18.12.16

[Publication] The Unusual: Wok the Rock





Jangan berharap menemukan objek seni yang biasa-biasa saja ketika menyelami karya Wok the Rock. Karyanya begitu beragam; mulai dari siaran radio, menciptakan ruang nongkrong, hingga membuat kerupuk ikan sapu-sapu!

------

Woto Wibowo, atau lebih dikenal sebagai Wok the Rock, adalah seorang seniman interdisipliner dan aktivis budaya yang menjalankan beberapa peran penting sekaligus dalam skena seni rupa di Yogyakarta. Tahun lalu, ia bekerja sebagai kurator bagi Jogja Biennale XIII. Di saat yang bersamaan, ia menjalankaan peran sebagai direktur sebuah kolektif seniman berbasis fotografi kontemporer, Mes56. Ia juga merupakan pendiri Yes No Wave, sebuah net label yang mendistribusikan karya musik secara gratis dengan prinsip gift-economy untuk memperluas jangkauan para musisi untuk menampilkan karya ke publik yang lebih luas.

Wok memulai kekaryaannya dengan pilihan medium video, foto, drawing, dan desain. Sejak tahun 2007, praktek keseniannya berubah menjadi berbasis project yang sifatnya lebih interdisipliner. Seluruh ketertarikannya atas desain, musik, dan kolektivitas disatukan menjadi praktek utama dan metode berkeseniannya sekarang. Salah satu karyanya yang paling dikenal, "Burn Your Idol", merupakan gabungan dari minatnya atas musik, desain, foto, instalasi, dan interaksi. Musik juga menjadi salah satu bagian penting dalam karya residensinya di Australia, “Golden Memories”. Karya yang diwujudkan dalam bentuk sebuah siaran radio ini menambah daftar karya-karya Wok yang tidak biasa.

Selain musik, Wok memiliki ketertarikan khusus terhadap kolektivitas dan kerja-kerja komunitas. Baginya, kolektivitas menjadikan proses berekspresi lebih menyenangkan, santai, dan lebih kuat hasilnya dibandingkan saat dibuat sendiri. Kolektivitas juga memberikan wilayah keterbukaan pemikiran dan perilaku. Terdapat nilai kebersamaan dan fusion di sana. "Seperti selera Indonesia", katanya. Sebagai direktur Mes56, visinya pun terpusat pada peningkatan kolektivitas yang ada. Ia ingin menjadikan Me56 kembali berperan sebagai melting pot, ruang bertemu, dan bereksperimen. Mes56 yang pada masa awal didirikannya dulu merupakan kelompok fotografi kontemporer pertama di Asia Tenggara, kini telah memiliki posisi yang mantap di dunia seni rupa. Maka bagi Wok, penting bagi Mes56 untuk mulai berperan sebagai ruang produksi intelektual dan laboratorium kerja yang produktif untuk saling berbagi.

Kepercayaannya atas kekuatan 'nongkrong' sebagai ruang reproduksi intelektualitas ini mendorongnya untuk membuat sebuah ruang 'nongkrong' yang dinamainya "YoYo Art Bar" dalam residensinya di Koganecho - Yokohama, Jepang. Di YoYo (Yogyakarta-Yokohama) Art Bar, Wok menciptakan kultur 'nongkrong' untuk menghubungkan seniman dengan masyarakat setempat, menciptakan ruang netral dan membukanya untuk berbagai aktivitas melalui open call. Untuk mendorong masyarakat umum ikut memanfaatkan ruang tersebut, Wok menggratiskan seluruh penggunaan tempat dan hanya meminta penggunanya untuk mengembalikannya seperti semula. Hasilnya, YoYo Art Bar menjadi sebuah ruang bebas untuk berkreasi. Mulai dari acara pemutaran film, party para arsitek, kegiatan masak memasak, hingga acara Elvis Night. Salah satu hal yang membuat cair ruangan ini adalah adanya playstation yang bisa dimainkan anak-anak tetangga dan film-film yang bisa diunduh secara bebas. Hal yang terasa sederhana bagi kita yang tumbuh di Indonesia ini rupanya dinilai cukup efektif untuk mendatangkan dan membuat masyarakat sekitar ke area seniman Koganecho terlibat dalam kegiatan-kegiatan seni di sana. Selain itu, terdapat ruang interaksi dan networking bagi para seniman residensi Koganecho lainnya yang berasal dari berbagai negara. Budaya 'nongkrong' yang produktif tersebut merupakan hal yang umum terjadi di ruang-ruang seni di Yogyakarta. Maka bentuk cultural-exchange yang dilakukan Wok di sini adalah dengan membawa sisi komunal Yogyakarta tersebut ke Yokohama.

Untuk Jakarta Biennale ke-14 tahun 2013, Wok mempertanyakan posisi kapitalisme bagi para kaum punk, ideologi anti kapitalisme dan praktek perburuhan. Berangkat dari sebuah kejadian nyata di skena punk Indonesia, Wok membuat sebuah happening art lengkap dengan dramaturginya dengan melibatkan para punkers untuk membersihkan mini market Seven Eleven sebagai tim Trash Squad. Sebuah ruang 'kantor' yang menyerupai instalasi seni dibuat di dalam ruang pamer Jakarta Biennale. Para anggota Trash Squad ini melakukan absensi tiap shift, mendapatkan gaji, dan dengan berseragam komplit menyebar ke beberapa titik Seven/Eleven. Mereka membawa bendera yang dipasang di tengah lapangan Seven/Eleven lalu berkumpul, menyanyikan yel-yel, sebelum kemudian menyapu. Dari tujuh orang yang melakukan aksi 'bersih-bersih' ini, 4 di antaranya mengenakan alat rekaman suara yang kemudian menjadi 'dialog' bagi karya teaterikal tersebut. Ketika ada yang bertanya apa yang sedang mereka lakukan, para Trash Squad memiliki dua jawaban yang telah disediakan: pertama, "Kami sedang main teater" dan ke-dua, "Kami sedang membuat acara sosial untuk membersihkan Jakarta". Jawaban tersebut mendapatkan tanggapan berbeda-beda dan menghasilkan sebentuk komposisi karya yang menarik untuk diselami.

Dalam karya “Bandar Raya Snack”, Wok berperan sebagai seorang desainer produk dan menggali potensi kuliner ikan sapu-sapu. Meskipun terdengar aneh dan sedikit menggelikan, ikan sapu-sapu sebenarnya cukup bersih, hanya makan lumut, dan rasanya pun enak. Dalam project bertema pinggir sungai Asia Tenggara yang diselenggarakan Goethe Institute Vietnam ini, Wok berkolaborasi dengan kakaknya yang ahli tata boga untuk bereksperimen memasak siomay dan bakso ikan sapu-sapu sekaligus membuat produk Kerupuk Ikan Sapu-Sapu, lengkap dengan kemasan, video, dan jingle iklannya.  Wok memang tidak tertarik membuat karya-karya yang sifatnya metafora dan memilih untuk tidak hanya merepresentasikan kehidupan namun juga memberikan pengalaman. Dalam Kerupuk Bandar Raya ini, para penikmat kerupuk ikan sapu-sapu tidak hanya mendapat informasi tentang potensi kuliner pinggir sungai namun juga sekaligus bisa merasakan langsung. Selain itu, Wok juga sering membuat karya seni apropriasi dan bereksperimen dengan hak cipta. Selain itu, Wok juga banyak menggunakan found object yang dianggapnya sebagai representasi produk kebudayaan itu sendiri.

Hal tersebut dipraktekkannya dalam penciptaan Jogja Biennale XIII.  Sebagai kurator dalam perhelatan seni rupa bergengsi ini, Wok mengumpulkan seniman-seniman yang melakukan praktek seni partisipatoris, interaktif, dan eksperimental. Ia ingin menunjukkan bahwa masih ada seniman-seniman yang membuat karya-karya semacam itu di Jogja. Meskipun karya-karya tersebut banyak yang berbasis aktifitas, namun tetap terdapat statement yang ditampilkan secara visual oleh seniman-seniman tersebut. Karya-karyanya yang ditampilkan menggunakan pendekatan kehidupan masa kini, bersifat momentum dan hanya bisa diakses saat sedang ada sebuah kejadian yang jadwalnya bisa diakses publik setiap hari. Ia mengandaikan aktivitas dalam Jogja Biennale ini sebagai Snapchat dengan gambar yang cepat hilang sehingga orang terbiasa bahwa sesuatu, karya seni pun, tidak harus ada dalam waktu yang lama. Sebagai kurator, Wok berusaha untuk memberikan pengalaman lain bagi penikmat seni dalam mengakses sebuah pameran. Sekali lagi, pameran ini menambahkan daftar karya-karya tidak biasa dalam karir kesenian Wok the Rock.

(Mira Asriningtyas)