18.12.16

[Publication] The Melting Pot: Art, Coffee, and Creativity





Berada kurang lebih 13 kilometer dari pusat kota Jogja tak membuat pasangan seniman, Ayu Arista Murti (Perupa) dan Jimmi Mahardhika (Musisi/Seniman) merasa jauh dari hingar-bingar seni di Jogja.

-----

Dengan kemampuan mereka yang telah lama berkecimpung di dunia seni, pasangan ini memutuskan untuk membuka rumah mereka untuk umum dan membangun sebuah ruang bernama Wangi Artroom // Kedai Koppi Bell. Bercerita tentang ruang ini adalah bercerita tentang tiga inisiatif sekaligus yang bernaung dalam satu lokasi: Wangi Artroom, Kedai Koppi Bell, dan Kopi Xali.

Satu tempat dengan tiga nama ini mulai hadir di Jogja sejak tahun 2015 dengan konsep open-air yang serba terbuka dan menyatu dengan alam. Lokasinya di sisi utara Jogja, jauh dari pusat kota dan terselip dari jalan utama membuat tempat ini terasa nyaman, secluded, dan terhindar dari kebisingan lalu lalang kendaraan. Selain itu, lokasi ruang ini pun terbilang cukup unik karena tidak sejajar dengan jalan melainkan berada beberapa meter di bawah permukaan jalan. Hamparan taman yang lapang hijau dengan aliran sungai tepat di sampingnya memberi kesan terbuka yang menyatu dengan alam. Nuansa alami pun semakin terasa ketika sesekali terdengar suara gemericik air sungai dan adanya hewan peliharaan seperti kucing dan sepasang angsa berjalan melintasi rumput taman yang hijau. Sepasang angsa tersebut sekaligus berperan sebagai ‘satpam’ penjaga keamanan rumah tersebut. Konon katanya, angsa yang suaranya sekeras alarm ketika ada orang asing, ternyata lebih sulit disogok dengan makanan dibandingkan anjing. Hal itu terbukti menjadikan ruang serba terbuka ini lebih aman.

Wangi Artroom mendefinisikan dirinya sebagai sebuah ruang bagi seni intermedia. Keberadaan Kedai Koppi Bell menjadikan ide tersebut mungkin untuk terlaksana dengan adanya kegiatan-kegiatan yang beragam. Gagasan intermedia inilah yang membuat ruang ini memiliki beberapa acara yang bersifat multi-disipilin seperti "Sastra Dekat", sebuah acara pembacaan sastra yang terselenggara secara rutin tiap bulan; "Kombo", pertunjukan musik eksperimental yang kerap menghadirkan beberapa seniman dari dalam dan luar negeri; berbagai pameran senirupa yang terselenggara di dalam Wangi Art Room; dan juga pemutaran film yang terselenggara bersama komunitas-komunitas film di Jogja. Keragaman program yang diselenggarakan oleh ruang ini menunjukkan semangat kebebasan berekspresi yang ingin dikedepankan oleh pasangan Ayu dan Jimmi.

Keberadaan Kedai Koppi Bell sendiri pun merupakan pintu masuk bagi orang umum yang ingin menikmati kopi dan suasana santai berbonus seni. Pengunjung dapat menikmati berbagai menu kopi dan olahan masakan khas sambil menikmati suasana alam di taman maupun di area semi-terbuka di depan coffee-bar. Sedangkan Wangi Artroom yang sedikit terpisah dari Kedai Kopi Bell hadir sebagai ruang pameran seni rupa di mana seniman dapat memajang karya dan menggelar pameran. Keberadaan kedai kopi dan ruang seninya yang cukup terpisah membuat para pengunjung dapat bebas menikmati tempat yang mereka pilih tanpa harus merasa sungkan. Kehadiran kedai kopi itu pun sekaligus menjadi support system bagi ruang seni yang sifat kegiatannya lebih non-profit itu. 

Sedikit jauh ke sisi belakang area taman, tampak sebuah bangunan beton sederhana bersanding tak jauh dari rumah sekaligus studio pasangan seniman ini. Bangunan mirip warehouse mini ini adalah sebuah coffee roastery bernama Kopi Xali. Perhatian Jimmy pada kopi memang cukup tinggi. Secara khusus ia mencoba untuk menggugat standarisasi penyeduhan kopi ala Barat dan mencoba memperkenalkan tradisi kopi nusantara yang dinilai penuh strategi dan tergolong baru; baik dari pemahaman atas biji kopinya maupun cara mengolahnya. Untuknya, kopi adalah sesuatu yang personal. Selain menyajikan kopi yang diseduh dari biji kopi langka, ia pun tak segan untuk menghadirkan kopi yang diolah bersama jagung sebagai wujud kepercayaannya kepada pengalaman-pengalaman personal tiap peminum kopi. Salah satu wujud kepeduliannya pada petani kopi dan penikmat kopi adalah dengan melakukan fair trade, baik ke petani kopi maupun ke pembeli produk kopi tersebut. Sedangkan untuk kopi, jenis kopi yang terbilang cukup unik dari Kopi Xali adalah kopi robusta Java Banana yang berasal dari sebuah desa di Jawa Timur. Konon kopi ini hanya dipanen dalam jumlah 7kg saja tiap tahunnya dan mengeluarkan aroma pisang yang kuat. Tidak seperti kedai kopi serius pada umumnya, Kedai Koppi Bell tidak lantas anti robusta dan merasa bahwa setiap jenis kopi memiliki potensinya masing-masing apabila disajikan dengan tepat.

Wangi Art Room // Kedai Koppi Bell, dan Kopi Xali berhasil menghadirkan konsep keterbukaan yang utuh. Keterbukaan yang tidak hanya dimaknai secara ruang fisik namun juga sebagai konsep ruang bertemunya berbagai jenis manusia. Para penikmat kopi, penikmat seni, dan tentu saja penikmat suasana alam.

(Mira Asriningtyas)