18.12.16

Sebuah Jalan Berputar: dari AADC hingga Freeport



Saya memilih untuk menuliskan ArtJog melalui jalan yang berputar dan membicarakan tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Ada saat ketika meta-event atau hal-hal yang terjadi di sekeliling sebuah acara besar berkembang menjadi lebih menarik dibandingkan acara itu sendiri. Begini saya melihatnya: ArtJog adalah sebuah inti pusaran. Sekali dalam setahun, pusaran tersebut menjadi aktif dan segala sesuatu yang berada di sekelilingnya secara bersamaan bergerak membentuk sebuah dinamika kebudayaan kota. Menariknya, meskipun ArtJog adalah sebuah bursa jual beli, namun ketika pembahasan ini dibuat tentang hal-hal di sekelilingnya, sulit untuk melihatnya sebagai perhelatan yang mutlak berorientasi pasar. ArtJog adalah sebuah kisah perjuangan yang merupakan bagian dari semangat zaman. 

Jumlah pengunjung yang fantastis, atensi publik seni dari dalam dan luar negeri, keberaniannya untuk memotong rantai distribusi dalam pasar seni rupa dengan meniadakan galeri sebagai perantara, serta adanya peluang yang sama bagi seniman muda dan senior untuk mengikuti acara tersebut membentuk ciri utama ArtJog. Tercatat setiap tahunnya terdapat puluhan hingga ratusan acara seni yang berlangsung pada bulan yang sama dengan penyelenggaraan ArtJog. Jumlah seniman yang terlibat dalam kurun waktu 9 tahun penyelenggaraan ArtJog mencapai kurang lebih 1350 seniman dengan jumlah pengunjung mencapai hingga 100 ribu orang tiap tahunnya. Sampai tahun ini saja, terdapat lebih dari 1 juta pengunjung yang datang dan mengalami kesenian melalui acara ini.[1] Seperti layaknya kota Jogja, ArtJog tumbuh secara organik dan viral; bersifat kolektif, namun memiliki independensi yang kuat.  

-----

1/ Penonton

“The most pressing question concerning the relationship between audience and public today is therefore not so much how to increase the amount of audience, but rather how a meaningful form of art appreciation in which experience and debate are both present can be made accessible for an appropriate audience and how a broader community could benefit from the experience of this selected group”[2]

Keberadaan para penonton terkadang menjadi ketegangan tersendiri di dunia seni rupa. Publik seni rupa menginginkan adanya audiens baru dan keberadaannya cukup krusial dalam praktek produksi kebudayaan, namun tidak jarang juga kehadirannya dianggap mengganggu. Hal ini terjadi ketika karya seni dianggap sebagai produk statis yang berfungsi sebatas sebagai latar belakang foto diri. Saat itu peran seni untuk publik dimaknai dengan dangkal. Namun pengalaman pengunjung dalam menikmati seni dengan cara berbeda ini bisa jadi merupakan tahapan awal yang mungkin akan memancing ketertarikan mereka pada seni yang lebih luas. Terkadang untuk audiens baru, menikmati seni yang tidak rumit dan tidak berjarak menjadikan seni itu sendiri lebih akrab dan tidak mengintimidasi.  Keberadaan para pengunjung memperlihatkan pintu gerbang sesungguhnya untuk mengintip ke dalam skena seni rupa. Sebagaimana sifat konsumen di masa post-modern, otentisitas dan pengalaman nyata dalam bersentuhan dengan dunia seni merupakan nilai yang mereka cari. Keterbukaan terhadap audiens ini menjadikan seni tidak lagi asik sendiri dan berhasil berhubungan langsung dengan masyarakatnya.  Seni menjadi wahana yang mengasyikkan dan dimiliki oleh masyarakat sebagai bagian dari budaya populer. 

Persinggungan antara seni kontemporer dan budaya populer baru-baru ini dapat dilihat dari film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang mewakili semangat jaman anak muda masa kini: selera yang baik, keinginan untuk mengalami hal-hal yang niche, dan cenderung artsy. Ketika film AADC 2 menggandeng nama-nama besar dalam seni rupa kontemporer dan sekilas menghadirkan karya-karya seni dalam filmnya; kesadaran atas keberadaan seni rupa kontemporer dan para pelakunya menyebar ke audiens yang lebih luas. Dalam penjelasannya tentang pengaruh film, Jowett & Linton menyebutkan bahwa film memiliki kemampuan untuk menjadi kreator bagi ide dan sikap, terutama ketika penonton berjarak dengan isu yang diangkat.[3] Di dalam film AADC 2, karakter utamanya digambarkan sebagai pecinta seni dan budaya sedangkan sahabat-sahabatnya dengan jujur menyatakan ketidaktahuannya atas nama seniman seperti Eko Nugroho maupun makna karya instalasi. Kebingungan tersebut menunjukkan jarak antara seni rupa dengan masyarakat yang lebih luas. Sedangkan hal-hal kecil seperti pengalaman mendatangi pembukaan pameran, nongkrong di galeri seni, dan penggunaan jargon seni rupa dalam film ini memberikan pengalaman kolektif para penonton yang narasinya membuat beberapa orang dengan mudah mengidentifikasi dirinya dengan karakter dalam film. Secara tidak langsung, para penonton AADC 2 terdorong untuk ‘meniru’ kedekatan karakter film dengan dunia seni dan tidak merasa terintimidasi atas ketidaktahuan mereka. 

Kolaborasi antara seni dan budaya populer dalam film ini semakin nyata hadir dengan kedatangan para pemain, sutradara, dan produser film AADC 2 ke lokasi ArtJog. Jarak antara yang kehidupan nyata dan film semakin samar tidak hanya karena para pelaku seni yang dihadirkan di film tersebut adalah pelaku nyata dunia seni kontemporer; namun juga karena dua pemeran utama dalam film AADC 2 (Dian Satro dan Nicholas Saputra) memang memiliki kedekatan dengan dunia seni kontemporer dalam kehidupan nyatanya. Dalam media sosial masing-masing, mereka secara tidak langsung menjadi ‘juru promosi’ bagi ArtJog dengan menunjukkan kehadiran mereka dalam acara tersebut maupun kecintaan mereka terhadap seniman dan karya yang ditampilkan. Tahun ini, bagi saya, citraan tentang ArtJog yang terus teringat adalah ketika Dian Satro mendeklarasikan kecintaannya terhadap karya Eko Nugroho saat dia bahkan masih berada di pesawat menuju Jogja untuk mengunjungi ArtJog dan bagaimana dia turut serta secara aktif dalam seni performatif yang dilakukan Uji ‘Hahan’ Handoko. Saat itu realita film AADC 2 melebur dengan dunia nyata. Kolaborasi tersebut seperti membangun jembatan terhadap audiens baru seni kontemporer dan memasukannya ke ranah yang lebih pop. 

Efek sosial dan budaya dari hingar bingar ArtJog sebagai pusat hiburan masyarakat berskala besar ini sebenarnya cukup menjanjikan. Meskipun terkesan penuh selebrasi, namun ketika lampu telah dimatikan, sebagian dari anak muda yang terlibat di dalam hingar bingar ArtJog sebelumnya akan tetap tinggal dan bukan tidak mungkin akan turut serta dalam dinamika dunia seni rupa di kemudian hari. Hal ini bisa dilihat sebagai sebuah bentuk inverstasi sekaligus edukasi publik.  Bagaimana ArtJog berusaha menyuguhkan karya seniman undangan, seniman  internasional, dan comissioned artist bisa dilihat sebagai sarana bagi publik untuk mengetahui perkembangan seni rupa global terkini sekaligus menumbuhkan partisipasi publik terhadap wacana seni rupa. Pembentukan audiens dan edukasi publik di negara-negara yang memiliki infrastruktur seni formal memang merupakan tugas museum; namun praktek ini tidak berjalan dengan semestinya di Indonesia. Usaha untuk menarik publik ke museum tidak mudah, sedangkan koleksi museum sebagai pusat edukasi budaya dinilai tidak lagi relevan dengan seni kontemporer. Praktik artistik, transfer gagasan, produksi pengetahuan, serta edukasi publik ini tentu saja bukan barang murah. Kebutuhan modal ekonomi, sumber daya manusia, serta ruang ini yang memunculkan polemik berikutnya: uang ‘kotor’ yang diberikan oleh Freeport-McMoRan Inc. 

-----

2/ Tentang Pendanaan

Saya adalah satu dari sebagian orang yang sempat kecewa ketika mengetahui bahwa ArtJog kali ini menghilangkan salah satu ciri khasnya dan ideologinya; tidak ada lagi panggung yang dibagi antara seniman yang sudah mapan dengan nama-nama baru yang karyanya dipilih melalui panggilan terbuka. Ketika ArtJog masih menerapkan sistem open-call, terkadang terdapat kejutan-kejutan menyenangkan dari karya maupun seniman yang namanya kurang akrab. ArtJog kali ini menerapkan sistem closed-call, yang menghasilkan pameran yang meskipun karyanya bagus, namun pamerannya terasa datar.  Hal ini, mengingat ArtJog adalah lembaga yang cukup ‘idealis’ dalam ranah art fair, bukan tanpa alasan yang kuat. ArtJog melakukannya karena lembaga ini sedang dirundung krisis keuangan. ArtJog, seperti banyak inisiatif seni lainnya di Indonesia, banyak didanai sendiri oleh pelaku seni. Apalagi ArtJog memang merupakan sebuah bursa seni yang dikelola oleh pribadi. ArtJog memiliki sikap heroik ala ruang seni alternatif, dengan pengeluaran layaknya sebuah festival besar. 

Polemik mulai muncul ketika nama Freeport muncul sebagai salah satu penyedia dana bagi acara ini.  Polemik ini lah yang membuat ArtJog kali ini berhasil melampaui selebrasi dan gemerlap seni rupa untuk mencapai pembahasan wacana tentang pendanaan dan etika dalam seni. Lucunya, ArtJog yang terus menerus menyatakan bahwa mereka adalah sebuah inisiatif privat yang memang orientasinya jual beli, justru mendapatkan protes pertanggungjawaban dari masyarakat. Mungkinkah adanya protes ini menandakan perubahan posisi ArtJog dari sekedar sebuah art fair tahunan menjadi sebuah acara penting yang dianggap sebagai representasi ideologi masyarakat? 

Bagi saya, memang wajar apabila masyarakat merasa tersinggung atas keputusan ini. Bagaimanapun juga, ranah seni kontemporer lekat dengan adanya kritik sosial dan seniman diharapkan menjunjung tinggi etika dan ideologi dalam kekaryaannya. Seni membutuhkan ruang yang bebas dan tidak terikat dengan kuasa uang. Ketegangan antara kemapanan, relativisme moral, dan budaya untuk terus melakukan kritik sosial memang perlu dijaga oleh para pelaku seni. Namun apakah standar ini perlu dijaga oleh sebuah art fair juga atau ini merupakan kasus khusus yang terjadi dalam ArtJog? Misalnya, perhelatan seni rupa lain seperti Bazaar Art atau Art Stage yang mendapatkan sponsor pendanaan dari korporasi yang bermasalah, akankah timbul polemik yang sama?  

Bagi saya, respon publik untuk melakukan protes terhadap ArtJog, yang adalah sebuah private initiative, menunjukkan bagaimana masyarakat melihat ArtJog dengan kacamata lain, lengkap dengan ekspektasi atasnya. Artinya, ada kedekatan dan perasaan memiliki oleh publik.  ArtJog boleh berbangga hati dan menganggap segala bentuk protes ini sebagai pujian bagi mereka, atau lebih tepatnya, sebuah deklarasi cinta. Sebagian berharap bahwa ArtJog, sebagai sebuah ‘ruang seni alternatif’ atau bahkan sebagai pengganti peran museum publik, memiliki sikap yang lebih kritis terhadap korporasi— terutama yang melanggar hak asasi manusia. Sebagai sebuah institusi seni yang independen, idealnya ArtJog menunjukkan sikap kritis yang melawan kesewenang-wenangan ini. Atau setidaknya, menggigit tangan jahat yang memberinya makan dan mendorong munculnya karya-karya kritis yang menunjukkan sikap politis tersebut dengan menggunakan dana yang mereka berikan. Bukankah hal tersebut merupakan praktek yang biasa dilakukan dalam ranah seni kontemporer? 

Namun yang terus menerus diingatkan oleh pihak ArtJog kepada publik yang memiliki ekspektasi ini adalah bahwa ArtJog itu, seindependen apapun, merupakan sebuah bentuk pasar seni. Sifat dasarnya memang komersil. Independensi yang dimilikinya justru karena ia merupakan inisiatif privat. Seluruh pengelolaan tidak terikat kewajiban dan hubungan struktural dengan lembaga lain. Kali ini, ketika pun independensinya dinilai berkurang karena mereka secara gamblang menerima dana dari pihak-pihak korporasi besar, namun perilaku ini mungkin merupakan bagian dari usaha untuk menjadi tetap independen secara kekaryaan.

ArtJog, lengkap dengan pola pemasaran yang terkini, fasilitasi terhadap kolektor (pembeli), edukasi atas audiens (yang merupakan bentuk investasi pasar jangka panjang), justru semakin menunjukkan posisinya yang komersil. Posisi yang seharusnya bisa disikapi dengan dingin tanpa ekspektasi personal. Ini adalah sebuah pasar serba ada, dengan pilihan-pilihan nama seniman yang bisa dilihat seperti brand, perbaikan ruang yang merupakan investasi jangka panjang untuk ‘etalase toko’ (selain mungkin untuk alasan romantisme), kehadiran para selebritis yang secara tidak langsung menjadi endorser, lokasi yang strategis dan dibuat serba nyaman, dan  sesuai dengan standar tamu-tamu yang datang. Target market mereka cukup jelas, sehingga ektravaganza dan selebrasi yang terkandung di dalamnya merupakan salah satu strategi penjualan yang wajar adanya. Apabila dalam bisnis tersebut mereka tanpa sengaja bersikap tidak empatik dan menyakiti perasaan beberapa pihak atas nama strategi bisnis yang dingin dan taktis, maka sebenarnya mereka pun tidak memiliki pertanggungjawaban atas publik maupun donatur yang memberikan dana  secara independen. Artinya, baik pihak pemberi dana maupun publik tidak memiliki kuasa atas kekaryaan dan keputusan artistik dalam pameran. 

Konon ketika ArtJog memutuskan untuk menerima dana dari Freeport, mereka sedang berada di ambang antara keberlanjutan atau tidak. Apakah mungkin akan lebih mudah bagi masyarakat untuk kehilangan event seperti ArtJog yang memiliki independensinya dan terbukti berhasil menjadi poros acara seni rupa tahunan di Yogyakarta dibandingkan bila acara ini dinilai mengandung uang ‘kotor’? Pandangan tersebut memang terasa seakan menyederhanakan permasalahan yang pelik, namun tidakkah pemikiran bahwa ArtJog yang menggunakan dana Freeport, lantas menjadikannya bertanggung jawab secara langsung atas segala kejahatan yang dilakukan secara sistematis oleh perusahaan besar tersebut, juga merupakan pemikiran sebab-akibat yang terlampau sederhana? Apakah idealisme dan posisi politis sebuah art fair mungkin untuk terwujud atau itu merupakan ilusi semata? 

Polemik ini juga memantik percakapan tentang support system yang ada dalam dunia seni rupa kontemporer, absennya peran pemerintah, hingga etika. Pada akhirnya, polemik ini juga bisa kita gunakan sebagai refleksi sebagai bagian dari skena seni rupa kontemporer, tentang bagaimana kita saling mendukung untuk menjaga independensi sebagai pelaku seni. Menurut saya, yang dilakukan oleh ArtJog untuk memberlakukan sistem tikecting adalah salah satu upaya kecil menuju kebebasan tersebut. Pemberlakuan sistem tiket, pemberian honor yang pantas bagi pelaku seni, dan sesekali mengesampingkan sifat-sifat pengorbanan dan mental gratisan dapat menjadi pembelajaran untuk keberlanjutan skena seni rupa ini. Selain itu, pemberlakuan sistem tiket ini menjadikan pengunjung sebagai bagian aktif, memberikan perasaan kuasa atas ruang dan perasaan turut memiliki kesenian yang mereka nikmati. Menjadi ‘komersil’ dalam hal ini tidak sama dengan menjadi elitis apabila hal tersebut mampu menghilangkan teror ruang. Dalam posisi ini, bahkan sebuah art fair pun bisa menjadi milik bersama. Meskipun, bagaimanapun juga, ArtJog bukan art fair biasa. Saat ini, ia bertransformasi menjadi ruang untuk edukasi, dibebani dengan ekspektasi untuk merepresentasikan ideologi, dan menjadi pintu gerbang yang menghubungkan antara publik dan seni rupa.  Apabila ‘ruang seni alternatif’ ini tidak keburu bubar, tentunya.

(Mira Asriningtyas)



[1] Art|Jog|9 . 2016. Press Release. http://www.artjog.co.id/content.php?page=release. Diakses pada tanggal 5 Agustus 2016
[2] Steven Ten Thije, (2014) “Cluster Dialectionary”. Berlin: Sternberg Press. (p.23)
[3] Garth Jowett & James M Linton, (1980) “Movies as Mass Communication”. California: Sage Publications, Inc. (p.93)


------------------------------------------------------
(disclaimer: 
tulisan ini dibuat awalnya untuk katalog ArtJog16, namun tulisan ini tidak dapat dipublikasikan karena beberapa alasan, salah satunya karena pembahasan atas polemik yang terjadi..)