14.5.16

Pengembaraan, Percakapan, dan Hal-Hal Acak Lainnya


*****

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, Sandy Yudha datang dengan membawa rencana pameran tunggal yang idenya mengalir bersamaan dengan minat yang terus berganti dari waktu ke waktu. Sebuah rancangan pameran yang sudah siap dieksekusi bisa berubah sebulan kemudian, tergantung buku apa yang sedang kami baca atau berita apa yang sedang hangat saat itu. Saya, yang biasanya menikmati keteraturan, entah bagaimana justru menyukai proses yang melompat-lompat, tidak runut, namun secara bersamaan idenya diproses secara stimultan. Meskipun tema tentang kekerasan telah menjadi benang merah karyanya beberapa tahun terakhir, ia selalu menyajikannya dengan penuh humor, detil yang cenderung asing, dan metafor yang usil. Pengamatan Sandy atas detil-detil kecil dalam kehidupan menghasilkan visual yang terwujud dari dalam pikirannya.

Tentang Ruang Publik dan Utopia yang Terus Dihancurkan Sejak dalam Pikiran
Awalnya, kami berbincang tentang ruang publik dan maknanya. Namun, alih-alih membuat karya di ruang publik, ketertarikan Sandy saat itu adalah untuk mewujudkan apa yang kerap ia bayangkan tentang ruang publik, kekerasan, fenomena sosial politik, dan pengalaman-pengalaman yang menyertainya. Ruang publik dalam pikirannya meliputi elemen bangunan, arsitektur, tata kota, jalan raya, tempat parkir, lapangan, tempat rekreasi, dan taman. Semua hal tersebut dianggap bisa menstimulasi tindakan dan sikap manusia di dalamnya. Dalam prakteknya selama ini, Sandy Yudha selalu mengimajinasikan ruang publiknya sendiri. Ia kerap membuat bangunan ramah untuk penghuni yang tidak membuat kiri-kanannya resah dengan fasilitas yang memungkinkan warganya berinteraksi secara intim. Hal itu memancing toleransi, memicu kreatifitas dengan teman, bisa menjadi tempat untuk mencari hiburan dan memberi kebebasan bersantai.

"Utopis sekali", pikir saya saat itu. Fasilitas ruang publik yang penuh stimulasi positif dan menyediakan kebebasan mutlak terasa terlalu baik, terlalu tidak mungkin diwujudkan, dan terlalu rapi bahkan dalam gambar sekalipun. Maka, tentu saja, Sandy yang berpikir secara visual dengan segera menghancurkan Utopia tersebut sejak dalam pikiran. Gambarannya atas ruang publik yang serba ideal itu segera berubah menjadi rangkaian pertanyaan.

Dalam kehidupan urban yang nyata, lengkap dengan gaya hidup  yang menjadikannya ‘kota’; ruang publik mutlak ada dan merupakan fungsi yang vital. Maka tidak jarang ruang publik direbut oleh kepentingan kapitalis yang semaunya sendiri. Belum lagi adanya masalah keamanan yang mengkhawatirkan. Tidak jarang perebutan tersebut mengakibatkan konflik. Di ruang yang tidak harmonis ini, masihkan individu punya kedaulatan? Jika ruang publik tidak tersedia atau ditiadakan, semua orang akhirnya akan mencari ruang lain yang terbuka untuk umum. Umumnya, tempat-tempat ini (mall, bioskop, club, lapangan futsal, game center, dan lain sebagainya) merupakan area perdagangan dan menjadi pusat hiburan yang aman, sejuk, dan menyenangkan bagi masyarakat. Masyarakat mendapat tempat untuk mengekspresikan dirinya dan lambat laun menganggap tempat-tempat itu adalah ruang publik. Apakah ini keadaan yang sehat jika dibiarkan terus menerus? Jika tidak, bukankah adanya ruang publik yang memadai merupakan tanggung jawab pemerintah dengan segala aturan dan kebijaksanaannya? Bagaimana dengan peran para pekerja kreatif yang terkadang terkesan abai karena kemalasan berhubungan dengan birokrasi pemerintah? Di mana posisi para kaum intelektual dalam hal ini? 

Sebagian orang mulai menyadari bahwa tindakan merebut kembali ruang publik (reclaiming the public space) merupakan sebuah gerakan sosial dalam meminta hak semua orang atas ruang bersama. Para pekerja kreatif seperti seniman visual membuat respon atas kondisi tersebut dengan membuat gambar dan tulisan yang menurutnya menarik untuk memberi warna lain di sudut-sudut kota.

Apakah aksi itu merupakan bentuk kepedulian, ataukah itu reaksi dari perayaan atas kebosanan semata? Kemudian pertanyaannya berkembang ke arah toleransi di ruang publik. Toleransi di Indonesia, baginya, sampai saat ini terkadang terasa seperti ‘berbeda tapi binasa’. Seringkali ruang publik yang dibangun pemerintah juga untuk mendisiplinkan orang, misalnya dengan pelarangan kegiatan ini itu dan ijin dari polisi / orang kampung setempat.  Arsitek memahami bahwa pekerjaannya merancang bangunan, seniman memahami dirinya sebagai pembuat karya seni: seolah mereka hanya sebatas bergerak pada penataan estetika. Di titik ini, bagi Sandy Yudha, anak muda lah yang biasanya memiliki energi dan antusiasme untuk memulai perubahan dari diri mereka sendiri. Saat ini lah Sandy mulai mempelajari tentang anak muda dan sikap-sikapnya yang terkadang dirasa aneh.

Tentang Gejolak Muda dan Antusiasmenya
Apa yang disebut Sandy sebagai 'keanehan' anak muda tersebut dirasa sebagai bagian dari hasil pembentukan budaya yang sama anehnya dan terkadang membuat mereka (anak muda) terisolasi. Saat itu, Sandy merujuk pada delapan tahap perkembangan psikososial Erikson dan memilih dua tahap sebagai pokok pembahasannya: pertama, tahap usia remaja hingga 19 tahun yang disebutnya sebagai masa identitas vs kebingungan; ke-dua, tahap usia 19 hingga 40 tahun yang disebut sebagai masa intim vs isolasi. Sandy ingin membicarakan sebuah generasi sambil sekaligus menyentuh aspek budaya, politik, ekonomi, teknologi, dan sejarah yang bersentuhan dengannya.

Di salah satu percakapan kami, Sandy merujuk pada suatu masa di akhir perang dunia kedua ketika Jepang berada di ambang kekalahan. Petinggi angkatan laut Jepang yang kalang kabut membuat sebuah rencana instan: sebuah senjata pamungkas berupa bom terpedo hidup yang bernama Kaiten, diarahkan untuk menabrak dan menghancurkan kapal sekutu. Bom ini bisa dikendalikan oleh tentara yang siap bunuh diri di dalamnya, mirip dengan pesawat kamikaze. Walaupun secara teori senjata ini terkesan mengerikan, proyek ini berakhir tragis karena terbukti tidak efektif. Ternyata sebelum terpedo hidup ini mendekat, kapal sekutu sudah mengetahui lewat sensor canggih, sehingga Kaiten bisa ‘dihentikan’ di tengah jalan. Yang menarik bagi Sandy adalah umur rata-rata tentara Jepang yang diterjunkan untuk menguasai Asia Pasifik ini. Tentara muda tersebut rata-rata berumur sekitar 17 tahun. Oleh karena itu, ketika mereka masuk di tanah Jawa, mereka sering disebut sebagai 'prajurit kate', karena terlihat kecil seperti ayam kate. Anak muda ini direkrut oleh militer yang 'mencuci otak' mereka, mempengaruhi dengan pandangan-pandangan heroik dan iming-iming surga. Harga diri dan keluhuran membuat mereka berani mati dan dengan suka-rela melakukan bunuh diri.

"Bukankah hal itu tidak beda jauh dengan saat ini?", tanya Sandy. Pelaku kekerasan yang disebut teroris tak jarang merekrut anak-anak muda. Konon mereka direkrut melalui media sosial, sehingga cakupannya pun melintasi batas teritori. Pelaku bom bunuh diri Paris, penembakan di California, dan lain-lain rata-rata berumur 30an. Di sekitar kita; geng motor, konvoi ormas, supporter bola, dan tawuran pun umumnya terdiri dari sekumpulan anak muda yang masih sangat mudah untuk diajak melakukan perusakan dan kekerasan entah dengan motif ideologi agama, kekuasaan, solidaritas, balas dendam, reputasi, atau sekedar ikut-ikutan dalam keseragaman rasa. Generasi muda yang berada di tahap menuju kematangan dan mencari identitas diri untuk menjadi seseorang yang unik ini rentan terlibat aksi. Kembali merujuk pada delapan tahap perkembangan psikososial Erikson, masa ke-dua saat anak muda berada di masa identitas vs kebingungan ini merupakan masa rentan dalam proses perkembangan manusia. Jika tidak berhasil membangun hubungan personal dengan orang lain, maka ia akan terisolasi dan dapat pula tersisih dari lingkungannya.

Sisi lain tentang ‘menjadi unik’ juga sering dipahami sebagai usaha menjadi anti-mainstream. Hal ini indentik dengan kebebasan, kreatifitas tanpa batas, keliaran, anti kemapanan, dan bahkan jika mereka terlihat aneh. Mereka (mungkin juga kita) dikuasai pencitraan konsumtif karena media. Media massa membuat penyeragaman rasa atau selera yang menjadi konsumsi fisik maupun wacana. Identitas menjadi keharusan yang harus dimiliki anak muda. Apa yang dilakukan untuk membentuk diri mereka dan menikmati hidup? Apa yang sedang mereka cari? Apa yang ingin didapatkan? Bagaimana mereka memperjuangkannya?

Dalam 'riset' yang dilakukannya, Sandy mempelajari tiga teori yang bersingungan dengan anak muda:
1. Teori Erikson yang membagi manusia berdasarkan umur dan krisis psikososial.
2. Teori generasi berdasarkan tahun kelahiran, menyangkut teknologi dan trend.
3. Tembang Jawa yang membagi manusia dari sifat, kebiasaan, watak dan tantangan hidup

Dalam prosesnya, ia merasakan anehnya teori-teori ini ketika serta merta diterapkan di lapangan. Maka ia menggunakan caranya sendiri untuk membandingkan dan menggunakan dirinya sebagai contoh kasus. Misalnya, jika Sandy sendiri ditelaah dengan ketiga teori tersebut, maka ia masuk ke fase dewasa awal  berdasarkan teori Erikson, merupakan bagian dari generasi Y ketika disangkutkan dengan teknologi, dan sekaligus berada dalam masa dirundung asmara sebagaimana dalam tembang Asmarandana. Ia merasakan kekacauan teori yang dipilihnya ketika ia melakukan refleksi atas dirinya yang ada di fase Dewasa Awal, namun juga sering mengalami stagnasi dan kekacauan identitas seperti sifat para Dewasa Pertengahan dan Remaja AKhir. Ia adalah bagian Generasi Y, namun ia dibentuk oleh subkultur punk dan terbiasa melakukan multitasking; sementara dua kualitas tersebut merupakan ciri Generasi X dan Generasi Z.

Maka percakapan kami yang ngalor-ngidul tentang tiga teori tersebut kemudian dihentikan. Penelitian semacam itu dirasa kurang tepat baginya. Ia menginginkan sebuah penelitian yang lebih imajinatif, tidak linier, dan dilakukan melalui pergaulan yang menggembirakan serta eksploratif. Begitulah saya menemukan pola 'riset' yang dilakukan Sandy: membaca, menelaah, mempelajari peraturannya, kemudian melabraknya. "Knowing the rule in order to break them", semacam itulah.
Ia pun melakukan observasi dan riset singkat atas gambaran kehidupan anak muda serta berbagai perilakunya: anak muda yang mudah marah, anak muda yang memandang dunia dengan hitam putih, anak muda yang senang petualangan, anak muda yang penuh energi, anak muda yang lari ke hal menyimpang, anak muda yang digempur puluhan informasi, anak muda yang tidak tahu apa yang harus dilakukan di era reformasi ini, anak muda yang menelan budaya pop,anak muda yang mempunyai humor khas, anak muda yang optimis dan berjuang, anak muda yang pesimis karena hambatan bagitu banyak, anak muda yang menemukan moral dan perilakunya sendiri, anak muda yang punya banyak mimpi, anak muda yang omongannya tidak didengarkan, anak muda yang nekat, gegabah dan sporadis. Seluruhnya akan terangkum dalam sebuah pameran yang menyajikan gambaran sebuah dunia yang surreal, sedikit aneh, dinamis, dan dipenuhi detil yang asing namun sekaligus dekat dengan keseharian kita. Begitulah awal mula kemunculan roket dalam hasil akhir pameran ini.

Berbulan-bulan setelah percakapan awal kami untuk persiapan pameran yang lokasinya terus menerus berubah, penuh ketidakpastian, dan persis dengan perkembangan ide pameran ini; kami sampai pada percakapan tentang Sukarno dan jargon yang sering kita dengar: "Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Begitu yakinnya Sukarno pada para pemuda, namun pemuda seperti apa yang dimaksud Sukarno saat itu? Pemuda yang berdikari? Pemuda yang anti neo-kolonialisme dan anti imperialisme? Pertanyaan tersebut sempat membuat Sandy ingin membuat membuat sebuah komik yang isinya imajinasi jika Sukarno berumur panjang dan masih menjadi Presiden hingga saat ini. Ketika beliau hidup hingga lebih dari 100 tahun, kira-kira negara ini akan menjadi seperti apa? Suatu ketika, bahkan Soeharto pun pernah menjadi seorang pemimpin muda yang menjanjikan masa depan penuh harapan. Seiring berjalannya waktu, ia pun berubah menjadi pemimpin tua yang lalim. Apabila Sukarno masih menjadi presiden hingga seratus tahun lamanya, akankah ia menjaga idealismenya dan dicintai rakyatnya, ataukah ia akan menjadi tua, lalim, dan dibenci juga? Komik tentang Sukarno tidak jadi dibuat, namun ide tentang membuat komik terus dipertahankan.

Tentang Kekerasan, Peradaban Baru, dan Sejarah yang Berulang
Dimulai dengan pembicaraan tentang kaitan antara sejarah, negara, dan anak muda; Sandy pun membayangkan sekelompok anak muda yang dikumpulkan dalam satu roket untuk pergi ke sebuah tempat baru. Karya ini merujuk pada kecenderungan anak muda yang ingin membuat nilai-nilai baru. Selayaknya spaceship yang mencari sebuah planet baru; roket ini masih sedikit labil, terkadang bingung. Namun Sandy melihat pencarian identitas ini sebagai bentuk keberanian anak muda. Ia tidak sedang menyuarakan sebuah kaum tertentu, namun membuat karya yang universal, bebas nilai, dan mudah dikaitkan. Baginya, krisis identitas dan kegagapan anak muda atas sejarah masa lalu sebuah negara bisa jadi timbul atas adanya informasi yang dipelintir sehingga membuat memori kolektif menjadi sebuah jejak acak yang membingungkan. Anak muda dalam kisah Sandy merasa gamang dengan agama yang ada sekarang, karena justru agama dijadikan alat untuk saling memecah-belah. Mereka heran dengan sistem negara yang katanya demokratis tapi penguasanya tidak pernah melibatkan rakyat, kecuali dalam hal tagihan pajak. Mereka ingin belajar melawan, namun pendidikan mereka diatur untuk meredam hal itu. Mereka mengkritik kapitalisme, namun justru kapitalisme mengolah kritik mereka dan menyajikannya kembali.

Sandy banyak memakai metafor roket yang baginya menyuarakan hal-hal alternatif yang mungkin utopis, namun baginya terasa elegan. Roket juga membicarakan pengalaman, keberanian, keaktifan dan semangat baru: pengembaraan ke berbagai teritori yang penuh dengan berbagai kemungkinan yang tidak terduga! Identitas mereka tidak lagi berpegang pada masa lalu atau nilai-nilai yang ada. Tidak ada lagi barat atau timur; yang ada adalah Bumi dan non-Bumi.

Anak muda ini merasa ikatan kewarganegaraan bangsa semakin melemah. Sebagian dari mereka merupakan orang-orang yang tidak patuh pada negara. Mereka ingin membentuk suatu peradaban yang lebih berarti, tidak tercemar, intelektual, penuh kedamaian. Mereka pergi meninggalkan planet ini dengan roket. Menjelajah alam misteri demi menemukan planet baru. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, sampailah mereka ke sebuah tempat. Mereka tercerai-berai karena kondisi alam yang ganas. Prioritas utama saat ini adalah, bagaimana agar bisa bertahan hidup. Seiring berjalannya waktu, tiap kelompok membuat pemukiman yang semakin lama semakin besar dan semrawut. Agar semua bekerja dengan baik, maka dibuatlah peraturan-peraturan. Namun budaya yang diatur sedemikian rupa, justru malah tidak bisa diatur. Para intelektual menciptakan peraturan tandingan. Terjadilah aksi-aksi kekerasan yang sama seperti di planet lama mereka: sejarah yang terulang kembali.

Lebih dari setahun setelah obrolan pertama kami, potongan-potongan pemikiran yang terakumulasi sepanjang obrolan kami mewujud sebagai sebuah gambaran pameran yang utuh. Perbincangan tentang ruang publik menjadi sebuah lanskap daerah tak-bernama, sebuah masyarakat utopia yang nyaris sempurna, egaliter, dan tentu saja fiktif. Anak muda yang ditelitinya menjadi para penjelajah luar angkasa yang mencari kebebasannya, membentuk wilayah sesuai idealismenya, melupakan sejarah dan mengulanginya. Lagi-lagi, Sandy menciptakan Utopia-nya untuk kemudian menghancurkannya.

Komik, dipilih menjadi media yang paling pas untuk menggambarkannya. Maka bila pengunjung memasuki ruang pamer dan merasa sedang melihat pameran lukisan, sesungguhnya pengunjung sedang memasuki sebuah dunia komik yang diperbesar. Setiap sisi tembok merupakan satu halaman komik yang diperbesar, setiap kanvas merupakan satu panel komik, dan seluruh rangkaian pameran merupakan satu cerita yang utuh. Rangkumannya terdapat pada sebuah video yang disajikan bersama instalasi roket serta benda-benda pendukung cerita tersebut. Video merupakan kisah utuh komik, gambar dan instalasi merupakan perbesaran citraan tersebut.

Ini bukan pertama kalinya kami bekerja sama. Kami pernah membuat sebuah komik bersama dengan metode yang mirip dengan proses yang kami lakukan dalam membuat pameran ini: pertemuan rutin dan percakapan-percakapan tentang hal-hal acak. Tulisan ini adalah rangkuman percakapan acak kami selama setahun terakhir. Saya merasa perlu menuliskannya karena di akhir percakapan, hal-hal yang awalnya acak tersebut rupanya membentuk sebuah gambaran yang utuh dan saling berkaitan. Akhirnya saya tahu di sisi mana saya sangat menikmati proses bekerja bersama Sandy: saya menikmati keteraturan, Sandy menyajikan gambaran yang acak-- saya senang bermain-main dan menata gambaran acak ini untuk menjadi sebuah rangkaian jigsaw puzzle yang utuh. Maka tulisan ini dibuat, sesungguhnya, sebagai refleksi pengembaraan panjang yang kami lewati dan pengantar (tidak terlalu) singkat atas pameran ini dan buku yang akan dirangkai setelah pameran selesai. Selamat menikmati!



(Mira Asriningtyas)