Permanent Osmosis


Pernah ada masa ketika manusia percaya bahwa surga paling tinggi tidak berada di langit melainkan berupa sebuah taman milik Tuhan dengan buah-buahan melimpah dan kehidupan serba berkecukupan. Tanpa disadari, manusia menukarkan kenikmatan, kedamaian, dan kesempatan hidup di taman ini dengan pengetahuan—kepolosan mereka hilang seiring dengan kemunculan pemahaman. Taman ini pun berubah menjadi simbol kehilangan (atas akses ke surga) sekaligus penemuan (pengetahuan dan pemahaman). Sejak saat itu, berbekal kisah samar dan nostalgia atas tempat yang tidak lagi terjangkau—manusia berulang kali berupaya membuat versi tiruannya dengan formula yang kurang-lebih dibayangkan serupa: asri, damai, tanahnya subur ditumbuhi tanaman yang mencukupi bagi kehidupan segala makhluk hidup yang hidup berdampingan di sana, di tengah angin sepoi-sepoi dan gemericik air. Surga yang berada begitu dekat dengan tanah berubah menjadi sesuatu yang mungkin digapai, selama seluruh kondisi pendukungnya berada di titik yang tepat.

Pada tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), Sri Baginda Śrī Jayanāśa dari kerajaan Sriwijaya membuat taman Śrīksetra di kaki Bukit Siguntang. Surga buatan ini tercatat dalam Prasasti Talang Tuo yang ditemukan pada tahun 1920 dengan tulisan berbahasa Melayu kuno dalam aksara Pallawa. Sebagian terjemahan isinya sebagai berikut:

Inilah niat baginda: “Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka . Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. […] “

Ada tiga hal yang terlintas di benak kami ketika membaca terjemahan prasasti tersebut. Pertama, ide dasar permakultur. Dalam prinsip dasar permakultur, terdapat tiga etika yang harus selalu diingat: kepedulian atas bumi, kepedulian terhadap manusia, dan jika ada sisa selalu dikembalikan untuk bumi dan makhluknya. Permakultur yang awalnya hanya merujuk pada sistem permanen dan berkelanjutan atas pertanian, berubah menjadi ‘permanent culture’ dan meliputi aspek sosial yang penting bagi sistem pertanian yang berkelanjutan. Sistem perairan, misalnya, menjadi bagian penting supaya habitat tanaman bisa berdiri sendiri dan berkembang secara natural. Hewan yang berada di sekeliling ekosistem tersebut juga menjadi salah satu bagian pendukung tumbuh kembangnya tanaman. Manusia bertugas membuat sebuah sistem sinergis yang memperhatikan potensi elemen pendukung (lokasi, kondisi tanah, air, karakter vegetasi, keberadaan binatang dan manusia di sekitarnya) supaya pertanian bisa berjalan dengan sendirinya dalam perputaran yang utuh dan terus menerus tanpa menjadi eksploitatif. Prinsip ini mengikuti cara bertani secara alami yang dibentuk oleh Masanobu Fukuoka (1913 – 2008) yang menggambarkan filosofi bertaninya sebagai ‘do-nothing farming’. Tidak perlu ada usaha berlebihan untuk mengatur jalannya alam, pergerakannya tidak dipaksakan dan dibiarkan mengikuti alur waktunya sendiri-sendiri. Pada akhirnya, “semua amal yang diberikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk yang dapat pindah tempat dan yang tidak”. 


Prasasti Talang Tuo berhasil bertahan selama 1314 tahun sebelum ditemukan dan menjadi bukti keberadaan sejarah taman buatan manusia yang dibangun lebih dari 1400 tahun yang lalu. Berbeda dengan isi prasasti yang lebih positif, pikiran kami justru menuju ke sebuah seri video ‘What If’ di sosial media yang mempertanyakan “Bagaimana jika 7.6 milyar manusia tiba-tiba hilang dari muka bumi?” Setelah kekacauan transportasi dan matinya listrik dunia dalam waktu satu hari, pabrik nuklir yang meledak di hari kesepuluh, dan hewan-hewan yang menguasai seluruh wilayah bumi di hari ketiga; bumi akan perlahan-lahan memperbaiki dirinya. Tanaman perintis akan mulai muncul dan seluruh kota akan diambil alih oleh vegetasi sebelum kembali menjadi milik alam. Bangunan akan ‘dimakan’ oleh tanaman-tanaman dan kota di pinggir laut kembali menjadi milik laut. Pemanasan global yang sudah terlanjur diciptakan oleh manusia akan terus berlanjut hingga 40 tahun setelah ketiadaan manusia, namun kondisi alam akan meningkat secara drastis. Kerusakan jumlah ikan dan kehidupan laut akan membaik setelah 60 tahun dan kelebihan karbon dioksida di atmosfir bumi akhirnya bisa dibersihkan setelah 230 tahun berkat pernafasan dan kerja keras tanaman-tanaman yang tumbuh subur di bumi. Setelah 500 tahun tanpa keberadaan manusia, hutan di dunia akan berada dalam kondisi paling prima selama jangka waktu 10.000 tahun terakhir dan alam akhirnya akan mampu menghapus sisa keberadaan manusia setelah 25.000 tahun (meskipun beberapa benda berbahan plastik masih mungkin saja ditemukan). Tentu saja semuanya merupakan angan-angan saja. Manusia, sayangnya, masih mendominasi bumi dan terus mengambil darinya dengan kecepatan yang tidak seimbang. Butuh lebih dari 25.000 tahun untuk menyembunyikan sisa-sisa ini. 

Pertanyaan ‘bagaimana jika’ juga membawa kami ke sebuah meme (yang sayangnya tidak bisa kami temukan lagi) dengan pertanyaan semacam ini: “Bagaimana jika selama ini bumi merawat kita (makhluk hidup) untuk dimakan (saat kita mati)?” Seperti pembalasan bumi diam-diam. Harap maklum. Pikiran kami sedang sedikit acak. Kami menuliskan pengantar ini saat kelembaban udara mencapai 94%. Suhu siang hari mencapai 32oC dengan ‘real feel’ 39oC. Jika saja hujan turun, mungkin kami tidak harus mandi lebih dari tiga kali sehari dalam upaya sia-sia untuk menyamankan tubuh supaya bisa berfungsi secara produktif. Instalasi taman air dalam pameran ini menjadi pelarian singkat saat kami membutuhkan udara segar. Tanaman di dalamnya serupa sekelompok pekerja paksa yang diculik dan dikurung untuk memproduksi udara segar dan kelembaban yang nyaman setidaknya di satu ruangan. Mesin alami yang diperbudak untuk bernafas terus menerus dan menciptakan sebuah iklim mikro dalam dunia kecil buatan manusia.

Di titik ini kita memasuki pemikiran ketiga: bahkan sebelum pembuatan taman Śrīksetra yang tujuannya serba mulia itu, bukan kah sebelum “tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan” Tapi bukankah semua makhluk sudah memiliki alam untuk menyediakan semuanya sejak awal—meskipun tanpa kontrol dan kepemilikan manusia? Pemberian nama adalah bentuk mula usaha mendominasi sementara taman menjadi sebentuk penaklukkan alam yang dilakukan manusia. Penjelajahan dan klasifikasi menjadi langkah awal menuju penjajahan dan eksploitasi. Masa singkat (namun sangat merusak) dominasi manusia terhadap bumi ini menandai masa baru antroposen. Saat pertama kali dalam sejarah kita akhirnya bisa memperhitungkan dampak lingkungan hidup atas keberadaan manusia di bumi dan kaitannya dengan perubahan iklim, biodiversitas, dan kepunahan beberapa spesies hewan. Video ‘What If’ yang membayangkan ketiadaan manusia di bumi menjadi gambaran utopis atas sebuah kondisi ideal yang mengembalikan kondisi bumi kembali dalam bentuk mula yang ideal—bentuk yang paling menyerupai taman milik Tuhan di awal pembentukan manusia. 

Dalam lukisan klasik atau penggambaran atas surga, perhatikan bagaimana dalam setiap gambaran atas surga, hasil inovasi pengetahuan manusia dihilangkan. Tidak ada kendaraan, gedung bertingkat, dan alat komunikasi. Sebagaimana penggambaran atas Utopia, pembentukan citra surga tidak saja didasarkan pada hal-hal positif yang bergabung menjadi satu melainkan juga penghilangan atas hal-hal negatif yang tidak diinginkan: kesusahan, ketidaknyamanan, hirarki, politik, agresi, kemajuan, dan dalam beberapa kisah—keberadaan pria secara khusus atau keberadaan manusia secara umum. Utopia dan negasi di dalamnya menjadikannya alat untuk melakukan kritik sosial dan menyajikan pemikiran alternatif. 

Dalam beberapa kebudayaan, utopia mulai menjadi ide pokok untuk mengawali perubahan sosial secara radikal: desa di Afrika yang melarang pria masuk untuk menjaga keselamatan dan kedamaian wanita di desa tersebut, sekelompok nudist yang hidup dengan bercocok tanam secara kolektif di sebuah bukit tanpa mempedulikan hak milik, dan keberadaan taman komunitas sebagai bentuk ketahanan pangan wilayah serta bentuk protes terhadap komodifikasi pangan yang tidak ramah lingkungan. 

Dalam pameran ini, kritik disampaikan melalui penggambaran lanskap yang tidak ideal dan menggarisbawahi eksploitasi sumber daya alam di ruang pertama. Sementara itu, tidak ada konklusi di ruang galeri. Instalasinya akan terus bernafas, pertumbuhannya tidak akan pernah selesai, tanpa intervensi, dan pergerakannya permanen. Lama-kelamaan jika dibiarkan, lumut akan mulai merintis kehidupan baru, tanaman-tanaman tumbuh dengan ritme berbeda-beda, dan kehidupan perlahan-lahan terus bergerak. Mungkin ketika dibiarkan lebih lama lagi, tanaman yang dikurung dalam ekosistem yang terkontrol ini akan mulai melakukan invasi balasan. Bergerak dalam kecepatannya yang terlalu lambat untuk dilihat namun terlalu gigih untuk diabaikan. 

(LIR – Dito Yuwono & Mira Asriningtyas)