On a Lighter Note


“Out beyond the idea of wrongdoing and rightdoing there is a field. I'll meet you there. When the soul lies down in that grass the world is too full to talk about.” 
– Jalaluddin Rumi

When the new governor of Jakarta use the term ‘pribumi’ (native Indonesian) in his first formal speech, what concern us was not how the term was used but how this dog-whistle politic he was using might actually resonate to a certain targeted subgroup, triggering the risk of unwanted segregation. The politic of identity has seemingly reoccurring recently, utilizing religion among others as a tool to climb the political power structure. What is really meant by the division between pribumi and non-pribumi is the sense of belonging and the right of being. In 1998, this term is more than just about who is the rightful owner of the land. The term itself can determine someone’s life and safety. At that time, writing the term ‘pribumi’ in front of one’s house is heavily sub-texted with a plea against violence for oneself, but at the same time permitting violence against the non-pribumi neighbor instead. From that one term alone, the state of where we are heading is worrying. This political play of identity can triggers fanatic behaviors. One of the manifestations of it is how people get easily mobilized by using identity jargons as fuels to slowly inducing segregation and triggering violence to those who hold different identity. But, before we reach that point, the value of unity and tolerance is slowly being put at risk. The philosopher Karl R.Popper believes in a paradox that defending tolerance requires to not tolerating the intolerant. He believes that giving an open stage to the intolerance can put tolerance in danger. This idea, of course, is not without risk and problems.

At this point, it is inevitable to ask ourselves, what art can do? In a moment of the year where hundreds of artists are showing their works to general public at the same time, what urgency and relevance are they bringing up? At an age of political turmoil, is doing political gesture and deciding on appropriate response enough? And at the point where doing political gesture in art is not enough anymore, can art be a political tool: a way to amplify the issue. On a lighter note, art can also be reflective and a way to touch upon the idea, to at least talk about it and triggers the conversation. 

On a Lighter Note: the Works
As you enter the space, two young ladies will greet you and offers a chance to create fake ID card for the Sambung Hambar Repooblik; raising a question on the necessity of religion section in the Indonesian identity card and word uptakes in Indonesian language. For them, word uptakes that are inborn from other languages is showing the mobility of people, and once again questioning the meaning of being a native. Playfully, the will also be presenting a quiz of obedience which is less visible than stating one’s religion on paper, yet, (hopefully) can show a more direct relationship to God. 

Rudy ‘Atjeh’ is interested in investigating how religion is playing an important part in the political and social aspect of the people. When religion is used as a vehicle to achieve political goals, the major religion has full power to decide what is right and what is wrong; a judgmental point of view that put aside the tolerance and diversity. Atjeh is concern about how the political play in a nation is not about the fight between different religious group, but more about reaching common goals for the good of the people. His first work, presented side by side with Sambung Hambar’s piece that question on the word uptakes in Indonesian language; Rudy “Atjeh” choses to trace the dissemination of culture and religion through trade that later result in language crossing. He is interested in how people from the past would communicate without any intermediary language as it is today. He then questions the relationship between the Champa kingdoms in Vietnam with Jeumpa in Aceh which both has uncanny similarities of pronunciation of the kingdom names. According to the story, the royal prince of Champa fled after defeated by King Khuci's attack. The royal children fled everywhere they can. One of them, known as Shah Po Liang, escaped to Aceh and became the first king in Aceh, known as the Lamri kingdom or Lamuri in Indrapuri. At that time he still embraced Hinduism. He then has a son named Ali Mughayat Shah and later became the Sultan who embraced Islam and became the king of the Jeumpa kingdom.

Previously, trade between nations is one of the major factors in the dissemination of cultures and religions. Trade is followed by migration of small groups who later build their lives in the new land. With hundred years of migrations and cultural disseminations, who are entitled to be called the native Indonesian anyway? 

Walking further inside, the works invite you to descend into a space between thoughts. Lintang Raditya choses to talk about the fluctuation of human attitude in relation to the change of Schumann Resonance (SR) that is manifested in an invisible force of electromagnetic field in which the fluctuated vibration disturb the balance of life’s tuning fork, causing human anxiety worldwide. As a complex system comprised of what visible and what invisible, the earth is surrounded by electromagnetic field that goes along the ionosphere. In the space between the surface of the earth and the ionosphere, resonance occurs. What is called the Schumann Resonance (SR) vibrates within 7,83 beats per second and basic frequency of 7,83 Hertz (Hz). This particular frequency has direct effect to human physically and psychologically. Thus, this frequency is often referred as the life’s tuning fork. In mid-2014, the SR changed and fluctuates years after years. Human responded to this through global fatigue, insomnia, anxiety, and rising aggressiveness. This data is later annulled by the NASA, yet, the artists believed that there are certain degree of changes and rise on anxiety level globally overtime which he respond through an installation that react upon the sound “om” and “hong”; both are sacred chanting that has been associated with cosmic sound and invisible relationship to the higher being. 

And on the other side of the ‘stage’ is Rudy “Atjeh” portrayal of the Sufi whirling dance that was created by Jalaluddin Rumi as a continuous circling motion toward perfection as a meditative connection between human and the God. This brings us back to the quote by Jalaluddin Rumi at the beginning of this text, transporting us to the idea of a field beyond rightdoing and wrongdoing. Maybe, it is the place belongs to everybody where nobody questions one’s right to be.



Ketika gubernur baru Jakarta menggunakan istilah 'pribumi' dalam pidato resminya yang pertama, apa yang menjadi perhatian kita bukan saja bagaimana istilah itu digunakan tapi bagaimana dog-whistle politic yang digunakan mungkin mampu terhubung dengan sasaran kelompok tertentu, memicu risiko segregasi yang tidak diinginkan. Politik identitas tampaknya baru-baru ini kembali dimunculkan, antara lain dengan memanfaatkan agama sebagai alat dalam menapaki struktur kekuasaan politik. Pemisahan antara pribumi dan non-pribumi adalah perkara perasaan memiliki dan hak untuk ada. Pada tahun 1998, istilah ini bermakna lebih dari sekadar tentang siapa pemilik sebuah negara. Istilah itu sendiri bisa menentukan kehidupan dan keamanan seseorang. Pada saat itu, menuliskan kata 'pribumi' di depan rumah  berarti  memohon supaya kekerasan tidak dilakukan padanya, namun pada saat bersamaan mengizinkan kekerasan dilakukan terhadap tetangga yang non-pribumi. Dari satu istilah itu saja, keadaan yang saat ini kita tuju mulai mengkhawatirkan.  Permainan politik identitas dapat memicu perilaku fanatik. Salah satu manifestasinya adalah bagaimana orang mudah dimobilisasi dengan menggunakan jargon identitas sebagai bahan bakar untuk secara perlahan mendorong segregasi dan memicu kekerasan kepada orang-orang yang memiliki identitas berbeda. Tapi, sebelum mencapai titik itu, nilai persatuan dan toleransi perlahan terancam. Filsuf Karl R.Popper percaya pada paradoks bahwa dalam membela toleransi, perlu untuk tidak menoleransi orang yang tidak toleran. Dia percaya bahwa memberikan panggung terbuka pada intoleransi dapat menempatkan toleransi dalam bahaya. Gagasan ini, tentu saja, bukan tanpa risiko dan masalah.

Pada titik ini, tak dapat dihindari untuk bertanya pada diri kita sendiri, apa yang bisa dilakukan oleh seni? Pada saat di mana ratusan seniman memamerkan karya mereka kepada masyarakat umum di saat bersamaan, apa urgensi dan relevansi yang mereka kemukakan? Pada saat terjadi kekacauan politik, apakah melakukan gestur politik dan memutuskan respons yang tepat saja dinilai cukup? Dan pada titik di mana melakukan gestur politik dalam seni tidak cukup lagi, dapatkah seni menjadi alat politik: sebuah cara untuk mengamplifikasi isu ini. Pada catatan yang lebih ringan, seni bisa juga menjadi semata-mata reflektif dan sekedar menyentuh gagasan tersebut, setidaknya untuk membuka percakapan.

On a Lighter Note: Karya-Karya
Saat Anda memasuki ruangan, dua wanita muda akan menyambut Anda dan menawarkan kesempatan untuk menciptakan kartu identitas palsu untuk Sambung Hambar Repooblik; mempertanyakan tentang perlunya bagian agama dalam kartu identitas Indonesia dan adanya kata serapan dalam bahasa Indonesia. Bagi mereka, kata serapan yang lahir dari bahasa lain menunjukkan mobilitas manusia, dan sekali lagi mempertanyakan arti menjadi penduduk asli dan pendatang. Dengan sedikit bermain-main, mereka juga akan menyajikan kuis ketaatan yang secara tidak secara gambkang menyatakan agama seseorang di atas kertas, namun, (semoga) bisa menunjukkan hubungan yang lebih langsung kepada Tuhan.
Rudy 'Atjeh' tertarik untuk menyelidiki bagaimana agama memainkan peran penting dalam aspek politik dan sosial masyarakat. Bila agama digunakan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan politik, agama mayoritas memiliki kekuatan penuh untuk memutuskan apa yang benar dan apa yang salah; dengan sudut pandang yang cenderung menghakimi yang mengesampingkan toleransi dan keragaman. Atjeh memiliki kekhawatiran tentang bagaimana permainan politik di sebuah negara bukan seharusnya tentang pertarungan antara kelompok agama yang berbeda, namun lebih pada mencapai tujuan bersama demi kebaikan rakyat. Karya pertamanya, dipresentasikan berdampingan dengan karya Sambung Hambar yang sama-sama mempertanyakan tentang adanya kata serapan dalam bahasa Indonesia; Rudy "Atjeh" mencari tahu tentang persebaran budaya dan agama melalui perdagangan yang kemudian menghasilkan persimpangan bahasa. Dia tertarik pada bagaimana orang-orang dari masa lalu berkomunikasi tanpa bahasa perantara (dalam hal ini bahasa Inggris) seperti sekarang ini. Dia kemudian mempertanyakan hubungan antara kerajaan Champa di Vietnam dengan Jeumpa di Aceh yang keduanya memiliki kemiripan yang luar biasa dari pengucapan nama kerajaan. Menurut cerita, pangeran kerajaan Champa melarikan diri setelah dikalahkan oleh serangan Raja Khuci. Anak-anak kerajaan melarikan diri ke mana pun mereka bisa. Salah satu dari mereka, yang dikenal sebagai Shah Po Liang, melarikan diri ke Aceh dan menjadi raja pertama di Aceh, yang dikenal sebagai kerajaan Lamri atau Lamuri di Indrapuri. Saat itu ia masih memeluk Hinduisme. Dia kemudian memiliki seorang putra bernama Ali Mughayat Shah dan kemudian menjadi Sultan yang memeluk Islam dan menjadi raja kerajaan Jeumpa.

Di masa lalu, perdagangan antar bangsa merupakan salah satu faktor utama dalam persebaran budaya dan agama. Perdagangan diikuti oleh migrasi kelompok kecil yang kemudian membangun kehidupan mereka di tanah baru. Dengan ratusan tahun sejarah migrasi dan persebaran budaya, siapa yang kemudian berhak disebut orang asli Indonesia?

Berjalan jauh di dalam ruang galeri, karya-karyanya mengundang Anda untuk memasuki sebuah tempat di antara pemikiran-pemikiran. Lintang Raditya mencoba berbicara tentang perubahan sikap manusia dalam kaitannya dengan perubahan Resonansi Schumann (SR) yang diwujudkan dalam gaya medan elektromagnetik yang tak terlihat dimana getaran suara berfluktuasi dan mengganggu keseimbangan garpu tala kehidupan, yang menyebabkan kecemasan manusia di seluruh dunia. Sebagai sistem kompleks yang terdiri dari apa yang terlihat dan yang tak terlihat, bumi dikelilingi oleh medan elektromagnetik yang mengelilingi ionosfer. Di ruang antara permukaan bumi dan ionosfer, terjadi resonansi. Apa yang disebut Resonansi Schumann (SR) bergetar dalam 7,83 denyut per detik dan frekuensi dasar 7,83 Hertz (Hz). Frekuensi khusus ini berpengaruh langsung terhadap manusia secara fisik dan psikologis. Dengan demikian, frekuensi ini sering disebut garpu tala kehidupan. Pada pertengahan 2014, SR berubah dan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Manusia menanggapi hal ini melalui kelelahan global, insomnia, kegelisahan, dan meningkatnya agresivitas. Data ini kemudian disangkal oleh NASA, namun, seniman ini percaya bahwa ada tingkat perubahan tertentu dan peningkatan pada tingkat kegelisahan di tingkat global yang dia tanggapi melalui instalasi yang bereaksi terhadap suara "om" dan "hong"; Keduanya adalah mantra suci yang  dikaitkan dengan suara kosmik dan hubungan tak terlihat dengan kuasa yang lebih tinggi. DI sisi lain 'panggung' terdapat penggambaran Rudy "Atjeh" tentang tarian berputar sufi yang diciptakan oleh Jalaluddin Rumi sebagai gerakan berputar terus menerus menuju kesempurnaan sebagai hubungan meditasi antara manusia dan Tuhan. Ini membawa kita kembali ke kutipan oleh Jalaluddin Rumi di awal teks ini dan menimbulkan pertanyaan apakah bidang yang melampaui gagasan atas yang benar dan yang salah itu ada? Mungkin, ini adalah tempat di mana toleransi dalam perbedaan masih tumbuh subur dan tidak ada seorangpun yang mempertanyakan hak seseorang untuk ada.

(Mira Asriningtyas)