai salah satu pengguna aktif instagram, saya pun bersalah atas instagram cliché. Ketika saya menuliskan tentang mereka yang memotret makanannya sebelum memakannya, saya pun melakukannya. Ketika saya menuliskan tentang mereka yang mencari keindahan alam demi oleh-oleh sebuah potret yang indah, saya pernah terjebak dalam ‘lubang’ yang sama. Ketika belum terbiasa dengan kamera handphone dulu, saya pun pernah membiarkan buih-buih lezat di kopi saya kempes karena menghabiskan lima menit untuk menata benda-benda di sekelilingnya secara artistik sebelum memotret dan meminumnya.

Dalam seri tulisan ini, saya tidak mencoba melakukan analisa terhadap kecenderungan perilaku pengguna instagram di dunia maya secara khusus. Saya sedang tertarik untuk memperhatikan instagram sebagai sebuah ‘photo sharing application’ yang mana sebagian besar pengamatan yang saya lakukan menitik beratkan pada pengelompokan visual dan fotografi itu sendiri. Saya juga tertarik pada bagaimana instagram mengubah berbagai aspek kehidupan pada umumnya, dan pengaruhnya secara khusus pada wilayah Jogja. 

Seri ini akan terbagi dalam enam tulisan dan akan dipublikasikan secara berkala. Seri tersebut akan dibagi sebagai berikut: 1. Semacam Pengantar dari Seorang Pengintip;  2. Para Wisatawan Kontemporer dan Hantu-Hantu Salon Foto;  3. Estetika dan Konsumsi; 4. 24/7; 5. Make vs Take; dan 6. Beyond Instagram. Di akhir seri, versi komplit tulisan ini bisa diunduh secara bebas di laman essay trulyjogja.com.


-----



Instagram Study #2: Para Wisatawan Kontemporer dan Hantu-Hantu Salon Foto

Dalam buku “Refracted Vision: Popular Photography and National Modernity in Java”, Karen Strassler menuliskan tentang kemunculan para fotografer amatir di era awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu, kata ‘amatir’ merujuk pada sekelompok elit fotografi yang memotret untuk menciptakan foto dengan estetika yang indah; alih-alih untuk keperluan ‘dokumentasi’ atau komersial semata. Mereka memotret dengan passion sehingga fotografi menjadi hobi yang mahal serta berkelas. Pada masa orde baru, pemerintah mulai menyediakan tempat untuk ‘menyalurkan’ hobi tersebut. Para fotografer amatir ini diundang untuk mengikuti perlombaan foto untuk menggambarkan kendahan alam dan keberagaman budaya Indonesia yang asli untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia. Kampanye ‘Sadar Wisata’ mulai digalakkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di berbagai daerah sekaligus memajukan daerah tersebut. Karya-karya salon foto yang mengingatkan akan lukisan Mooi Indie bermunculan, dengan suntikan sifat tradisional, eksotisme alam, dan perwujudan ‘kebahagiaan’ serta hubungan manusia dengan alam.1

Lalu, apa hubungannya dengan instagram?

Belakangan ini, di dunia instagram terdapat sebuah trend untuk berwisata ke tempat-tempat dengan alam yang serba indah. Anak-anak muda berlomba-lomba mencari pantai-pantai sepi tanpa nama, menemukan tempat berwisata baru, dan bahkan kegiatan naik gunung kini tidak lagi hanya menjadi milik para pecinta alam yang tangguh. Seorang teman memiliki sekelompok sahabat yang setiap akhir pekan beramai-ramai mencari sepetak rumput, kecil saja, asal cukup hijau untuk masuk ke format kotak instagram. Tujuannya adalah agar bisa berpiknik di tempat yang terkesan hijau. Lebih jauh lagi, saya mengenal beberapa anak kuliah yang berjuang untuk memilih lokasi KKN secara spesifik. Melakukan pengabdian masyarakat ke area-area terpencil dengan bentang alam yang serba indah kini menjadi kebanggaan tersendiri.

Tempat-tempat ‘wisata’ baru ini dicari dan ditemukan selain untuk memuaskan hasrat menjelajah, juga untuk menghasilkan foto yang indah sempurna. Terdapat kebanggaan ketika seseorang berhasil memiliki foto tersebut pertama kali, melakukan ‘tagging’ lokasi untuk pertama kalinya, dan mendatangi tempat-tempat indah tersebut “before it was cool”. Berwisata alam kemudian menjadi sebuah gaya hidup yang berkelas dan muda. Secara internasional, tagar #livefolk dan #liveauthentic, misalnya, menggambarkan sebuah gaya hidup terkini yang sederhana dan dekat dengan alam. Pada titik ini, mana kah yang lebih penting: foto diri, backgroundnya, atau foto wisata tersebut secara utuh?

Fenomena ini berlangsung di beberapa daerah secara hampir bersamaan. Tahun lalu, misalnya, teman-teman mulai rutin membagikan foto wisata serta ajakan untuk berenang ke Blue Lagoon melalui grup whatsup. Tak lama kemudian, foto-foto ala #liveauthentic mulai bermunculan di lokasi tersebut. Tentu saja, dengan adanya kebutuhan, muncul lah para penyedia kebutuhan tersebut. Blue Lagoon yang dulunya adalah tempat mandi serta sumber air masyarakat lokal, kemudian menjadi lokasi wisata baru. Masyarakat kita, tentu saja, melihat peluang usaha di sini. Dengan ditemukannya lokasi ini, para follower turut serta mengunjunginya, dan banyaknya pengunjung membutuhkan adanya peningkatan fasilitas. Usaha parkir serta warung penyedia makanan serta minuman ringan mulai bermunculan. Dalam hitungan bulan saja, pemandian lokal ini berubah menjadi sebuah tempat wisata ‘tersembunyi’ yang trendi. Geliat pariwisata lokal mulai meningkat dan sumber mata pencaharian bermunculan. Hal serupa muncul di area lain seperti “Tebing Instagram” di Bandung, Kalibiru di Kulon Progo, dan lain sebagainya.

Nah, hal ini sedikit banyak mengingatkan saya pada masa ketika fotografi amatir dan salon foto digunakan untuk menunjukkan keindahan alam  demi mendongkrak pariwisata. Bedanya, tentu saja, saat itu pembangunan pariwisata besar-besaran dilakukan oleh pemerintah. Sementara saat ini, kemunculan tempat wisata baru ini berlangsung secara sporadis dan organik.

Meskipun secara estetika akhir berbeda, foto pariwisata di masa kejayaan salon foto dan foto-foto ‘traveling’ di instagram saat ini sama-sama memiliki beberapa aspek ‘wajib’ seperti: keindahan bak kartu pos, menunjukkan sebentuk kebahagiaan dalam hubungan manusia dengan alam, serta terdapat bentang alam nan eksotis. Tentu saja, di dalam foto terkini, tidak lagi ditunjukkan adanya ibu-ibu berkebaya di tengah sawah yang luas namun lebih pada seorang gadis manis dengan dandanan natural sedang menikmati alam di sekitarnya. Wajah mereka tidak jelas terlihat, beberapa dipotret dari belakang atau dari jauh, dan menunjukkan betapa mereka sedang ‘tersesat’ serta menikmati keindahan yang asli serta serba natural di sekitarnya. Kali ini, yang penting adalah gaya hidupnya. Wanderlust atau hasrat menggebu untuk menjelajah menjadi sebuah gaya hidup dan bentuk konsumsi terbaru dan alam digambarkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka yang apa adanya.  

Kemudian, apabila kita melihat dari sisi visualnya, mulai lah bermunculan beberapa gambar yang serupa. Dengan munculnya foto-foto indah di lokasi yang masih perawan, orang-orang mulai memiliki keinginan untuk berwisata dengan referensi gambar tersebut untuk memproduksi gambar yang sama. Tempat wisata tidak lagi hanya dilihat sebagai tempat untuk menambah pengalaman personal, namun juga sebagai obyek penciptaan gambar serta untuk mewujudkan nilai-nilai yang terbentuk di benaknya. Kemudian lokasi-lokasi ini serta tagging yang dilakukan menjadi sebentuk monumen untuk menandai penjelajahannya. Foto-foto yang awalnya saya lihat sebagai semacam ‘the new salon photo’, dengan mudah diciptakan ulang menjadi foto pariwisata. Instagram cliché mulai berubah menjadi tourist cliché. Apabila kita mencari foto-foto dengan tagar Kalibiru, misalnya, ribuan foto serupa akan muncul: seseorang duduk atau berdiri di rumah pohon, entah terlihat melamun atau berpose, dan di belakangnya terlihat hamparan alam yang indah dengan Waduk Sermo di kejauhan. Hal itu, tentu saja, serupa dengan banyaknya orang yang berfoto di menara Eiffel sebagai ‘monumen’ pengingat serta penanda bahwa mereka pernah datang ke Paris.

Pada akhirnya, kemunculan tempat-tempat wisata yang baru ini menjadi berkah bagi masyarakat di sekitarnya, sekaligus menjadi potensi yang merusak. Bagaimana kesiapan masyarakat sekitar atas kemunculan tempat ini? Dengan adanya perputaran trend yang serba cepat serta pengalaman yang lebih pendek serta bersifat sementara, bagaimana keberlangsungan tempat wisata baru ini di masa mendatang? Apabila tidak ada kontrol dan tanggung jawab dari para wisatawan instagram dan pengelola, bagaimana dampak ekologisnya? Apakah trend ini diikuti dengan rasa tanggungjawab dan kesadaran untuk tidak hanya terlihat seolah-oleh dekat dengan alam namun juga menjaga keindahan alam itu? Ingat, kan, kebun bunga amarilis milik warga yang diserbu ribuan orang untuk berfoto dan rusak dalam hitungan jam?

Meskipun demikian, apabila mampu dimanfaatkan sedemikian rupa, fotografi secara umum dan instagram secara khusus bisa menjadi potensi wisata baru: wisata yang fokusnya mencari tempat yang secara fotografis indah. Keindahan alam yang menjadi kunci ini pun bisa membentuk kesadaran bersama atas peran wisatawan yang bertanggungjawab untuk menjaga keindahan dan keberlangsungan alam tersebut. Apabila wisatawan kontemporer mencari tempat dengan bentang alam yang serba menakjubkan, bukankah seharusnya pihak penyedia jasa maupun pihak wisatawannya menjaga keindahan alami tempat tersebut secara sinergis? Saatnya menggalakkan ‘Sadar Wisata yang Bertanggungjawab’, mungkin?


-----

Instagram Study #3: Estetika dan Konsumsi

“Anak-anak jaman sekarang selera makannya visual banget!”, celetuk sahabat saya saat kami sedang mencari rekomendasi tempat makan melalui instagram. Untuk beberapa saat saya terdiam memikirkan celetukan tersebut. Pertama, ungkapan ‘selera makan yang visual’ mengandung dua hal yang meskipun tidak kontradiktif namun menggunakan dua unsur penginderaan yang berbeda. Ke-dua, pengalaman saya menemani suami yang kebetulan seorang penulis kuliner untuk mencicipi lebih dari seribu tempat makan di Jogja selama tiga tahun terakhir membuat saya menyadari betapa banyaknya tempat-tempat makan baru untuk anak muda yang ramai karena kualitas visualnya yang ‘instagram-able’. Kesadaran visual tersebut kemudian memungkinkan kita melakukan kategorisasi untuk setiap restoran berdasarkan kecenderungan visualnya baik dari penataan interior maupun penyajian makanan. Semakin banyak orang yang berfoto di lokasi tersebut, semakin ramai restorannya, dan secara bersama-sama orang seakan mengamini bahwa makanan yang good-looking tersebut rasanya sama nikmatnya dengan keindahan fotonya. Tentu saja hal tersebut tidak selalu sejalan; yang paling penting adalah bagaimana visual tersebut berhasil mendongkrak jumlah kunjungan dan penjualan.

Kebiasaan untuk mendokumentasikan hal-hal yang dikonsumsi; entah dalam bentuk makanan, kunjungan ke tempat wisata tertentu, atau pakaian hari ini (#ootd = outfit of the day), secara tidak langsung membantu sebuah bisnis dalam melakukan  promosi. Bagaimana tidak? Instagram memungkinkan seseorang melihat apa yang dimiliki atau dikonsumsi oleh temannya, apabila ia kemudian terjerumus dalam perasaan iri yang konon sangat lekat dengan media sosial, ia akan dengan segera melakukan konsumsi yang dirasa ‘lebih hebat’ dari temannya. Hal tersebut, tentu saja, paling menguntungkan bagi bisnisnya. Dengan adanya lebih dari 150 juta pengguna aktif instagram, media sosial satu ini pun menjadi salah satu tempat beriklan yang baik dengan cara yang sangat subtil. Dan di antara 150 juta pengguna aktif tersebut, mudah untuk memilih foto-foto yang ekspresif dan well-crafted namun bukan hal mudah untuk menemukan maupun menghasilkan foto dengan estetika yang orisinil

Ketika saya mencoba memikirkan jenis foto dengan estetika yang ‘instagram banget’, atau yang saya sebut sebagai instagram cliché dalam dua tulisan saya sebelumnya; ada empat hal yang terpikirkan: selfie, still-life, travel photo, dan ootd. Dalam hal selfie, saya benar-benar bukan ahlinya. Saya memiliki kesulitan memahami jenis foto tersebut dan tidak memiliki kepercayaan diri cukup besar untuk membuat selfie. Saya menikmati foto diri yang diambil dengan ‘benar’ dan indah, terutama ketika sedang berwisata. Namun untuk foto yang sebagian besar frame berisi wajah, saya terlalu kritis pada diri sendiri... (bersambung)


---------------------------------------------
(disclaimer:
tulisan ini seharusnya dipublikasikan sebagai seri tulisan berkala--- yang tidak selesai. mungkin tulisan ini akan dilanjutkan hingga seri terakhir dan membentuk sebuah tulisan yang utuh, mungkin juga tidak..)