11.6.18

"etc."



Meraba Narasi Besar Melalui Sejarah Personal

“Bagaimana seseorang memahami apa yang terjadi hari ini jika orang tersebut tak mencoba memahami apa yang terjadi di masa lalu, dan menjadikan pengalaman personal menjadi lubang untuk membaca sesuatu yang lebih besar?”

-----

Dalam praktik penciptaan karya, baik seni rupa, pertunjukan, maupun film, tema sejarah kerap dijadikan pijakan awal dari gagasan yang akan diangkat. Dalam sejarah seni rupa sendiri, praktek penciptaan karya yang berangkat dari tema-tema sejarah sebenarnya bukan hal yang baru. Tema ini bisa diangkat dalam beberapa pendekatan yang berangkat dari narasi besar, kisah-kisah yang dituturkan secara turun temurun, catatan, artefak, hingga pengalaman pribadi. 

Kami melihat ada dua kecenderungan dalam penciptaan karya seni rupa yang berangkat dari tema-tema sejarah ini; Sejarah sebagai sesuatu yang ditempelkan sebagai latar peristiwa karya, dan sejaraah sebagai  keseluruhan bagian karya yang diangkat. Kecenderungan pertama dimana sejarah ditempelkan sebagai latar peristiwa karya merupakan kecenderungan yang cukup umum muncul dalam karya-karya yang bersifat ilustratif, dan memang dengan sengaja tidak membawa konteks masa kini ke dalam karyanya. 

Kecenderungan yang berikutnya adalah penggunaan sejarah sebagai  keseluruhan bagian karya yang diangkat. Karya tersebut biasanya bersifat panjang, melalui observasi yang berkelanjutan, dan selalu meletakkan sejarah dalam konteks masa kini. Kecenderungan ini biasanya dipilih oleh seniman-seniman yang kerap bergerak melintasi batas-batas medium, dan tak jarang memposisikan dirinya di ambang batas disiplin yang lainnya. 

Pada kecenderungan kedua inilah kemudian perbincangan terkait penggunaan sejarah sebagai bagian dari penciptaan karya dapat dibicarakan secara lebih luas. Sejarah tidak lagi menjadi bidang keilmuan yang digunakan sebatas untuk mengetahui perjalanan masa lalu namun dapat dibaca ulang, yang kemudian tidak dilihat sebagai kejadian tunggal. Hal-hal di sekeliling sejarah besar sendiri terdapat sejarah-sejarah kecil yang tak dibicarakan. Terlewat dan hilang di dalam keriuhan saluran utama sejarah tersebut. Sejarah-sejarah kecil atau personal ini yang kemudian memungkinkan untuk melihat sejarah besar bukan sebagai kebenaran ataupun kejadian tunggal. 

Terkadang, sejarah personal yang awalnya tampak tak heroik dan tak penting inilah yang kemudian dilihat sebagai pintu masuk untuk membicarakan peristiwa besar. Bahkan tak jarang sejarah-sejarah personal yang kecil inilah yang sebenarnya mampu memberi konteks atau justru memberi perlawanan (seadanya) pada gegap gempita sejarah besar. Jaring-jaring sejarah yang kecil-kecil ini kemudian membangun satu jaringan besar yang mungkin menjadi tawaran lain atas sejarah yang lebih mapan. 

Dalam proses lokakarya sejarah dan penciptaan karya seni ini, kami mengundang seniman muda untuk mengikuti proses intensif dalam mengenal penciptaan karya seni berbasis sejarah melalui serangkaian lokakarya, art camp, dan mentoring yang intensif. Kami meminta mereka untuk menemukan kisah-kisah yang menarik bagi diri mereka masing-masing yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Sebagian besar dari seniman muda ini tumbuh di masa reformasi dan tidak mengingat masa orde baru selain dari narasi yang kerap mereka dengar ketika mereka tumbuh dewasa. Meskipun tidak ada arahan untuk menggali kasus-kasus yang berhubungan dengan orde baru, namun secara tidak langsung ketertarikan mereka mengarah ke masa-masa yang hanya bisa mereka raba dari sisa-sisa kisah, artefak, atau arsip sejarah dalam berbagai bentuk. Di satu sisi, ketertarikan ini mungkin karena ketika mereka mencoba membicarakan sejarah, narasi tersebut belum terlalu lama berselang dari kehidupan mereka serta orang-orang di sekitar mereka. Di sisi lain, mungkin juga mereka tanpa sadar berbagi kegelisahan yang sama atas bahaya budaya yang mudah lupa. Ketika sebuah generasi melupakan sejarah kelam masa lalunya, maka resiko perulangan pun kembali muncul. Sehingga terkadang sejarah perlu untuk terus dipelajari dan dimaknai ulang secara lebih personal sebagai bentuk gesture penolakan atas budaya lupa. 

(LIR – kurator)