20.9.18

The Observant Club : Mobility 1.01. UTARA – SELATAN


“Ah, kau puan kelana
Mengapa musti kesana
Jauh-jauh puan kembara
Sedang dunia punya luka yang sama.” [1]

-----

UTARA – SELATAN menjadi bagian pertama rangkaian proyek dalam kerangka kuratorial “The Observant Club”[ii]  ke-dua dengan tema mobilitas. Mobilitas merupakan tema yang kami pilih dari kegelisahan yang terjadi secara berkala. Potongan lagu pembuka tulisan ini adalah gambaran kegelisahan tersebut. Dalam proyek UTARA – SELATAN ini kami memilih dua bentuk berbeda dari kerja aktivisme seni untuk membicarakan pilihan politis atas hal-hal yang justru dekat dan memikirkan ulang wacana mobilitas dengan kritis.  

Melihat kerja-kerja kesenian hari ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana seniman kontemporer bekerja dengan berpindah-pindah dari satu negara ke lain, baik yang hanya berada di seberang laut hingga yang berjarak separuh dunia. Dalam sejarah seni Indonesia, praktik berpindah ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Lokasi penciptaan seni dan kebudayaan modern maupun kontemporer kita memang tidak pernah benar-benar berpusat hanya di Indonesia.[iii] Meskipun demikian, mungkin peran teknologi telah berhasil mengamplifikasi romantisme perpindahan seniman-seniman kontemporer saat ini. Arus informasi ini yang kemudian membuat semua perpindahan ini tampak lebih nyata, dan coba direproduksi oleh generasi berikutnya dalam segala pemikiran romantis maupun praktis atas mobilitas. 

Saat ini, mobilitas dalam seni tidak hanya dipandang sebagai bagian diplomasi negara atau pencarian artistik dari praktek kesenian, namun juga menjadi semacam poin penting dalam karir. Tidak mengherankan jika mobilitas mulai menjadi tujuan, kebanggaan, sumber inspirasi, dan bagian dari gaya hidup nomaden yang penuh kebebasan. Hal ini menjadi problematis ketika terjadi glorifikasi atas perpindahan para pekerja seni dipertemukan dengan realitas perpindahan para migran dan pencari suaka. Perpindahan tersebut kemudian menjadi cukup jelas perbedaannya: mereka yang terpaksa berpindah tempat (karena perang, bencana alam, atau kodisi-kondisi luar biasa lainnya), dan mereka yang berpindah secara sukarela.[iv] Yang pertama bergerak dengan segala keterbatasannya. Yang ke-dua bergerak dengan terukur, terencana, dan dengan segala posisi yang menguntungkan dan memudahkan pergerakannya. Dalam esainya, Gielen mempermasalahkan beberapa hal, antara lain ketimpangan hak istimewa para nomaden yang berpindah dengan sukarela dengan mereka yang terpaksa berpindah; adanya peluang residensi seniman dan kurator yang seakan mengharuskan mereka untuk terus menerus mencari ketidakpastian yang selalu menginspirasi di tempat lain; apropriasi satu sisi dalam diskursus tentang nomadisme ini dalam seni kontemporer sehingga menimbulkan romantisme yang berlebihan atas kebebasan para nomaden yang tidak terikat pada ‘rumah’ atau lokasi geografis tertentu; kecepatan yang mengharuskan individu di dalamnya bergerak lebih cepat dan menimbulkan individualisme yang menjadikan usaha-usaha pengambilan posisi politis tidak melulu efektif.[v]
  
Pertanyaan kami saat ini adalah bagaimana memaknai mobilitas dengan lebih kritis sebagai usaha untuk tidak tercerabut dari bagian komunitas lokal tempat kita tinggal. Perputaran perpindahan yang cepat bisa mengakibatkan perasaan tidak terhubung dengan identitas sebagai warga negara dan menipisnya perasaan turut memiliki tanah air. Karya-karya yang diciptakan pun berakar pada ruang-ruang jauh yang terbebas dari permasalahan sehari-hari di ‘rumah’. Kerja-kerja seperti ini kemudian menimbulkan pertanyaan atas kerja-kerja yang dekat dan berhubungan dengan situs tinggal seniman. Situs-situs yang masih memiliki persoalan dan perlu dibahas serta diberi perhatian agar setidaknya secara keberadaan, isu ini lebih terangkat ke ranah publik yang lebih luas. Hal-hal kecil ini kemudian menjadi bentuk tanggung jawab politis sebagai warga negara. Pertanyaan ini tentu hadir sebagai pancingan untuk memicu orang-orang lebih memperhatikan isu-isu yang dekat, serta memperhatikan praktik-praktik artistik yang berhubungan dengan isu masyarakat namun kalah populer dari pembicaraan mobilitas para seniman lintas negara ini. 

Ketika kita berada di tempat yang jauh, kita memiliki perspektif kebaruan atas hal-hal yang mungkin luput dari pandangan sehari-hari di tempat tersebut. Sedangkan ketika kita berada di tempat yang dekat, kita mungkin bisa memiliki konteks yang berbeda dan mendalam atas hal-hal sehari-hari yang mungkin tidak terlihat oleh mata pendatang. Adanya pilihan untuk bekerja dari dekat atau dari jauh ini mengingatkan kami atas sistem ganda yang diajukan Certeau[vi]  dalam melihat sebuah kota: pertama, dengan jarak yang cukup jauh melalui pandangan yang diumpamakan sebagai seseorang yang melihat dari puncak gedung bertingkat dengan perspektif keruangan yang seakan utuh dan gambaran besar atas kontur geografis serta arsitektural sebuah kota. Yang ke-dua adalah pilihan untuk menjadi pejalan kaki yang mengalami kota dari jalanan sehingga mengubah dan merangkai pengalaman tubuh yang sepotong-sepotong atas suatu wilayah menjadi ruang yang aktif dialami secara taktil, indrawi, dan menyeluruh. Dalam mengambil pilihan politis dan berjuang menuntut keadilan; seniman, akademisi, dan para pemikir kemudian dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, untuk mengamati semuanya dengan kenyamanan dan kemewahan jarak kemudian menciptakan produk intelektual atas hal tersebut. Kedua, membiarkan kaki mereka kotor dan terjun langsung untuk bertemu dengan masyarakat yang sedang diperjuangkannya. Posisi para nomaden yang terus berpindah-pindah menjadikan keberadaan mereka diliputi kesementaraan dan menjadikan mereka terus berada di ‘antara’. Posisi ini menjadikan mereka mudah untuk melihat hal-hal dengan perspektif yang lebih luas sehingga mampu menjadi mediator ketika terjadi konflik.[vii] Di sisi lain, ada saat-saat yang menjadi cukup genting dan menciptakan gestur politis dan berdiri di belakang posisi artistik yang netral tidak lagi cukup. 

UTARA – SELATAN 
Posisi geografis UTARA – SELATAN kami pilih sebagai kendaraan untuk membicarakan tentang hal-hal yang berada di dalam jarak pandang pejalan kaki dengan kedekatan yang taktil.  UTARA – SELATAN adalah upaya  untuk melihat bagaimana kedua area pesisir yang secara geografis berada di dalam satu pulau yang sama mengalami peristiwa konflik yang serupa dalam kaitannya dengan isu-isu lahan dan pembangunan. UTARA mewakili pesisir Utara Jakarta, dan SELATAN mewakili pesisir Selatan Jogja.  Proyek seni yang kami pilih untuk membicarakan tentang pergerakan, aktivisme, kedekatan, dan suara akar rumput di dua area ini adalah Swara Pembangunan (Yogyakarta) dan Ziarah Utara (Jakarta). UTARA – SELATAN mencoba untuk mempresentasikan dua pendekatan berbeda dalam dua kerja artistik yang terkait isu sosial tersebut. 

Di Jogja, isu perebutan lahan dan pembangunan terjadi di banyak titik. Kasus yang paling genting saat ini khususnya terjadi di pesisir selatan kota Jogja, tepatnya di area Temon - Kulon Progo. Di area pesisir ini sedang dibangun sebuah bandar udara baru yang mengakibatkan terjadinya perebutan lahan antara pemerintah dengan warga yang umumnya adalah petani. Isu ini kemudian memang santer diberitakan oleh media arus utama, sayangnya tidak dalam posisi yang berseberangan dengan tindak kesewenangan yang terjadi. Di titik itulah gagasan Swara Pembangunan dimunculkan oleh beberapa teman seniman yang mayoritas masih berusia muda untuk menjadi corong tandingan (meski tidak dalam skala yang sama dengan media arus utama) dengan tujuan untuk mengamplifikasi isu agraria ke tengah anak muda yang lebih umum secara aktif. Swara Pembangunan bekerja sebagai kelompok tim pengemasan informasi seputar peristiwa yang terkait dengan pemindahan paksa, penghacuran lahan pertanian, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan krisis agraria. Isu yang menjadi fokus perhatian saat ini adalah hal-hal seputar pembangunan bandar udara baru, New Yogyakarta International Airport.  Kelompok ini bekerja dalam bahasa dan pilihan artistik  yang cenderung muda dan segar, dengan menggunakan saluran media sosial yang dekat penggunaannya dengan anak muda. Pengemasan ini berjalan relatif cepat seiring dengan ritme dari isu yang berkembang serta munculnya kebutuhan-kebutuhan mendesak yang harus segera ditindaklanjuti.  Kerja-kerja desain, media, dan pengemasan informasi, serta sifat responsif dari kelompok ini adalah bentuk pendekatan yang disesuaikan dengan urgensi serta ke arah mana isu ini berkembang.

Di Jakarta, isu-isu pembangunan secara masif sedang terjadi dan cukup mendapat sorotan karena posisinya di pusat dan perannya sebagai ibukota Indonesia. Meskipun demikian, isu yang banyak dibicarakan ini mengalami normalisasi yang menipiskan gemanya. Semua pemberitaan seolah membicarakan hal yang sama dan berulang yang dipaparkan dalam deretan angka, untung-rugi, dan kebutuhan-kebutuhan negara yang bersifat dingin dan mutlak demi pembangunan bangsa. Ziarah Utara merupakan sebuah platform yang dimulai dengan perjalanan 11 hari, yang digagas oleh Irwan Ahmett, Tita Salina, Hannah Ekin, dan Jorgen Doyle. Tujuannya adalah untuk mencoba melihat lebih dekat persoalan dengan meniti satu per satu area sepanjang pesisir pantai Utara Jawa ini. Ketelitian dalam melihat hal-hal yang sehari-hari inilah yang membuat prakteknya cenderung puitik. Perjalanan jalan kaki ini menjadi perjalanan puitis yang perlahan penuh kedekatan dan kedalaman. Keempat seniman ini tidak berada dalam dinginnya data-data yang berjarak. Mereka menjadikan proses berjalan kaki sebagai cara untuk mengalami pembangunan yang tidak merata dengan berhubungan langung dengan keseharian warga. Proyek ini dimulai dengan perjalanan menyusuri pesisir utara Jakarta dengan berjalan kaki selama 10 hari untuk melihat sejarah, dinamika sosial, serta lanskap wilayah utara Jakarta yang saat ini sedang mengalami pembangunan yang masif, salah satunya adalah Giant Sea Wall yang rencananya akan membentang di sisi utara Jakarta. Perjalanan ini kemudian menjadi metode riset sekaligus praktek yang puitis di antara persoalan-persoalan lingkungan dan sosial yang hadir dalam keseharian masyarakat di pesisir utara Jakarta. Ziarah Utara kemudian berkembang menjadi perjalanan-penelitian yang berkelanjutan hingga jangka waktu yang belum ditentukan.
Melihat kedua pendekatan yang berbeda ini mengingatkan kami atas kerja-kerja jurnalistik dalam mengemas informasi. Kegentingan yang meliputi isu yang diusung oleh Swara Pembangunan memaksanya berjalan cepat layaknya berita harian surat kabar. Kecepatan tidak melulu mengacu pada kerja-kerja yang instan namun lebih kepada aktualitas dan responsifitas. Sedang pendekatan lain diterapkan oleh Ziarah Utara selayaknya pendekatan dalam penulisan feature yang lebih mengedepankan cerita-cerita mendalam dan penuh ketelitian, tak sepenuhnya berpihak pada kecepatan (aktualitas) namun menjadi rekaman peristiwa serta pembacaan isu yang lebih mendalam di kemudian hari. 

Masih dalam perspektif kerja-kerja jurnalistik, kerja-kerja kedua kelompok ini berfungsi sebagai pengeras suara, yang menggemakan isu-isu ini ke telinga-telinga yang belum mendengar. Di saat yang sama, kedua kelompok ini pun menyebarkan cerita-cerita yang belum diperdengarkan, khususnya oleh media-media arus utama.

Di dalam kedua ruang pamer Lir yang juga secara kebetulan berada di sisi utara dan selatan bangunan utama ini kami menghadirkan keduanya sesuai letak geografis kedua isu tersebut berada. Kedua kelompok ini mengubah fungsi ruang pamer yang biasanya bersifat statis menjadi dinamis. Secara berkala, ruang ini berubah selama durasi presentasi dan akan menghadirkan beberapa aktivitas, salah satunya adalah tur. Tur yang diselenggarakan bersama beberapa kelompok seni maupun non-seni ini merupakan bagian dari upaya untuk mengamplifikasi gema tidak hanya dalam wilayah isunya saja namun juga pada kerja-kerja kesenian yang turut hadir dalam isu tersebut tanpa mengabaikan kebutuhan dari masyarakat atau lingkungan sosialnya. Tur ini menjadi bagian dari upaya memotong jarak antara kerja-kerja kesenian dan sosial yang di mata umum sering kali terlihat terpisah atau berjarak.

Mobilitas dalam Proyek Utara – Selatan 
“Only when artist’s journey reveal inequalities and when their singular artistic acts make them part of collective emancipatory subjectivities, does this nomadism come alive politically.”[viii]

Ironisnya, dalam kaitannya dengan mobilitas, dua proyek yang kami pilih untuk menjadi pembuka seri The Observant Club: Mobility ini adalah tentang dua ‘gerbang masuk’ internasional ke dua kota. Jakarta dan rencana pembangunan Giant Sea Wall serta rencana adanya Jakarta Bay yang terus menerus terhenti ini konon diharapkan bisa menjadi wajah masa depan bagi kota Jakarta[ix] dan NYIA yang akan menjadi gerbang masuk arus mobilitas internasional melalui udara ke kota Yogyakarta. Keduanya adalah tentang potensi perpindahan yang belum terjadi. Tidak hanya membuka jalan untuk turisme namun juga untuk para seniman, tenaga ahli, akademisi, dan masyarakat lain yang akan menikmati kemudahan untuk mobilitasnya. Konsekuensinya, untuk memfasilitasi perpindahan masa yang bergerak itu, mereka yang terhenti dan berada di daratan menjadi korbannya. Pintu masuk ke kota tidak hanya membutuhkan fasad yang baik namun juga ‘ruang tamu’ yang layak, sehingga kondisi sehari-hari yang hadir dalam realita kelas bawah lah yang terancam menjadi yang pertama kali disingkirkan atas nama kerapian tata kota. 

Di titik ini lah estetikasi dan romantisme yang berlebihan atas para nomad yang tidak memiliki rumah ini kemudian menjadi problematis ketika kemudian kita luput dalam melihat adanya permasalahan nyata dalam nomadisme yang terjadi karena keadaan. Dalam romantisme atas kehidupan nomaden para seniman, adanya hal-hal yang permanen dan perasaan memiliki sebuah identitas lokal menjadi sesuatu yang dengan mudah ditinggalkan begitu saja atas nama kebebasan.[x] Bagi warga terdampak yang haknya atas rumah yang permanen dirampas, kepermanenan dan perasaan memiliki tujuan untuk pulang menjadi jauh lebih bermakna. Di Barat, hal ini ditandai dengan perpindahan para migran dan pencari suaka dengan berbagai hal yang memaksa mereka untuk meninggalkan rumah dan berpindah. Dalam dua kasus ini, pembangunan fasilitas untuk memperlancar mobilitas berdampak pada penggusuran dan perampasan hak atas rumah-rumah warga di Indonesia dengan alasan untuk keperluan khalayak umum yang lebih luas. Di Jakarta, rencana pembangunan Jakarta Bay terus menerus menjadi rencana turun temurun dari berbagai generasi gubernur DKI Jakarta dan pendekatan yang dilakukan dalam Ziarah Utara terkesan lebih puitis dan bersifat lebih seperti pemetaan terhadap potensi daerah. Sedangkan di Jogja, kegentingan dan batasan waktu dalam kasus perebutan tanah dalam pembangunan NYIA menyebabkan perlunya respon-respon langsung dan terwujud di bawah naungan rasa solidaritas dan empati. Kedua hal ini menjadikan proses berkelanjutan keduanya berbeda, namun keduanya secara tegas mengambil sikap politis yang jelas. Ketika seniman memasuki wilayah konfik dan empati serta keterlibatan mereka hanya menjadi bagian dari pencapaian artistik dan memperkaya dirinya saja, maka praktek itu tidak lebih dari sekedar praktek kolonialisme sekaligus bentuk strategi marketing. Namun ketika seniman sudah melepaskan kepemilikannya atas proyek seni yang dibuat untuk masyarakat dan demi aktivisme, aksi tersebut menjadi otonomus dan bisa diapropriasi oleh khalayak yang lebih luas sehingga menarik energi yang sama dan menjadi gerakan kolektif yang mampu berdampak nyata.[xi] 

Sebagai usaha untuk membuka apropriasi dan gerakan-gerakan lebih lanjut, dalam proyek UTARA-SELATAN,  dua ruang galeri di LIR Space dibuka dan difungsikan sebagai ruang diskusi, pertemuan, dan ruang kerja yang terus berubah dan bergerak secara aktif selama satu bulan masa presentasi berlangsung. 

(LIR – Mira Asriningtyas & Dito Yuwono) 

-----

Notes:
i. Silampukau, Puan Kelana,  dari album “Dosa, Kota, dan Kenangan”, 2014, Surabaya.
ii. The Observant Club adalah sebuah platform riset kuratorial LIR untuk mengeksplorasi tren terkini seni rupa kontemporer. Dalam setiap rangkaian risetnya, terdapat satu tema besar yang berkaitan dengan tren terkini dalam skena seni rupa kontemporer. Tema besar tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa proyek seni. Hasil akhir setiap edisi The Observant Club adalah publikasi. Riset pertama The Observant Club dilakukan pada tahun 2015-2016 dengan berpusat pada karya-karya seni berbasis makanan dan dipresentasikan dalam tiga proyek: Calibrating Senses (2015), The Soto Project (2016), dan Fine (Art) Dining (2016). UTARA – SELATAN merupakan bagian pertama (1.01) dalam rangkaian proyek dalam kerangka kuratorial “The Observant Club: Mobility” yang akan berlangsundalam jangka waktu setahun ke depan. 
iii. Brigitta Isabella, Mobilitas Seniman Gelandangan Kosmopolit dan Strategi Kebudayaan Kita, pidato dalam pembukaan “Dana Umum & Kesempatan”, 2017, Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat, Yogyakarta.
iv. Pascal Gielen, Nomadeology: The Aestheticisation of Nomadic Existence,  “The Murmuring of the Artistic Multitude: Global Art, Memory, and Post-Fordism”, 2015, Amsterdam. 
v. Ibid.
vi. Michel de Certeau, Walking in The City, “The Practice of Everyday Life”,  1984, Berkeley. p.91 - 110
vii. Gielen, Nomadeology: The Aestheticisation of Nomadic Existence.
viii. Ibid.
ix. Abidin Koesno, Runaway City: Jakarta Bay, the Pioneer and the Last Frontier, Inter-Asia Cultural Studies, Vol.12, No.4, 2011.
x. Gielen, Nomadeology: The Aestheticisation of Nomadic Existence. 
xi. Ibid.